Cinta Mita

Cinta Mita
Dua kubu yang berpisah


__ADS_3

"Aku ke hotel dulu ambil koper."


Selesai sarapan Adit meminta izin ke hotel kepada Sena.


"Langsung kesini lagi kan?"


Adit tersenyum, cinta memang tidak bisa berbohong. Tatapan Sena untuknya sangat jelas berbeda dengan tatapan Mita beberapa tahun lalu, meski statusnya masih berpacaran dengannya.


"Ettdah yang udah baikan harum banget, kita kalah Yang."


Rama menuju buffet yang berisi banyak kunci, lalu mengambil salah satunya.


"Iya langsung kesini, jangan kangen, cuma sebentar."


Adit sudah tidak malu di depan Rama.


"Gua anter aja."


Rama sudah memegang kunci mobil yang baru saja datang pagi ini, ia menyewa van (Mobil berukuran besar) selama di Seattle untuk memudahkan mobilitas selama keluarganya berlibur.


"Kakak baik banget sih."


Sena membalas pelukan Rama sambil mencium pipi kakaknya. Rama sadar Sena sangat mencitai Adit, hingga ia juga ingin memfasilitasi Adit demi Sena.


"Belum pernah kan lu cium Sena? Muahh." Rama mambalas ciuman dari sang adik yang mendarat di pipinya.


"Kampret." Adit mengutuk Rama dalam hati.


"Nikah dulu, baru bisa."


Nikah? masih lama, batin Adit.


"Gua naik taksi aja Kak."


Adit merasa tidak enak, takut merepotkan Rama.


"Biar cepet."


"Ikut boleh ngga Bang?"


Yoga yang sedang duduk di sofa merasa bosan, ingin keluar apartemen menikmati suasana Amerika.


"Boleh dong. Yuk."


Rama berjalan duluan, mempercepat langkahnya diikuti anggota the boys lainnya. Selama perjalanan menuju hotel diisi obrolan laki-laki.


"Ga liat Ga dia mau ngapain Ga?"


Adit antusias begitu melihat sepasang laki-laki dan perempuan remaja begitu dekat dan mesra tidak jauh dari apartemen Rama.


"Itung sampe 10."


Kini Rama yang berbicara, mengerti maksud ucapan Adit.


"Kenapa emangnya?"


"Cepet itung."


"Satu, dua, tiga, empat..."


Belum sampai 10, pasangan tersebut saling ******* di pinggir jalan tanpa rasa malu.


"Belum 10 udah nyosor. Cowok nya udah ganti lagi anjir."


Rama hafal tetangga dekat apartemennya yang sering ia lihat bersama laki-laki.


"Ngga pada malu apa ya Bang? Gila."


Rama dan Adit tertawa melihat ekspresi polos Yoga.


"Mereka paling seumuran kamu."


Adit berpendapat.


"Yoga boleh ngga Bang kuliah disini?"


Rama dan Adit tertawa tambah keras.


"Abang mah boleh boleh aja tapi bos nya kan teteh, tanya dong teteh."


"Emang kamu belum punya pacar? Kuliah disini nanti pacar kamu ditinggal. Mas Adit aja pengen kuliah di Bandung."


Adit memang sudah menganggap Yoga adiknya sendiri. Melihat kepolosan Yoga yang jarang dimiliki laki-laki seusia nya hiburan tersendiri untuknya.


"Belum boleh pacaran sama Bapak, Mas."


"Pacaran dikit mah boleh kali Ga."


"Wah ngajarin ngga bener lu, fokus aja sekolah udah paling bener."


Rama melempar permen yang ada di sampingnya ke arah Adit. Mungkin sudah disipkan oleh pemilik mobil untuk pengemudi agar tidak mengantuk saat nyetir.


"Kamu jangan bandel, jangan bikin teteh pusing, Abang juga yang pusing. Kumpulin uang yang banyak, cewek nanti ngantri."


Adit tertawa mendengar omelan Rama, seperti omelan yang biasa ia dengar dari Putri dan Abi untuknya.


"Anak segede gini wajar lah suka-sukaan, cinta monyet. Pasti ada lah yang Yoga suka, masa ngga ada."


"Ada sih Mas."


"Siapa? Mas kenal ngga?"


"Kenal banget, Teh Sena."


Rama tertawa puas, melihat wajah Adit berubah.


"Kamu suka sama Sena?"


"Nge-fans aja Bang, lucu orangnya, cantik bikin gemes. Di Cianjur ngga ada yang kayak Teh Sena. Beruntung banget Mas Adit punya pacar kayak Teh Sena."


Amsyong, malah suka cewek gua, batin Adit kesal.


"Jangan Sena Ga, yang lain aja. Teteh udah diambil Bang Rama, masa Sena mau kamu ambil juga."


"Anjir ngakak aing." Rama tertawa puas memukul-mukul setirnya.


Sudah di US, tapi bahasa ekspresi Rama tidak berubah.


"Emang mas kenapa bisa putus sama teteh?"


"Diambil orang Ga, kalah aset. Udah lah bener tadi kata Rama banyakin aja duit kamu. Mas doain kamu dapet yang kayak Sena nanti."

__ADS_1


"Jadi dulu teteh direbutin Abang sama Mas? Wih kesenengan banget teteh bisa laku."


"Emangnya teteh kamu barang pake laku segala."


Jarak apartemen dan hotel yang Adit inapi ternyata tidak jauh, dalam 15 menit mereka sudah sampai.


Yoga ikut turun membantu Adit membereskan kopernya agar lebih cepat, Yoga sekarang seperti adik semua orang, sering disuruh-suruh, xixixi. Sementara itu Rama menunggu di mobil.


Yoga selalu terpensona dengan bangunan-bangunan bergaya Amerika dengan desain bangunan yang tinggi sehingga terlihat gagah dimatanya.


"Kuliah arsitek keren kayaknya Mas. Bisa bikin bangunan gini."


"Masuk ITB kalau mau jadi arsitek. Sena jurusan seni rupa juga suka gambar-gambar, gambar dia bagus."


"Keren banget Teh Sena, idaman banget."


"Kamu ngga ada niat ngambil Sena kan Ga? Punya Mas, Ga."


Adit mengingatkan adik dari mantan kekasihnya.


"Ngga Mas tenang aja, Yoga cuma nge-fans. Masa Yoga sama adik iparnya teteh kan ngga mungkin."


"Di Islam kan ngga apa-apa."


"Tapi di budaya kita ngga bagus keliatannya Mas. Mas mau Teh Sena, Yoga ambil?"


"Eits jangan dong, susah lagi nyari yang kayak gitu."


Yoga tertawa.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke apartemen kembali. Para tetua yang sudah dikompori Sena ingin diantar oleh Rama meng-eksplore kota Seattle, terutama berbelanja di Pike Place Market. Pasar yang pernah didatangi oleh Bu Lia dan Sena membeli hasil laut.


"Anter Mama ke Market, Ram."


"Yaudah ayo. Siapa aja yang ikut?"


Para orangtua tentu saja angkat tangan.


"Kamu ikut juga Yang, masa aku sendiri?"


Rama menatap Mita yang seperti tidak tertarik ikut ke Market.


"Aku mah ngga mau ke pasar ya."


Tentu saja Sena sudah punya rencana sendiri dengan Adit.


"Yah rute semalam yang kita bikin gagal dong kalau kamu ngga ikut."


"Aku sih tetap mau kesana sama Adit."


Sena merasa di awang-awang membayangkan pergi berdua dengan Adit.


"Ini kamu apa Adit yang pengen berdua?"


"Kita bareng-bareng aja Sen, selesai dari Market kan bisa ke tujuan kamu."


Adit tidak enak, khawatir disangka ingin membawa anak orang tanpa pengawasan.


"Bosen Mas ke Market gitu-gitu doang. Aku udah pernah."


"Yaudah Adit sama Sena boleh pisah, sama Yoga ya Ga?"


Pak Romi mengambil jalan tengah.


