
Sesampainya di apartemen, Mita dan Rama disambut oleh pelukan Bu Rini.
"Alhamdulillah anak Ibu tos lulus. Gimana pertanyaannya susah?" (atos : sudah)
Bu Rini dan Yoga mendengarkan penjelasan Mita dengan serius. Rama pun menyimak kembali cerita mengenai sidang Mita hari ini.
"Bageur pisan Allah teh ke kita ya. Teteh dikasih kemudahan, semuanya lancar."
Mita mengangguk mengiyakan fakta yang ia sendiri rasakan. Betapa besar karunia yang diberikan Allah kepada keluarganya.
Dengan perasaan gembira, Bu Rini video call Pak Zainal penuh semangat.
"Kapan atuh pulang kesini? Syukuran disini, bagi-bagi makanan ke tetangga buat kelulusan kamu."
Pak Zainal pun rindu anak perempuan satu-satunya yang bisa mengangkat nama dan derajat keluarga.
"Sultan Rama yang mau boyong warga sekampung ke sini Pak."
"Gimana maksudnya?"
Mita menengok ke arah Rama agar menjelaskan rencananya yang tadi dibahas di restoran dan juga di mobil.
"Dua minggu lagi pengennya ngadain acara. Sekalian syukuran pernikahan sama kelulusan Mita."
"Dimana?"
"Di Bogor aja tengah-tengah. Gimana menurut Bapak?"
Basa-basi, batin Mita. Tidak ada satupun manusia yang bisa berkata "tidak" untuk Rama.
"Bagus, Bapak setuju."
"Nanti sewa bus aja biar keluarga disana ngga repot."
Mita sedikit kaget. Masalah bus tidak ada dalam pembahasan saat makan ataupun di mobil tadi.
Sultan, memang beda... Mita mengambil nafas panjang. Kali ini biarlah ia yang mengikuti kemauan Rama.
Rama melihat jam di tangan kanannya. Lalu mengambil ponsel yang ia letakan di meja bersama kunci mobil.
"Gua baru nyampe apart. Ke pabrik jangan nih?"
Rama menelpon Fery saat sudah di jalan pulang dari pabrik.
"Ngapain ke pabrik jam segitu? Lu mau nemenin Pak Anam jagain pabrik."
Rama tertawa mendengar jawaban Fery yang lebih terdengar seperti omelan.
"Kirain lu lembur."
"Kamprett. Gua udah di jalan balik besok aja. Tolong lah besok jangan izin lagi. Hayati lelah Bang !! "
"Iyee."
Mita segera mengirim pesan kepada Sena, teman curhat nya sekarang ini.
"Permisi adik..."
Chat yang mita ketik diawal percakapan seperti biasanaya.
"Mangga..."
__ADS_1
Setelahnya mendapat balasan Sena, Mita langsung tancap gas menekan tombol call karena malas mengetik. Jika Sena membalas, artinya sang adik ipar sedang tidak sibuk.
"Senaa aku lulus sidaaangg."
"Selamat atas kelulusannya bestiii."
Suara Sena membuat kuping Mita pengang.
"Makasih adik sayangg."
"Aku jadi pengen cepet-beres kuliah. Ternyata mitos tentang kampus aku bener."
"Mitos apa?"
"Keluarnya lebih susah daripada masuknya ! Anzay suranzay."
Mita tertawa terbahak-bahak karena ucapan Sena barusan menggambarkan betapa pusing kepala Sena saat ini.
Mita mencapit ponselnya dengan telinga dan bahu kanannya. Sementara tangan kirinya memencet tombol dispenser dan tangan kanannya memegang gelas.
"Sen, bukannya udah akhir semester ya? Kamu kapan UAS?"
"Ini lagi UAS. Udah mah jomblo, ngga ada yang nyemangatin, aduh lengkap dan sempurna."
"Sena semangat ! Sena semangat!"
Mita menirukan yel-yel suporter badminton.
