
*Flashback*
Sepulangnya dari kampus, Rama dan Mita bergegas menuju apotek demi mencari benda bernama tespek. Benda yang sejak kemarin menjadi alasan Rama uring-uringan.
Apotek yang dituju tidak jauh, hanya sekitar 500 meter. Apotek yang menjadi langganan para mahasiswa untuk membeli obat, terutama mendekati akhir bulan. Obat sakit magh dan sakit kepala. Bukan apotek besar dengan plang nama merk ternama, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan mahasiswa dan warga sekitar.
"Abang yang turun ya?"
Mita sudah mengalah dengan mau memeriksakan diri menggunakan tespek, kini jelas Rama yang juga harus turun membeli alat tes kehamilan.
Dengan seribu pesona yang Rama miliki, begitu Rama turun semua pandangan seolah mengarah kepadanya.
"Tebar pesona aja teruss."
Mita sejak tadi memperhatikan Rama dari dalam mobil. Tatapan penuh senyuman bisa ia lihat dari perempuan yang melihat suaminya.
"Aku biasa aja. Sumpah. Bener kan yang ini?"
Rama memperlihatkan sekotak penuh tespek. Tidak berniat memperpanjang ucapan Mita tentang tebar pesona.
"Banyak banget Sayang, kamu mau jualan?"
"Biar ngga ribet beli lagi, sekalian stok."
Setelah membeli tespek, