Cinta Mita

Cinta Mita
Instruksi Duta Besar


__ADS_3

"Di sana udah jam berapa ini?"


"Masih setengah tujuh."


Adit berharap Jakarta sudah siang, agar Rama segera berangkat ke Pabrik. Saat sedang memperhatikan Rama yang sedang sarapan sambil mengusap lembut tangan Sena agar membaik, ponsel Adit berbunyi kembali. Namun kali ini bukan whatsapp melainkan telepon masuk.


"Gimana ngga BT coba. Cewek lagi."


Sena sudah mengira bahwa Silvi lagi. Akhirnya Adit menekan tombol load speaker agar semuanya bisa mendengar percakapannya.


"Selamat pagi, Pak."


Wajah berbinar-binar tampak dari wajah Sang Selebgram. Tersenyum ke arah Sena bahwa ia telah salah sangka.


"Pagi Dit. Lagi dimana? Masih di apartemen?"


"Saya di Keio hotel Pak sama keluarga. Baru mau ke Festiv."


"Kemarin anak-anak rusuh katanya kamu kedatengan pacar. Banyak pengunjung yang cari kamu juga."


Berkat info dari Silvi semalam, setidaknya Adit jadi tau maksud telepon Pak Denny pagi ini.


Pak Denny ingin mengkonfirmasi ulang kehadirannya harus samlai selesai. Demikian yang ada di pikiran Adit.


"Saya juga ngga tau kalau pacar Saya mau kesini, jadi agak kaget. Maaf Saya jadi ngga stay sampai selesai."


"Wajar aja. Semalem Saya jadi lihat instagram kamu. Ternyata kamu anaknya Pak Bambang ? Saya lihat dari nama belakang kamu."


Sebagai sesama pemangku jabatan di pemerintahan, sedikit banyak Pak Denny tau pejabat-pejabat yang namanya menonjol, salah satunya Bambang Wiraguna.


"Oh itu. Iya Pak, Ayah saya masih di komisi empat atau lima ya Saya lupa."


Seperti hubungan anak dan ayah kebanyakan, jarang membicarakan urusan pekerjaan jika di rumah. Hingga Adit tidak paham betul pekerjaan Ayahnya seperti apa. Saat di Indonesia, Adit hanya tau pekerjaan Ayahnya dari berita di TV.


"Hebat anaknya calon mentri masih mau gini-ginian. Padahal uang saku nya pasti dua digit."


Pak Denny juga tau isu-isu terkait posisi-posisi penting di pemerintahan. Nama Bambang Wiraguna pun mencuat menjadi kandidat kuat menteri perhubungan.


"Wah ngga Pak. Ayah cuma pejabat publik yang biasa-biasa, apalagi Saya cuma warga sipil biasa. Makanya harus sambil kerja biar ngga makan indomie terus."


Bahkan Adit sendiri baru tahu bahwa Ayahnya dijagokan menjadi menteri.


"Dua-dua nya low profile luar biasa."


Sena mengekerut mendengarkan obrolan Adit dengan Bapak-bapak yang pastinya bukan bapak-bapak biasa.

__ADS_1


"Yang hebat ini Bapak, masih muda sudah jadi Duta Besar."


Sena semakin menciut, ternyata Duta Besar yang langsung menelepon kekasihnya.


"Kamu kalau mau jadi dubes lebih gampang lagi."


Adit tidak mampu menahan tawanya. Menjadi dubes semudah itu?


"Saya jadi warga sipil aja, Pak. Lebih menentramkan."


"Sudah nyaman jadi artis ya? Uangnya sudah jelas."


"Tapi ada ngga enaknya juga Pak. Kerja di industri jasa hiburan kayak Saya."


"Dicemburuin pacar ?"


Sebelum menelepon Adit, Pak Denny menyempatkan melihat instagram Adit yang beberapa menit lalu post foto perempuan menutup wajah karena menangis.


"Wah Bapak bisa tau."


"Saya baru lihat story kamu soalnya."


"Wah di follow Dubes jadi malu Saya."


Untung Adit sudah lebih dulu follow akun KBRI Tokyo dan Pak Denny hingga tidak terlalu malu ketika Pak Denny juga follow akunnya.


"Kenapa Pak?"


Adit takut sudah melakukan kesalahan.


"Take your time with your family and girlfriend."


"For sure, Pak?"


"Why not? Tapi Saya minta tolong untuk hari Sabtu tolong stay dari pagi. Kabogoh nangis lagi ngga nanti?"


Pak Denny merupakan asli Bandung, beberapa kali Adit mendengar Pak Dubes bicara menggunakan bahasa sunda dengan staf lain.


"Ngga Pak, iya kan Non?"


Adit mengenggol kaki Sena berniat menggoda.


"Deudeuh teuing. Jadi inget basa keur ngora." (So sweet banget. Jadi inget waktu muda)


"Bisa wae Bapak." (Bisa aja)

__ADS_1


Setelah sambungan telepon terputus, Adit memeluk bahu Sena. Hanya bagian punggung yang berani Adit sentuh karena Rama masih on frame.


Nggak niat untuk ke Pabrik aja gitu? Adit berharap Rama segera memutus sambungan video call nya.


Rama lebih tenang setelah mendengar obrolan Adit dan Pak Denny. Ternyata lingkungan kerja Adit tidak seburuk yang ia bayangkan.


"Yaudah beres ya. Sayang aku berangkat ya."


Video call dengan Rama juga sudah


Diputus. Kini tinggal Adit, Sena dan Mita di dalam kamar hotel.


"Aku mau mandi dulu, terus sarapan. Mas sarapan belum?"


"Belum mandi? Kok bisa cantik gini?"


Mita tersenyum. Kini Adit lebih ekspresif dan lebih berani. Mungkin karena pembawaan Sena.


"Awas muji gitu ke perempuan lain."


"Heran. Masih aja."


"Mas sarapan belum?"


"Udah sarapan roti sama susu anget."


Sena dan Mita saling bertatapan dengan pikiran yang sudah travelling.


Lalu tertawa terbahak-bahak bersama.


"Ngeres pasti pikirannya. Kacau kacau."


Adit tersipu sambil menggelengkan kepala.


Setelah rapi, Sena mengajak Adit sarapan di restoran hotel.


"Parah Teteh ngga ngajak aku sarapan coba, Mas."


Mood Sena melesat naik tajam setelah mendengar ucapan Pak Denny bahwa Adit tidak perlu ke Festiv (Festival).


"Kamu nya dari bangun tidur merengut gitu. Eh dari semalem deng. Mendingan aku saraoan sendiri deh."


"Yuk sarapan, udah jam 9 lambung kamu kosong."


Adit mendorong Sena untuk keluar kamar.

__ADS_1


Mita tersenyum. Keuwuan akan terpampang nyata kembali.


__ADS_2