"Ih ngga ada greget nya di hati aku kalau Teteh yang semangatin. Aku kangen yang di Tokyo. Sedih."
Sena meng-screen capture layar ponselnya yang memuat gambar dirinya dan Mita.
"Kayak boleh aja."
Di telinga Sena terdengar sebagai angan-angan.
"Boleh dong, buat bumil mah apa yang ngga boleh."
"Ciyus?"
"Ciyus dong, selesai UAS kamu apply visa ya."
"Aku diajak? Demi apa???"
"Kakak kamu satu-satunya mau audit eksternal pabrik, jadi kita aja yang ke Tokyo. Tadinya mau ajak Yoga juga, cuma dia nanti bakal sibuk sama kuliah. Tapi cuma boleh maksimal 4 hari."
"Ini yang namanya rejeki anak sholeha, tumben-tumbenan banget kaya keajaiban dunia. Aku mau nelpon Kakak dulu. Mau mengkonfirmasi kebenarannya atau cuma PHP semata."
"Orangnya ada di samping aku."
"Mana coba aku mau ngomong."
"Apa??"
"Eitsss biasa aja. Beneran aku boleh ke Jepang. Beneran ngga ini?"
"Kamu UAS kapan? Tunggu kamu selesai UAS. Jangan sampai ganggu kuliah."
"Aku lagi UAS. Oke fix berarti ya."
"Cuma 4 hari dan ngga ada acara macem-macem sama Adit."
__ADS_1
"Tenang, aman terkendali. Aku pengen ramen yang deket disneyland itu loh Kak."
"Temenin Teteh, bukan liburan sendiri."
"Iyaaa siap Bos. Ahhhh tengkyuuu Love youuu."
"Prettt."
*****
"Saya panggilnya Mbak aja kali ya? Kalau Ibu kayaknya terlalu tua."
Sepulang kuliah, Adit mengunjungi kantor KBRI Tokyo untuk bertemu dengan staff KBRI bernama Silvi. Setelah sebelumnya membuat janji via Whatsapp.
"Silvi aja, Mas. Saya adik tingkat Mas Aditya sebenarnya."
"Oh gitu. Panggil Adit aja."
"Baik Mas Adit."
Adit tersenyum, teringat Sena di Bandung.
"Hebat tapi lho udah kerja, di KBRI lagi."
"Saya mahasiswa magang sebenarnya. Ada kesempatan magang di sini ambil deh, lumayan untuk pengalaman."
"Mahasiswa S2 juga?"
"Mahasiswa S1 sih. Sekarang tingkat akhir."
Lagi-lagi Adit ingat Sena. Bedanya Silvi bersikap lebih formal manun supel, sementara Sena terkesan cuek.
"Cool." (Keren)
"Arigatou Gozaimasu." (Terima kasih banyak)
Silvi ojigi di hadapan Adit. (Ojigi : membungkukan badan)
"Iie, douitashimashite."
Adit membalas dengan ojigi, lalu tertawa bersama.
"So, how about the continuation of our conversation last night?" (Gimana dengan kelanjutan obrolan kita kemarin malam?)
"Should we use english in our conversation? I'm freaking bored using english actually." (Harus banget ngomong pakai bahasa Inggris? Sebenarnya Saya bosen banget ngomong pakai Bahasa Inggris)
Sepulang dari Jakarta, Adit tidak berkomunikasi lagi dengan Sena. Sehingga ia jarang bicara bahasa Indonesia. Hanya sesekali saat menjawab video call Bu Retna ataupun Putri saja.
"How about nihonggo?" (Gimana kalau bahasa Jepang?)
"Aduh bahasa Jepang Gue belum lancar."
Adit sebenarnya bisa bahasa Jepang. Tapi sesama orang Indonesia terasa aneh jika harus bicara bahasa asing.
"It's oke, we can using Bahasa."
Ente masih ngomong Inggris, batin Adit menjerit.
Tobat !
Adit rindu Sena.
__ADS_1