
Setelah sampai hotel, Mita baru merasakan kantuk dan lapar karena belum sarapan. Setelah mandi dan bersih-bersih, Mita akhirnya tertidur pulas di atas sofa kamar hotel. Rasa kantuknya mengalahkan rasa lapar.
"Mas dimana?"
Sementara Sena hanya merebahkan diri di atas kasur. Menahan diri dari keinginan bertemu Adit secara langsung.
"Udah di lokasi. Non dimana? Katanya ada tugas magang? Udah mulai belum?"
Sambil menyapa pengunjung yang hadir, Adit menyempatkan membalas chat dari Sena.
"Aku di kamar. Kangen sama yang di Tokyo."
Sena tidak berbohong, ia memang sedang di kamar hotel.
"Sama."
Artinya Adit sedang sibuk jika hanya membalas singkat.
"Sama apanya?"
"Kangennya."
Adit penasaran karena ada pertanyaannya yang belum dijawab. Akhirnya Adit mengirimkan lagi pesan.
"Magang gimana?"
"Minggu depan baru mulai, Mas Sayang."
Orang yang dimabuk asmara memang begitu, banyak senyum-senyum sendiri. Seperti Sena contohnya.
"Iya."
Keinginan Sena untuk bertemu Adit semakin tinggi, namun tetap tidak mampu untuk membangunkan ratu yang sedang hamil.
Karena lapar, Sena memutuskan pergi sendiri ke restoran hotel untuk brunch (pertengahan antara breakfast dan lunch). Karena terlalu telat untuk disebut sebagai sarapan namun belum waktunya makan siang.
Sena memesan salad, slice fruit, dan tentu saja sushi. Memang berbeda rasa sushi di Indonesia dan sushi Jepang. Sena lebih menyukai sushi yang otentik dengan ikan segar. Ketika sedang asik menikmati sushi yang tinggal 3, Mita menelepon.
__ADS_1
"Kamu dimana? Kok ninggalin?"
"Aku lagi makan Teh, laper banget."
"Jahat ih, Aku ngga dibangunin. Aku juga laper."
Bangun tidur bumil sudah mengomel.
"Nyusul Teh, aku makan di resto hotel."
"Di lantai berapa?"
Kebanyakan hotel bintang lima memiliki lebih dari 2 restoran. Biasanya dibedakan berdasarkan kekhususannya. Ada restoran khusus untuk sarapan, makan siang atau makan malam. Atau berdasarkan jenis makanan yang disajikan. Sehingga Mita memastikan Sena berada di restoran lantai berapa.
"Aku di restoran yang di lantai satu."
Mita segera mempersiapkan diri untuk turun dari lantai 37, lantai dimana kamarnya berada. Mita memperbaiki penampilannya, karena beberapa hotel mewah melarang pengunjung restoranya menggunakan sandal, bahkan sandal kamar hotel sekalipun.
"Kalau bukan karena inget kamu, aku mendingan ke Singapur aja deh ngga jauh-jauh amat."
Mita menarik kursi di samping Sena. Di restoran tersebut terlihat hanya beberapa pengunjung saja yang sedang makan.
Saat mengatakan ingin sushi, Mita hanya asal sebut namun ternyata diseriusi oleh Rama.
Mita mengambil sebuah sushi dari piring Sena.
"Aku kasian sama yang LDR. Yaudah deh sekalian.
Sena memeluk Mita.
"Baik banget ibu peri. Teteh mau pesen apa?"
"Yang punya kamu boleh? Kamu pesen lagi."
Sena mengerutkan kening. Meminta izin tapi piringnya sudah berpindah tempat.
"Boleeeeh, apa sih yang ngga buat nyonyah."
__ADS_1
"Kapan ke Adit?"
"Habis kita makan ya? Ngga jauh kok dari sini cuma 15 menit."
"Deket dong."
"Iyes deket."
"Hayu, makan dulu yang banyak."
Karena sudah mencoba sushi, Sena memesan menu lainnya agar bisa dimakan bersama.
Selesai makan, Sena dan Mita kembali ke kamar. Sena tentunya tuch up karena ingin bertemu Adit.
"Beuh, cantik amat Non."
"Teh jangan panggil Non atuh. Itu panggilan khusus dari Adit."
"Ya ampun gitu doang, meni khusus Adit."
"Bukannya gitu, aku jadi ngerasa kaya ada Adit jadinya."
Sena dan Mita tipe perempuan yang tidak suka berdandan, hanya make up tipis warna natural saja.
Siang itu Sena mengenakan kaos over size dan rok 3/4 dan topi dengan rambut dibiarkan jatuh tanpa diikat. Sementara Mita dengan gaya feminiminnya, dress sebetis dan juga topi.
Sebagai turis sultan, Sena memilih menggunakan taksi meskipun tarif taksi di Jepang sangat mahal. Tarifnya termurah dari Shinjuku ke Shibuya sebesar Rp900.000. Dengan jarak yang sama jika menggunakan kereta hanya Rp100.000 kurang lebih.
Berbekal alamat yang diberikan Hiro, pukul 13.25 keduanya sampai di venue acara Festival. Setelah membayar tiket masuk, Sena langsung bergerak cepat mencari keberadaan Adit.
"Sen, jangan cepet-cepet."
"Oh iya maaf."
Sena menghentikan jalannya menunggu Mitq, sambil memperbaiki posisi topi dan masker agar tidak dikenali.
Mencari Adit dikeramaian ternyata tidak sulit. Cukup mencari diantara kerumunan wanita.
__ADS_1
"Nah lho..."
Mita tidak ingin bereaksi banyak.