
Holaaaaa maaf beribu maaf lamaaaa bangett ngga update.
Semoga bisa semakin sering update yaa yang udah nungguin novel ini.
Love ❤️❤️
******
Sementara itu Rama masuk ke penthouse para orangtua dimana Adit berada.
"Perlu ke dokter?"
Rama datang tiba-tiba mengagetkan semua orang yang mengerubuni Adit karena khawatir.
"Ngga usah, besok juga mendingan."
Adit mencoba biasa saja, meski dalam hatinya dongkol melihat pantulan wajahnya di cermin, sudah tidak estetik lagi menurutnya.
"Perih ngga ini Mas?"
Sena juga tiba-tiba datang sudah berganti pakaian tidur.
"Lumayan."
Sena mengambil handuk kompresan dari tangan bu Lia, menempelkan handuk tipis yang sudah dibasahkan dengan air hangat.
"Aduh pelan-pelan, sakit ini."
Adit sedikit menjerit kesakitan. Sengaja Sena mengeraskan sentuhan kompresan di pipi kiri Adit.
"Sakit kan, bukan lumayan namanya. Pelakunya udah minta maaf belum?"
Sena melirik Rama sekilas dengan wajah ketus sambip mendengus.
"Sorry, itu kan bentuk pertahanan, naluriah manusia."
"Kalau minta maaf ngga perlu sambil ngebela diri, keliatan banget ngga ikhlas nya."
Sungut Sena.
"Iyaaa maaf."
"Setelah Adit babak belur baru sadar salah !"
Rama hanya menunduk sambil bermain ponsel.
"Udahlah, emang udah takdir aku harus babak belur.''
Adit tidak ingin Sena emosi, karena berpengaruh terhadap tekanan handuk yang Sena tempelkan ke lukanya.
"Harus di ruqyah kamu Kak, muka Adit jadi kaya gitu."
Bu Lia meninggalkan ruang tamu menuju kamar dengan memijat kening.
"Besok juga mendingan, jangan banyak gerak dulu. Laki-laki wajar lah berantem."
Pak Zainal menepuk pundak Adit menenangkan. Rama tersenyum, merasa senang dibela Bapak mertua.
Begitu masuk kamar, Pak Romi yang sedang duduk menonton di kamar membenarkan posisi duduknya.
"Mama telepon orangtuanya Adit. Kalau dinanti-nanti keburu tau duluan, kita lebih ngga enak."
Pak Romi memikirkan reaksi Bambang Wiraguna, merasa tidak enak karena Rama sudah menghajar Adit. Meski kemungkinan besar memang Adit yang salah. Namun baginya, perkelahian bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah apalagi sampai membuat orang terluka.
"Assalamualaykum. Mbak Retna, apa kabar?"
Empat kali nada sambung telepon terdengar, sedetik kemudian terdengar suara lembut khas perempuan Jawa.
"Waalaykumsalam, baik Teh. Kapan pulang dari sana?"
"Lusa pulang, nyampe Jakarta Selasa."
"Oh gitu, hati-hati di jalan. Semoga sampai tanah air sehat tidak kurang satu apapun. Tinggal capek nya aja itu."
"Aamiin, makasih Mbak. Udah mulai kerasa capeknya, faktor U."
Tiga menit tak terasa digunakan Bu Lia untuk berbasa-basi, sebelum membuka pembicaraan mengenai Adit.
"Adit sudah nelpon Mbak?"
"Terakhir nelpon kemarin, ada masalah dikit biasa anak-anak. Kenapa? Kambuh lagi alerginya?"
"Ngga, Adit sehat. Cuma tadi ada sedikit masalah sama Rama, adu urat."
"Aduh adu urat gimana maksudnya? Masalahnya apa?"
"Ngga ada yang mau cerita masalahnya apa, cuma Adit yang salah awalnya jadi Rama emosi. Begitulah jadinya, Adit wajahnya ada memar-memar. Saya cerita duluan takut Mbak bertanya-tanya."
