Cinta Mita

Cinta Mita
Pertemuan Tiba-tiba


__ADS_3

Ujian kali ini berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya. Meski ada mata kuliah yang Sena tidak suka, namun kali ini ia tetap semangat karena diiming-imingi Jepang. Artinya, ia bisa bertemu Adit !


Setelah memastikan tidak ada mata kuliah yang kena remedial, Sena segera pulang ke Jakarta. Tempat utama yang menjadi tujuannya kali ini adalah JVAC (Japan Visa Application Centre) yang terletak di dalam sebuah mall di kawasan Jakarta Selatan, yaitu Kuningan City.


Karena tiga hari lalu Sena sudah membuat janji bertemu dengan staf JVAC, ia tidak perlu menunggu lama untuk menyerahkan syarat pengajuan visa yang sudah ia siapkan.


Di tengah-tengah menunggu dipanggil petugas JVAC, seorang laki-laki yang mengenakan masker menepuk pundaknya.


"Sena?"


"Kang Ricky?"


Setengah kaget, Sena bertemu Ricky di luar kampus, terlebih di Jakarta.


"Lagi ngapain?"


Ricky hari ini berpakaian rapi khas orang kantoran. Kemeja dengan celana bahan, dan sepatu pantofel.


"Urus visa. Akang lagi ngapain disini?"


"Lagi ada urusan disini. Mau ke Jepang?"


"Iya, nemenin Kakak."


"Dalam rangka apa?"


"Teteh aku lagi ngidam sushi."


"Ngidam sushi?"


"Iya, pengen makan sushi di Jepang langung katanya."


Ricky tersenyum mengangguk. Mevvah, seperti yang mahasiswa lain bilang.


"Ujian udah selesai?"


Ricky membuka maskernya. Ricky di mata Sena 7,5 tapi dengan prestasi dan pencapaiannya saat ini menjadi 8,5. Masih di bawah Adit tapi bisa dipertimbangkan.


"Udah, ngga ada remedial dong."


"Wih jago bener."


"Ini lagi ngapain? Udah selesai?"


"Belum masih nunggu."


Di tengah obrolan, seorang perempuan muda memanggil nama lengkap Sena.


"Saudari Shenafia Rachman."


Sena menoleh ke arah perempuan muda dengan kerudung coklat, lalu mengangkat tangan sebagai tanda bahwa ia yang bernama Shenafia.


"Nama aku udah dipanggil, Kang."


"Habis ini mau kemana?"


"Langsung pulang kayaknya, aku kesana dulu ya."


Dengan sedikit terburu-buru, Sena meninggalkan Ricky.


"Dek, Akang tunggu di sini."


Di kampusnya, seorang senior biasa memanggil juniornya dengan sebutan Adek atau Adik, sementara junior memanggil senior dengan panggilan Akang atau Teteh.


Setengah berteriak Ricky bicara agar Sena mendengar ucapannya. Sena mendengar cukup jelas namun tidak menghiraukan ucapan kakak tingkatnya tersebut.


Dan benar saja, setelah 40 menit melakukan sesi interview dengan staff JVAC, Ricky masih menunggu Sena di ruang tunggu sambil scroll akun instagram seorang perempuan yang sudah 2 tahun ini mengganggu pikirannya.


"Udah beres?"


Tersadar Sena mendekat ke arahnya, Ricky langsung memasukan ponsel ke dalam saku celananya. Meski Sena sudah mengetahui isi hatinya, namun kepergok stalking instgram tetap memalukan.


"Udah. Akang masih di sini?"


"Tadi Akang udah bilang, Akang nunggu di sini."


"Padahal duluan aja, aku juga langsung pulang."


"Emang kaki kamu lagi sakit?"

__ADS_1


"Kaki aku? Ngga sakit."


"Bisa jalan kan?"


Sena mengangkat kakinya bergantian antara yang kanan dan yang kiri.


"Bisa."


"Sekarang bisa?"


"Bisa."


"Yaudah yuk. Kemana?"


"Hah? Maksudnya?"


Sena masih loading, belum mengerti ucapan Ricky. Sementara Ricky tertawa kecil melihat wajah bingung Sena. Adik tingkat yang usianya 5 tahun lebih muda darinya.


