
Setelah kembung denga kopi, Fery masih belum ingin pulang, lalu sendiri dan teringat hal yang menyakitkan kembali. Hal yang tidak pernah ia bayangkan bersama Rena, pengkhianatan.
Muncul lah ide untuk makan nasi goreng pinggir jalan yang sudah lama tidak ia rasakan. Tentunya bersama dua laki-laki yang sedang bersamanya.
"Nasgor yuk Ram?"
"Bebas, hari ini lu bos nya."
"Lapar ngga, Ga?"
"Ngga sih, Bang. Kenyang minum kopi."
"Ngga diet kan?"
Yoga tertawa. Laki-laki diet?
"Ngga."
"Kenapa ketawa?"
"Lucu aja laki-laki diet."
"Disini banyak laki-laki yang diet. Serius."
Fery kembali bersemangat menjelaskan perilaku masyarakat di ibukota. Culture shock bagi Yoga.
"Iya gitu? Aneh laki-laki diet."
"Eh dia ngga percaya."
Fery selalu tertawa setiap mendengar respon Yoga akan sesuatu.
"Ada Ga, yang kaya gitu. Ada yang karena takut gemuk, ada yang karena kesehatan."
Rama meyakinkan dengan lenjelasan yang lebih logis.
"Macem-macem di kota teh."
Yoga garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Fery memesan 3 piring nasi goreng. Dua piring dengan tingkat kepedasan sedang untuk Yoga dan Fery, dan satu piring tanpa cabe untuk Rama.
"Masih rame tukang makanan jam segini."
Yoga melihat jam analog di ponselnya menunjukan 11.40.
"Segini Tangerang Ga, bukan Jakarta."
"Kalau di Jakarta semakin malam, malam semakin rame."
Rama menambahkan keterangan daei Fery.
"Gampang cari uang di kota besar ya, Bang."
"Tapi ngabisinnya juga cepet Ga, kalau di sini."
"Karena hidupnya dibuat ribet. Coba kalau kaya orang di kampung ngga banyak keinginan. Cuma nasi goreng mah tinggal minta ke Ibu. Bikin sendiri juga bisa, bumbunya cuma bawang sama cabe. Kalau mau ngopi tinggak ke Indomaret yang sachet se-box kan banyak."
"Bener sih."
Rama tersenyum mengetahui pemikiran sederhana Yoga. Anak laki-laki yang tidak banyak omong tapi logika dan skala prioritasnya jalan.
"Tapi buat sebagian orang, makan nasi goreng pinggir jalan atau di restoran itu bukan cuma tentang cari makan karena laper. Ada yang butuh suasana luar rumah. Banyak yang rela keluar uang banyak buat beli suasana."
Kali ini penjelasan Fery serius tanpa senyuman.
"Contoh real nya Bang Fery. Dia bisa aja bikin nasi goreng di rumah. Bumbu instan nasi goreng banyak, frozen food tinggal goreng kalau mau. Bisa juga gofood, grabfood. Tapi milih makan di luar karena kalau makan di rumah sepi sendiri, inget masalah. Kaya Fery lah contohnya."
Fery langsung kena mental.
"Kalau ngomong suka bener lu anjay."
Yoga mengangguk mengerti. Permasalahan orang kota se-komplex itu ternyata.
"Gua jadi kepikiran balik ke Bandung."
Fery mengambil topik yang serius kali ini.
__ADS_1
"Gua ngerti. Tapi sabar dulu lah... Gua lagi nyiapin ini anak buat gantiin lu."
Rama menjawab dengan pelan agar tidak didengar Yoga.
Mengharapkan Fery untuk terus bekerja untuknya, Rama merasa sangat egois. Terlebih jika kasus Rena benar adanya, ia ikut andil dalam permasalahan tersebut. Hingga Rama ikut merasa bertanggung jawab.
Lalu Sena? Rama berpikir terlalu sulit mengandalkan Sena. Hanya Yoga kandidat terkuat yang bisa diandalkan. Terlebih ia senang dengan pola pikir Yoga yang sederhana. Hanya perlu pengarahan sedikit.
"Apa gua biarin aja ya, Ram? Yang penting dia jagain anak gua. Suka-suka dia aja lah. Gua bisa bebas juga kan?"
