
"Pamit ke Reychan dulu kali ya, Mas?"
Sebelum pulang, Sena ingin bertemu Reychan. Mengucapkan beberapa kalimat sebagai basa basi.
"Ngapain?"
Kini Adit merasa harus hati-hati dengan Reychan jika menyangkut Sena.
Sena memencet bel kamar apartemen Reychan yang letaknya persis di sebelah kamar Adit.
Awalnya Rey mengira Adit yang datang. Namun ternyata seorang perempuan, sementara Adit seperti bersembunyi di sisi yang lain.
"Kak, aku nitip Adit ya. Nanti aku whatsapp Kakak, kalau Adit sakit atau apa tolong kabarin. Tolong jaga diri kalian."
Adit tersenyum sinis, karena menurutnya menitipkan diri ke Rey adalah salah alamat.
Rey menatap Adit yang berdiri dengan pandangan setengah menunduk tertutup topi. Rey tahu bahwa Adit kesal kepadanya.
"Sure. Mau balik? Ngga nginep?"
"Ngga, aku udah ditunggu Kakak di hotel."
"Oh oke. Take care."
Rey memperhatikan keduanya sampai masuk ke dalam lift dan menghilang.
Pasangan ideal, batin Rey berucap.
Begitu sampai di luar apartemen, taksi yang Damar pesan sudah menunggu. Hanya butuh 7 menit untuk sampai ke hotel, tanpa macet seperti diJakarta. Bahkan di Jakarta seringkali harus menunggu beberapa kali lampu merah untuk bisa meneruskan perjalanan.
Meski di jam sibuk macet kerap terjadi, namun di Tokyo tidak akan terdengar suara klakson bersahutan. Karena semuanya tertib dan terbiasa antre.
Begitu sampai hotel, Sena dan Adit langsung masuk menuju kamar karena Sena juga memegang kunci kamar.
Saat ia dan Adit masuk, Mita sedang dalam posisi menutup diri di balik selimut dari dinginnya AC kamar hotel.
"Dari mana aja? Kalian udah makan pasti ya?"
"Belum."
"Terus ngapain aja?"
"Jalaaaan aja."
__ADS_1
Tenggorokan Sena haus sejak di taksi, begitu melihat botol minum masih bersegel di meja langsung ia habiskan dalam hitungam detik.
"Jahat ih Adit, adik aku ngga dikasih makan."
"Sena mau makan sama Teteh katanya."
Adit mengajak Sena makan sebelum memesan taksi, namun Sena menolak dengan alasan ingin makan dengan Mita.
"Ih so sweet banget. Aku laper dari tadi tapi males makan sendiri."
"Aku tau, makanya sengaja aku belum makan. Ke resto atuh yuk? Atau mau di kamar aja?"
"Ke resto aja, aku bosen di kamar. Abang belum bales whatsapp aku."
Mita melirik ponselnya yang tertidur pulas. Tidak ada tanda-tanda ada pesan masuk.
"Aku langsung balik ke apartemen ya."
"Ngga makan di sini sekalian?"
Mita merasakan ada yang aneh dengan sikap Adit dan Sena kali ini.
"Ada tugas yang belum aku email, lupa ngga bawa laptop. Nanti aku aku mampir ke family mart beli makan."
Ternyata benar, orang yang tadi pagi Sena lihat saat sarapan adalah Damar.
"Damar?"
Ada perasaan tidak percaya bertemu Damar di Jepang padahal bumi begitu luas.
"Nginep di sini sama yang tadi?"
Damar sendiri sudah tidak kaget, karena ia sudah melihat Sena saat tadi mengantar Adit pulang.
"Eh nggak. Aku di sini sama Kakak ipar aku. Adit balik ke apartemennya."
"Enak ya, ngga main kucing-kucingan lagi."
Sena mengangguk kaku. Entah harus merespon dengan bagaimana.
"Mau gabung?"
Menolak pun Sena tak enak. Akhinya Sena menarik kursi tepat dihadapan Damar sedangkan Mita hanya mengikuti Sena di sebelahnya. Entah kenapa merasa awkward.
__ADS_1
"Lagi liburan? Sendiri?"
"Yang kamu liat?"
Ada sedikit rasa nyeri di ulu hati Sena dengan jawaban ketus dari Damar. Tak lama pelayan datang dengan membawa buku menu untuk Sena dan Mita.
"Seneng liat kamu bahagia. Meskipun bukan sama aku."
Meski masih terasa aneh kembali ber-aku kamu dengan Sena, namun ia tak sampai hati jika harus menggunkan lo-gue.
"Kamu gimana?"
"Ngga gimana-gimana. Sehat alhamdulillah."
"Ngga lagi deket sama cewek?"
"Lebih ke masih capek untuk beradaptasi lagi sama perempuan. Belum tentu juga bisa saling ngertiin."
"Mana tau kalau ngga dicoba. Kalau terus menerus menutup diri."
Persis seperti yang Reno dan kedua orangtunya katakan.
"Aku masih harus berusaha untuk pulih dari kamu."
Mita semakin yakin bahwa laki-laki yang sedang satu meja dengannya adalah laki-laki yang pernah Adit datangi ke Singapur.
"Kita ngga bisa kaya dulu gitu Mar? Ngga canggung gini."
Sena masih berharap hubungannya dengan Damar membaik. Setidaknya tidak secanggung ini dan tidak membahas masa lalu.
"Kita yang dulu cuma saat kita deket atau saat kita ngga kenal. Mau yang mana? Semuanya masih bisa."
Bertepatan dengan datangnya makanan, Adit pun datang dengan sekantong makanan berisi ayam goreng yang ia beli di family mart.
"HP sama kartu akses apartemen aku ketinggalan di kamar. Bisa pinjem kartu kamar ngga Teh?"
Tiba-tiba Adit muncul kembali dengan wajah dingin setelah sadar laki-laki yang ada di hadapan kekasihnya. Kaget orang yang bicara dengan Sena adalah bajingan yang pernah ia habisi wajahnya.
"Aku anter aja."
Sena bangkit mengambil kartu akses di dekat ponsel Mita.
"Ngga apa-apa kalau lagi ada reuni. Aku bisa ambil sendiri."
__ADS_1