
"Mau beli motor kapan, Ga?"
Yoga yang sedang menonton TV di ruang tengah, tidak siap dengan pertanyaan tiba-tiba dari Rama.
Sejak pertama kali Rama membahas akan membelikan motor, Yoga seperti diberi harapan. Ia sudah membayangkan motor gede seperti yang Adit punya. Setelahnya Yoga seperti memiliki hobi baru, yaitu melihat-lihat motor dengan CC tinggi di google dan menonton youtuber otomotif yang sering membahas motor. Lalu Yoga menjatuhkan hatinya pada satu motor.
Impian !
Hampir setahun berlalu sejak obrolan motor, Yoga masih menanti motor impian namun tak berani meminta.
Terkadang Yoga ingin menagih motor kepada Mita, namun selalu ia urungkan karena teringat pesan dari Bu Rini.
"Ngga boleh minta. Kalau dikasih ambil, tapi jangan sekali-kali nagih atau minta. Mau ke Teteh, apalagi ke Abang. Ngga sopan. Abang teh uangnya banyak, tapi pengeluarannya juga banyak."
Hingga Yoga tidak pernah berani membuka obrolan mengenai motor. Kini feeling Yoga, penantiannya akan segera berakhir.
"Gimana Abang sama Teteh aja."
Yoga menjawab malu-malu. Ia tipe laki-laki yang tidak banyak menuntut dan hanya bicara seperlunya.
"Beliin Yang... Aku udah janji beliin Yoga motor."
Beberapa kali Rama ingin membeli motor, namun Mita larang. Karena bagi Mita saat itu, Rama belum membutuhkan motor.
"Teteh mah koret ke adik sendiri." (koret : pelit)
Yoga merengut. Ternyata, bukan Rama yang menunda membelikannya motor. Malah Teteh nya sendiri ! Yoga kesal.
"Bukan koret, pas SMA kan sekolah kamu tinggal naik angkot sekali. Ngapain gagayaan naik motor? Yang ada kamu main terus bukannya belajar buat tes kuliah."
"Sekarang udah mau kuliah berarti udah boleh atuh?"
Mata Yoga yang berbinas, sudah tidak bisa menutupi antusiasme nyaembeli motor.
"Udah pasti keterima dimana?"
"Pengumumannya minggu depan."
"Yaudah sabar tunggu pasti dulu. Kalau keterimanya di Bandung, beli nya di Bandung aja. Biar ngga repot bawa kesananya."
"Ribet amat beli di Bandung. Disini juga banyak dealer. Perempuan emang dasar, kalau ada yang lebih ribet ngapain pakai yang simpel? Heran."
Rama menggerutu, menolak cara berpikir perempuan kebanyakan.
"Masalah ngangkut motor mah, titip aja di jasa angkut suruh bawa atuh Teh."
"Bisa gitu JNE ngirim motor?"
"Ya ngga JNE juga atuh Sayang. Ada kargo lain yang melayani pengiriman barang besar. Anak IPB, kudet..."
Rama sudah lama tidak menggoda Mita dengan almamaternya.
"Ih aku mana tau yang gituan."
Mita membenamkan tubuhnya di perut Rama yang sedang menggunakan kaos oblong dan celana pendek khas rumah.
Tanpa sungkan Rama membelai rambut dan mencium kening Mita.
"Anak kecil ini udah mau punya bayi, Bu..."
Rama menatap Bu Rini sambil memeluk penuh rasa sayang istri tercinta. Perasaannya kepada Mita semakin hari semakin bertambah. Entah apa yang sudah Mita berikan pada makanannya tiap hari. Apakah ada semacam pelet yang Mita tambahkan?
"Iya, Ibu juga ngga nyangka udah mau punya cucu. Padahal asa belum lama Mita naik-naik pohon rambutan di kobong." (kobong : surau tempat mengaji)
Rama kaget mendengar fun fact terkait istrinya.
"Yang bener Bu, Mita yang feminim gini suka manjat pohon?"
"Bener, Bang. Yoga dulu diajak naik ke pohon, eh pas turun ditinggalin."
"Bengeng kamu mah dasar, malah nangis bukannya ikut turun."
"Takut atuh namanya anak kecil."
Rama tertawa mendengar masa kecil Mita. Malam itu di apartemen terasa hangat karena kehadiran Bu Rini dan Yoga. Tak lama, Pak Zainal ikut bergabung melalui sambungan video call karena rindu dengan anak gadisnya yang sudah tidak gadis.
*****
Adit menunggu Sena di depan gedung yang sudah informasikan melalui whatsapp.
