
Bonus hari Ini, aku up 2 episode 🤗
Yang belum memfavoritkan novel ini yuk favorit-kan dulu, biar novel ini banyak yang baca jugaa. Semoga terhibur dan ada hal baik yang bisa diambil ❤️
******
Makan siang di pabrik hari ini Fery sudah menyiapkan ayam bakar lengkap dengan lauk lainnya dengan box bertuliskan restoran terkenal dan slice cake bertuliskan kata "Maaf".
"Abang makasih makan siang nya."
akhirnya ia menuliskan pesan untuk Rama.
Mita mencari sudut sepi agar bisa video call dengan Rama tanpa terlihat orang lain dengan earphone menempel di telinga. Rama Sudah menyuruh istirahat di ruangan Fery, tapi Mita menolak.
"Udah ngga marah?"
"Aku ngga marah... cuma kecewa."
"Itu lebih dalem dari marah sayang... Dengerin dulu aku, aku ngga mungkin selingkuh. Aku ngga ada waktu buat selingkuh, seminggu ini aja aku sibuk ngga bisa liat kamu meski cuma kaya gini. Gimana kalau aku punya selingkuhan... Ngga mungkin. Iya ngga?"
Mita diam sambil menikmati makan siang.
"Iya ngga Mit?" Rama memperjelas ucapannya. Persis seperti Pak Romi.
"Iya..."
"Jadi jangan bahas lagi selingkuh. Ucapan itu doa kamu tau ngga? Aku sambil nulis-nulis ya." Di Seattle saat ini pukul 10 malam, waktu Rama menyusun thesis.
"Bang, aku naik motor aja ya ke pabrik. Ngga jauh kok jarak kosan ke pabrik."
Tak ada respon dari Rama. Kalimatnya sudah sepanjang itu Rama tidak dengar?
"Abang..."
"Apa?"
Tatapan Rama masih fokus dengan kertas di hadapannya.
"Kalau sibuk udah dulu video nya, aku ngga mau ganggu. Beresin dulu."
"Ini bentar lagi beres, tanggung udah di otak aku tinggal di tulis. Jangan ditutup, susah lagi nyambungnya."
Lima menit Mita menunggu, Rama masih asik dengan kertas nya. Sepuluh menit akhirnya Rama meletakan juga kertasnya.
"Udah beres?"
"Belum, tapi udah aku tulis semua yang aku pikirkan tadi. Maaf nunggu... Gimana?"
"Aku naik motor aja ya ke pabrik. Ngga jauh kok jarak kosan ke pabrik."
"Kamu ngga nyadar Tangerang segitu panasnya? Udah panas, berdebu."
''Yaudah aku naik taksi online aja."
__ADS_1
"Ngga efisien kalau disana. Aku disini pake taksi online karena jarang keluar. Ke kampus aku naik tram, karena fasilitas umum disini baik. Disana ngga bisa."
"Aku kursus nyetir aja kalau gitu, ngga usah pake supir. Aku jadi di omongan karyawan senior."
''Kamu tega pecat si Tarjo? Dia baru kerja berapa hari, nganggur nanti dia udah berhenti dari tempat kerjanya yang lama."
Mita diam, bingung. Nego apa lagi?
"Dia nunggu di kosan aja, ngga usah nunggu di pabrik. Aku pulang Pak Tarjo jemput lagi."
Rama menahan emosi nya sekuat tenaga, menahan untuk tidak berkata bahwa Mita ribet. Belajar mengalah.
''Ngga bisa, kamu pergi nanti dia ngga tau. Biarin aja paling orang anggap kamu anak orang kaya. Tarjo ngga parkir di parkiran khusus pimpinan kan?''
''Nggak."
"Yaudah, clear. Ngga usah diperpanjang."
"Aye-aye captain." (oke kapten)
Rama tertawa.
"Kamu ngga perlu marah ke Fery. Dia cuma ngasih tau, dia baik sama aku."
"Aku marah karena dia sok tau, ngeduluin aku ngomong. Nanti ada saatnya aku kasih liat semuanya, tunggu aku pulang. Aku ajak kamu keliling, kenalin kamu ke semua karyawan aku sebagai calon istri bos besar. Keren ngga?"
Calon istri bos besar? Mita tidak pernah membayangkan akan ada di posisi itu.
"Aku ngga pernah ngeliat Mba Memes. Katanya dia kerja sama kamu."
"Istri nya Mas Abi, kakak iparnya Adit."
Rama mengingat-ngingat sebuah nama. Mungkin maksudnya Fima Pramesty.
