Cinta Mita

Cinta Mita
Mengurai Masalah


__ADS_3

"Kenapa pada diem? Ngga ada yang mau ngomong?"


Sudah 10 menit para lelaki dan Rena berada di dalam private room restoran. Namun Rena dan Fery masih diam seribu bahasa, memainkan ponsel masing-masing. Meski Fery hanya scroll instagram tidak jelas.


"Kita makan aja ya Ga, Abang laper. Kamu makan apa?"


"Samain aja sama pesenan Abang."


"Abang sop buntut, kamu suka ngga?"


Rama sengaja memilih menu dengan tanda chef recomendation. Terlebih dengan udara malam Bandung, Rama ingin sesuatu yang menghangatkan badan.


"Belum pernah makan sih. Tapi kayaknya suka kalau sop."


"Belum pernah makan sop buntut? Terlalu Teteh kamu."


Rama reflek mencari ponselnya, kembali teringat Mita.


Begitu Yoga melihat daftar menu yang menampilkan harga, Yoga kaget.


"Inu tulisan 287 itu apaan Bang?"


"Itu harganya."


"Buntut apaan harganya 287 ribu?"


Yoga dengan wajah polosnya keheranan dengan harga yang tercetak di daftar menu. Bukan hanya harga sop buntut, namun harga makanan lain juga.


"Buntut anakonda, Ga. Yah elah, si Yoga. Buntut sapi dong."


Fery tidak bisa menahan mulut nyinyirnya dengan kepolosan Yoga. Bisa-bisanya bertanya hal yang tidak perlu ditanyakan.


Mendengar ceplosan Fery, sekuat tenaga Rena tahan untuk tidak tertawa. Karena situasasi antara ia dan Fery masih dingin. Namun ia harap permasalahannya dengan Fery malam ini selesai.


Begitu seorang waitres datang membawa empat botol minuman dengan nama "equil" dan empat buah gelas, Yoga kembali menyerngitkan dahi.


"Bang, Yoga air putih aja. Kalau ngga ada jus aja."


Rama tidak mengerti maksud Yoga. Sementara Fery tertawa mendengar ucapan Yoga, karena Yoga pasti mengira equil adalah alkohol, sama seperti dirinya saat pertama kali melihat Equil.


"Ini air putih, Ga."


Fery menerangkan perlahan


"Apaan sih maksudnya?"


"Yoga kira ini wine, bodooohh. Samanya lu ah, bodohh juga."


"Ohh, ini air mineral kaya yang dipasaran Ga, beda merk doang."


Yoga sudah tidak bisa berkata-kata dengan minuman dan makanan yang Rama pesan. Terlebih setelah melihat harga air mineral di hadapannya. Air dari pengunungan fuji kayaknya.

__ADS_1


"Ram, aku udah ditunggu. Kalau ngga ada yang mau diomongin aku balik."


"Kamu udah ngga nganggap aku suami?"


Fery terganggu dengan ucapan Rena, bukankah seharusnya bicara kepada dirinya? Bukan kepada Rama.


"Kamunya nganggap aku istri?"


"Apa sih jadi ngebalikin omongan."


"Lho, aku juga pengen nanya. Salah pertanyaan aku?"


"Oke, aku to the point kalau kamu sibuk. Salah aku dimana? Kenapa kamu selingkuh?"


Fery mencoba menenangkan pikirannya dengan mengalihkan pikiran pada air yang ada di hadapannya. Sekaligus menggesar kursi duduknya hingga berhadapan dengam Rena.


"Kamu ngerasa salah ngga selama ini?"


Jawaban tamplate perempuan kebanyakan, saat suami menanyakan kesalahannya.


"Selama ini, aku selalu berusaha memenuhi keinginan dan kebutuhan kamu sebisa aku. Masih kurang?"


"Egga tau. Cuma aku mau nanya dari tadi kamu ngomong aku selingkuh, tau dari mana kalau aku selingkuh? Pernah lihat aku jalan berdua ?"


"Karena kamu sering booking hotel. Kamu lupa log out email kamu dari laptop aku. Kamu juga ngga bilang ke aku pergi kemana, sama siapa, harusnya bilang."


"Kamu nya emang nanya? Kayanya beberapa bulan ini kamu sibuk sama urusan kamu doang. Aku sama Sasha emang kamu inget?"


"Inget lah, aku kerja buat siapa kalau bukan buat kamu sama Sasha? Jadi kamu beneran selingkuh?"


