Cinta Mita

Cinta Mita
Cinta dalam hati


__ADS_3

Mita


Ia terbangun pukul 04.00 karena suara Ibu yang sudah heboh beres-beres rumah.


Ia pun melihat ponsel di atas meja, bermaksud membereskan beberapa buku yang semalam ia baca.


Ada pesan masuk dari Rama.


"Aku berangkat, kamu jaga diri. Aku sayang kamu. Aku akan selalu kangen kamu."


Rama tidak melupakan nya. Namun masih bolehkah ia membuka hati untuk Rama kembali?


Ia mengambil nafas panjang. Sepagi ini airmata nya sudah jatuh.


"Aku juga." namun hanya dalam hati, tak mungkin ia kirimkan.


Ia pun meletakan ponselnya kembali, seolah tidak peduli bahwa laki-laki yang mengirim pesan untuknya sangat berharap balasan. "untuk kebaikan kita berdua", pikirnya. Yang menurut Rama entah kebaikan apa yang Mita maksud.


Pagi ini ia harus bersih-bersih kamar yang sudah sebulan lebih tidak berpenghuni, tentunya debu pun sudah tebal. Ponselnya terlihat kembali di mata nya.


Kali ini pesan dari Adit.


"Aku jemput jam 11, aku mau ambil foto di kebun teh."


"Oke." sent.


Ia mempercepat kerjanya, dalam waktu 2 jam tugas di rumahnya harus segera selesai karena jam 10 ia harus segera bersiap untuk kembali ke Bogor bersama bos. Adit bos nya sekarang. Menggelikan.


Mahasiswa sekaligu seorang manager seorang selebgram. Mantap betul.


"Cepet amat pulangnya atuh Neng."


"Neng mau kerja Bu."


"Kerja apa ?"


"Neng jadi manager nya Mas Adit."


"Hebat di manager in segala. Di gaji itu teh?"


''Iya atuh Ibu...''


*****


Adit


Belum jam 11 motor nya sudah terparkir di depan rumah Mita. Ia sudah menyelasaikan pengambilan video untuk 3 online shop, tinggal foto yang masih masih harus dikerjakan.


"Neng cantik udah siap?" Ia yang sudah duduk di kursi depan mengagetkan Mita yang ketika itu sudah memakai tas siap untuk berangkat. Menggoda nya dengan sebutan ''Neng''.


"Mas ngangetin, udah sarapan? Kalau belum aku ambilin dulu." Mita membiarkan ia memanggil dengan "Neng". Ia merasa sudah dua langkah lebih dulu dibanding Rama.


Ia suka kata "Mas" yang Mita ucapkan untuknya. Rama bukan kah hanya dipanggil nama saja? Ia merasa spesial ketika panggilan yang biasa itu keluar dari mulut perempuan ini dan calon ibu mertua.


Bolehkah ia berharap suatu hari nanti perempuan ini yang menantinya pulang kerja di rumah? Untuk hari ini biarkan lah ia menghalu dulu.


"Udah, tadi sarapan di hotel."


Mereka pun pamit untuk segera berangkat. Orangtua Mita memberi bekal beberapa makanan khas desa, rengginang, opak teman mengerjakan tugas katanya.


Hujan kabut mulai turun ketika mereka sampai Puncak Pass. Mita mulai bersin-bersin mungkin kedinginan.


"Cardigan kamu tipis gini." Ia meminggirkan motornya melihat ke arah Mita.


"Pake jaket aku." jaket yang sudah ia lepaskan ia berikan kepada Mita.

__ADS_1


"Aku udah biasa. Suhu badan aku juga di atas rata-rata, Mas aja yang pake."


"Ini kita diatas Neng sayang... Kabut lagi turun. Kamu pakai sendiri atau aku yang pakein?" Mita tetap diam menerawang. Apakah perlakuannya saat ini mengingatkan Mita pada Rama? Persetan ia tidak peduli.


Sekarang jika ingat pria itu kenapa ia tidak suka? Apakah ia sudah merasa memiliki Mita?


"Sini aku pakein, kamu diam." ia pun memakai kan jaket berwarna navy tersebut.


Ia mencoba tenang, mengontrol detak jantungnya. Meskipun tidak berefek banyak, karena jantungnya terus berdetak kencang.


"Selesai." tanpa banyak protes Mita menerima perlakuannya. Huuuft, ia sempat khawatir tadi Mita menolak.


"Kita ke bawah, aku matiin mesin motor. Kamu pegang pinggang aku."


Sengaja ia matikan mesin motor dan rem tipis-tipis, efeknya motor melaju dengan cepat di jalan menurun.


Mau tidak mau Mita berpegangan pada pinggang pria itu.


"Mas, rem Mas." ia hanya tertawa senang, ia berhasil membuat perempuan ini memeluknya erat.


"Mas, ini bahaya." ia melihat Mita melalui kaca spion ketakutan. Senangnya ia hari ini lumayan recharge energy.


Ia me-rem sepeda motor miliknya.


"Tapi tetap pegangan lagi kaya tadi. Mas dingin."


"Ngga mau, bukan mahrom." ia tersenyum. Bagus, Mita tau batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan.


"Mas dingin." ia menggoda Mita kembali.


"Jaket Mas pake lagi." Mita hendak membuka jaketnya. Ia melambatkan laju motornya sambil menyentuh kakinya. Mita tidak berkomentar apapun.


