
"Lagi apa Sen?"
"Ngga ngapa-ngapain. Cuma nonton drakor."
Sena menutup laptopnya demi melihat Adit yang kini ada di layar ponselnya.
Sejak tadi pagi, pasangan kekasih yang baru meresmikan hubunganya semalam seolah tidak lepas bertukar kabar.
Bagi Sena hubungannya dengan Adit lebih indah dari hubunganya yang lalu. Ia tak tahu alasannya.
"Udah ngga ada tugas?"
Sena menggeleng.
"Bisa pas banget. Kemarin aku nungguin kamu, kamu nya sibuk banget."
Sena tertawa, tidak mengatakan apapun.
Adit merasa janggal dengan senyuman Sena, ia merasa dipermainkan. Sepertinya perkiraannya benar, Sena tidak sesibuk itu sampai tidak punya waktu untuk sekedar whatsapp.
"Kamu ngerjain aku kan? Kemarin emang sengaja ngga mau chat aku kan?"
"Kemarin aku males."
"Kamu tanya si Reychan tetangga apartemen aku. Gimana galau nya aku kemarin."
"Mas ngarep whatsapp dari aku?"
"Iya. Aku ngga tau salah aku apa tapi kamu diemin. Sakit banget."
Adit memegang dadanya seolah sakit hati. Sena melihatnya tertawa karena baginya lucu bin gemas.
"Wajar aku males, kamu paling cuma nanya teteh."
"Kemarin aku kan udah bilang, aku cuma ngga punya topik. Udah ah aku ngga mau ngomongin istri orang. Aku cuma mau nanya pacar aku."
Wajah Sena memerah karena malu.
"How was your day?"
Sena merasa dejavu, seperti sedang bicara dengan Damar yang campur Indo-Inggris. Mungkin karena kini Adit di luar negeri jadi sedikit terbawa.
"Spesial. Karena tiap beberapa jam ada yang whatsapp aku, nanya lagi apa, lagi dimana, minta PAP." (PAP, post a picture : mengirim gambar yang berisi foto untuk mengetahui si pengirim foto sedang melakukan apa)
Sena sedang membicarakan Adit, kekaksihnya.
Kini Adit yang tersenyum malu.
"Ada yang gitu ke kamu? Dia belum tau Sena udah ada Mas AW? Kasih tau dong."
Sena tertawa. Hati Adit menghangat melihat Sena menutup setengah wajahnya karena malu. Sena dimatanya kini bertambah kadar kecantikannya. Bahkan lebih cantik dari Mita. Aneh.
"Abis ini aku whatsapp dia, nanti aku bilang aku udah punya Mas AW."
Sena berkata sambil terus menyunggingkan senyumannya.
"Kamu cantik." Adit senang melihat Sena yang semu kemerahan.
"Baru nyadar? Kemana aja?"
Sena mengalihkan pandangannya untuk menutupi rasa gugupnya agar tidak diketahui Adit.
"Kenapa kita baru ketemu sekarang?"
Adit merasa cocok dengan Sena. Sena yang ekspresif cocok dengan dirinya yang cenderung kaku. Sena dan Rama seperti cermin, hanya saja Sena lebih cuek.
"Aku ngga menyesal ketemu kamu baru sekarang."
"Aku nyesel."
"Mungkin aku obat untuk rasa sakit Mas yang dulu. Aku minta maaf karena teteh dan kakak ku yang melakukan itu ke kamu."
"My medicine?" (obatku?)
"I hope so." (aku harap begitu)
Ingin Adit mengatakan I Love You, namun lidahnya masih kelu.
"Sena cantik mau coklat ngga?"
"Kalau mau juga ngga bisa ngirim kan. Nyampe nya kapan ngirim coklat dari Jepang?"
"Jangan khawatir, aku anaknya Pak Bamwir bisa melakukan apapun untuk anaknya Pak dokter Romi. Besok pagi coklatnya nyampe, aku kirim banyak buat stok coklat kamu."
Sena hanya mengiyakan, merasa mustahil dengan apa yang Adit katakan.
"Kemarin kamu post story kaya gitu, ada berapa hati yang patah? Mantan hampir dapat dipastikan reply, kating komen apa?"