Sempat terjadi perdebatan via whatsapp, mengenai dimana lokasi untuk Adit menunggu. Awalnya Sena meminta Adit untuk menunggu di parkiran, namun ditolak mentah-mentah oleh Adit karena ia membawa motor, bukan mobil. Karena menunggu di parkiran motor adalah ide buruk.
"Di kantin lagi aja ya?"
"Jangan, nanti heboh."
Sena khawatir Adit bertemu akang-akang yang suka mencarinya di kantin.
"Di depan gedung seni rupa aja."
__ADS_1
Berbekal rajin bertanya, Adit akhirnya menemukan gedung yang Sena maksud. Begitu melihat Sena keluar, Adit memakai masker dan topi nya kembali. Bagaimanapun, Adit ingin membuat Sena nyaman. Begitupun saat Sena melihat kehadiran Adit di pintu masuk, Sena memisahkan diri dari gerombolan teman kelasnya lalu setengah berlari ke arah Adit. Ia tidak mempedulikan "cie ciee" yang ramai diucapkan oleh teman sekelasnya.
"Parah Sena, hari ini jadi hari patah hati se-ITB."
"Si Dika gelo, lebay lu." (gelo : gila)
Sena tidak bisa menahan senyum karena digoda teman-temannya.
Adrenalin Adit seperti terpacu mendengar Sena menjadi bahan candaan teman-temannya. Karena menurutnya meski bercanda, jelas memiliki arti.
Adit lantas membuka topi dan maskernya kembali lalu tersenyum, agar teman-teman Sena bisa melihat jelas wajah tampannya.
"Wooooo, ngaca Sal ngaca."
Laki-laki bernama Dika mendorong seorang laki-laki berkacamata yang sepertinya menyukai Sena. Laki-laki tersebut dengan wajah memerah menahan malu menutupi wajahnya seperti salah tingkah.
"Gila ih pada."
Sena menarik Adit setengah berlari sambil tertawa melihat tingkah absurd teman-teman kelasnya.
"Kayaknya bener yang dibilang anak-anak di kantin tadi, di sini kamu yang paling cantik."
Adit memperhatikan mahasiswa ITB. Menurutnya tidak ada yang lebih modis dan lebih berkelas jika dibandingkan dengan Sena.
"Ngga lah, disini juga banyak yang cantik. Mas belum ketemu aja."
"Setidaknya dibanding temen sekelas kamu tadi."
"Ngga liat Sarah? Tadi yang jalan sama aku."
"Yang pake kemeja merah?"
"Nah kan tau aja cewek cakep."
"Ehh ngga gitu. Itu paling lumayan memang, tapi kalau sama kamu ya jauh."
"Halah, mulut laki-laki. Manisssss sekali."
Adit tertawa Sena meragukan seeucapannya.
"Lho, bener Sayang."
"Gombal Zheyengng."
"Serius kamu memang lebih."
"Lebih apa?"
Adit mencubit hidung Sena.
"Enak aja. Tapi bener sih."
Kini keduanya tertawa. Adit dan Sena masih menjadi bahan perhatian mahasiswa lain yang juga hendak pulang. Namun keduanya sudah berprinsip: "Sabodo teuing !" (bodo amat)
"Capek banget ngga?"
Sambil berjalan, Adit tanpa canggung memijat punggung Sena yang sudah pasti pegal setelah seharian beraktivitas setelah melakukan riding Jakarta Bandung.
"Lumayan. Kenapa?"
"Makan dulu mau?"
"Makan di rumah Enin aja."
Sena merasa sedikit lelah, ingin segera pulang dan mandi air hangat lalu tiduran di kasur empuknya. Mungkin karena pertama kali naik motor sejauh 170km. Dipikir-pikir hebat juga ia bisa melakukan itu. Kalau bukan karena cinta, tak sudiiiii !
"Aku laper banget. Ganjel doang deh."
Adit menarik tangan Sena agar serapat mungkin dengan dirinya. Meski masih di area kampus, Adit sudah tidak peduli. Besok Adit harus kembali ke Jakarta. Ia harus memaksimalkan waktunya dengan Sena.
"Yaudah... Mau makan apa?"
"Bakso, mie ayam mungkin?"
Sena kaget selera makan Adit yang merakyat. Berbeda 180⁰ dengan selera dirinya.
"Ramen mau ngga?"
"Boleh kalau ada."
Adit tersenyum. Ia juga baru menyadari perbedaan antara keduanya.
"Ada dong, apa yang ngga ada di sini."
"Kamu biasanya makan dimana?"
Kini Adit sudah merangkul Sena menuju parkiran. Tanpa sungkan selayaknya mahasiswa lain.
