Cinta Mita

Cinta Mita
PDKT ?


__ADS_3

Pertemuan Adit dan Sena beberapa bulan lalu di Bandung, menyisakan sedikit harapan bagi Adit.


Sena baik, pintar, menyenangkan saat di ajak ngobrol dan enak untuk diajak bertukar pikiran. Meski terkadang manja, tapi bukan tipe perempuan manja yang menyebalkan.


Hanya satu pertanyaan Adit saat itu, apakah Sena benar-benar belum punya pacar?


Saat berpisah di parkiran Ciwalk tempo hari, Adit meminta nomor ponsel Sena jika sewaktu-waktu ia membutuhkan gadis dengan gigi kelinci itu.


"Kalau aku minta nomor HP kamu ada yang marah ngga sih?"


Halus... Adit sendiri merasa geli.


Tetapi memang mungkin sudah saatnya Adit membuka diri. Meski jika nantinya tidak cocok untuk menjalin asmara, setidaknya bisa berteman.


"Pacar maksudnya?"


Adit mengangguk pasti. Adit tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali. Perih nya masih terasa. Ditinggal saat sedang sayang-sayangnya.


"Tapi Mas Adit jangan bilang Kakak atau Mita ya. Aku sebenarnya ngga boleh pacaran sama keluarga."


Hal yang tidak mungkin pikir Adit. Adit bahkan sudah tidak berhubungan dengan Mita lagi sejak pulang dari Amerika. Beberapa kali pertemuannya di kosan hanya sebuah ketidaksengajaan yang berujung awkward moment (momen canggung).


"Pulang dari Amrik aku putus. Waktu kita ngga cocok. Dia kuliah di NTU jadwalnya padat, aku juga sama. Waktu kosong aku ngga pernah cocok sama waktu kosongnya dia jadinya gitulah. Daripada capek ya kan, belajar juga jadi ngga mood, jadi udah aku cut aja."


Beberapa bulan terakhir Damar memang meminta lebih banyak waktu pada Sena saat ia ada waktu free. Beberapa kali juga meminta Sena datang ke Singapur karena ingin bertemu. Tapi mana bisa? Seperti pungguk merindukan bulan. Paspornya saja di pegang Bu Lia.


Sena pun menceritakan hubunganya dengan Damar secara garis besar saja, karena supir pribadi nya sudah mengingatkan untuk segera pulang karena sudah terlalu malam.


"Bentar ya Mang. Ini anaknya temen Mama dari Jakarta, yang waktu itu ikut ke Amerika juga."


Sena juga memperkenalkan Adit secara singkat kepada Mang Kosim, agar tidak disangka pacaran.


"Mas Adit, aku pulang dulu ya. Enin kalau aku belum pulang, ngga bakal mau tidur walaupun ngantuk. Beberapa kali maksa nunggu akhirnya ketiduran di depan TV."


Ternyata cucu kesayangan Nenek, Adit tersenyum.


Sejak saat itu Sena dan Adit sering bertukar kabar.


"Sen lagi ngapain?"


atau


"Sen gabut nih, temenin chatting dong kalau ngga ganggu."


atau


"Sen kapan ada waktu free? Aku pengen ke Bandung."


Adit memutuskan vacuum dari dunia endorse instagram. Karena terkadang saat harus foto produk Adit teringat Mita yang akhirnya membuat mood nya hilang. Dan tidak ingin melakukan apapun.

__ADS_1


Selesai sidang, yudisium dan menyiapkan wisuda, waktunya lebih banyak ia gunakan untuk mengumpulkan informasi mengenai kuliah S2 di Jepang. Adit ingin melanjutkan kuliah sambil part time di Jepang. Ia ingin menjadi seperti laki-laki biasa pada umumnya. Semuanya Adit lakukan agar luka hatinya sembuh.


"Mas katanya kalau move on, harus ada orang baru yang bantu kita buat move on."


Saat itu Adit mendengar kabar bahwa Rama sudah melamar Mita secara resmi. Artinya dua orang tersebut akan segera menikah.


"Maksudnya harus punya pacar baru?"


"Yap."


"Belum kepikiran. Kamu sendiri belum move on?"


"Aku masih cape pacaran backstreet gitu Mas. Pengennya orang deket aja yang keluarga ku kenal biar ngga ribet perizinannya. Karena ternyata capek kalau akhirnya putus-putus juga. Padahal aku tau banget kalau mantan aku itu sayang ke aku, tapi ternyata sayang aja ngga cukup."


