Cinta Mita

Cinta Mita
Deep Talk


__ADS_3

Selesai makan malam, Sena dan Mita lantas mencicil packing beberapa barang yang sudah tidak akan digunakan lagi, sebagai persiapan kembali ke Indonesia tiga hari lagi.


"Lampu matiin ya Teh? Aku capek banget hari ini."


Secara otomatis Mita langsung terhubunga pada percakapan dengan Damar di restoran tadi. Bahwa Sena dan Adit mampir ke apartemen.


"Tadi ngapain aja?"


"Ke taman yang kemarin itu lho. Terus jalan-jalam ke pasar ikan gitu. Besok Teteh ikut ngga?"


"Ke apartemen ngapain?"


Penjelasan Sena tentang tempat yang ia kunjungi tidak menarik perhatian Mita. Mita lebih tertarik dengan kegiatan yang Sena dan Adit lakukan di apartemen.


"Main ke apartemen Adit, pengen tau kaya gimana. Dan kenalan sama temen deketnya Adit. Aku nitipin Adit juga."


"Yakin ngga ngapa-ngapain sama Adit?"


"Ngapain gimana sih Teh?"


"Kamu sama Adit kan udah dewasa. Kamu tau kan kalau melakukan itu kamu bisa hamil?"


Meski Mita tau Sena sudah dewasa, namun Rama masih memperlakukan Sena layaknya adik kecil. Dan kini, ia pun menganggap Sena adik kecilnya juga. Sama seperti Yoga.


"Making lovee? No no. Aku ngga melakukan itu. Aku masih sayang sama diri aku, sama keluarga."


Sena memeluk selimut yang melindungi tubuhnya dari dingginnya AC kamar hotel. Karena ia merasa dingin sekaligus bersyukur bisa menjaga diri dengan baik hari ini.


"Laki-laki tuh ya Sen selama dia laki-laki normal, di seluruh dunia semua laki-laki sama. Dia pengen memiliki perempuan yang dia sayanh seutuhnya. Dalam arti secara fisik juga. Jadi kita yang harus pinter jaga diri. Kamu tau kenapa aku mau nikah cepat sama Abang?"


"Karena Abang cium bibir Teteh. Bener?"


Sena sempat mencuri dengar obrolan orangtuanya dan Enin ketika memberi tahu bahwa Rama akan menikahi Mita. Enin yang histeris karena Rama menikah terlalu cepat, sempat menyangka bahwa Rama sudah menghamili Mita. Hingga akhirnya, terpaksa Bu Lia memberi tau kejadian sebenarnya.


"Iya betul. Karena menurut aku, kontak fisik itu sakral. Tiap orang mungkin punya batasan masing-masing, yang pasti jangan kebablasan. Aku ngga percaya Adit sebenernya, tapi aku percaya kamu."


"Kenapa ngga percaya Adit? Dulu dia brengsek?"


"Ngga gitu. Adit laki-laki normal. Laki-laki mana sih liat perempuan kaya kamu ngga tertarik."


Obrolan mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan terus berlanjut. Obrolan yang biasa disebut dengan deep talk sesama perempuan.


Namun Mita kembali teringat Rama. Ia melihat kembali ponselnya. Masih belum ada tanda-tanda Rama menghubunginya.


"Kenapa sih Teh nyala matiin HP terus?"


Sena terganggu dengan cahaya dari ponsel Mita yang mati nyala terus menerus. Sedangkan lampu kamar sudah dimatikan.


"Abang dari siang ngga bales whatsapp aku. Telepon juga ngga diangkat."


"Hari ini sibuk meeting kali. Lagi ada proyek kan?"


"Iya sih... Tapi kan setidaknya bales whatsapp doang mah sempetin."


Jangankan Mita yag sudah berstatua sebagai istri, Sena yang masih pacara pun akan gelisah jika pesannya tidak direspon seharian.


"Tapi kan tadi pagi video call."

__ADS_1


"Udah lebih dari 12jam kayanya."