"Di luar banyak sih tempat makan. Cuma kayaknya bukan saat yang tepat untuk kesana."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Jam segini lagi rame banget anak kampus yang nyari makan. Biasanya sebelum pulang ke kosan suka pada beli makan dulu buat bekel di kosan. Jadi pas makan malam mereka ngga keluar kosan lagi. Dan aku males diliatin lagi."
"Malu punya pacar aku?"
"Ngga lah, risih aja. Please, come on..." (ayolah)
Sena tidak ingin Adit merajuk kembali. Namun Sena melihat sikap Adit yang biasa saja, artinya Adit sedang bercanda.
Setibanya di parkiran, Adit memakaikan helm dan menautkan pengait helm Sena. Jantung Sena berdegup menjadi tidak karuan karena tatapan Adit. Terlebih posisi kedua nya yang begitu dekat, dan kampus sudah sepi.
"Ini di kampus, Non. Jangan deg-degan dan berharap aku do something to you." (melakukan sesuatu ke kamu)
"No, what you mean? I didn't expect anything. Cuma gerah, asli deh." (ngga, maksudnya apa? Aku ngga ngarep apapun)
"I can hear your heartbeat. Like deg-deg-deg." (Aku bisa denger detak jantung kamu. Kaya deg-degan)
Adit tertawa sambil memperagakan tangannya di dekat dada.
"Tau ah."
Sena naik motor duluan karena merasa dijahili.
"Can I do something to you?" (Bisakah aku melakukan sesuatu untuk kamu?"
Adit mendekati Sena kembali sambil berbisik setengah mendesah.
"No, come on !"
Sena terlihat kesal hingga membuat Adit tertawa semakin lebar.
Sena berperan sebagai maps hidup untuk menunjukan posisi tenapt makan yang menjual ramen. Namun Adit merasa heran, karena letaknya terlalu jauh untuk ukuran kantin dimana tempat mahasiswa makan.
Ternyata Sena bukan menunjukan kantin atau warung sederhana, ternyata restoran Jepang.
"Aku kira di kantin deket kampus. Ternyata memang seleranya tempat fancy." (fancy : mahal)
"Aku lumayan cape sih sebenernya, kalau makan deket kampus, tambah pusing kepala aku. Rame banget orang."
"Ohh gitu..."
Adit menahan senyum karena ternyata Sena memang se-eksklusif itu.
"Serius rama banget. Bukan anak yang baru pulang kampus aja, anak kosan juga keluar tuh sore-sore cari makan buat malem."
Adit tersenyum jahil meyakinkan Sena bahwa ia percaya.
"Eh tapi bukan karena aku sombong lho ya. Awas ngira aku sombong. Kalau hari-hari biasa, aku juga suka makan di warung makan gitu. Cuma waktunya aja yang ngga tepat."
"Iya aku percaya."
Begitu pesanan sampai, Sena langsung mengeluarkan ponselnya untuk memotret.
"Ngapain?"
"Foto kamu dong."
"Yang bener? Kok kameranya di bawah gitu? Emang keliatan muka aku nya?"
"Badannya aja cukup, sama ramen nya juga keliatan."
"Ngga bisa, muka akunya harus keliatan. Enak aja udah jauh-jauh nganterin kesini, ngga di post."
"Ini kan orang juga tau, aku udah punya kabogoh walaupun muka nya ngga keliatan. Ampuuun, si pengen banget tenar."
"Harus. Biar cowok-cowok ITB tau Sena udah punya pawang. Mention aku biar jelas namanya yang gede."
"Mbak Rara kali ah pawang." (Mbak Rara : pawang hujan viral)
"Pokoknya post. Ngga tenang aku kamu tiba-tiba private hubungan gini. Maksudnya apa?"
Sambil mengaduk-ngadul ramen, Adit mengekpresikan rasa kesalnya. Kini Sena yang tertawa melihat wajah Adit.
"Dari siang aku udah nahan-nahan pengen ngomong, apa masalahnya kalau orang tau pacar kamu itu aku?"
"Mas terlalu ngetop tau ngga sih, aku risih."
"Risih apa sengaja ngga mau ketauan? Biar fans nya ngga kabur."
"Risih, sumpah risih. Lagian sekarang lagi musimnya sat set sat set nikah. Still private until akad."
"Halah, opo kui sat set sat set. Diem-diem ada yang tikung lagi bahaya. Bisa kena mental aku."
Tawa Sena semakin jelas, mendengar omelan Adit dengan Jowo medhok.
"Mbak, suami saya pesen ocha lagi ya."
Adit tersedak dengan ucapan setengah teriak Sena pada waitres yang sedang berdiri.
__ADS_1
"Biasa aja makannya pelan-pelan, suamiku."
Karena kesal karena Adit kerap kali mengaitkan hubungannya dengan akang-akang. Sekalian aja, gua kenalin sebagai suami !