Cinta Mita

Cinta Mita
Salmon dan Lele


__ADS_3

Mita


Begitu anak-anak keluar, ada telepon masuk dari nomor yang tidak ada namanya. Niatnya semula ingin segera mandi bersiap ke kampus, tapi ia urungkan lalu mengangkat telepon tersebut.


"Assalamualaikum, hallo."


"Oh iya Sena aku inget. Kenapa Sen, ada yang bisa aku bantu?" Mendadak ia deg-degan begitu Sena yang menelepon. Tentunya tujuan Sena menelponnya.


"Semalam Kakak aku nggak pulang, ada ke tempat kamu nggak?"


Deg. Seketika jantungnya seperti berhenti. Apa yang harus ia katakan? Mengatakan Rama datang ke tempatnya pasti menyisakan kesan buruk, tapi jika harus berbohong ia bukan ahli dalam berbohong.


Ambil nafas, santai.... pikir Mita


"Kemarin siang kesini nggak lama, karena aku lagi belajar kelompok dan ngerjain tugas sama teman-teman di kosan. Pulang dari sini aku nggak tau Kak Rama kemana." ia khawatir salah bicara. Ia tidak ingin menjadi buruk di mata keluarga Bu Lia.


"Kalian nggak marahan gitu? Kemarin Mama bilang nemuin kamu ya? Kamu bilang ke Kakak ngga? Dia nggak pulang dan ngga jawab chat sama telepon."


"Aku nggak ngomong apa-apa, cuma bilang kalau aku lagi ngerjain tugas. Tapi dia tetap nunggu di luar mungkin 1jam. Habis itu aku suruh pulang."


"Dia ngga pernah kaya gini sebelumnya."


Ia merasa tersudut, mungkinkah ia disalahkan atas tidak pulangnya Rama?


"Maaf kalau Kak Rama jadi seperti ini karena aku. Aku sudah mencoba untuk menjauhi Rama sebisa aku. Aku..."


"Bukan, bukan salah kamu. Ini pertama kali nya Kakak suka sama perempuan. Mungkin dia merasa harus memperjuangkan kamu. Ini murni dari Kakak bukan karena kamu."


Kekhawatirannya ternyata salah, ia bersyukur. Mita hanya menjelaskan hal-hal umum saja. Untuk soal pribadi Rama yang lain, ia meminta Sena untuk menanyakan langsung kepada Rama jika sudah pulang nanti.


Selepas panggilan telepon dari Sena, ia bergegas ke kampus. Siang nanti ada kuliah, ia ingin makan ayam bakar langganan nya dekat kampus.


Kali ini ia berangkat dengan Niken, kosan mereka memang berdekatan.


"Makan siang belum? Gue laper makan dulu ya." Niken datang dengan susu UHT favorit nya di tangan.


"Di Pak Lek aja ya, aku pengen ayam bakar."


Siang ini begitu panas, ia pun membeli jus mangga saat perjalanan menuju kampus.


"Es nya banyakin, gula nya sedikit aja, jangan pake susu." harus betul, tidak boleh salah. Pernah suatu kali si penjual memakaikan susu, ia cemberut.


"Aku kan pesennya ngga pake susu, teteh mah ngga didengerin." saat itu ia komplain.


"Yaudah ganti aja, saya bikin baru ya Neng." Teteh penjual jus mengalah.


"Itu ngga apa-apa aku beli buat temen, pesen 1 lagi. Es nya banyakin, gula nya sedikit aja, jangan pake susu."


Sejak saat itu teteh penjual jus tidak pernah lagi salah.


Begitu sampai di Warung Tenda Pak Lek ia merasa hafal pada mobil yang di parkir tidak jauh, hanya ia tepis karena tidak mungkin Rama ada disini.

__ADS_1


"Penuh banget. Tolong pesenin yang aku ya Ken, aku tunggu disini."


Ia yang merasa pusing jika berada di keramaian menunggu di depan. Tapi tunggu, apa Niken tau pesanan khusus untuk nya? Mau tidak mau ia masuk meskipun dengan hawa panas di dalam. Karena jika tidak sesuai dengan yang dibayangkannya, ia harus memesan kembali sesuai keinginannya. Ternyata benar, perempuan adalah makhluk paling ribet.


"Aku paha, bakar asal aja jangan gosong."


Ia merasa ada yang melihat ke arahnya. Begitu menoleh ada dua orang laki-laki yang sedang duduk seperti menunggu pesannya datang.


Rama, laki-laki yang ia rindukan. Entah dengan siapa di sampingnya. Mata mereka beradu. Namun ia memilih membuang muka.


"Ken aku masuk kelas duluan, nitip punya aku dibungkus aja."


Belum sempat Niken menjawab permintaanya, Rama bangkit.


Ya Tuhan jangan sampai dia mendekatinya, benteng pertahanannya bisa hancur.


"Lu mau kemana?" Fery setengah berteriak, merasa ditinggal.


"Gua nunggu di mobil. Bungkus aja makan di hotel."