"Bumil terlalu baper. Udah kontak Yoga belum?"


"Oh iya."


Mita langsung menghubungi Yoga via telepon.


"Ga, dimana?"


"Di jalan sama Abang."


"Jalan kemana?"


"Ke Bandung. Kenapa gitu?"


"Teteh whatsapp kok ngga bales. Ih meni sebel."


"Abang nya tidur, capek kali Teh."


"Oh gitu... Yaudah atuh. Kalau udah bangun telepon Teteh ya."


*****


"Ram, Gua bisa izin dulu ngga sih hari ini?"


"Mau kemana?"


"Ke Bandung. Urusan kelar, Gua langsung balik. Pulang pergi juga ngga masalah."


"Kalau bisa Gua ngomong, kalau ngga bisa, ngga usah dibahas."


"Besok kita meeting Fer."


"Yaudah lupain."


Fery kembali fokus dengan surat penawaran dari beberapa kontraktor suplier bahan bangunan untuk pembuatan gedung baru. Membuat Rama tidak tega untuk tidak meluluskan izin Fery tadi.


"Rena?"


Fery diam, tidak berniat menjawab.


"Besok udah di sini lagi."


"Jangan PHP lu awas."


"Kapan Gua pernah PHP?"


Ferry mengingat-ngingat, ternyata Rama tidak suka PHP.


"Rena booking kamar. Gua pengen pastiin dengan mata dan kepala gua sendiri."


"Yaudah hayu. Ini bisa lah dikerjain di mobil."


"Hayu? Maksudnya Lu mau ikut ?"


"Ngga boleh?? ****** aing ditolak."

__ADS_1


"Boleh sih. Tumben aja bos mau ikut ngurusin masalah rumah tangga anak buah."


"Sekalian refreshing mumpung Mita ngga ada."


Rama tidak mengatakan alasan yang sebenarnya.


"Yoga sendiri ngga apa-apa?"


"Dia udah gede ini."


"Iya sih. Yaudah cabut."


"Tapi kalau ikut juga ngga apa-apa kan? Dia seneng ngobrol anaknya."


Rama akhirnya mempertimbangkan keikutsertaan adik iparnya.


"Yaudah ajak. Tarjo ajak sekalian biar semua tau masalah gua."


"Deuhhh yaudah ngga usah diajak. Yoga doang, comel juga ngga dia sih."


"Kalau Yoga ngga apa-apa ajak aja. Asal jangan lu ajak Tarjo."


"Ngapain gua ngajak Tarjo."


Dengan cekatan, Fery membereskan bahan-bahan yang Rama bisa kerjakan di mobil.


"Gua udah kaya asisten pribadi lu anjrit."


"Emang selama ini apaan kerjaan lu?"


"Si bangs*t jadi lu emang nggap gua asisten pribadi?? Kacung aing kacung."


Rama tertawa. Ia lantas mengambil ponselnya di meja kerja. Menelpon Yoga agar ikut ke Bandung.


"Lagi ngapain? Ke kampus ngga hari ini?"


"Ngga, Bang. Lagi main PS aja sendiri."


"Siap-siap, ikut Abang ke Bandung."


"Ke Bandung? Ngapain?"


"Ngurusin bocah tua galau. Siap-siap ya, 30 menit lagi Abang ke apartemen."


Setelah telepon terputus, Fery seperti ragu mengenai keikutsertaan Yoga kali ini.


"Yoga ngga apa-apa ikut? Dia masih di bawah umur ngga sih?"


"Udah punya KTP anjrit. Sejak kapan mahasiswa termasuk anak di bawah umur?"


"Pernikahan kan 21+ Ram."


"Ngga apa-apa, biar dia punya pandangan dari sisi lain tentang pernikahan. Selama ini kan dia liat Gua sama kakaknya baik-baik aja, makanya dia perlu liat contoh yang ngga baik.


"Asemm."


Pasrah, rumah tangga nya kini memang buka contoh yang baik.

__ADS_1


__ADS_2