"Oh... kenapa nanyain dia? Mau nanya adik iparnya?"
"Mulai... Mau ngajak aku debat lagi?"
Rama tertawa jahil.
"Di kantor panggilannya Fima. Dia kantornya di Bekasi, kadang ke Jakarta, Depok. Ke Tangerang paling 1 sampai 2 bulan sekali. Fima sama Fery ngga bisa disatuin, ribut terus."
Kini Mita yang tertawa.
"Kamu hebat masih muda sudah sesukses ini."
"Bangga ngga?"
"Bangga, tapi kadang minder."
"Ngga perlu minder. Temenin aku aja, aku ngga minta banyak. Makanya... kamu jangan sering-sering ngambek, marah, kerjaan aku itu buanyak. Aku suka tambah pusing kalau kamu ribet. Aku suka gampang emosi karena pikiran aku emang banyak. Kalau malem aku suka begadang, itu sambil mantau pergerakan saham. Tapi kita ngobrol gini, jadi obat buat aku. Gimana nanti udah nikah yaaaa, obat nya bukan obat abal-abal."
Rama mengedipkan matanya menggoda.
__ADS_1
"Tuh mulai ngaco, makan siang aku udah abis. Aku shalat dulu."
Mita menyudahi video call karena tidak mau Rama tambah ngaco.
Begitu masuk ke ruangan supervisor dimana meja Mita selama magang berada, ia dipanggil oleh Pak Ichsan, salah satu supervisor senior.
"Kamu anak magang baru? Kenapa bisa ada disini?"
"Iya Pak. Saya atas perintah Pak Fery disini Pak."
"Anak magang biasanya di ruang khusus di belakang, gabung sama anak magang lain."
Beberapa SPV terlihat bisik-bisik, entah membicarakan apa.
"Baik Pak, saya tanya Pak Fery dulu."
"Ngga usah saya aja yang cari."
Mita menghubungi Fery untuk segera ke ruang SPV karena kesalahpahaman yang terjadi. Akhirnya Fery terpaksa menyudahi makan siangnya yang belum selesai.
"Kenapa di sini?"
Fery melihat Mita di luar ruangan sedang bersandar tembok. Akhirnya ia menyuruh Mita masuk.
"Mita ini titipan dari Pak Rama, atas perintah Pak Rama, ruangan Mita disini."
"Memang dia siapa Pak? Saudara?"
"Kurang lebih begitu."
Ingin rasanya Fery mengatakan yang sebenarnya, untuk mempercepat urusan ini selesai. Tapi ia tidak ingin salah ngomong kembali kalau berurusan soal Mita.
"Tapi harusnya walaupun saudara tetap harus mengikuti peraturan disini dong Pak Fery. Karena di ruangan ini kan banyak berkas penting kantor yang sifatnya rahasia perusahaan. Kecuali kalau istrinya direksi mungkin bisa disini."
"Mohon maaf atas kelancangan saya berada di sini Pak. Maaf saya belum memperkenalkan diri saya secara pribadi kepada Bapak. Saya Paramitha, calon istri pemilik perusahaan ini. Kami sudah lamaran."
Mita mengulurkan tangannya yang disambut dengan tatapan kaget beberapa SPV yang sedang istirahat di ruangan tersebut, termasuk Pak Ichsan dan Rizal.
Mita merasa gerah dengan tatapan mengintimidasi laki-laki tua sok di hadapannya ini, akhirnya dengan lantang ia membuka jati dirinya.
"Kak, dimana ruangan Rama? Aku ngga mau di sini. Tolong suruh orang buat beresin tas aku bawa ke ruangan Abang."
Fery menarik nafas, lantas membuka pintu untuk Mita.
"Di sana. Nanti aku suruh si Agus beresin."
Mampus, ngamuk kan tuh si Mita batin Fery tertawa. Fery sedikit lega dengan terbongkarnya siapa Mita, ia tidak perlu pusing menutupi hal-hal ganjil yang mungkin menjadi pertanyaan para karyawan.
"Supervisor doang sombong, di atas langit masih ada langit. Di atas bapak itu masih ada Rama." Mita mendengus kesal, Fery hanya tersenyum.
Tidak lama Pak Ichsan datang ke ruangan Rama untuk meminta maaf karena ketidaktahuannya. Dan memohon agar permasalahan tadi tidak sampai ke telinga Rama.
"Lain kali Bapak harus sopan ke siapa pun."
__ADS_1
Setelah kejadian itu tidak ada satu pun yang berani menggangu Mita, hanya karyawan yang baik dengannya dari awal magang yang ia pilih menjadi temannya.