Bu Retna sedang membersihkan beberapa peralatan dapur yang mulai berdebu saat itu, langsung menyimpan kain lap ke atas meja.
"Anaknya dimana sekarang? Sudah diobatin belum Teh?"
"Ada di ruang tengah, lagi Sena kompres biar luka nya ngga bengkak."
"Separah apa?"
"Ngga parah, tapi memang ada memar. Kalau ada keluhan nanti kita check ke rumah sakit. Saya laporan gini biar Mbak ngga khawatir. Takutnya nanti pas tau malah bertanya-tanya."
"Iya Teh, saya nitip Adit. Apapun masalahnya sama Rama, semoga bisa segera diselesaikan. Adit lawan Rama ya menang Rama, aduh Gusti..."
Percakapan akhirnya ditutup karena terdengar ART Bu Retna menginformasikan ada kiriman paket yang datang. Sedikit lega perasaan Bu Lia kini, setelah memberi info keadaan Adit kepada orangtuanya.
Rama melihat dengan jelas wajah Adit sekarang, ternyata memang sebanyak itu memar dan lebam kebiruan di wajah Adit, hingga rasa bersalah pun ia rasakan.
"Ke dokter ayok, sebagai bentuk pertanggungjawaban."
"Haduh ngga usah, dikompres terus juga mendingan."
Dalam pikirannya ke dokter terlalu lebay, ia membayangkan wajah nya akan diperban seperti di sinetron ikan terbang.
"Pelan-pelan Sena..."
Adit setengah memohon, karena handuk kompres yang digunakan Sena terlalu menekan luka memar di wajahnya.
__ADS_1
"Aku jadi emosi. Muka cute jadi gini coba, udah ngaca belum?"
"Masih ganteng kok tenang. Coba sini sama aku."
Rama mendekati Sena berniat mengambil handuk dari tangan Sena.
"Ngga usah, udah mendingan. Aku balik ke kamar ya?" Adit meminta persetujuan Sena. Sementara Sena mengangguk dengan terpaksa.
Adit bangun berniat menuju kamarnya di unit sebelah karena ingin istirahat. Begitupun Rama, kembali ke kamarnya. Membayangkan sentuhan Rama membuat Adit trauma. Awalnya ia sempat meremehkan Rama, karena tiga pukulan pertama masih terasa biasa, namun 3 pukulan terakhir di pipi kiri nya ternyata tidak bisa diremehkan.
"Istirahat di sofa dulu mau ngga? Biar aku bisa lihat, kalau di kamar aku nya ngga enak."
Adit mengangguk sambil menuju ke kamar. Tak lama ia kembali ke ruang TV dengan selimut tebal berwarna putih di balutkan ke tubuhnya, sementara itu sebuah bantal dijepit di ketiak kiri sebagai amunisi istirahatnya sementara di sofa.
"Mau tidur?"
"Ngga. Bisa bikinin teh hangat ngga Sen?"
Sambil berbaring Adit mengeluarkan ponselnya yang berdering, panggilan video dari Sang Ibu di Jakarta. Namun tidak ia angkat.
"Ini HP nya bunyi Mas, Ibu video call."
Sena mengambil ponsel dari tangan kekasihnya.
"Ya piye? Diangkat? Muka ku koyo ngene, yang ada Ibuk khawatir."
Sena tersenyum, pertama kalinya mendengar Adit berbahasa Jawa medok.
"Assalamualaykum Bu."
"Sena, Adit mana Nak?"
Adit sedikit terkejut, sejak kapan Ibu nya akrab dengan Sena?
"Lagi istirahat Bu, habis berantem sama Kakak. Katanya takut Ibu khawatir kalau lihat muka Mas."
"Berantem kenapa sih? Ibu jadi bingung."
"Adit ngga kenapa-kenapa, memar sedikit."
