Cinta Mita

Cinta Mita
Overthinking/


__ADS_3

Rama


Overthinking terus menghantuinya sejak semalam. Keberangkatan yang harusnya pukul 13.10 harus reschedule karena dipindahkan menjadi 06.35 keesokan harinya.


Apakah dengan reschedule yang mundur 17 jam itu artinya ia bisa bertemu Mita sekali lagi saja? Benar-benar untuk yang terakhir. Atau memang semesta tak menghendaki nya untuk berangkat. Ia benar-benar overthinking.


Namun gengsi rasanya jika ia harus mengirim pesan duluan, mengingat ia sudah mengatakan bahwa pertemuan kemarin adalah yang terakhir. Bahkan sekarang belum 24jam dari terakhir mereka bertemu. Ia khawatir di cap sebagai laki-laki yang tidak bisa dipegang omongannya.


Tapi ia rindu... Bagaimana jika ia sudah disana? Bisakah ia pulang?


Akhirnya ia mengambil ponselnya, dilihatnya akun instagram Mita dengan fake account miliknya.


Ada 32 foto yang ia unggah disana. Fotonya di dominasi dengan foto-fotonya menggunakan seragam berwarna putih abu. Wajahnya yang polos membuatnya gemas. Meskipun seumuran Sena, namun wajah Mita lebih polos dari adiknya itu. Mungkin karena belum tersentuh skincare. Namun tidak mengurangi sedikit pun kecantikannya. Ia pun heran.


Ia jarang sekali membuka instagram, hanya waktu-waktu tertentu saat mencari orang-orang yang ingin ia ketahui. Sehingga ia tidak terlalu paham akan aplikasi tersebut.


Ia pun melihat akun lain yang sempat ia follow yaitu Adit, tentu saja masih dengan fake account. Tujuannya tentu saja untuk memantau aktifitas dua anak muda tersebut, yaitu Mita dan Adit. Bahkan sekarang ia menjadi salah satu dari sekian ratus ribu followers nya? Hah! Ia kesal sekali, namun harus melakukannya.


Niat hati ingin melihat foto profil Adit, ia malah terbawa ke instagram story laki-laki itu.


Igs pertama merupakan foto buku yang tengah ia pegang ''pencitraan luar biasa" batinnya sinis.


Igs kedua dan ketiga berisi endorsement sepatu. "Apa yang istimewa dari anak ini? produk yang ia promosikan auto laku kah?" ia merasa kalah satu poin. Jangankan menjadi selebgram, menggunakan instagram saja ia tak mahir betul.


Igs keempat membelakan matanya. Story tersebut berisi foto seorang perempuan yang sangat ia kenal sedang memakai helm sambil tersenyum


Sementara itu story terakhir berisi foto wefie mereka berdua menghadap kamera tersenyum di atas motor dengan latar perkebunan teh. Indah betul!


Sekarang, tak ada alasan untuk ia membatalkan rencananya pergi. Mungkin sudah jalannya seperti ini. Mita benar-benar sudah melepaskan nya.


Tentang rindu


Ternyata adalah kamu


Meski kenyataannya kita jauh


Aku berharap


Kita akan berakhir seatap


Kamu tempatku menatap


****

__ADS_1


Bu Lia


"Kak, semuanya udah beres?"


Ia masuk ke kamar Rama yang dilihatnya sedang berbaring di atas kasur dengan ponselnya.


"Udah Ma, tinggal berangkat ada aja reschedule segala. Untung belum berangkat ke bandara."


Rama bangun dengan setengah ngedumel.


"Ngga apa-apa jadi Mama ada waktu lebih lama sama kamu. Nanti bakal kangen, ngga bisa pelukin kamu, usapin tangan kamu kalau lagi di ceramahin Papa." Rama tersenyum.


Ia mendadak sendu. Rama anaknya yang jarang sekali menuntut atau meminta sesuatu. Berbeda dengan Sena yang memang banyak permintaan.


Baru kali ini Rama benar-benar menyukai perempuan. Ia kasihan melihat Rama yang tidak mendapatkan restu dari suaminya dengan Mita. Namun kesepakatan tetap kesepakatan. Sejak awal berumah tangga, ia dan suami nya sudah berkomitmen bahwa mereka harus satu suara. Jika ia sudah memutuskan sesuatu untuk keluarga, artinya semua harus ikut peraturannya. Begitupun sebaliknya.


Semoga kepergiannya ke Amerika adalah keputusan terbaik, bukan pelarian. Ia selalu berdoa untuk anak-anaknya, agar selalu diberikan kebaikan dalam hidupnya.


*****


Rama


"Mita gimana? Udah pamit?"


"Udah kemarin aku mampir sebentar. Wajar kan?" ia meminta persetujuan bahwa yang ia lakukan bukan kesalahan.