"Janganlah ego. Samanya kalau gitu." (ego : b*go)
"Ya ngga apa-apa juga. Linda anak akunting aja dah gua deketin."
"Gila lu ! Kalau mau macem-macem jangan ke anak pabrik. Mau staf kantor atau orang bawah ngga gua izinin. Nama gua ikut rusak juga."
"Ya masa gua main solo terus? Manggil cewek juga ngga mungkin boleh kan?"
Meski terlihat tidak peduli, pendengaran Yoga masih berfungsi dengan baik. Dan ia sudah faham permainan solo yang dimaksud Fery.
"Langsung gua usir. Pisah aja lah kalau bener Rena gitu. Lu balik aja langsung urus. Habis itu bebas mau ngapain juga kalau udah divorce mah." (divorce : cerai)
Rama bicara dengan keseriusan penuh. Artinya ucapan Rama sudah pada level perintah.
Untuk kesekian kalinya Fery menarik nafas panjang. Mungkin sudah saatnya ia menghadapi masalah dengan Rena. Tidak dengan menghindar, seperti yang tiga minggu ini ia lakukan.
Malam ini tak akan Yoga lupakan. Ia banyak mendapat insight (pandangan) baru yang tidak pernah ia tau. Kehidupan di luar kampungnya yang berbeda dengan kehidupan di depan yang akan ia jalani. Begitupun dengan pemikiran dan tingkah laku-laki manusia di dalamnya.
Awalnya anyak yang ingin Rama bicarakan dengan Yoga malam ini. Namun dengan adanya permasalahan Fery, terpaka Rama mengundur rencananya tersebut.
"Yang, udah tidur ya?"
Begitu sampai kamar, Rama mengelus rambut istri tercinta. Kening Mita pun tak luput dari sentuhannya malam ini.
"Abang ngerokok ya? Kok bau rokok."
Mita membuka matanya yang terasa sepat karena masih mengantuk. Mita menutup matanya kembali saat melihat jam menunjukan pukul 01.10 .
"Masa sih? Emangnya bau?"
"Kenapa ngerokok?"
"Aneh deh. Temen lagi ada masalah pelampiasan ke rokok, ini temennya yang baik-baik aja malah ikut-ikutan."
"Itu bahasa laki-laki untuk menunjukan dukungannya, Sayang."
"Kalau dia minum, Abang ikut minum juga? Sebagai tanda kalau Abang selalu ada buat dia?"
"Kalau minum ya ngga. Dia mau ke club aja aku larang tadi."
"Emang masalah apa sih? Masalah sama Rena ya?
"Pengen tau aja urusan domestik rumah tangga orang. Mendingan urusin keperluan domestik suami sendiri. Udah ngga kuku."
Rama mencium perut Mita yang semakin membesar di usia 5 bulan.
"Ngga mau."
"Ngga ada penolakan untuk malam ini. Aku bersih-bersih dulu, jangan tidur duluan. Awas aja."
Karena semalam terlalu lelah, membuat Mita kesiangan pagi ini. Entah jin apa yang merasuki Rama, hingga aksinya semalam membuat Mita kewalahan.
Setelah Rama berangkat ke pabrik, Mita bergegas ke kampus bersama Yoga dengan Pak Tarjo.
"Semalam dari mana aja sih Ga? Pulang jam 1 malam itu ngapain? Ke club malam ya?"
"Ngga Teh. Abang mah sholeh tenang aja. Kita cuma ngopi sama makan nasi goreng pinggir jalan. Cuma ngobrol."
"Fery masalah apa sih?"
"Masalah itu mah tanya ke Abang atau ke Bang Fery aja. Pantang buat laki-laki untuk comel masalah orang."
Yoga memainkan ponselnya kembali agar Mita berhenti bertanya.
Yoga duduk di kursi depan bersama Pak Tarjo. Ia ingin melihat Pak Tarjo menyetir, sebelum nantinya ikut kelas menyetir yang sudah didaftarkan oleh Rama.
Sengaja Rama memberikan fasilitas yang baik, agar Yoga bisa masuk ke lingkungan pergaulan yang baik juga.
__ADS_1
Begitu sampai kampus, Yoga ikut menemani Mita ke dalam kampus. Ia menunggu di bawah pohon, di taman kampus.
Di salah satu sisi taman, ada papan pengumuman. Sejak kemarin feelingnya tidak enak. Dengan gerak cepat Mita memeriksa papan pengumuman, karena ia yakin ada pengumuman mengenai wisuda di sana.
Perasaan Mita bertambah tidak enak setelah melihat papan pengumuman bahwa daftar ulang wisudah sudah ditutup dua hari lalu.
Dengan debar hati tak karuan, Mita menuju loket akademik jurusannya.
"Pak Mukhtar, Saya mau daftar ulang wisuda."
"Eh Neng Mita kamana wae? Udah ditutup atuh geulis pendaftarannya. Ngga liat pengumuman?"
"Ih Bapak, seminggu kemarin Saya sakit. Ngga boleh pegang HP, jadi ngga update berita kampus. Ngga bisa nyusul gitu Pak daftarnya?"
Wajah Mita mengerut, ada kesedihan di matanya.
"Aduh gimana atuh. Berkas kan udah naik ke rektorat pusat Neng. Ngga bisa atuh nyusul."
Akhirnya Mita mendatangi bagian administrasi umum untuk meminta keringanan karena telat mendaftar wisuda.
"Bu, saya telat daftar wisuda. Bisa nyusul ngga ya?"
"Mbak jurusan apa?"
"Pangan, Bu."
"Langsung ke Pak Mukhtar ya Mbak. Semuanya ke akademik masing-masing."
Hopeless, seperti tidak ada harapan.
Dengan perasaan sedih Mita langsung mengirim pesan kepada Rama bahwa ia tidak bisa mengikuti wisuda. Rama yang baru selesai tanda tangan kontrak dengan pihak kontraktor membaca pesan dari Mita dengan wajah mengeras.
"Kenapa?"
"Mita telat daftar wisuda. Jadi ngga bisa ikut wisuda."
Rama langsung menekan tombol memanggil pada nama Mita.
"Harusnya kapan kamu daftarnya?"
"Dua hari lalu terakhir."
Dengan suara terisak Mita menjawab telepon dari Rama.
"Kamu kan lagi sakit. Aku ke dr. Hendrawan dulu minta surat sakit dan surat keterangan kamu lagi hamil. Aku bawa sekarang ke kampus. Tunggu disana, jangan kemana-mana."
"Fer, Fer."
Rama memanggil Fery yang sedang meneguk kopi nya di ruang rapat.
"Oitt."
"Beres kan ini? Lu lanjutin, gua ke kampus Mita dulu."
Rama langsung berjalan meninggalkan ruang rapat dengan mata fokus pada ponsel hendak menelpon dr. Hendrawan.
"Dok, maaf mengganggu. Saya bisa minta surat keterangan sakit untuk Mita? Baik terima kasih banyak. Sekitar 10 Menit lagi saya ambil ya Dok."
Tanpa sempat basa basi, Rama langsung mengendarai mobil SUV ke Bogor. Dengan melewati tol, hanya butuh 1 jam untuk sampai di Kampus Mita.
"Dimana akademik kamu?"
Ada kekesalan di raut wajah Rama. Ia melihat sendiri segala usaha Mita untuk sidangnya kemarin. Lalu karena telat dua hari, istrinya tidak bisa ikut wisuda ? Jangan gila !
"Pak, Saya mau daftar ulang wisuda atas nama Paramitha Zainal."
"Maaf Mas, pendaftarannya sudah tutup."
"Saya minta tolong, ini kan cuma telat dua hari. Ini surat keterangan sakit dari dokter bahwa Mita bedrest seminggu kemarin dan ini surat hamil istri Saya."
"Hamil?"
Pak Mukhtar shock, begitu melihat ada dua surat yang menerangkan bahwa Mita sakit sekaligus hamil.
"Iya, istri saya lagi hamil."
"Kami mohon maaf Pak. Sudah peraturannya bahwa pendaftaran ulang 2 hari lalu. Maaf Saya tidak bisa bantu."
__ADS_1
Wajah Rama memerah. Hampir semua perintah dan instruksinya di lakukan dengan baik oleh bawahan tanpa pernah ada penolakan.