Hal yang baru pertama Sena rasakan. Bisa melakukan hal seperti temannya kebanyakan lakukan. Hanya saja post foto berdua dengan Adit hanya bisa ia lakukan saat video call. Mengsedih.
"Kok bisa tau? Kamu ngga hack akun aku kan?"
"Mereka nanya apa?" Adit penasaran.
"Baca aja sendiri. Nanti aku kasih passwordnya."
Semudah itu Sena memberikan akun instagramnya?
"Emang kamu percaya sama aku? Instagram loh ini, ada ribuan orang yang follow kamu."
"Artinya Mas belum percaya aku."
Sena paham makna dibalik ucapan Adit. Benar kan?
Adit diam, bingung harus menjawab apa.
"Akun Instagram aku kan menyangkut pekerjaan aku juga Sen. Kalau log in di banyak device, semakin besar kemungkinan di hack orang jahat."
Adit memutar otak mencari alasan agar Sena tidak tersinggung bahwa dia belum percaya sepenuhnya memberikan akunnya dengan follower 1 juta lebih orang kepada Sena.
"Aku jahat?"
"Bukan kamu."
"Yap, I got you." (aku ngerti)
__ADS_1
Sena tidak ingin membahas lebih jauh. Ia merasa Adit hanya perlu waktu.
Sampai saat ini masih satu orang yang tau password akun Instagram nya, yaitu Mita, belum ada yang lain. Dan ia tidak ingin mengganti password nya.
"Mas pasti ngga mau kan post foto aku di akun yang centang biru itu?"
"Kenapa mikir gitu?"
"Fans nya Mas Adit kan banyak. If you do that, you gonna be lost your fans maybe." (kalau kamu melakukan itu, mungkin kamu akan kehilangan fans kamu)
"They aren't my fans, just my followers. My followers means nothing to my whole life. Just you I hope my last and my forever." (Mereka bukan fans aku, cuma followers. Followersku ngga berarti apa-apa buat hidup aku. Cuma kamu yang aku harap jadi yang terakhir dan selamanya)
Sena meleleh, mendengar kalimat terakhir Adit. Dia tidak mampu mengatakan apapun, hanya hawa yang menentramkan yang ia rasakan sekarang.
"Kamu senyum, sekarang aku capture. Aku post di story dan feed tanpa nutupin wajah kamu pake stiker, sekalian aku tag akun kamu. Siapa yang lebih jantan?"
"Eh jangan."
"Kenapa emangnya? Dibanding kemarin yang post di story tapi muka cowoknya ditutupin, malu punya pacar kaya aku?"
"Ihhh ngga gitu. Jagat instagram nanti heboh kalau tau Sena yang biasa aja ini pacarnya superstar. "
"Alah lebay."
Sena tertawa.
"Yaudah ngga apa-apa muka ku ngga ditutup, tapi aku ngga mau di tag. Aku ngga mau di follow orang-orang yang ngga kenal aku."
Adit tertawa.
"Oke." Adit mengerti Sena yang tidak ingin hidupnya manjadi konsumsi orang-orang yang tidak mengenalnya di dunia nyata.
"Tapi nanti aku tag akun kamu ya."
"Loh curang, temen kamu bisa liat aku dong."
"Mas kan selebgram, jadi udah biasa di kepo-in orang. Kalau aku ngga biasa."
"Fix kamu curang."
"Wanita kan selalu benar."
Sena dan Adit tertawa bersama. Perasaan yang sudah lama tidak Adit rasakan. Akhirnya bisa ia kembali merasakan, kini bunga-bunga seperti bermekaran di hatinya.
Tidak berapa lama setelah Sena dan Adit mengakhiri video call, notifikasi instagram masuk ke ponsel Sena. Karena Sena telah mengaktifkan notifikasi setiap Adit membuat postingan. Sena deg-degan dengan apa yang Adit tulis, khawatir Adit menulis macam-macam.
...I hope you my last and forever, penyembuh luka, Sena. Terima kasih....
Sena speechless dengan apa yang ia baca di keterangan foto tangkapan layar yang Adit unggah ke feed instagram. Foto saat sedang video call dengan Adit dimana dirinya sedang tertawa. Bandung yang dingin seolang menghangat dengan unggahan Adit.
