Cinta Mita

Cinta Mita
Harapan baru


__ADS_3

Setelah sambungan video call tadi pagi selesai, ia langsung mengistirahatkan tubuh terutama otaknya.


"Kalau udah baikan Rama video call balik ya Ma." ia yang baru menyalakan teko air hangat merasa butuh istirahat.


"Iya Nak. Kalau masih kurang enak, kamu hubungi Rudy minta tolong anter ke klinik. Mama jadi khawatir."


"Iya. Aku tutup ya. Assalamualaikum."


Ia cek kembali chat terakhirnya dengan Ferry. Belum ada tanda-tanda pesannya yang berisi alamat lengkap Malabar 10 di baca. "Kampret, lagi enak-enak malam mingguan dia pasti." batinnya meradang, ia sudah hafal betul.


Setelah mengahabiskan sisa sarapan, air hangat dan madu ia pun memaksakan diri untuk tidur. Berharap setelah bangun, sisa mual dan pusing nya hilang menguap bersama mimpi buruk.


Lumayan lama ia tertidur hampir 4 jam. Pusing kepalanya sudah dibayar lunas. Saat hendak menelpon kembali keluarga nya, dia teringat email yang kemarin dikirimkan Fima. Tentang laporan keuangan dan kondisi resto selama satu bulan terakhir.


Beberapa resto menunjukan kenaikan pengunjung secara signifikan, Fima merasa resto perlu perluasan. Fima meminta orang yang bisa membantu ya meng-handle semuanya, karena ia sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan nya yang akan di gelar Desember nanti.


"Orang mulu kawin, gua kapan." ia menggerutu saat membaca email dari Fima berisi tanggal acara resepsi pernikahan nya.


Pikirannya buntu siapa yang mampu membantu Fima, yang ia ingat hanya Fery.


Barisan angka yang ia coba cerna tidak kunjung nyambung dengan otaknya.


"Bodo amat kepala gua puyeng. Yang penting cuan." gerutunya yang tak kunjung connect dengan laporan Fima .


Ia hanya ingin menghubungi kembali keluarganya yang pasti sedang khawatir. Meski di Jakarta sudah dini hari, ia tak peduli. Khawatir ibunya belum tidur memikirkannya.


Ia pun mencuci muka, menyegarkan wajahnya dahulu untuk menyakinkan bahwa ia baik-baik saja, meski kenyataannya zonk.


"Mama belum tidur?"


"Nggak bisa tidur, kamu enakan?"


"Iya udah enakan Ma, berkat doa Mama."


"Doa Papa juga, enak aja kamu doa Papa ngga diiting." Suara Papa terdengar dari samping Mama namun tak terlihat di layar ponselnya. Ia heran, bapak-bapak satu ini selalu tidak mau kalah.

__ADS_1


"Iya iya doa Papa juga. Papa belum tidur juga?"


"Papa kan berdoa juga dari tadi. Udah ketemu sama calon menantu Papa di sana? Cepet pulang, Papa ngga ada teman debat."


"Belum." masih saja calon menantu yang dibicarakan.


"Cari dong, pulang kesini sekalian bawa calon mantu Papa."


"Udah diambil orang calon menantunya juga Papa. Ngga tau kapan aku nemu lagi yang kaya gitu."


Jika sudah membahas perempuan, istri, menantu, otaknya langsung tertuju pada Mita. Yang sekarang sudah jadi pacar orang. Pait.


"Siapa Kak?"


"Yang waktu itu ke Puncak bareng Ma." Ia malas jika harus menyebutkan nama perempuan yang membuatnya kecewa dan jatuh.


Ibu nya tampak muram.


"Siapa sih Ma?" ayahnya menatap ibu nya bertanya.


"Mita pacaran sama anaknya Bamwir? Kok bisa?" Ayahnya kini menampakan diri di kamera memasang wajah kaget. Hah basi! Siapa yang udah bikin Mita pergi kalau bukan ayahnya ini.


"Ya bisa lah Papa. Itu anaknya om Bamwir yang punya kosannya Mita di Bogor. Siapa yang ngga suka sama Mita. Bocil itu ngejar-ngejar Mita di sana, aku di sini ngga ada yang jagain dia. Jadian lah mereka."


"Jangan mau kalah kalau gitu Rama. Darah kita darah pemenang, apalagi soal perempuan. Kamu jangan mencoreng sejarah keluarga."


"Apa sih maksudnya. Tugas Rama lagi banyak, jadi ini sambil mikirin tugas. Aku juga baru baca report dari Fima jadi masih ngawang-ngawang otaknya masih nge-fly."


"Maksud Papa kejar, jangan malu-maluin keluarga kalah sama anaknya Bamwir."


Ia melihat ke arah ibunya.


"Papa kenapa sih Ma, salah obat ngga?" ia tidak percaya dengan apa yang sudah ayahnya katakan.


Ibu nya menggeleng.

__ADS_1


"Restu Papa sudah ada untuk kamu dan Mita."


"Ah serius? Bercanda nih Papa. Jangan karena aku tadi sakit jadi Papa kayak mengabulkan keinginan aku. Umur Rama masih panjang Pa tenang aja." ia menyangsikan ayahnya menyetujui ia dan Mita.


"Jadi kamu udah ngga mau sama anak itu?"


"Masih lah. Sebelum janur kuning melengkung mah gas kalau boleh sama Papa. Cuma aku kan ngga mau jadi anak durhaka, cuma kadang Papa nih kayak Papa durhaka."


"Udah sehat kamu itu, udah bisa ngeledek Papa lagi." ayahnya mencibir kesal.


Ibunya tertawa. Sena sudah tidak terlihat kemungkinan sudah tidur.


"Tapi serius ini Papa bener ngebolehin aku sama Mita? Kenapa kok tiba-tiba?"


"Kalau anaknya Bamwir juga ngincer Mita, berarti anak itu berkualitas. Sekarang Papa percaya sama pilihan kamu."


"Papa kenapa ngga dari dulu ngerestuin nya, kalau gitu kan aku ngga usah jauh-jauh ke sini."


"Harus lah, kamu harus tetap kesana belajar. Mau jadi apa kamu ngga mau belajar?"


"Iya Iya." ia mendesah sudah tidak mau mendebat. Hati nya kembali ada harapan terang, semangat nya kembali tumbuh. Selama sudah ada restu ia kantongi, hama akan ia berantas. Bukan ia yang akan merebut Mita, tapi akan mengambil kembali yang dulu sempat ia miliki.


Ayah ibu nya juga bertanya tentang kegiatannya disana dan usahanya di Indonesia.


"Aku mau minta izin, apartemen BSD nanti kalau ditempati Fery ngga masalah kan Pa? Kamar Papa ngga akan aku ganggu." ia mulai menyusun rencana untuk merekrut Fery ke restoran miliknya.


"Ya terserah kamu, itu apartmen kamu, Papa cuma numpang."


Ayahnya seminggu dua kali bekerja di salah satu rumah sakit swasta di kawasan Karawaci, sehingga terkadang istirahat di apartemen miliknya tersebut.


"Basa basi Pa, kaya ngga tau orang Indonesia."


"Kamu, orangtua di candain."


Ia dan ibunya tertawa senang.

__ADS_1


__ADS_2