Cinta Mita

Cinta Mita
PMS


__ADS_3

Keesokan harinya ia masih menikmati waktu leha-leha sebelum berkutat dengan pengurusan berkas pendaftaran short course juga S2 nya sebelum nantinya mengurus persyaratan F-1 student visa (visa USA student).


Ingatannya kembali pada sosok perempuan yang semalam ia peluk dengan hangat. Mata merahnya tatkala menangis saat mengetahui ia akan ke US membuat bimbang kembali pikirannya, sekarang ia yakin bahwa Mita pun mencintainya. Namun rencana tidak boleh berubah, ia harus tetap berangkat.


''Kamu dimana? Sibuk nggak? Aku mau ngomong."


Pesan singkat tersebut ia kirimkan, tidak berapa lama telepon masuk ke ponselnya.


''Jadi kamu yang telepon, seseneng itu dapet chat dari aku?'' sudah lama rasanya ia tidak menggoda Mita, ia rindu. Apalagi nanti, bertemu ya nanti-nanti.


"Yaudah aku tutup."


Dan benar saja Mita menutup telepon nya. Ia tersenyum senang berhasil menggoda.


*****


Mita


"Kok dimatiin? Aku bercanda..." namun ia tak berniat menjawabnya.


''Mita....'' panggil Rama lirih.


''Hmmm....'' terdengar seperti suara orang mengantuk.


''Jangan ngambek, nanti kalau aku udah berangkat kamu ngambekan aku nggak bisa pulang.'' kembali tidak ada jawaban.


Perasaan tidak nyaman karena PMS nya sejak kemarin membuat dia sedikit lebih sensitif dari biasanya. Uring-uringan nggak jelas.

__ADS_1


"Mit, semalem itu kita jadian kan?"


Pertanyaan macam apa ini?


''Mita....''


"Emangnya bisa?" Ia menjawab. Rama kenapa tidak mau mengerti posisi nya saat ini.


''Kenapa nggak bisa?" Rama yang selalu memaksa.


"Hal kayak gini kamu masih nanya. Kamu nggak sadar atau lupa status aku gimana? Kalau kamu sayang aku tolong jangan bikin aku ada di posisi yang sulit." ia setengah membentak.


''Kamu kenapa sih? Daritadi marah-marah. Kenapa juga selalu berakhir di status kamu?''


''Kamu yang kenapa? Dari semalem kamu selalu ngeselin. Ini yang mau kamu omongin? Rama, aku ngga punya energi untuk debat!''


Rama menarik nafas. Mita sedang berada di mood buruknya.


"Oke ini salah aku yang terlalu berharap. Kamu bikin aku semakin yakin untuk ke berangkat. Kamu memang nggak menghendaki kehadiran aku.'' ia terperanjat, sepertinya tebakannya tepat.


Mungkinkah keluarga Rama sudah mengetahui hubunganya dengan Rama?


Tak ingin berdebat lebih jauh, ia lantas mengakhiri sambungan telepon dengan Rama.


''Aku ada kuliah umum. Ada baiknya kamu ngga usah hubungi aku dulu.''


Mood nya hari ini membuatnya sangat berat melangkahkan kaki untuk menghadiri kuliah umum. Namun kaki harus tetap melangkah ke tempat seharusnya, meskipun hati dan pikiran melayang entah kemana.

__ADS_1


*****


Rama


Hari-hari berikutnya Rama disibukan dengan pendaftaran di lembaga kursus yang akan diambil. Setelah proses pemikiran yang super singkat Dan emosional, ia memutuskan mengambil short course di University of Washington Foster School of Business di kota Seattle sebelum memulai study magister nya yang baru dimulai Januari mendatang. Ia berpikir akan lebih baik jika lebih cepat ia berangkat ke US. Menata kembali hatinya, sadar bahwa Mita lah yang terlampau jauh.


Langlah selanjutnya adalah mengumpulkanpersyaratan F-1 student visa (visa USA student). Memakan waktu dan energi, sampai-sampai sudah tak ada lagi waktu untuk sekedar menyenangkan diri.


''Rama, semuanya udah beres?''


Lamunannya buyar ketika makan malam bersama Mamanya malam itu.


''Udah Ma.'' ia tersadar bahwa ia sedang tidak sendiri saat ini. Ada Mamanya yang tengah memperhatikannya sejak tadi.


''Kamu kaya ngga happy mau berangkat? Ada apa?''


''Not really, biasa aja.'' ia ambil kembali ayam teriyaki yang telah habis di piringnya namun masih menyisakan nasi.


Bu Lia menarik nafas panjang, mengerti betul perasaan anak nya ini.


''Tempat tinggal kamu selama disana udah beres?''


''Udah, aku minta rekomendasi apartemen ke Mas Rudi, daerah sekitar kampus.''


Rudi merupakan senior di kantor nya yang sudah menetap di Amerika. Ia memiliki green card USA alias permanent resident card karena menikah dengan wanita Amerika.


''I'm really proud of you, you can take care everything. But tell me know if you need some help.''

__ADS_1


''Oke, for sure.''


Ia mengangguk, hanya urusan cinta hal yang tidak dia urus. Mengsedih.


__ADS_2