Cinta Mita

Cinta Mita
Jodoh Tak Akan Kemana


__ADS_3

"Kamu ngga pengen minta maaf atau meluruskan, Non ?"


Karena tidak ada pesan apapun dari Sena sejak semalam sampai menjelang keberangkatannya ke Tokyo, mau tidak mau Adit yang harus mengalah. Adit sadar ia lelaki.


"Aku harus minta maaf atas apa? Aku ngga ngerasa salah."


Salah satu kesulitan dari hubungan antara dua anak bungsu.


"Aku yang salah? Salah aku dimana?"


"Kesalahan ada di isi kepala Mas karena berpikir hal yang jauh banget. Mas terlalu banyak menerka-nerka. Aku cuma log out akun kok, biar Mas ngga kepikiran macem-macem kalau ada yang DM aku."


"Malah jadi aku mikir macem-macem Sen kalau gini."


"See? cara berpikir Mas yang salah." (Ya kan?)


Benarkah? Adit bingung akan pemikirannya sendiri. Bukan hanya Sena, keluarganya pun mengatakan bahwa cara berpikirnya yang salah. Adit tidak membalas pesan terakhir Sena, karena bingung harus menjawab apa.


"Udah di bandara belum?"


Adit sudah mengalah, mau menghubunginya duluan. Kini giliran Sena yang harus menurunkan ego.


"Ngga mau video call aku?"


Belum sempat Adit balas, Sena mengirimkan pesan kembali.


"Aku udah di bandara, diantar Ibu."


Hatinya ingin melihat wajah Sena. Namun setiap melihat wajah Sena pikiran-pikiran jelek selalu muncul. Ketakutan-ketakuan terus membayang. Hingga Adit berpikir, ada baiknya tidak video call Sena sementara waktu.


Di sisi lain Sena ingin melihat Adit, bahwa kekasihnya baik-baik saja sebelum terbang. Menu video call Sena tekan, namun tak kunjung dijawab.


"Kok ngga diangkat?"


"Crowded, udah mulai boarding." (ramai)


"Take care, Sayang nya aku."


Adit menghela nafas panjang membaca pesan Sena. Ingin membalas, namun hatinya belum bisa.


"Jaga diri, inget yang aku bilang kemarin."


"Pasti. Tapi kamu ngga balas sayang aku. Cintaku bertepuk sebelah tangan?"


Kata-kata yang selalu Damar ucapkan untuknya, kini Sena mempertanyakan kepada Adit.


"Aku sayang kamu. Aku mode pesawat ya. Bye."


Apakah benar yang dikatakan Ayahnya, bahwa ia masih memiliki luka masa lalu yang belum sembuh? Hingga Sena yang harus terkena imbasnya. Penuh rasa curiga dan krisis kepercayaan.


Bu Retna hanya memperhatikan anak bungsunya dalam diam, yang terlihat bingung dan pasrah.


"Aman?"


"Aman Bu."

__ADS_1


Adit tersenyum. Bagaimanapun Adit tidak ingin membuat orangtua nya khawatir.


"Hati-hati ya Dek. Begitu landing, langsung kabari Ibu."


Adit memeluk dan mencium pipi Ibu tercinta. Meminta restu untuk kembali menyelesaikan kuliah.


"Doain Adit biar cepet selesai ya Bu."


Adit sengaja mengambil bussines class agar tidak terlalu penuh, karena pikirannya sedang kacau. Ia ingin menepi, ingin mengenal dirinya sendiri lebih.


"Gila, gara-gara instagram doang gua jadi gini !"


Adit merutuki dalam hati.


Selama perjalanan Jakarta Tokyo yang memakan waktu tujuh jam, Adit tidak mampu memejamkan matanya karena pikirannya sendiri. Akhirnya ia memanfaatkan waktu yang ada untuk merenungi semuanya. Yang ia lihat kini awan, yang terlihat tulus, tidak berharap dan meminta apapun. Apakah ia harus seperti awan?


"Kamu jangan jadi cowok toxic. Posesif berlebihan, kasihan juga Sena nya."


Ucapan Putri saat sarapan sebelum berangkat ke bandara, masih terngiang di telinga nya.


Apa benar ia toxic?


Dengan cara apa ia harus merubah pola pikirnya?


"Apa iya gua harus ikhlasin Sena?"


Adit terus bertanya-tanya sendiri.


Setibanya di Tokyo, Adit menonaktifkan ponsel pribadinya. Namun ponsel yang terhubung dengan klient tetap ia aktifkan. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia kerjakan. Niat balik ke Indonesia untuk recharge energi, malah nambah pikiran, Adit pasrah.


Huft.


Whatsapp dari Sena masuk ke ponsel kerjanya. Adit sudah menyangka bahwa Sena akan menghubunginya.