"Tadi katanya bisa jalan. Akang pengen ngajak kamu jalan."


"Ya ampun..."


Sena menyadari kepolosannya.


Boleh juga usahanya, dalam hati Sena.


"Tapi aku ditunggu supir di mobil."


"Perempuan kalau nolak laki-laki suka ada aja alasannya."


"Ngga gitu, Kang. Mau kemana emang? Sekitar sini aja ya."


Untungnya ia sedang berada di sebuah mall, hingga memiliki alibi agar tidak perlu "jalan" ke tempat yang jauh.


"Makan aja. Belum makan kan?"


"Belum sih."


Meski tidak lapar, tapi tempat makan adalah tempat yang paling umum. Dibandingkan keliling muter toko atau ke wahana bermain, menurutnya lebih terlihat intimate dan Sena tidak ingin.


Ricky membukakan pintu dorong untuk Sena, keluar dari JVAC menuju restoran untuk makan siang.


"Apa aja suka."


"Laper banget ngga? Kalau laper, kita cari makanan berat."


"Ngga sih, tadi aku bawa bekel makan di mobil."


Sena yang senang membaca, selalu membawa camilan di dalam mobilnya. Terlebih akan menempuh perjalanan Bandung - Jakarta, beberapa roti dan camilan sudah tersedia di samping kursi tempat ia duduk.


"Dimsum nya Imperial Kitchen suka?"


"Boleh boleh."


Ricky berusaha memanfaatkan kesempatannya kali ini sebaik mungkin. Bertemu Sena secara tidak sengaja berdua, rejeki yang jarang sekali terjadi.


Biasanya ia bertemu Sena hanya di lingkungan kampus. Itu pun bersama mahasiswa lainnya. Sehingga hampir tidak ada moment untuk ngobrol berdua secara langsung apalagi mengenal Sena lebih dekat. Hanya bisa mengagumi dari jauh dan dalam diam. Namun ia sering mengirimkan makanan dan hadiah ke rumah Enin, berbekal alamat dari Sarah.


"Coklat kemarin udah nyampe?"


Ricky adalah orang yang paling rajin mengirimkan Sena makanan. Memesan cemilan dari aplikasi salah satu minimarket terbesar di Indonesia. Maksimal 2 jam setelah pemesanan, barang yang dipesan akan tiba di rumah.


"Udah. Tadi aku bekel makanan dari kiriman Akang. Padahal ngga usah repot-repot Kang."


"Akang suka stok cemilan, kalau malam suka pengen ngemil. Perempuan juga suka ngemil sambil belajar kan? Akang pikir sekalian sama belanjaan Akang aja, ngga repot."


"Soalnya Enin suka ngomel kalau banyak yang kirim-kirim, takutnya aku yang minta-minta katanya."


Beberapa waktu lalu Sena mendapat kiriman botol minum dari Ricky karena tau Sena koleksi botol Starbucks, lalu selang beberapa hari pesanan aneka camilan dari pengirim yang sama mendarat di rumah Enin.


"Selain Akang ada yang suka ngirim juga?"


"Ngga sih. Tapi Akang terlalu sering, jadi Enin berpikir kalau aku manfaatin laki-laki."


"Yang penting kan ngga gitu. Oh iya katanya sama yang terakhir katanya udah ngga ya?"


Ricky memindahkan nomor meja secara spontan. Dengan hati-hati ia mencoba mencari tau Sena lebih banyak. Karena di kampus, Sena jarang terlihat dekat dengan mahasiswa lain. Bahkan dengan Sarah, yang notabene adalah sepupu Ricky, Sena jarang bercerita masalah pribadi. Sehingga label eksklusif melekat pada diri Sena.


"Yang terakhir yang mana?"

__ADS_1


Sena memainkan sedotan berbahan stainless steel di gelas milkshake pesanannya yang terlebih dulu sampai.


"Yang stay dimana waktu itu kata anak-anak, Akang lupa. Singapura apa Jepang?"


"Jepang mungkin."


"Iya kayaknya. Udahan? Kenapa?"


"Belum udahan, cuma lagi sama-sama rehat dari hubungan yang banyak menuntut."


