
Mita
Sejak kemarin Adit tidak menampakan batang hidungnya di Malabar 10. Pesan dan panggilan telepon nya pun tidak ada satupun yang direspon.
Tapi melihat mobil dan motornya masih terparkir di garasi seharusnya kekasihnya itu ada di kamar.
Kemarin, sepulangnya dari mall Adit tidak banyak bicara, hanya "iya", "ngga", dan jawaban seperlunya ketika ia bertanya. Ia pun bukannya tidak tau penyebab Adit seperti ini. Tentu karena telepon dari Rama, yang pasti membuat sakit dan marah siapapun ketika kekasihnya di telepon orang lain sebegitunya.
Kemarin, memang Rama sedikit keterlaluan. Bagaimana mungkin bicara orangtuanya menyuruhnya ikut berlibur ke Amerika? Ke Bali saja rasanya ia belum sempat bermimpi. Itu serius atau hanya untuk memanas-manasi Adit? Karena Sena tidak mengatakan apapun kemarin saat pulang sampai saat ini.
Yang paling ia tidak suka ketika Rama mengatakan tentang kartu unlimited. Apa yang ada di pikiran Rama? Apa Rama menyangka bahwa kedekatan ia dan Rama beberapa waktu lalu karena ia melihat kepunyaan Rama yang ia sebut unlimited itu? Bahkan ia tidak tau siapa keluarga Rama sebenarnya sampai tadi pagi.
Dengan berbekal mengingat kembali nama Ibu yang kemarin Sena infokan, ia mencari di mesin pencarian google. Ia pun yakin kemarin Adit menanyakan hal tentang keluarga itu karena ingin tau siapa keluarga mereka.
Berbekal intelegensi yang perempuan miliki konon setara FBI, yang katanya akan meningkat tajam jika sudah naik level menjadi ibu-ibu. Dengan 30 menit ia akhirnya tau siapa Bu Lia dan Pak Romi. Ia bahkan bisa mendapatkan info mengenai keluarga besar Bu Lia dan Pak Romi sampai keluarga Adit.
Diluar ekpektasi, Bu Lia adalah seorang doktor, dosen ekonomi salah satu universitas terbaik negeri ini yang berasal dari keluarga ekonom yang pernah memangku jabatan di pemerintahan.
Sama hal nya dengan Pak Romi seorang guru besar yang dikukuhkan di tempat istrinya mengajar, dokter spesial jantung sekaligus peneliti yang berpengaruh di dunia kedokteran jantung Indonesia, yang menjadi salah satu pendiri rumah sakit jantung di kawasan Jakarta Barat.
Ternyata latar belakang keluarga Rama di luar jangkauan pikirannya yang hanya anak desa.
Tunggu, ia baru saja tersadar kembali. Orangtua Rama dam Adit ternyata saling mengenal? Bahkan sampai nama khusus ayah Adit mereka tau.
Bukannya tidak mungkin keluarga Adit sama menakjubkannya dengan keluarga Rama bukan?
Ia pun juga penasaran dengan keluarga Adit, yang mana kekaksihnya ini belum banyak bercerita tentang keluarganya. Adit hanya sesekali bercerita tentang keseharian keluarganya, bukan background pendidikan dan karir yang mau tidak mau ia menjadi berpikir bahwa keluarga Adit pun tidak berbeda jauh dengan keluarga Rama, mengingat keluarga mereka berada dalam lingkungan yang sama.
Lebih dari satu tahun mengenal, ternyata belum banyak yang ia tau. Sedangkan Adit, sedikit banyak yang laki-laki tau karena sudah beberapa kali mengantarnya pulang ke Cianjur.
Ia pun mencari di google dengan kata kunci "Keluarga Aditya Wiraguna". Tidak kalah shock ternyata Adit adalah anak dari ketua komisi I DPR RI yang berasal dari keluarga petinggi parts besar di negeri ini. Sedangkan Ibu nya yang bernama Dewi Astuti, adalah seorang anak jendral TNI.
Sungguh, ia terjebak di antara dua laki-laki yang berada di luar jangkauannya.
Ia mencari keberadaan Bu Wati untuk menanyakan Adit.
"Bu, Mas Adit belum keluar kamar?"
"Belum Neng. Mas Adit dari kemarin selalu chat minta makannya diantar, katanya sedang ngga mau keluar kamar."
"Mas udah makan?
"Belum Neng, Mas nya belum chat saya."