Adit akhirnya mengambil ponselnya dari tangan Sena.
"Ya Allah ya Gusti... Yah, delok rai anakmu."
Bu Retna memberikan ponselnya kepada Pak Bambang, memperlihatkan wajah Adit di layar ponselnya kepada Pak Bambang.
"Masih bagus kok Buk."
Adit berusaha menenangkan Bu Retna.
"Kok bisa?"
"Biasa lah, sesuk mendingan."
Ada perasaan rindu keluarganya di Jakarta yang sudah berbulan-bulan tidak ia peluk, saat mendengar dan berbicara bahasa Jawa.
"Kalau besok masih sakit, kamu ke dokter. Kapan balik ke Tokyo?"
"Lusa, besok aku ke L.A dulu semalam."
Kali ini insting laki-laki berbicara. Adit tidak siap dengan pertanyaan memojokan dari Ayahnya.
"Ngga aku apa-apain."
Adit menarik Sena untuk mendekat agar terlihat di layar ponsel.
"Kenalan sama Ayah."
Sena tersenyum kaku, bingung harus memanggil dengan sebutan apa.
"Jaga diri Sen."
"Iya Yah, Sena ngga kenapa-kenapa."
Rama keluar dari kamarnya ikut bergabung denga Adit dan Sena, sambil menunggu Mita yang masih mandi. Tidak tahu bahwa Adit sedang menelpon Pak Bambang.
"Kalau kamu diapa-apain Adit bilang Rama, biar dihajar lagi."
"Iya Ayah."
Sena menjawab dengan singkat, padahal hatinya gemetaran.
Kini Rama paham, Adit sedang video call dengan orangtuanya di Jakarta.
"Ayah selalu ngajarin kamu untuk menghormati perempuan. Jangan main-main, jangan bikin malu."
Adit mengangguk kecil. Rama tersenyum mengejek, merasa di atas awan.
"Bokap lo aja tau siapa yang bener."
Begitu Adit mengakhiri percakapan dengan Pak Bambang, Rama langsung mengutarakan yang ada di otaknya.
"Tapi ngga sampai babak belur gini Kak."
Sena masih tidak rela Aditnya terluka.
"Bagian situ nya aku ngaku salah. Tapi kan..."
"Ngga ada tapi kalau ngaku salah. Salah ya salah, ngga pake tapi."
Sena menghentakan kaki nya ke arah dapur, hendak membuatkan teh hangat yang tadi Adit minta.
"Gua serius, sorry."
Rama menatap Adit dengan sungguh.
"Iya, biasalah Sena nanti juga baik. I'm ok."
Tidak lebih dari lima menit, Sena membawa secangkir teh manis hangat untuk pujaan hati. Namun masih dengan omelan tipis dihadapan Rama.
"Maaf sih Sen, Adit nya juga masih ganteng. Aku mah kalau jadi cewek, klepek-klepek lihat ketampanan Adit yang natural mau bentuk mukanya gimana juga."
Rama berusaha menyenangkan hati Sena.
__ADS_1
"Hiperbola, lebay ! Untung buatan Allah, kalau buatan China udah rusak muka pacar aku."
Sena terus masih mengompres pelan luka Adit, agar tidak terjadi pembengkakan.
"Kita jadinya gimana?"
Adit merubah posisi kepalanya menatap Sena, meminta kejelasan atas status nya kini. Tidak peduli dengan kehadiran Rama.
"Putus kan tadi?"
Wajah Sena seolah tanpa ekspresi, membuat Adit kaget. Dan Rama juga sama terkejutnya mendengar jawaban dari Sena.
"Ngga mau, enak aja. Maksudnya apa?"
Dengan tiba-tiba Adit duduk, mengambil handuk dari tangan Sena meminta penjelasan.
"Enak aja kenapa?
