Cinta Mita

Cinta Mita
Makan malam bersama


__ADS_3

Selamat malam pembaca tersayang 🌺🌺


Hari ini bonus, aku double up. Yok sesajennya yok keluarkan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


*****


Seperti yang sudah Rama katakan kemarin, hari ini keluarga Rama mengundang Adit makan malam. Sebenarnya Bu Lia mengundang Rudy sekaligus, namun Rudy berhalangan hadir karena sedang berada di rumah orangtua Rebecca.


"Mama sehat?"


Begitu Adit masuk ke dalam apartemen Rama. Celana jeans panjang slim fit dan kaos polo terasa cocok di tubuh Adit, mantan kekasihnya.


"Ibu sehat alhamdulillah, Ayah juga sehat."


''Ngga hafal kalau manggilnya Ayah Ibu. Takdir keluarga kita kayanya sekitar sini-sini aja ya."


Adit tersenyum mengangguk. Kini Adit sudah mau melihat ke arahnya meski sekilas.


''Tante masak ini aja, udah lama ngga masak eh kesini harus masak buat anak bujang yang kangen masakan rumah."


"Wah ini makan besar Tante, jadi merepotkan."


Adit merasa sungkan karena khawatir Bu Lia khusus menyiapkan semua sendiri.


''Dibantu Mita, dia ternyata cekatan masaknya."


Bu Lia terdiam sesaat karena menyadari telah salah bicara. Memuji nya di hadapan Adit sepertinya bukan hal yang bijak untuk saat ini.


''Kita langsung makan Ma.'' Rama memotong pembicaraan, menetralkan suasana.


"Tante minta maaf mewakili keluarga, kalau Rama banyak salah sama Adit. Ini Sena adiknya Rama, siapa tau berjodoh sama Adit."


Adit yang ditodong dengan pernyataan tersebut tersenyum salah tingkah.


Sena yang masih asik dengan earphone di telinga dan tablet di depan matanya yang di senderkan pada gelas besar sedang menonton drama Korea merasa aneh, karena semua mata melihat ke arahnya.


"Hah ngomong apa? Kenapa ngeliatin ke aku semua? Ada yang salah?"


"Mama nanya pendapat, kalau aku sih setuju."


Rama masih dengan kejahilannya.


"Aku juga setuju kalau gitu." lalu


Sena menggunakan earphone nya kembali, melanjutkan acara menonton yang sempat tertunda beberapa detik.


Kena juga umpannya, Rama tertawa puas.


Ia, Bu Lia dan Rama tertawa melihat tingkah laku Sena yang selalu acuh dengan keadaan sekitar. Sedangkan Adit tersenyum kaku, menutup setengah wajah nya yang merah karena malu.


''Om ngga ikut Tante?''


Adit mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena ia dan Rama masih senyum-senyum melihat Sena yang ketika Rama dan Mita tersenyum ke arahnya hanya merespon,


''Apa sih liat-liat? You berdua cocok, sama-sama ngga jelas.'' Yang membuat Adit semakin salah tingkah.


Dijodohkan dengan Sena? Kapan-kapan aja lah ya, pikirnya.


''Om baru selesai konfrensi Jantung, masih sibuk di rumah sakit. Ayah masih sibuk?"

__ADS_1


"Masih gitu-gitu aja. Ke kantor, kadang ke pabrik sama Ibu."


"Pabrik yang usaha konveksi itu ya? Masih jalan?"


Luar biasa, dua keluarga orang kaya yang memiliki perusahaan keluarga jika bertemu membahas usaha keluarga. Kadang ia berpikir, kebaikan apa yang sudah orangtua nya lakukan hingga ia disukai oleh dua laki-laki dari keluarga hebat ini.


"Masih, sekarang yang pegang Mas sama Mbak. Peremajaan managemen, sambil buat clothing line untuk segmen anak mudanya."


"Hebat anak-anak muda sekarang. Dulu di zaman Tante, seusia kalian ini masih harus merih. Anak muda sekarang sudah bisa menikmati hasil. Banyak yang sudah bisa beli rumah sendiri, apartemen, mobil. Adit yang hebat ini, sudah punya usaha kos-kosan."


''Masih di support Ayah." Adit tersenyum merendah.


Kenapa Adit Dan Rama sudah bisa menikmati hasil? Karena keluarganya berada, sehingga tidak perlu memikirkan keluarga yang perlu dibantu. Sedangkan ia, gajinya selama bekerja dengan Adit sebagian ia berikan kepada Ibu nya untuk membantu biaya sekolah Yoga. Ternyata SMK lebih banyak keluar uang dibanding SMA, karena butuh uang untuk praktek. Untungnya ia bisa membantu keluarga sedikit-sedikit.


Itulah yang disebut privilege.


"Mah, mau apel."


Sena yang sudah selesai makan, meminta apel yang berada di dekat Mama nya.


"Bi Imas harusnya diajak, ngga ada yang ngupasin apel."


"Ya ampun Sena, ada tamu malu-maluin aja ngupas apel nyuruh orang."


Rama protes dengan kelakuan manja Sena yang sulit berubah.


"Sini aku yang kupasin. Yang mana apelnya?"