Yoga sih seneng-seneng aja, batin Adit. Sementara Sena sedikit kesal tetap diintili anak kecil menurutnya.


"Kamu bakal bosen ngga ke art museum? Aku mau kesana."


Sebagai anak seni rupa, Seattle art museum tentu menjadi salah satu tempat yang ingin ia kunjungi. Sena berharap Yoga tidak mau ikut ke museum, karena bagi sebagian orang museum adalah tempat yang membosankan.


"Ngga teh, Yoga juga suka art dan gambar."


"Art museum mah deket banget Dek dari market ngga nyampe satu kilo, searah juga. Kamu ke gum wall dulu, baru ke museum."


Sena mencari cara agar bisa terpisah dari orangtuanya. Dua puluh tahun lebih hidup, ia ingin merasakan kebebasan sebentar saja.


"Aku mau ke Nike store juga. Ke pasar kan ngga sebentar Kak. Aku ikut di mobil sampai Market, ke museum nya jalan."


Mita paham Sena tidak ingin dirusuhi dengan Adit, karena semalam Nike store tidak ada dalam rute tujuan mereka.


"Anak Papa ngeyel. Ga, kamu pake kamera Abang aja, ngga dipake daripada nganggur. Kalau mereka macem-macem kamu foto buat barang bukti."


Rama kesal lalu mengambil kamera mirorless nya di tas yang sudah lama tidak ia sentuh.


"Ishh."


Akhirnya kedua kubu berpisah di Market. Yoga, Adit dan Sena melanjutkan perjalanannya ke Gum Wall lalu ke Art Museum.


Yoga yang berjalan di belakang Adit dan Sena, asik mengotak-ngatik kamera mahal milik Rama. Semalam Rama sudah mengajari dasar-dasar penggunaannya. Untuk menjadi expert tentu harus lebih banyak berlatih mengambil foto dan menonton tutorial.


"Mas."


"Hmmm?"


"Pengen es krim dimana ya?"


"Alfa disini ada ngga?"


"Ih ngaco."


Adit tertawa, mencubit hidung Sena yang terlihat indah dimatanya.


Sepanjang perjalanan Adit terus menggenggam tangan Sena, menikmati pagi hari musim dingin yang menusuk namun terasa hangat karena kehadiran Sena di sisinya.


Begitu melihat penjual es krim di food struck, Adit menarik tangan Sena.


"Itu es krim."


"Yoga mana? Nanti kita kepisah."


Meski sebal karena dibuntuti, Sena tetap care kepada adik dari kakak iparnya.


"Aku udah shareloc live posisi kita ke Whatsapp nya Yoga, jadi dia update terus posisi kita."


Cerdas, Sena bahkan tidak terpikir kesana.


"Sir, give me the spoon please." (Mang, punten minta sendok)


Begitu penjual es krim memberinya es krim, tak lupa Sena meminta sendok.


Sena sudah tau cerita ciuman pertama Mita dengan Rama, saat suatu malam sedang berkumpul di rumah orangtua Rama, Mita menasehati Sena yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


"Kalau kamu makan es krim sama cowok harus pake sendok, inget ya."


"Kenapa?"


"Malah kalau bisa jangan makan es krim depan cowok."


"Ada bad moment ya sama es krim? Cerita dong aku penasaran."


Mita terlihat hati-hati dalam berkata.


"Ini rahasia kita ya. Kakak ambil first kiss aku di mobil pas aku lagi makan es krim."


Sena tersenyum antusias, menarik pikirnya.


"Seriously? Terus gimana? Menang banyak dong Kakak, enaknya double, dingin manis gitu."


Sena tertawa menyadari bahasanya yang frontal.


"Ih kamu ya ternyata."


"Terus gimana? Cepet ceritain."


"Ya aku nangis lah. Dia tiba-tiba cium aku."


"Tapi enak kan? Hahaha."


"Kamu jangan-jangan udah pernah ya? Ngaku kamu, bandel ih, dosa tau."


Mita mencubit kecil tangan Sena.