"Aku lagi mikirin semuanya."


"Mikiran apa?"


"Kita."


"Terus ?"


"I need take a time."


"Waktu untuk apa?"


"Aku tersiksa dengan harapan-harapan aku sendiri. Tapi aku sadar, kamu juga punya hak untuk menentukan yang kamu mau."


"Ini masih bahasan log out instagram itu? Belum beres?"


Emosi Sena mulai terpancing, buntu dengan sikap Adit yang baginya bebal.


"In general. Aku berharap kamu gini, kamu gitu. Padahal itu hidup kamu, aku ngga ada hak untuk ngatur kan?"


"Sumpah aku lagi pusing banget, Mas tau sendiri tugas aku lagi banyak-banyaknya. Bahasanya ngga usah kemana-kemana, dibuat sesederhana mungkin bisa ngga?"

__ADS_1


"Kamu aku bebasin disana. Biar aku disini plong, ngga berharap macem-macem."


"Maksudnya kita putus?"


"Tapi nikahnya sama aku. Saat aku pulang, aku nikahin kamu. Gitu aja ya?"


"What??"


"Ngga putus, tapi break sampai aku balik."


"Ngga ada kata break di kamus aku, Mas. Hanya putus atau terus?"


"Terkadang, hal abu-abu itu ada."


"Egois namanya. Harusnya kemarin Mas ngga usah pulang! I hate you!"


"Maaf, Non."


Sena menangis semalaman, hingga saat sarapan Enin beratanya,


"Eneng kenapa? Semalam habis nangis? Kenapa semalam ngga keluar kamar? Enin makan sndiri."


"Banyak pikiran, Nin."


"Euleuh... budak sakola mah, sakola we heula. Tong mikiran nanaon." (anak sekolah mah sekolah aja dulu. Jangan mikirin apa-apa)


Setelah kejadian itu Adit ataupun Sena tidak berkirim kabar walau satu kalimat. Hingga berminggu-minggu lamanya. Adit dan Sena tenggelam dalam kesibukan masing-masing.


Sena mencoba untuk memahami dari sisi Adit, seperti yang dikatakan Mita setelah ia bercerita hingga menangis.


"Adit pengen fokus dulu mungkin Sen. Aku bisa ngerti itu, harusnya kamu bisa lebih ngerti. Kita tuh kadang karena ada perasaan memiliki, jadi pengen hal tersebut sesuai dengan yang kita mau. Kaya Adit yang ngerasa memiliki kamu. Jadi dia tuh sekarang kayak berusaha ikhlas untuk membuang perasaan itu biar ngga banyak nuntut kamu untuk ini itu."


Sena merenungi kata-kata Mita yang ada benarnya. Hingga akhirnya ia menerima bahwa jodoh tak akan kemana.


Kini Adit hanya memantau Sena dari instagram story dengan akunnya, begitu pun sebaliknya. Sehingga sekarang Sena lebih banyak post story dari biasanya. Agar Adit tau keadaannya tanpa harus bertanya. Meski harus me-reply beberapa orang yang ia harap tidak membalas story nya.


"Aku baik."


Hanya keterangan tersebut yang Sena tampilkan pada sebuah boneka foto beruang putih.


"Meski rindu, tapi aku bisa apa."


Di kesempatan lain, saat kerja kelompok dengan teman kampusnya. Ramai, tapi jauh lebih sepi jika dibandingankan saat bersama Adit. Meski hanya berdua.


"Tanpa perlu bicara, aku tau hatimu. Dan aku masih sama."


Dan kalimat-kalimat galau lainnya hingga timbul spekulasi di kalangan teman kampus Sena bahwa Sena dan Adit sudah putus.


Sepulang dari Indonesia, Adit fokus pada beberapa pekerjaan yang terbengkalai. Bahkan ada satu projek yang sangat menarik perhatiannya. Menjadi Brand Ambassador event pengenalan budaya Indonesia yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo.


Suatu malam, saat Adit sedang mengerjakan tugas, ada DM masuk ke akun instagramnya.


"Selamat malam, salam kenal saya Silvi dari KBRI Tokyo. Kami ingin menawarkan kerja sama dengan Mas apakah bersedia? Jika bersedia, tanpa mengurangi rasa hormat mohon informasikan kontak whatsapp yang dapat kami hubungi. Terima kasih."


Menarik, batin Adit.

__ADS_1


Meski sedang banyak-banyaknya pekerjaan dan tugas kuliah, dengan keyakinan penuh ia akan menerima tawaran ini tanpa melihat nominal. Kapan lagi bisa berkontribusi untuk negara?


Mungkin ini salah satu cara Allah membuatnya menepi dari rumitnya hubungan dengan Sena. Yaitu membuatnya sibuk.


__ADS_2