
Adit menariknya kasar ke luar ballroom sambil mengendurkan dasinya yang Adit rasakan sesak, mencari ruangan sepi untuk memuntahkan amarahnya.
Mbak Putri yang kebetulan berada di meja yang sama dengannya saat itu terlihat cemas melihat ia yang ditarik dengan kasar oleh Adit begitu Pak Romi dan Bu Lia meninggalkan mereka.
Ia pasrah, teringat ucapan Pak Romi yang mungkin menyinggung Adit.
"Mita temen Adit? Kenal dimana?"
"Mas Adit yang punya kosan Mita Pak."
"Ohh Kakak kosan, bukan pacar berarti ya."
Ia hanya mengangguk pelan. Tak bisa melakukan apapun.
Ia tak tau saat itu, Pak Romi merasakan hawa panas begitu tau perempuan cantik berkebaya pink adalah Mita bersama laki-laki lain. Perempuan yang begitu dicintai anaknya. Meskipun dulu ia tidak merestui anaknya berhubungan dengan Mita, tapi melihat Mita hari ini di acara keluarga besar Bambang Wiraguna ego nya kembali muncul untuk membela anaknya.
Ia sekarang tau, sifat keras Rama yang ada pada Rama sekarang adalah murni sifat dari Pak Romi.
"Aku boleh ngga sih marah? Hah?"
Begitu sampai di ruangan samping ballroom yang Seperti ruangan panitia, karena banyak tas dan sandal bertebaran di ruangan itu.
Adit menendang kursi dihadapannya hingga terpental jauh membuat beberapa kursi didekatnya ikut terpental.
"Biar kamu liat marahnya aku."
Panitia WO masuk ke dalam ruangan begitu mendengar suara gaduh dari dalam ruangan.
"Keluar! saya adik Abimanyu." teriaknya pada laki-laki berjas yang memakai tanda pengenal bertuliskan "Panitia".
Ia ingin menangis melihat Adit yang hilang kendali.
"Kamu jangan nangis. Aku kaya gini karena kamu juga. Kenapa kamu ngga bilang aku pacar kamu hah? Takut? Malu?" Adit membentaknya mendengar tangisan keluar dari bibirnya padahal Adit tak sedikit pun menatapnya. Kini tembok di samping kirinya menjadi sasaran amarahnya.
__ADS_1
Mbak Putri masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.
"Kamu kenapa nangis?" Mbak Putri melihat ke arahnya, ia memeluk Mbak Putri karena takut dan merasa bersalah.
"Mbak keluar Mbak. Ini urusan aku sama Mita."
Adit kembali berteriak.
"Tapi kamu jangan marah-marah. Dia nangis ini. Kamu kenapa?" Mbak Putri melepas pelukannya lalu menghampiri Adit.
"Kamu marah kenapa?"
Adit diam tidak menjawab apapun.
"Kalau ada masalah ngomong baik-baik, jangan teriak-teriak bikin rusuh acara Mas."
"Ngomong pelan-pelan, Mbak disini ngawasin kamu." Mbak Putri kembali mendekatinya.
"Aku ngga habis pikir, mau keluarga itu apa? Kamu tau, Ayahku itu mantannya Bu Lia. Mereka pacaran lama tapi ditikung Pak Romi langsung nikah."
''Dan Rama itu cinta pertamanya Mbak Memes, istrinya Mas Abi."
Info yang diberi tahu Adit semuanya membuatnya terkejut hingga membuatnya tidak mampu mengatakan apapun.
"Sekarang dia mau ambil kamu dari aku? Maksudnya apa nyuruh kamu ke Amerika nyusulin bajingan itu? Aku tau lah aku ini siapa kalau dibandingin Rama. Ngga ada seujung kukunya dia."
Mbak Putri mendengarkan semua ucapan Adit. Ia memegang keningnya yang mungkin tiba-tiba pusing.
Adit yang ia lihat hari ini sangat berbeda dengan Adit yang ia kenal. Marahnya Adit membuatnya takut.
"Mas... maaf.... aku ngga bisa nolak ajakan keluarga Bu Lia ke sana. Aku ngga punya kemampuan untuk nolak. Mas tolong ngertiin posisi aku."
Dengan sesegukan ia mencoba bicara, berharap amarah Adit mereda. Namun ucapannya itu malah membuat Adit mendekati nya dan menatapnya tajam.
__ADS_1
"Kalau mereka minta kamu untuk balik ke laki-laki brengsek itu kamu ngga bisa nolak juga? Jawab aku."
Adit tiba-tiba menangis sejadi-jadinya, memeluknya dengan erat. Seolah tidak sadar Mbak Putri ada di dalam ruangan itu.
Adit terus memeluknya, seolah menumpahkan amarah, kesedihan dan ketakutan nya.
"Jangan takut untuk nolak kalau kamu ngga mau. Aku sayang kamu, aku takut kamu ninggalin aku. Aku harus gimana biar kamu ngga ninggalin aku?" pipinya kini dalam genggaman tangan Adit.
Adit merasa frustasi. Hatinya tercabik-cabik begitu takutnya ia tinggalkan.
Mbak Putri yang melihat kondisi Adit paham ia harus meninggalkan ruangan itu, agar ia dan Adit bisa menyelesaikan baik-baik.
*****
Putri
Ia yang tadi sedang ngobrol dengan kerabatnya cemas melihat Mita ditarik Adit, tak lama tiba-tiba seorang panitia datang mencari keluarga Abimanyu.
"Permisi keluarga Mas Abimanyu dimana ya? Di ruangan sebelah ada laki-laki yang ngaku adiknya Mas Abi ribut-ribut. Ada yang bisa ikut saya?"
"Oh itu adik saya. Di ruangan mana Mas?"
Ia kesal, adiknya ini bikin keributan apa lagi. Ia pun mengikuti laki-laki yang berpenampilan panitia tersebut.
Betapa kagetnya ia melihat Mita yang tengah menangis dibentak-bentak Adit.
Setelah ia memarahi Adit, akhirnya adiknya itu berbicara pelan. akhirnya tau penyebab kemarahan adiknya ini.
Adit yang tiba-tiba menangis dan memeluk Mita, membuat ia ikut sedih. Hingga tanpa sadar airmatanya jatuh seolah paham Dan merasakan rasa sakit dan ketakutan Adit. Adik kecilnya benar-benar mencintai Mita. Gadis biasa yang memiliki pesona tersendiri yang ternyata membuat laki-laki lain juga mencintainya. Bahkan laki-laki itu anak dari kerabat Ayahnya.
Ia kembali ke tempat duduknya. Bu Lek Ningrum yang sejak tadi ada di meja yang sama dengannya penasaran dengan Adit.
''Adek kenapa Put? Ribut sama siapa?''
__ADS_1
''Biasa Bu Lek anak muda. Ada yang bikin dia cemburu jadi gitu."
Sepertinya masalah ini akan panjang jika orangtuanya tau.