Perempuan berhati malaikat di hadapannya mengangguk tersenyum.


"Sejauh ini kamu sudah memberikan yang terbaik yang untuk Mama. Dan mengambil keputusan terbaik untuk hidup kamu. Mama selalu mendukung kamu, apapun yang terjadi. Semoga suatu saat Papa bisa menerima ya."


Ia tersenyum, benar-benar menyejukan. Sekarang ia mengerti kenapa ia merasa cocok dengan Mita. Tidak lain karena Mita seperti Mama nya yang bisa menyejukan hatinya.


"You are the best. Aku pasti sepi banget disana ngga ada Mama." ia peluk Mama nya dengan erat. Perempuan yang menerima apapun keadaanya. Bahkan ia yakin, ibu nya ini tidak menolak perempuan pilihannya.


****


Bu Lia


"I will show you something." Rama menunjukan sesuatu dari ponselnya.


Ia mengambil ponsel yang Rama diberikan, lalu melihat foto dua orang anak muda yang terlihat bahagia dengan senyuman nya. Perempuan yang tidak asing, tapi siapa laki-laki di sampingnya?


"Mita sama siapa ini?" ia bertanya penasaran.

__ADS_1


Adit pun mengambil kembali ponselnya lalu memperlihatkan profil anak laki-laki tesebut yang terpampang nama lengkapnya "Aditya Wiraguna".


"Anaknya Bamwir?" ia bertanya mungkinkan Wiraguna yang tersemat dalam nama anak itu adalah nama yang sama dengan masa lalu nya?


"Kok bisa barengan? Mita kenal?" lanjutnya semakin penasaran.


"Adit juga suka sama Mita, dia yang punya kosannya Mita.


Ia pun terdiam, berusaha memahami yang Rama ucapkan.


Jadi Rama dan Adit anak dari Bambang menyukai dua gadis yang sama? Bagaimana bisa Persis seperti masa lalu? Seperti ia yang kala itu disukai oleh Bambang yang notabene adalah kakak tingkatnya, dan Romi teman kuliah kakaknya saat sekolah kedokteran.


"Mama mau minta maaf kemarin datang ke kosan Mita tanpa bilang dulu sama kamu. Saat itu Mama hanya memberi saran, sesuai kapasitas Mama sebagai orangtua." akhirnya ia bicara kedatangan NJ ya saat itu ke kosan Mita.


"Mama kemarin bilang, baiknya kalian fokus kuliah tapi boleh tetap berteman. Kalian bergaul seluas-luasnya karena itu akan berguna untuk lingkungan kalian nanti. Berteman dengan siapapun. Mungkin Mita dan Adit hanya berteman, seperti yang Mama sarankan kemarin. Dia benar-benar lakukan, anak pintar." ia mengusap punggung Rama. Terlihat gurat kesedihan di matanya.


"Dia disini belajar, ngga aneh-aneh anaknya." Ia mencoba mengusir pikirnya buruk yang membayangi Rama.


Tampak Rama memejamkan matanya, mencoba mengambil nafas pelan.


"Mama jangan terlalu naif, nggak ada yang namanya pertemanan tulus antara perempuan dan laki-laki. Apalagi perempuan nya kaya Mita yang lovable, dan laki-laki nya kaya Adit dari awal sudah suka sama Mita. Apalagi Adit termasuk yang oke untuk ukuran seorang laki-laki."


Benarkah seperti itu?


"Mama pernah denger sekarang itu banyak yang TTM?" Rama bertanya.


"Teman Tapi Mesra?" tebakannya sepertinya benar, apalagi arti TTM selain itu?


"Bukan. Teman Tapi Menikah. Mereka bisa jadi seperti itu. Sebelum moment itu datang, aku harus mempersiapkan diri kehilangan Mita untuk selama-lamanya."


Ia tersentak. Sudah sejauh itu pikiran Rama dengan Mita.


"Aku udah ikhlas kalau Mita sama orang lain. Dia berhak memilih, dia berhak mendapatkan yang terbaik."


Rama menutupi kesedihannya dengan senyuman yang ia tau hanya topeng.


"Kamu anak baik, akan ada perempuan baik untuk kamu meskipun itu bukan Mita. Sabar ya Nak..." Rama tersenyum mengangguk.


"Sena mana Ma? Dia ngga ada kangen-kengennya sama aku mau pergi lama. Kemarin di Bandung aku di palak beli sepatu limited edition apalah itu."


Sena yang semalam sampai rumah pukul 11 malam masih berleha-leha di kamarnya pagi ini. Rama bangkit, meninggalkan ia di kamarnya.


''Kamu nggak akan kehilangan Mita Nak, akan ada seseorang yang akan menjadi supporter loyal membantu kamu sekarang." ia tersenyum ketika menyadari sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2