"Muka ku kaya gini, kamu mau ninggalin aku? Perempuan mana yang mau sama cowok babak belur gini. Sedangkan kamu cantik, gampang banget dapet pacar lagi."
Sena tertawa mendengar jawaban Adit.
"Jangan ketawa, aku serius."
Adit sudah tidak ingin melihat ke arah Rama, serius tidak ingin Sena meninggalkannya. Kini jemari Sena sudah di genggamannya. Sementara jantung Sena, berdetak tidak karuan. Bahkan tidak sadar masih ada Rama di dekatnya. Dan bingung harus menjawab apa, karena Adit menanggapi serius ucapannya.
Namun begitu menyadari raut wajah Sena yang memerah Adit menyadari bahwa Sena hanya mengerjainya, hingga ia pun iseng balik menjahili Sena.
"Aku ngga ikut ke L.A aja kayaknya, langsung ke Tokyo. Tiket bisa di refund kan?"
"Ihh bercanda aku mah, aku ngga pernah ngerasa udahan. Yang bilang putus itu kan Kakak, bukan aku. Still boyfriend and girlfriend, right?"
Adit tersenyum dalam hati, melihat Sena yang kalang kabut.
"Buat aku hubungan itu bukan mainan, apalagi bahan bercandaan."
"Baper banget lu jadi cowok."
"Kakak sih !"
"Kok aku?"
Adit semakin senang melihat pertengkaran Kakak beradik di hadapannya.
"Mas, aku ngga serius tadi. I'm joking."
Tidak tega melihat Sena yang murung, Adit menarik Sena ke dalam pelukannya.
"Bentar kak, adiknya gemes."
"Ahhh bocah alay."
Rama paham maksud Adit.
"Lamaran yuk, biar aku jadi calon suami. Kalau udah dilamar, ngga bisa diduluin orang lagi."
Wajah Sena langsung memerah, lamaran?
Sementara Rama merasa tersindir dengan tatapan sinis Adit, yang ia rasa mengarah ke arahnya.
"Ngerjain aku ya? Sebel ih."
"Satu sama. Kamu juga tadi ngerjain aku."
Adit semakin merapatkan pelukannya.
"Panas, buka baju ah."
Rama melepaskan baju hangat yang terbuat dari wol.
"Eh jangan disini Kak."
Sena risih dengam kelakuan Rama.
"Emang aku mau ke kamar. Ngapain nyimak yang pacaran, mendingan samperin istri aku. Mau buka puasa dulu."
"Ih mesum!"
Adit tersenyum simpul melihat tingkah kakak beradik tersebut.
"Mesum juga halal. Kamu mah haram, inget !"
Rama menutup pintu kamarnya. Seketika senyuman Adit menghilang, melonggarkan pelukan yang ia ubah menjadi rangkulan. Namun begitu melihat Sena, entah mengapa hatinya menjadi berbunga-bunga kembali.
Sena memberikan gelas teh manis yang tadi ia simpan di atas meja yang kini sudah tidak hangat lagi.
"Thank you ya. Rama berubah karena lihat aku babak belur begini?"
"Manggilnya Rama lagi?"
"Dia yang ngga mau aku panggil kakak, aku bukan adiknya lagi."
"Panggil Kakak lagi, katanya mau ngelamar."
"Emang mau dilamar aku yang orang biasa ini?"
"Biasa dari mana nya?"
Sena mengencangkan genggaman tangganya sambil menatap Adit dalam, meyakinkan bahwa Adit lebih dari biasa.
"Jangan liatin aku kaya gitu, iman aku lemah."
Adit menundukan pandangan matanya.
"Harusnya gimana?"
"Biasa aja, ngga usah gitu."
Sena tersenyum simpul, meski dengan wajah babak belur, ekspresi wajah Adit mampu menjadi obat kesalnya hari ini.
******
Jangan lupa support nya untuk novel ini ya teman-teman.
__ADS_1
Like, komen, vote dan favoritkan ❤️❤️