
"Mas Adit cari buku apa?"
"Buku teknik. Kamu cari buku apa?"
Meski Silvi tidak yakin buku yang Adit inginkan ada, tapi setidaknya ia bisa bersama Adit lebih lama.
Today will be great day, bagi Silvi.
"Novel doang sih, buat bacaan kalau lagi ngga ada kerjaan di apartemen."
Adit mengangguk, teringat Sena. Apakah semua perempuan suka membaca novel?
Keduanya turun di stasiun Shibuya. Hanya butuh lima menit berjalan kaki untuk bisa sampai ke Tower Records.
Tower Records merupakan salah satu gerai ritel musik terbesar di dunia, dan menyimpan hampir semua genre musik. Tower Record merupakan gedung tinggi yang berukuran 5000 m2 dan terdiri dari 9 lantai.
Begitu sampai, keduanya langsung menuju lantai 2 tempat dimana toko buku berada. Sebuah area dengan nama "Tower Books" bersebrangan dengan area "Tower Records Cafe".
"Non, lagi apa?"
Tiba-tiba ia ingin bicara dengan Sena. Hanya perasaan rindu aneh yang ia rasakan sekarang. Membayangkan yang menemaninya malam ini adalah Sena.
"Lagi mikirin yang di Tokyo."
Adit berjalan di belakang Silvi yang asik sendiri melihat-lihat novel berbahasa Jepang. Baru beberapa menit sampai, sudah mengantongi dua judul novel fiksi.
"Yang di Tokyo juga lagi kangen yang di Jakarta. Mau kesini aja ngga?"
"Ngga ah, Mas nya sibuk. Nanti aku dikacangin."
"Bisa sambil liatin aku kerja sebenernya."
"Emang boleh?"
"Anggap aja kamu pengunjung."
"Boleh, kapan-kapan yaa."
Sena tersenyum. Kegiatannya di Jepang akan bertambah lagi satu, yaitu mengunjungi festival budaya dimana Adit berada hingga satu minggu ke depan.
"Lagi ngapain? Jangan bilang lagi kangen aku, please. Takut aku tambah kangen dan nekat pulang."
__ADS_1
Adit baru tersadar ia kini berada di area komik. Tentunya Tower Books menjadi surga bagi pecinta komik anime.
"Aku lagi siap-siap."
"Mau kemana?"
"Mau jalan sama Teteh. Mas lagi dimana?"
Sena sedang memeriksa kembali beberapa barang yang belum ia bawa di list yang ia catat di note ponselnya. Dua hari lagi Sena dan Mita akan berangkat ke Tokyo.
Chat Adit terputus karena Silvi mendekatinya dan mengatakan bahwa pencarian novelnya sudah selesai.
"Mas Adit udah dapet bukunya?"
"Kayaknya ngga ada di sini. Di sini banyaknya novel, komik sama majalah musik."
Adit ingin protes kenapa ia dibawa kesini, padahal koleksi buku mengenai teknik tidak ada di sini.
"Aku belum pernah masuk sini sebenernya. Cuma beberapa kali lewat doang, kirain di sini lengkap karena banyak gini kan keliatan dari luar. Ternyata kebanyakan majalah musik."
Adit merasa bodoh. Dari namanya saja sudah "Tower Records" mana mungkin ada buku teknik?
"Udah kan? Ngopi dulu mau? Aku mulai ngantuk."
Adit memilih ngopi di Tower Records Coffe karena tenaga nya sudah lumayan menipis. Ia kembali mengecek ponselnya dengan alis mengkerut, untuk melihat tugas.
"Mas Adit jadinya gimana ngga dapet buku?"
"Ya gimana, pake seadanya dari buku yang ada sama internet paling. Cari buku sekarang ke tempat lain udah ngga mungkin udah jam segini."
Begitu kopi datang, Adit video call Sena. Adit punya waktu 15 menit untuk video call Sena sambil menunggu jadwal kereta.
Awalnya ia ragu bisa menghubungi Sena di sela-sela kesibukan. Tapi ternyata benar yang diucapkan Sena, sesibuk apapun, ternyata masih bisa menyisikan waktu 10 sampai 15 menit hanya untuk bertukar kabar.
"Maaf tadi chat nya keputus. Kamu mau jalan sama Teteh kemana?"
Sena dengan piyama tidur namun masih terlihat sibuk medengan benda-benda di hadapannya
"Biasaa, bumil lagi ngidam pergi ke suatu tempat. Kemana aja aku mah diajaknya."
"Bumilnya suruh ngidam kesini. Biar kamu bisa ikut."
__ADS_1
Sena tertawa. Adit ternyata lumayan peka.
"Mas lagi dimana?"
"Lagi ngopi sebelum pulang."
"Tumben baru pulang jam segini."
"Mampir dulu ke toko buku."
"Sendiri?"
Adit baru sadar yang sudah ia lakukan. Pergi dengan perempuan lain berdua.
Silvi yang tengah duduk di sebrang Adit ikut menikmati es kopi, menantikan jawaban Adit. Apakah Adit akan jujur pergi berdua dengannya?
"Sama staf KBRI."
Dengan terbata-bata Adit menjawab pertanyaan Sena. Tidak ingin berbohong namun tidak ingin Sena marah.
"Yaudah hati-hati. Makasih udah ngabarin aku hari ini."
Adit tersenyum, dengan perasaan bersalah. Meski tidak berbohong, tapi ia tidak jujur.
"Kalau mau kemana-mana kabarin aku ya, sama siapa."
Egoisnya laki-laki, tidak ingin Sena pergi dengan orang yang tidak ia kenal tanpa sepengetahuannya.
"Siap bos. I love you, Mas."
"Me too."
Sena tersenyum, ia paham Adit sedang di ruang publik sehingga sungkan untuk membalas ucapannya dengan gamblang.
"Mas belum bilang pergi sama aku?"
Meski ragu-ragu, Silvi tetap menanyakan keingintahuannya setelah Adit meletakn ponselnya ke atas meja.
"Kelupaan. Kita juga ngga ada apa-apa kan, ngga ada yang perlu dia khawatirkan."
Adit menjawab dengan yakin.
__ADS_1