"Siapa yang banyak nuntut? Pasti cowok kamu yang nuntut."


"Kayaknya kebanyakan laki-laki kaya gitu. Mantan aku sebelumnya lebih parah."


"Masa sih? Menuntut apa contohnya?"


Ricky tidak ingin tergesa-gesa. Melihat rivalnya bukan orang biasa, ia harus bermain sehalus mungkin untuk mendapatkan hati Sena.


"Sama-sama sih sebenernya. Aku juga terkadang nuntut waktu, perhatian, standar lah yang gitu-gitu. Kalau pacar aku mau nya aku jaga jarak sama lawan jenis."


Wajar, ucap Ricky dalam hati.


Sena enggan memceritakan detail permasalahan antara ia dan Adit kepada siapun selain Mita, terlebih kepada Ricky. Karena Ricky adalah orang yang tidak disukai Adit. Walau bagaimanapun, Adit di hatinya masih dengan posisi yang sama. Dan kini, ada sedikit perasaan bersalah di hatinya karena jalan dengan laki-laki lain.


"Kamu pacaran berapa kali?"


"Dua. Akang berapa?"


"Belum pernah"


"Serius?"


"Serius belum pernah. Baru sekarang Akang ngerasa bener-bener tertarik sama lawan jenis."


"Aku maksudnya?"


"Menurut kamu?"


Ucapan Ricky terpotong dengan kedatangan seorang waitress yang membawakan pesanan. Beberapa porsi dimsum, tahu lada garam, sup kepiting asparagus, ayam goreng pedas, dan dua gelas milkshake.


"Kebanyakan ngga sih? Aku ngga terlalu laper lho Kang."


"Akang yang laper, itung-itung kamu nemenin Akang makan. Ngga apa-apa kan?"


Karena lapar, Ricky langsung mengambil sumpit lalu menyuapkan mantou panggang daging sapi ke dalam mulutnya.


"Suka yang mana?"


Sena melihat ke arah bakpou berwarna orange yang berisi kuning telur asin. Dengam sigap, Ricky mengambilkan bakpou tersebut ke piring Sena.


"Mau disuapin?"


Sena tersenyum salah tingkah.


"Ngga, aku bisa sendiri."


Sambil makan, Ricky melanjutkan bercerita tentang dirinya.


"Sebelumnya Akang pernah suka perempuan, tapi cuma gitu doang. Karena fokus Akang masih kuliah dan kerja waktu itu. Tepatnya dua tahun lalu, waktu Akang tingkat akhir kuliah S2, ngeliat kamu di Salman, beda feel nya. Kamu masih tingkat 1 waktu itu ya?" (Salman : Masjid ITB)


Saat itu Sena bersama beberapa teman sekelasnya sedang kerja kelompok di Masjid ITB, karena malas keluar lingkungan kampus. Beberapa mahasiswa sering menggunakan fasilitas umum kampus untuk kegiatan belajar, salah satunya Masjid Salman.


Sena mengangguk mengiyakan. Moment yang seharusnya awkward karena Ricky sedang mengungkapkan isi hatinya, namun Ricky utarakan dengan santai agar Sena tetap nyaman. Karena Ricky paham, bahwa Sena masih menyukai laki-laki bernama Adit yang saat ini berada di Jepang.


"Sekarang gimana sama yang di Jepang?"


Ricky mengingat sesuatu lalu menghubungkannya. Jepang?


"Eh bentar, kamu mau ke Jepang ketemu sama mantan kamu yang terakhir?"


"Bisa jadi. Yang pasti tujuan utamanya nemenin Teteh ipar yang pengen kesana, karena Kakak aku nya lagi ngga bisa nemenin."


Ricky bernafas lega. Setidaknya tujuan utama Sena bukan menemui laki-laki itu.


Seperti biasa, Sena memotret makanannya dan mem-post di story instagram. Tanpa Sena sadari, di dalam foto tersebut ada dua buah gelas dengan sebuah kunci motor dengan gantungan dompet kulit kecil yang tidak Adit kenal.


Artinya Sena sedang makan dengan laki-laki, dan yang pasti bukan dengan Rama.


Saat melihat story tersebut, Adit lemas.

__ADS_1


__ADS_2