"Ngga usah, Mas bercanda."


"Tadi jam 3 Subuh."


"Kamu jawab apa?''


''Aku ngga jawab.''


Ia tersenyum, entah menyukai Mita yang tidak merespon Rama atau karena Mita di sisinya sekarang. Yang jelas ia suka keduanya. Menikmati hembusan angin dingin puncak tanpa jaket. Meskipun dingin, hatinya merasa hangat. Perasaan yang pernah ia rasakan dengan seseorang di masa lalu. Sekarang ini kembali optimis, Mita tidak pernah menolaknya.


*****


Mita


Semalam saat makan malam, Bapak mengajak ia bicara berdua. Untuk hal-hal tertentu Bapak memang mengambil peran lebih banyak. Seperti mengenai lawan jenis.


"Neng, Adit siapa nya kamu?"


"Kakak kosan aja Pak."


"Neng yakin Adit melihat kamu hanya sebagai adik kos juga?"


Bapak ini, selalu bisa tau meskipun ia tak banyak bicara. Apa karena lebih paham dengan kehidupan?


Ia terdiam tak mampu menjawab.


"Jangan memberi harapan kalau kamu ngga suka. Sama Rama sudah selesai?"


Selesai? Kapan ia memulai? Tapi ia jawab dengan anggukan.


Meskipun belum sempat memulai, tapi ia harus menyeselaikan.


Setelah mengendarai motor selama kurang lebih 1,5 jam Adit mengajak ambil foto di Gunung Mas.

__ADS_1


Selesai take foto, Adit mengeluh lapar


"Laper ngga Neng?"


"Mas laper?" hari ini sudah kesekian kali nya Adit menyebutnya dengan sebutan Neng. Tidak masalah jika memang Adit ingin memanggil nya dengan sebutan yang sama dengan panggilan orang terdekat untuknya. Tapi tadi dia memanggilnya dengan tambahan sayang. Apakah itu dari hati? Ia teringat Rama, sudah sampai kah dia disana? Ia juga takut nyaman dengan Adit.


"Kerjaan udah beres ini kan, di bawah ada rumah makan Sunda. Aku kangen Garut. Makan disana mau?"


Ia mengangguk.


Butuh waktu lebih lama untuk menempuh jarak beberapa kilo saja di Puncak jika sedang weekend seperti hari ini. Untung Adit membawa motor, jika mobil entah jam berapa bisa sampai kosan.


"Neng yang pesen ya. Mas nunggu di sana." Adit menunjuk meja lesehan dengan nomor 17


"Mas mau ayam bakar jangan gosong, asal bakar aja, paha."


Ia terhenyak, kenapa bisa sama?


Ia juga merasa Adit seperti Bapak yang selalu meminta Ibu untuk pesan makanan jika sedang makan di luar.


Adit juga memberikan kartu nya.


"Mas, ngga lebih baik Mas aja langsung yang bayar? Aku ngga tau pin kartu Mas." ia merasa tidak enak jika harus mengetahui pin kartu ATM Adit.


"Enam nomor pertama nomor HP aku." Semudah itu Adit memberi tahu nya pin kartu ATM nya? Ia merasa tidak enak.


Selesai membayar, ia kembali ke meja mereka dan melihat pipi dan tangan Adit sudah menempel di atas meja dengan mata terpejam membuat ia menyadari bahwa laki-laki itu lelah.


Ia membiarkan Adit istirahat barang sejenak melepas kantuk.


"Permisi" tidak lama waitress datang membawa pesanan. Dua ayam bakar, tahu tempe, sayur asem, pepes tahu, lengkap dengan lalab dan sambal. Adit pun terbangun mendengar suara piring beradu dengan meja.


"Mas capek?"


"Cuma ngantuk." Adit tersenyum.


"Tadi aku cuma mesen ayam bakar kan? Menu yang lain kok sama kaya makanan yang biasa aku pesen kalau di rumah makan Sunda ya?"


Ia tersenyum, sepertinya kepercayaan diri Adit telah kembali.


"Ini kan menu standar Mas." ia membela diri.


"Masa sih? Bukan karena kita satu selera?" ia pun sepakat. Mereka banyak memiliki kesamaan.


Selama makan ia dan Adit lebih banyak diam, sama-sama menikmati makan siang yang sedikit terlambat. Ia pun menikmati kebersamaannya bersama Adit.


"Kenapa kalau pulang ngga mau naik mobil aku? Maaf nih ya, mobil aku kan mahal biasanya perempuan suka sama barang mahal."


"Aku ngga nyaman jadi pusat perhatian."


"Sebelum ini aku terbiasa pulang naik bus, besok-besok aku pulang naik bus lagi ya Mas."


"Selama aku bisa, aku akan anter." Adit masih menikmati daging terakhir yang menempel di paha ayam bakar miliknya.


"Rama ngga pernah anter kamu kalau pulang? Kenapa dia ngga anter?"


"Aku ngga berani, dia anak Ibu."


Selesai. Adit melihat piringnya yang licin, tidak ada makanan yang tersisa.


"Hebat makan kamu habis. Biasanya perempuan kalau makan ngga suka dihabiskan."


"Mubadzir Mas. Mas beli nya pake uang, kadang sampe begadang kan kerjanya?"


"Pinter." entah reflek atau bagaimana, Adit mengusap kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2