Adit berdehem membaca pesan terakhir dari Sena, sedikit gede rasa kalau yang Sena maksud adalah dirinya.


"Kamu udah suka orang lain?"


Adit memberanikan diri bertanya lebih banyak.


"Ngga tau juga sih. Orangnya juga ngga tau gimana perasaannya ke aku. Aku ngga mau terlalu berharap."


Fix Sena sedang menyukai seseorang, entah siapa orangnya.


*****


Sejak Selasa sampai hari ini, Terhitung sudah 4 hari Mita tidak masuk magang dengan izin keperluan keluarga. Sesekali boleh lah menggunakan privilege seperti yang Rama suruh.


Mita hanya bisa mengangguk jika Rama sudah mengeluarkan ultimatum yang membahas keribetan, karena Rama paling tidak menyukai hal tersebut.


Setelah Kamis kemarin check out dari hotel, Mita pertama kali menginjakan kaki di apartemen Rama.


"Ini rencananya mau aku buat basecamp aja buat bujang-bujang kantor."


Fery yang saat Itu ada di apartemen tersenyum mendengar kata bujang.


"Jadi aku mau beli unit yang di atas buat kamu. Biar kamu ngga keganggu sama aktivitas anak-anak. Fery udah nawar kemarin di lepas nya berapa Fer?"


"Mentok nya 2,5."


Fery menjawab sambil tetap mengupas salak.


"2,5 apa Yang?"


"2,5 M masa 2,5 juta. Unit nya lebih rapi dari unit ini. Ya kalau ini mah apartemen bujangan jadi rada berantakan. Kalau yang sana udah rapi, lebih luas, posisi nya juga diatas. Jadi lebih private."


Mita melongo.


"Sayang uang ngga sih Bang 2,5M buat 1 apartemen?"

__ADS_1


"Aku lebih sayang kamu. Mau liat ngga?"


Mita mengganguk, "boleh."


Setelah melihat-lihat, Mita suka dengan apartemennya.


"Bisa langsung proses jual beli atau gimana Bu?"


Rama akhirnya negosiasi dengan pemilik apartemen yang ia incar mengenai masalah pambayaran , pengurusan surat-surat dan penyerahan kunci.


Namun karena Rama ingin agar bisa segera diisi, Rama meminta pengurusan surat-surat dapat diproses secepatnya.


"Kalau Pak Rama mau isi dalam waktu dekat silakan saja Pak. Sambil kami urus surat-suratnya."


Fix, akhirnya Rama membeli apartemen tersebut di depan notaris.


Mita hanya heran, segitu mudah nya Rama membeli apartemen yang milyaran.


"Padahal aku ngga masalah sih Bang sementara apartemen bareng-bareng sama Fery. Aku juga disini tinggal 3 bulan lagi, nanti balik ke Bogor."


Rama menggeleng tanpa ragu.


"Jangan dong sayang. Kamu nanti ngga punya privasi."


Sabtu pagi Rama mengajak menginap di rumah Bu Lia. Karena sejak pulang dari Amerika, Rama belum kembali ke rumah orangtua nya.


Sena juga belum kembali ke Bandung karena masih merasa lelah.


"Ini baru akad doang kok aku udah cape banget ya Kak."


"Anak manja."


Ponsel Sena yang tergeletak di meja makan bergetar, panggilan video dari seseorang yang Sena tulis dengan nama Mas AW. Meski hanya inisial, Mita hafal betul siapa pemilik inisial nama tersebut. Sena mengambil ponselnya lalu menutup bagian layarnya dengan telapak tangan.


Tanpa permisi Sena menuju kamarnya.


Mita hanya tersenyum melihat tingkah adik iparnya itu.


"Adik iparku lagi video call sama Adit."


"Masa?" Rama mengerutkan keningnya.


"Biarin deh anak muda. Kita ke kamar yuk. Di kamar ku yang di sini kan belum nyoba."


Seketika Mita langsung ambyaarrr. Rama menggendong Mita ala bride (penggantin).


Bi Imas yang sedang menggelap meja makan hanya tersenyum seolah menggoda.


"Maklum Bi pengantin baru."

__ADS_1


"Abang turunin atuh Bang."


__ADS_2