"Demi Allah aku mah belum pernah. Aku sering liat temen aku doang."


Sena akhirnya menceritakan pengalamannya melihat orang ciuman di depan matanya pertama kali saat SMA.


"Aku waktu itu lagi main di rumah temenku sama anak-anak sekelas. Cewek-cewek kan lagi di kamar cerita-cerita pengalaman horror. Aku haus ambil minum dong ke dapur, di dapur ternyata ada temenku lagi kissing sama cowoknya, bersuara gitu rame banget. Kalau ngga enak kan ngga mungkin sampe segitunya."


Mita tertawa mendengar kepolosan Sena.


"Gemes amat pacarnya Adit. Beruntung banget Adit dapet yang kayak gini."


Mita memeluk Sena dari samping, Sena kini sudah seperti teman cerita dan curhat.


"Bisa banget teteh aku."


Setelah mendapatkan sendok es krim yang ia minta, Sena dengan semangat mengambil sesendok demi sesendok lalu disuapkan ke dalam mulutnya.


"Musim dingin gini makan es krim Sen, kamu ngga dingin?"


Sena menggeleng. Bagi Sena makan es krim dengan pacar adalah sesuatu yang romantis. Ia tidak ingin melewatkan kencan pertamanya dengan Adit tanpa kesan istimewa.


Adit gemas melihat Sena antusias dengan eskrim nya.


"Mas ngga pesen?"


Adit menggeleng.


"Minta yang kamu aja boleh? Aku ngga akan habis es krim segitu banyak."


"Ngga jijik bekas aku?"


"Kamu kali yang jijik?"


"No, ini aku suapin."


Sena memberikan suapan sesendok eskrim untuk Adit.


Moment istimewa lainnya di Seattle hari ini, batin Sena senang.


Yoga yang dari tadi memperhatikan sepasang kekasih dari jauh memotret diam-diam.


"You know what? Desember without you, still Desember. But life without you, isn't life." (Kamu tau, Desember tanpa kamu tetap Desember. Tapi hidup tanpa kamu bukan kehidupan.)


Wajah Sena memerah karena malu, ini pertama kali nya Adit seromantis ini.


Tiba-tiba Adit mencolek es krimnya lalu di coelkan ke hidung Sena.


"Mas, hidungku kotor."


"Lucu Sen, hidung sama muka kamu merah."


Sena tidak mau kalah, mengambil es krim nya lebih banyak lalu did coelkan juga ke hidung Adit.


"Kamu curang banyak banget."


"Bairin."


"I love you."


Hair ini Adit ingin mengatakan sebanyak-banyaknya kata cinta untuk Sena.


"Me too." (aku juga)


"Gitu doang jawabnya. Kamu curang aku belum pernah denger kamu bilang sayang aku."


"I love you. Without you, I'm lost."


"Really?"


"Iya."


Sena meyakinkan.


"Kamu harus inget, perempuan itu orang yang sangat loyal. Kalau kamu ngasih kebaikan, dia akan kasih kebaikan yang lebih banyak buat kamu. Gitu juga sebaliknya."


"Hmmm gitu ya."


Adit mengangguk. Pandangan matanya sejak tadi tak lepas dari hidung Sena yang masih ada bekas eskrim.


Adit tiba-tiba menjilat es krim di hidung Sena.


"Sorry, ini dari tadi ganggu mata aku."


Sena diam, kaget, entah harus merespon apa.


"Tadi katanya perempuan itu loyal, akan membalas apa yang dia dapatkan. Bales aku coba."


Sena memukul bahu Adit kesal karena merasa kecolongan.


"Ih Mas Adit parah, aku kecolongan."


"Kecolongan apa? Itu bukan ciuman tenang aja."

__ADS_1


Adit mengambil ponselnya di saku celananya, memeriksa live location Yoga. Adit memeriksa sekelilingnya, mencari Yoga karena ia baru sadar Yoga berada di titik yang sama dengannya.


Kaget, ternyata Yoga sedang mengarahkan kamera ke arahnya dan Sena.


__ADS_2