Tak ingin mendengar kakak beradik beradu mulut saat ada tamu, ia memilih mengupas apel untuk Sena.


"Mantap calon Kakak ipar aku memang terbaik. Yang kecil aja Teteh Mita, aku udah lumayan kenyang."


''Lo kan anak bungsu juga, ngupas apel masih dikupasin juga?"


Rama mendelik ke arah Sena, berniat menyindir.


"Ngga sih, daripada ngerepotin orang mending langsung makan aja yang penting udah dicuci."


''Tuh denger tuh, cowok loh dia. Kamu yang cewek malesnya astagfirullah."


"Biarin sih, Mama aja ngga cerewet. Kenapa Kakak yang protes? Heran deh julid aja."


''Udah... udah dikupasin Mita." Bu Lia menengahi.


''Kapan pulang ke Indonesia? Masih lama disini?" Bu Lia bertanya kepada Adit dengan sendok masih di tangan.


"Besok tadinya pengen ke LA, tapi ternyata semua penerbangan transit dulu di New York, jadinya ke New York dulu baru ke Los Angeles. Pengennya memaksimalkan jatah visa 30hari disini kalau nanti ribet lagi ngurusnya."


Horang kayah pikirnya, lebih memikirkan visa daripada biaya.


Sena yang sejak meminta apel sudah melepas earphone nya ikut bergabung dengan obrolan.


"Ihh mau dong Mah ke New York. Kalau bisa ke LA sekalian, kita belum kemana-mana loh disini. Masa ke pasar doang."


Sena yang memang anak ibukota selalu ingin berfoto untuk konten Instagram di tempat-tempat hitz.


''Pasar juga Pike Place Market Sen, di Indonesia ngga ada."


Rama tidak terima Sena menyebut Pike Place Market dengan sebutan "pasar doang". Bisa-bisanya!

__ADS_1


''Itu mah Muara Angke versi Amerika Kak, seafood doang. Kalau di LA kan aku bisa foto di Hollywood sign, Universal studio Hollywood, bisa belanja juga Mamaaa mauu.''


Kini Sena merengek seperti anak kecil. Diluar dugaannya, sosok Sena yang cuek ternyata seperti ini.


"Kita pulang 4hari lagi loh Sen, tiket udah di beli. Nanti ribet lagi kesini nya."


"Ke New York aja kalau mau, kalau ke LA ngga akan bisa Mita udah masuk kuliah. Tiket kan bisa di refund, jadi nanti pulang ke Indonesia dari New York."


"Oke lah lumayan. Daripada ke pasar ikan lagi. Aku packing dulu ah, ihiy New York City I'm comiinggg."


Sena bangkit dengan antusias menuju kamar untuk membereskan kopernya.


"Bareng aja, flight jam berapa?" Rama berniat berangkat bersama karena ingin menemani Adit agar tidak sendiri. Rama pun merasa bersalah, namun siapa yang harus disalahkan?


"Besok jam 9 pagi, kan beda waktu sama Seattle 3jam lebih dulu New York, jadi nyampe sana sore belum terlalu malam."


"Wah mepet dong."


Sedangkan is berharap tidak satu pesawat dengan Adit, rasanya masih terlalu canggung berada di dekat Adit namun berbeda status.


"Ahh Bi Imaassss kemana sih."


Terdengar Sena omelan Sena dari dalam kamar yang terpaksa membereskan kopernya tanpa bantuan orang lain.


Rama tertawa senang.


"Kamu diem disini, ngga usah bantuin Sena."


Ia yang hendak bangkit membantu Sena dipaksa duduk kembali oleh Rama.


"Dari sini ke bandara deket kok, sekarang siap-siap aja packing."


Rama terdengar begitu ingin pergi dengan Adit.


''Adit nya terganggu ngga sama kita, jadi gangguin acara Adit jalan-jalan." Bu Lia kini berkomentar.


Rasanya perempuan memang lebih peka.


''Ngga masalah kok Tante, jadi ada temen juga. Tadinya malah ngga niat ke New York, karena kan kota banget malah jadi aneh kalau kesana sendiri. Terlalu keliatan jomblo ngenes nya."


Cerdas. Adit tersenyum semeyakinkan mungkin, meskipun ia tau Adit menutupi luka di hatinya.


"Ngga sekalian ke Vegas Dit? Dari sini cuma 2jam naik pesawat. Banyak cewek disana."


Kini tatapannya mengarah ke Rama, tajam.


"Aku ngomong ke Adit loh, bukan buat aku. Aku mah ngga masuk ke Vegas mah kota dosa, bukan aku banget. Aku mah anak baik-baik. Serius."


"Kamu pasti pernah kesana kan?" ia menyelidik, tidak peduli Bu Lia dan Adit melihat ke arahnya.


"Temenku doang suka ngajak, aku mah bersih."


"Yaudah ngga usah nyuruh-nyuruh Adit kesana."


"Aku kan cuma menginfokan loh sayang."


Rama menggigit kecil bahunya gemas.


Selintas ia melihat Adit membuang muka.

__ADS_1


Mungkin bagi Adit, ini makan malam terpanjang selama hidupnya.


__ADS_2