Gila nya, tidak berapa lama sejak Adit mengunggah foto tersebut, banyak akun-akun yang tidak Sena kenal kini mem-follow Instagram miliknya. Padahal Adit hanya menyebut namanya, tidak mencantumkan akun miliknya. Netizen bar-bar segercep itu. Untungnya Sena mem-private akunnya, sehingga perlu persetujuan dari nya untuk bisa melihat feed instagram Sena.
"Followers kamu ekstrim, kamu ngga tag aku pun mereka dapet akun aku. Aku takut π" chat yang Sena kirimkan untuk Adit.
"Hahaha sabar ya π"
Adit seolah sudah paham dengan ciwi-ciwi jagat instagram.
Keesokannya, saat sedang sarapan bersiap ke kampus, ada ojek online yang datang membawakan kiriman paket barang.
"Neng, ada paket."
Sena nampak berpikir, rasanya ia tidak sedang memesan apapun dari online shop.
Sena terkejut begitu melihat ucapan yang tertulis di secarik kertas.
"Sena, I like you. Maaf kalau kemarin bikin kamu marah. Kita mulai dari awal ya. Give me more time."
- AW -
He just like me, not really loves me, but oke. (Dia hanya menyukai ku, tidak yakin mencintai aku, tapi ngga masalah)
Kadang ia merasa aneh kenapa mau menerima Adit? Padahal jelas Adit belum yakin dengan perasaannya. Dibanding Damar yang sudah teruji cintanya namun dengan yakin ia tolak.
"Dari siapa Sen?"
"Dari temen Nin."
"Temen yang mana? Kenapa ngga diajak kesini?"
"Lagi kuliah di Jepang."
"Budak ayeuna meni jarauh kuliah teh. Jurusan apa sih? Di Indonesia ngga ada gitu jurusannya?" (anak sekarang kuliah nya pada jauh)
"Nyari suasana baru Enin sayang. Bosen di Indo terus, Sena juga S2 nya mau di Konoha."
"Dimana Konoha teh? Di Jepang juga?"
Sena tertawa melihat kepolosan Enin.
"Di animasi nya Naruto Nin."
"Ehh budak baong, Enin di heureuyan." (anak nakal, Enin dibercandain)
Sena meninggalkan Enin ke kamar, mengambil tas.
"Pagiiiii... Makasih kiriman coklatnya udah sampe. Aku kira semalam cuma bercanda."
"Aku bawa berapa ke kampus ya, mau pamer dapet coklat sekardus dari pacar."
Tak lupa Sena memfoto kardur berisi coklat dengan tulisan nya, lalu mengunggah di Instagram story.
"Makasih coklat sekardusnya @AdityaW meski di jepang kepikiran orderin coklat segini banyak. Love."
Sena dan Adit sama-sama menikmati perjalanan Ini. Mereka menganggap Ini adalah masa perkenalan.
Sakit yang kedua kali Damar rasakan saat melihat story Sena. Tidak menyangka Sena sekarang berhubungan dengan Aditya cowok hits.
*****
Seminggu sudah Mita dan Rama menjalani hubungan sebagai suami istri. Mita yang sedang bersiap ke pabrik, kesal melihat handuk basah tergeletak di sofa.
"Sayang." Mita berteriak dari ruang tengah, terdengar sampai kamar.
"Suaranya pelanin, aku denger."
__ADS_1
Rama keluar kamar dengan celana pendek selutut, tipe celana rumahan favorite para lelaki.
"Ini kok handuk basah di sofa? Bekas siapa?"
Rama melihat ke arah Fery yang sedang merapikan kemeja, sang tersangka.
"Bekas aku, sini aku jemur." Rama mengambil handuk basah yang tergeletak di sofa, dengan maksud melindungi Fery.
"Kan bisa langsung jemur Bang."
"Iya nih siapa sih yang main simpen-simpen aja."
"Tadi katanya Abang."
"Iya aku, maaf sayang. Next tolong yang habis pakai handuk langsung jemur."
Rama mengeraskan suaranya agar didengar Fery. Fery yang saat itu merasa di tolong tertawa.
"Aneh, ngomong sama diri sendiri."
Rama menggeleng melihat Mita yang masih pagi sudah ngomel.
"Makan malem sama apa?"