Fery ingin memastikan langsung dari mulut Rena. Karena selama mereka bersama, Rena belum pernah sekalipun berbohong. Seharusnya ucapan Rena bisa dipercaya.


"Kalau iya gimana?"


"Kamu sadar ngga sih ngelakuin itu? Otak kamu dipake ngga sih?"


Meski rasanya ingin mengobrak-abrik ruangan, namun apa daya Fery hanya bisa membuka paksa dasi yang terasa mencekik lalu membuangnya dengan kasar.


"Sadar alhamdulillah."


"Gila. Lu denger kan Ram?"


"Kecewa aku mah Ren, sama kamu. Kok bisa sampe gini? Gaji yang Fery kasih kurang?"


Rama memegang keningnya. Dari ucapan Rena, ia seperti selingkuh.


"Kenapa kamu yang kecewa? Kamu juga ikut andil dalam masalah ini, Rama."


Satu kebiasaan Rena yang baru Rama sadari, Rena selalu memanggil nama nya secara utuh.


"Sorry kalau gua terlalu dalam masuk ke urusan rumah tangga kalian. Tapi gua harus tau, berapa jatah tiap bulan yang lu kasih ke Rena?"

__ADS_1


"Gua cuma ngambil uang makan dan transport. Harus gua kasih semua tanpa sisa?"


"Sorry, ini bukan masalah uang. Aku juga punya gaji sendiri. Cukuplah kalau buat ngehidupin diri aku sendiri sama Sasha. Tapi lebih dari itu aku butuh sosok suami, anak aku butuh sosok Ayah. Terakhir kali kamu pulang, kenal ngga dia sama kamu? Ngga kan? Karena sosok kamu ngga ada di hidup dia."


Perlahan tapi pasti, airmata Rena tumpah meski berusaha untuk tegar.


Ponsel Rena kembali berdering, nama penelpon tidak bisa dilihat karena layarnya terlalu gelap.


"Sebentar nanti aku kesana, lagi ada temen di bawah."


"Kalau kamu sibuk, silakan kembali ke sana. Aku anggap selesai."


Kata yang paling menyakitkan yang pernah Fery ucapkan, ternyata bisa menyakitkan diri sendiri.


"Apanya yang selesai? Hubungan kita?"


"Obrolan ini."


Fery terhenyak, ia baru sadar ucapannya bisa menjadi talak untuk Rena.


"Aku belum selesai. Aku pengen beresin malam ini."


Pintu terbuka, pelayan datang membawakan dua magkuk sop buntut yang mengepul dan nasi goreng buntut untuk Fery. Sementara Rena menolak memesan makanan, karena ia sedang ada acara bersama bos nya.


"Kamu Rama, kamu ikut andil dalam masalah aku sama Fery."


"Kok aku?"


"Mentang-mentang kamu bos suka seenaknya ngasih tugas ke anak buah. Tim kamu emang ngga ada lagi selain Fery? Dengan karyawan ratusan kenapa Fery yang selalu ngerjain ini itu."


"Kan aku bayar lemburnya."


"Aku udah cukup uang, aku udah bilang dari tadi bukan masalah uang. Aku nggga pengen macem-macem, ngga pengen beli itu ini. Aku cuma butuh sosok suami sebagai partner hidup, yang bisa sama-sama meringankan beban. Anak aku juga butuh sosok Ayah, yang pulang bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan biologis."


Rama tersentak dengan ucapan menusuk Rena.


"Peran aku di rumah tangga teh apa atuh, Yang? Kalau cuma buat kebutuhan biologis, aku izinin kamu jajan di club sana silakan."


Sayang, ucapan yang sudah lama tidak Fery dengar.


"Jadi masalahnya karena Fery ngga ada waktu? Salahnya di aku?"


"Kalian berdua yang salah."


Rena menjuk Rama dan Fery dengan dagu.


"Kamu juga salah, kalau kamu ketemu laki-laki lain yang bikin kamu nyaman bilang ke aku. Kalau ada yang salah sama aku ngomong, bukan selingkuh. Kalau kamu selingkuh sebelum kita punya anak, pikiran aku ngga akan sekacau ini."


"Lho, gimana mau ngomong, emang akhir-akhir ini kita ngobrol? Ngga kan?"


"Oke, aku yang salah. Kita persingkat aja obrolan ini, jadi kamu milih bos kamu daripada aku?"

__ADS_1


__ADS_2