Cinta Mita

Cinta Mita
Menikmati Ramen Denganmu


__ADS_3

"Ini namanya Shinjuku Gyoen National Park. Kedai ramen nya di sana."


Adit menunjuk sebuah restoran yang terlihat dari jauh kental akan ornamen menyala berwarna merah.


Taman Nasional Shinjuku Gyoen adalah sebuah taman seluas 58,3 hektar dengan keliling 3,5km yang terletak di Shibuya dan Shinjuku. Taman ini memadukan tiga gaya yang berbeda, yaitu taman formal Prancis, taman lansekap Inggris dan taman tradisional Jepang.


Pada awalnya, taman ini merupakan kediaman keluarga Naitō di zaman Edo. Setelah itu, Badan Rumah Tangga Kekaisan Jepang mengelolanya menjadi sebuah taman. Sekarang, taman ini telah menjadi taman nasional di bawah yuridiksi Kementerian Lingkungan Hidup Jepang.


"Berarti tadi kita jalan jauh dong? Dari Shibuya ke Shinjuku."


Sena berhenti berjalan ketika menyadari bahwa ia sudah berjalan jauh.


"Lumayan 40 menit."


Adit tertawa melihat Sena dan Mita yang tidak sadar sudah berjalan sejauh itu. Sedangkan Adit setelah tinggal di Jepang satu tahun lamanya, sudah terbiasa dengan budaya jalan kaki.


"Nanti malam kalau aku pegel-pegel gimana? Kalau Teteh pegel gimana? Gila sih diajak jalan sejauh ini."


"Aku pijitin kamu, kamu pijitin Teteh. Nginep dimana?"


"Di Keio Plaza Hotel."


"Serius? Ini kita udah deket ke hotel kamu. Tinggal dua kali belok kanan."


Mita dan Sena geleng-geleng kepala bersamaan.


"Gila sih."


Tapi anehnya Sena tidak terasa capek walaupun berjalan lumayan jauh. Mungkin karena suasana Jepang yang ramah untuk pejalan kaki. Mungkin juga karena ada Adit di sisinya.


"Ngga apa-apa, di Jakarta kan kita ngga bisa jalan gini."


Mita justru menikmati perjalanan hari ini.


"Tadi bayar taksi berapa?"


"Mahal banget taksi di sini, aku sanpe shock. Tadi aku bayar 960 ribu."


Saat turun dari taksi tadi, Mita memastikan kembali harga yang harus ia bayar ¥9100 (¥1 \= Rp106) bahwa tidak salah.


"Makanya mendingan jalan dibanding bayar taksi satu juta."

__ADS_1


"Iya ya, buat ukuran taksi jarak segini doang satu juta mahal sih."


Sena yang tidak pernah perhitungan terhadap uang, setelah melihat sendiri Adit bekerja sampai pusing, ia harus lebih rasional lagi dalam membelanjakan uang.


Begitu sampai di depan kedai yang Adit maksud, ketiga muda-mudi tersebut harus menelan kekecewaan karena kedai tersebut tutup. Dengan gantungan tulisan kanji Jepang.


"Permanently closed."


Adit menterjemahkan arti dari gantungan tersebut.


"Yahh makan dimana dong kita?"


"Arah ke hotel ada ramen halal juga. Pakai taksi aja ya."


Adit membuka aplikasi DiDi, sebuah aplikasi transportasi online asal China yang sudah beroperasi di Jepang sejak 2018.


"Aku udah lama ngga kesini sebenernya, so sad tutup permanen. Padahal owner nya baik banget, ramennya juga enak."


"Mahal ngga taksinya? Kalau deket masih oke sih jalan juga."


Mita belum banyak berubah meski suaminya seorang Rama Rachman.


"Ngga, ini cuma 90 ribu."


Meski menjadi nyamuk, Mita menikmati kehadirannya di tengah-tengah Adit dan Sena. Adegan suap-suapan pun harus ia saksikan.


"Makasih ya udah kesini."


Adit menyuapkan ramen dari sumpitnya untuk Sena. Ramen dengan kaldu ayam yang diracik dengan bumbu rahasia.


Ichiran Ramen non pork diperkenalkan pada Februari 2019. Sebelumnya, Ichiran terkenal dengan ramen berkuah babi namun karena meningkatnya traveler Muslim, Ichiran Ramen membuka kedai khusus non babi.


"Makasih nya ke Teteh yang udah bela-belain jauh dari Kakak biar aku bisa ke sini."


Adit menyimpan sumpitnya lalu membungkukan badan ke arah Mita.


"Makasih Teh. Harus ngasih apa ini ke bos?"


Adit yang tidak enakan, bingung harus memeberikan apa sebagai tanda terima kasih.


"Kayak ke siapa aja deh heran."

__ADS_1


Selesai makan ramen, Sena memutuskan langsung ke hotel. Namun sebelumnya Adit memesan ramen kering khas Ichiran sebagai oleh-oleh untuk Rama.


"Buat Abang, sampain salam aku."



"Wah Abang seneng banget nih. Ngga ikut ke Jepang tapi ikut ngerasain ramennya. Makasih Dit."


"Dengan senang hati untuk Kakak."


Sena tersenyum, melihat Adit yang bisa memposisikan diri di keluarganya.


"Mas ikut ke hotel dulu ya?"


"Hah gimana?"


Mita berharap pendengarannya salah.


"Ngga apa-apa kan kalau aku ajak Adit ke hotel? Ngobrol di living room doang. Kan ada Teteh ini, ngga bakal ngapa-ngapin aku juga."


"Aku nanti malam jemput aja, kita makan malam di luar."


"Berdua?"


"Kamu kan kesini sama Teteh, masa Teteh sendiri di kamar."


Meski ingin berduaan dengan Sena, namun Adit tidak sampai hati jika tidak mengajak Mita.


"Aku kayaknya mau tiduran aja di kamar, lumayan lelah dan kenyang. Rebahan pilihan terbaik untuk bumil saat ini."


"Mau jalan atau naik taksi? Kalau jalan 5 menit sampai."


"Jalan aja."


Sena menarik tangan Adit keluar dari kedai ramen. Adit hanya tersenyum mengikuti Sena.


"Tolong sabar, masih di muka umum."


Mita memperhatikan Adit yang ingin nyosor.


"Tau aja."

__ADS_1


Adit tertawa salah tingkah


__ADS_2