
Sena tetap dengan pendiriannya. Membawa empar koper besar berisi baju, sepatu hmm hi dan makanan untuk Adit meski Adit sudah mengatakan bahwa tidak ingin apapun dari Indonesia. Karena banyak makanan Indonesia tersedia di Jepang.
"Aku lagi ngga pengen apa-apa, Non. Aku lagi mikirin ujian."
Saat itu kesekian kalinya Sena bertanya makanan atau hal apapun yang Adit rindukan dari Indonesia.
Pulang dari Tower Records sudah malam namun tidak mendapatkan buku yang ia cari. Akhirnya Adit harus menahan kantuknya demi menyelesaikan tugas hanya dibantu buku seadanya yang ia miliki dan bahan dari internet.
Hal yang membuat Mita kaget adalah baju yang hendak Sena bawa adalah baju dress terbuka. Sena menunjukan baju tersebut kepada Mita setelah Rama keluar dari kamarnya.
"Kamu ngapain pake baju ginian?"
Sena mengangkat dress berwarna hitam dengan potongan dada rendah berlengan tali satu.
"Aku pengen ngajak makan malam Adit. Dia kan udah kerja buat aku juga. Aku pengen keliatan cantik Teh. Temen-temen aku juga kalau kondangan banyak yang bajunya gitu."
Mita memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Ngga boleh pake ginian. Ini mah baju dinas kalau kamu udah nikah sama Adit. Ngga bisa dipakai di luar rumah."
Sena memincingkan matanya. Ternyata Mita sama saja dengan Rama. Dengan terpaksa Sena memasukan kembali beberapa baju yang sudah ia beli secara online ke dalam lemarinya. Akhirnya barang bawaanya bisa dipadatkan menjadi tiga koper. Mita juga mensortir beberapa barang yang ia anggap berlebihan atau tidak perlu.
Malam hari Mita kembali ke apartemen untuk mengambil barang bawaannya dan menyiapkan keperluan Rama selama ia ke Jepang. Meski Rama sudah mengatakan tidak perlu, namun Mita bersikeras ingin menyiapkan keperluan Rama
"Kamu cek ulang aja bawaan kamu, jangan sampai ada yang ketinggalan terutama vitamin dari dokter."
__ADS_1
"Beres itu mah, Ayang."
Mita mendekati Rama berniat menggoda.
"Jangan nakal ya pas aku ke Jepang."
"Ngga kebalik? Kamu yang harusnya jangan macem-macem disana."
Rama mengangkat tubuh Mita duduk di atas pangkuannya. Dengam gerakan lihai bak ahli. Mita meraih tengkuk Rama dan menenggelamkan bibirnya ke dalam mulut Rama.
Rama kaget dengan serangan tiba-tiba dari Mita malam ini. Mita mengecup setiap inci wajah dan leher Rama dengan panas.
Tangan Rama di atas meja, Mita tuntun untuk membantu membuka baju bagian pundaknya. Pakaian yang tadi Sena perlihatkan membangkitkan imajinasi liarnya bersama Rama.
Akhirnya penyautan terjadi di atas sofa kamarnya karena Mita sudah tidak sabar.
Perkataan Rama tadi menggambarkan perasaannya yang tengah membuncah. Adrenalinnya meningkat melihat kebuasan Mita malam ini.
Tubuh Mita lelah, namun ada perasaan takut jauh dari Rama meski hanya empat hari.
Meskipun keduanya sudah sama-sama selesai, namun Mita seolah tidak ingin berhenti. Ia melakukan itu untuk menghilangkan perasaan takutnya.
"Tidur dulu ya, takut baby nya capek. Kamu juga capek seharian di luar rumah. Everything will be oke."
Rama mengerti ketakutan Mita. Membuatnya memeluk Mita erat hingga Mota tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
Di sisi lain Sena sedang sibuk menghubungi Hiro, agar rencananya di Jepang berjalan mulus dengan bantuan Hiro.
"Kak Hiro, Mas Adit lagi sibuk banget ya sekarang?"
Sena menghubungi Hiro, teman terdekat Adit saat ini.
"Panggil saja Hiro."
"Oke. Bagaimana kanar Adit sekarang?"
"Adit sangat sibuk. Kenapa?"
Dengan segala effort Hiro berusaha menggunakan bahasa Indonesia. Berusaha tanpa menggunakan kamus, google translet atau aplikasi terjemahan lainnya.
"Aku mau ke Tokyo lusa."
"Lusa?"
Sena tersenyum. Hiro belum belajar arti lusa.
"Besok itu Senin, sedangkan lusa adalah Selasa."
"Aaaaah. Apakah Adit tidak tau? You will give him surprise?"
Karena bingung dengan susunan kata, Hiro akhirnya menyerah. Memilih menggunakan bahasa yang dimengerti oleh Sena dan Hiro, yaitu Bahasa Inggris.
__ADS_1
"Yes. Gimana menurut kamu?"
"Adit akan suka.