"Aku lagi ngga mood masak, order gofood aja ya."
"Oke kita order gofood. Atau mau makan diluar?"
"Gofood aja, aku males keluar."
"Siap laksanakan."
Rama, Fery dan Mita kini berangkat ke pabrik setiap hari. Karyawannya tidak ada yang tahu hubunganya dengan Mita kini sudah suami istri. Sehingga terkadang Mita menjadi bahan omongan pegawai wanita karena dianggap pacaran terlalu berlebihan. Dan hal itu membuat banyak hati berprasangka buruk.
Namun Mita tetap dengan pendirian nya, ia juga tidak mau teman-teman nya tau. Apa kata dosennya nanti kalau tau dia menikah dengan pemilik perusahaan tempatnya magang?
Malam hari saat sedang bersantai di ruang tengah, Mita sedang mengetik laporan magang yang harus ia kirimkan dalam bentuk email kepada dosen pembimbing nya.
Rama merebahkan kepalanya di paha Mita sambil membaca laporan di ipad miliknya.
"Kamu kalau ngomong sama suami ngga boleh keras sayang."
Rama masih teringat kejadian pagi saat Mita memanggil nya.
Fery yang juga sedang mengecek laporan mendengarkan obrolan pasutri tersebut
"Kapan aku ngomong keras sama Abang?"
"Lu denger ngga tadi pagi Fer, Sayaanggg." Rama memperagakan panggilan Mita tadi pagi.
"Emang sekeras itu aku manggil?"
Fery mengangguk. Fery merasa Rama benar-benar contoh yang baik, bisa menasehati istri dengan cara yang baik.
Kini Rama sudah menyiapakan tangannya untuk menggera yangi Mita.
"Maaf Abang."
"Yang tadi ngga apa-apa."
Mita sudah tidak nyaman dengan gerakan tangan Rama yang sudah kemana-mana.
"Bang tangannya." Mita berkata pelan.
Fery mau tidak mau melihat merasa jengah.
"Bangsatt, di kamar sono lu."
"Di kamar nanti lebih bahaya, kerjaan gua masih banyak."
"Yaudah nanti aja jangan gini tangan Abang nya." Mita menghindar dari Rama.
"Kamu mau bikin dosa lagi? Tadi pagi udah dosa teriak-teriak. Sekarang mau nolak aku?"
"Bukan nolak, ini ada Kak Fery."
Rama bangun dari duduk menuju kamar.
"Abang jangan marah. Yaudah sini lagi."
Namun perkiraan Fery dan Mita salah, Rama malah mengambil selimut untuk menutupi aktivitas tangannya dari mata Fery.
"Bangsatt malah tambah brutal. Lu ngga ngerti banget sama bujangan."
"Inget anak 100 juta, bujangan mulu lu."
Rama sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Fery menjadi tidak fokus dengan laporan di depan matanya. Otaknya kini sudah travelling. Ia pun menelpon Rena.
"Kamu dimana? ke kamar dong bentar temenin aku."
Rama tertawa melihat Fery yang beranjak ke kamar.
"Alah siahhh main solo." Rama paham dengan ucapan Fery.
"Kalau lu ngga mau pindah, gua aja yang ke kamar. Bangkee bikin gua susah aja lu."
Mita yang belum paham menyerngitkan keningnya.
"Kenapa sih Kak Fery?"
"Ngga usah dipikirin, dia lagi kebakaran. Ini simpen dulu." Rama mengambil laptop yang ia Beli beberapa tahun lalu ke meja.
"Fer, kamar kunci jangan keluar. Gua di luar."
Rama teriak agar Fery mendengar ucapannya. Rama pun semakin menjadi.
"Abang jangan disini, nanti Fery keluar ."
"Dia ngga akan keluar."
Mita sudah tidak bisa menolak, tenaga Rama terlalu besar untuk ia lawan. Meski dengan perasaan wash was khawatir Fery keluar, melihat Rama yang begini membuat Mita ikut terhanyut dalam permainan yang Rama ciptakan.
*****
Selamat malam minggu semuanya, harusnya semalam update tapi ketiduran xixixi.
__ADS_1
Semoga bisa mengobati rasa rindu πΊπΊπΊ
Absen yuk pengen tau siapa aja yang masih bertahan xixixii