__ADS_1
"Mana makanan punya Mas? Saya yang antar."
"Lagi marahan ya?"
"Biasa Bu laki-laki." ia tersenyum getir, padahal jika ada perempuan yang ngejar-ngejar Adit pun ia akan melakukan hal yang tidak jauh berbeda.
"Mas... makan dulu."
Tak ada jawaban, ia menunggu 5 menit Adit belum juga membuka pintu.
"Mas... aku masih disini, nasi nya keburu dingin."
Adit benar-benar marah. Iya pun pasrah.
"Mas, nasi nya disimpen di meja makan ya. Mas jangan lupa shalat."
Ia pun berbalik meninggalkan pintu kamar 208. Namun tak lama ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di perutnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Ada perasaan aneh seperti gemuruh di perutnya.
"Mas, ini kosan. Jangan kaya gini, ngga enak diliat yang lain."
Nampan berisi makanan di tangannya telah berpindah tangan Adit.
"Temenin Mas makan."
Adit berjalan di depan mendahuluinya dengan tangan memegang nampan berisi nasi dan semangkuk sop iga.
Langkahnya dipercepat, mencoba berjalan beriringan di samping Adit.
"Ngga usah dibahas." Tatapannya kaku, seolah masih ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
"Biar ngga salah faham."
Adit makan di ruang tengah karena di gazebo sedang kedatangan teman-teman Vira. Ia duduk bersila menghadap pintu utama.
Mereka diam cukup lama. Sampai akhirnya ada suara dari mulut Adit.
"Selama ini aku ngambil kamu dari dia? Aku jadi ngerasa kalau kamu masih punya dia. Aku cuma orang yang dititipi."
Ia mengambil nafas panjang.
Bukannya tak tahu sifat keras Rama. Meskipun tidak pernah kasar, tapi tidak bisa dilawan.
"Aku ngga pernah berkomitmen apapun sama Rama."
__ADS_1
Adit menghentikan makannya.
"Ngga usah disebut namanya."
Ia menunduk.
"Masalah Amerika itu apa? Kamu ngga bilang apa-apa. Aku mau apapun bilang sama kamu. Aku mau beli motor, bahkan cuma bimbingan kampus. Kamu pergi jauh ketemu cowok yang kamu pasti tau kalau Mas ngga suka, ngga ada bilang ke Mas."
"Ternyata Mas memang cuma tempat penitipan." lanjutnya sambil menyuap nasi dengan kuah sup yang sudah dingin tanpa menatap ke arahnya.
Bu Wati yang ternyata sedang menyapu di teras hendak masuk namun gurat canggung yang tampak di wajah Bu Wati.
"Permisi Mas, saya lagi nyapu di depan ngga tau kalau Mas Adit disini." ucapnya sungkan.
"Iya Bu, makan Bu.."
Bu Wati menjawab dengan menganggukan kepala dengan bibir tersenyum.
"Aku belum tau apa-apa tentang liburan itu. Tapi, kalau memang iya gimana?" tanyanya ragu.
"Terserah." makan siang nya selesai. Ia langsung bangkit menuju dapur menyimpan bekas makannya lalu masuk kamar.
Perasaannya semakin bersalah, semuanya karena Rama. Ia harus menghubungi Rama.
*****
Rama
Sejak obrolan nya di telepon kemarin dengan Mita terputus, ia semakin fokus dengan apa yang harus ia kerjakan di hadapan matanya. Urusannya disini harus segera selesai. Semangatnya kembali menggebu untuk mengambil apa yang menjadi miliknya.
Kepercayaan diri nya meningkat, bahwa Mita selalu akan menjadi miliknya, apapun status Mita dan laki-laki itu.
Ketika ia sedang asik dengan dokumen Excel di laptopnya, memeriksa file yang Fima kirimkan
Ponsel di samping kanannya bergetar tanda pesan masuk.
"Paramitha"
"Rama, aku ngga tau maksud kamu kemarin apa. Tapi kalau mau pengen Adit marah, kamu berhasil."
Ia tersenyum senang. Strateginya kemarin nampaknya berhasil, komunikasi nya dengan Mita akan terjadi dua arah kembali.
"Ngga usah kamu pikirkan hal-hal yang ngga penting, cuma ngabisin energi kamu."
__ADS_1
Menyadari posisi nya yang tidak terbatahkan, tidak perlu mengeluarkan energi. Ia hanya perlu tarik ulur.
Jatuh cinta tidak harus menjatuhkan harga diri bukan?