Cinta Mita

Cinta Mita
Mas, aku udah sampe !


__ADS_3

"Aku perlu jemput kamu di Bandara tidak?"


Sena dan Hiro terus berkomunikasi mengenai rencana Sena yang akan ke Jepang.


"Boleh kalau kamu ngga sibuk."


"I'm free. Tapi maaf aku tidak bisa menemani kamu ke Festival karena aku ada kegiatan Kampus."


Sesekali Sena tersenyum membaca chat dari Hiro karena terlalu baku. Untungnya Hiro mengerti bahasa yang Sena gunakan. Meski sesekali Hiro menggunakan google translate jika ada kata yang tidak ia mengerti.


"It's oke. Makasih Hiro. Anyway, kamu bisa ganti kata "tidak" menggunakan kata "ngga" untuk daily conversation."


"Aaahhh. I see. Terima kasih."


"Cukup dengan makasih."


"Makasih Sena."


Apakah Adit tidak membantu Hiro belajar bahasa Indonesia? Sampai kata-kata sederhana untuk percakapan sehari-hari masih sebegitu baku. Mungkin nanti ia akan membahas ini dengan Adit. Karena Hiro sudah begitu baik.


Selasa pagi, Rama dan Mita menuju rumah sehat untuk mengecek ulang hal-hal yang dikhawatirkan terlupa. Meski jadwal keberangkatan Mita dan Sena masih nanti malam. Hanya mampir ke pabrik sebentar untuk tanda tangan beberapa berkas.


Pak Romi pun menyempatkan pulang lebih awal karena ingin mewanti-wanti anak perempuan dan menantunya secara langsung.


"Kalau ada keadaan urgent langsung hubungi Papa ya, Nak. Ada kawan Papa di Rumah Sakit sana. Papa udah kontak dia kemarin, buat antisipasi."


"Siap, Papa."


Sena mencium pipi Pak Romi yang sejak sarapan tadi begitu bawel.


"Mita juga jangan terlalu kecapean. Jalan-jalan boleh, tapi tetap jaga kondisi."


Pak Romi menasehati dengan raut wajah serius. Tidak menyangka menantu yang terlihat lurus-lurus saja ternyata memiliki kemauan yang keras. Meski Rama tidak bisa ikut, tapi tetap memaksa untuk ke Jepang. Rama sendiri tidak bisa melarang, karena ia pun merasa Mita perlu hiburan karena tidak bisa ikut wisuda.


"Denger kata Dokter."

__ADS_1


Rama mencolek pipi Mita memperingatkan.


"Iya Papa. Siap Pak Rama."


Setelah semuanya dipastikan tidak tertinggal satupun, akhirnya selepas Maghrib Rama mengantar dua perempuan kesayangan dalam hidupnya ke bandara.


Selama di mobil, Mita terus menggenggam tangan Rama. Awalnya Rama merasa lucu dengan keparnoan Mita, namun sekarang setelah tinggal beberapa jam lagi menuju keberangkatan, Rama tiba-tiba merasa khawatir.


"Obat, vitamin dimana?"


"Udah di tas aku Abang. Berkali-kali nanya obat."


Mita menggigit tangan Rama.


"Kamu sih aku jadi ikut parno."


"Aku takut 7 jam lebih di pesawat tanpa Abang."


Kepala Mita sudah merapat ke bahu Rama.


"Ada aku, Teh. Santai aja. Adit juga aman-aman aja kan selama ini pulang pergi Jepang? Sendiri lagi dia. Tenang, everything will be okay."


Jika tanpa delay, seharusnya Mita sampai di Narita pukul 07.25 pada keesokan harinya. Dan Hiro sudah menunggu sebelum jam menunjukan angka 7.


Selama perjalanan, Sena menghabiskan waktunya untuk tidur. Sementara Mita tidak bisa memejamkan matanya. Mita memilih menonton salah satu film legend Indonesia yaitu AADC. Sesekali makan, dan menggoyang-goyangkan kaki agar tidak kesemutan.


Pesawat mendarat tanpa delay di Narita tepat pukul 07.25 namun harus menunggu koper Sena dan Mita di proses keluar dari bagasi 25 menit lamanya. Sementara Hiro sudah menunggu di pintu gerbang kedatangan menggunakan sweater kuning agar Sena dapat mengenalinya lebih mudah.


Begitu menyadari Sena dan Mita berjalan ke arahnya, jantung Hiro menjadi berdetak tak menentu.


"Kawai." (cantik)


Hanya bergumam tanpa suara saat melihat Sena dan Mita. Hiro dapat membedakan Sena yang mana, karena sudah pasti bukan perempuan hamil.


"Hiro ya?"

__ADS_1


"Hai." (Iya)


Spontan Hiro membungkukan badan dan berbahasa Jepang karena gugup.


"Aku Sena, ini Kakak aku namanya Mita."


"Dia bahasa Indonesia?"


Mita meragukan Hiro karena gestur tubuhnya yang murni Jepang.


"Jago lho dia Bahasa Indonesia nya."


"Hebat dong. Halo, makasih ya udah jemput kita."


Mita memberikan tangannya, bersamaan dengan berderingnya bunyi telepon dari ponselnya.


"Kakak deh pasti. Angkat dulu Teh, biar tenang dan tidak riweuh."


Sena mengambil dorongan besi yang berisikan 4 buah koper. Tiga diantaranya koper milik Sena, sementara Mita hanya membawa satu koper. Meninggalkan Mita yang sedanv menerima video call dari suami tercinta.


"Adit lagi dimana ya?"


"Adit hari ini ke Shibuya. Ujiannya sudah selesai, sehingga tidak ada kegiatan di kampus. Sementara aku harus ke kampus."


Dengan terbata-bata dan aksen Jepang, Hiro tetap berusaha menggunakan Bahasa Indonesia


"Oh gitu. Makasih banyak, maaf sudah merepotkan."


Sena membungkukan badan untuk menghormati Hiro.


"No problem. Aku sudah memesan taxi untuk kamu, jadi kamu bisa langsung ke hotel menyimpan koper. Setelah itu kamu bisa istirahat di hotel atau bisa ke Shibuya. Aku hanya bisa mengantar sampai hotel tidak apa?"


"Ngga apa-apa, makasih banyak."


Sena memesan hotel yang letaknya hanya 2 km dari apartemen Adit. Bagi orang Jepang, berjalan sejauh 2 km adalah hal yang biasa.

__ADS_1


Begitu keluar bandara dan menghirup udara Jepang, Sena tersenyum bahagia. Seolah bayangan Adit sudah di depan mata.


Mas, aku udah sampe !


__ADS_2