Rama melewati Mita begitu saja, tanpa kata. Sakit, meski harus ia tahan. Tersenyum, bismillah.


*****


Fery


"Mita ya? bisa ngobrol sebentar?"


Ia pun duduk di tempat yang Rama duduki tadi.


"Saya Fery, temen nya Rama dari Bandung." laki-laki itu mengulurkan tangan nya ingin menjabat.


Ia hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.


"Oh, maaf." Fery tersenyum kecut lalu menarik tangannya kembali.


"Besok Rama berangkat, kalau bisa sih biarin aja dia kaya gini. Buat kebaikan kalian berdua. Mendingan sakit di awal daripada kalian tetap berhubungan tapi tetap merasa sakit lalu terakumulasi akhirnya. Ya kan?" Fery menunggu jawabannya.


Ia berusaha mencerna yang Fery katakan, mungkin artinya "Menjauhlah".


Ia tersenyum getir.


"Iya. Kak saya duluan, permisi." Mita bangkit dari duduknya.


"Oh Iya, pesenan saya juga bentar lagi selesai."


Ia tersenyum kembali kepada Fery, yang ia baca seperti sahabat bagi Rama.


"Ken, aku nitip ya. Pake uang kamu dulu aku ganti di kelas."


Ia pun meninggalkan warung tenda tersebut.

__ADS_1


Ia melirik sekilas ke mobil Rama, samar-samar terlihat Rama yang menatap ke arahnya dalam diam.


Setelah melewati Rama, banjir sudah airmata nya sekarang.


"Rama ngapain sih kesini, aku jadi nangis gini." ia kesal bukan kepalang, ***** makan ayam bakar menguap sudah. Bahkan untuk bernafas pun sulit, karena hidungnya tersumbat terlalu banyak menangis.


"Kenapa nangis mata lo bengkak gitu." ia duduk di sebelah Irma, mau tak mau ketika Irma melihat ke arahnya wajah dan hidung nya tampak memerah.


"Di warung tenda Pak Lek aku ketemu Rama." ia yang terbiasa bicara aku ku, terkadang masih terasa sungkan untuk bicara lo gue kepada temannya.


"Kalau disini, lo ngomong aku kamu sama cowok yang ada itu cowok baper." saat ia mengatakan tidak terbiasa bicara dengan lo gue.


Ia pamit ke toilet untuk mencuci wajahnya agar tidak terlalu kentara habis menangis.


Sehabis dari toilet, Niken sudah duduk di kursi kiri nya.


"Ini ayam bakar lo, udah dibayarin sama Aa ganteng. Tiap hari aja dia kesini, utuh jatah makan siang gue." Niken terkekeh geli.


Ia terdiam, dua sahabat yang satu hobi.


"Lo keterlaluan sih Mit. Rama sampe pergi gitu, sakit banget gua mah."


"Iya parah kalau gitu sih. Gua udah tau ceritanya." Irma ikut memberikan komentar, semakin memojokannya.


Masih ada waktu 25 menit lagi sebelum perkuliahan dimulai. Dibukanya strerofoam yang berisi nasi dan ayam bakar kesuksesanya.


"Aku harus gimana Ken? Cuma ini yang bisa aku lakuin biar dia ngga ngejar aku lagi."


"Ngomong baik-baik Mit kan bisa." Irma ikut mencolek ayam bakarnya.


"Minta ya. Jadi ngiler kan pamali entar anak gue ngeces." ia tertawa.


"Heh anak gadis, emang lo hamil. Sembarangan aja kalau ngomong." Niken menoyor kepala Irma.


"Aku nggak bisa, aku takut aku yang kalah. Aku juga berjuang kaya gini, ngga mudah buat aku. Aku takut malah nanti meluk dia, malah bikin susah kita berdua lagi. Lebih baik kaya gini."


"Yaudah kalau menurut lo begitu. Yang terbaik buat lo berdua. Cuma sayang aja, sebaik dan sesempurna Rama harus digituin. Kayak nggak rela gue, boleh buat gue ngga sih." ia jadi tertawa. Niken bermulut somplak memang selalu ceplas-ceplos.


"Enak di lo, rugi di mereka." Irma protes, seakan ikut tidak rela.


"Boleh, aku mah udah hopeless. Cukup tau diri." mentimun yang sudah dikupas ia cool dengan sambal hitam yang pedasnya seangkasa raya.


"Iyalah boleh, udah ada Adit nggak kalah sama Rama. Diem-diem wadidaw dah Mita emang, cemewew nya salmon semua."


Mita tertawa keras mendengar omongan Niken. Ikan kali salmon.


"Kalau Adit sama Rama salmon, Aldi ibarat ikan apaan tuh?" iseng ia bertanya.


"Lele kali ya." Irma menyahuti dengan konyol. Mereka tertawa terbahak-bahak bersama.


"Di kali dong, ngga ada mewah-mewahnya." ia membalas ucapan Irma.

__ADS_1


"Makannya tokay." mereka pun tertawa sampai mengeluarkan airmata.


__ADS_2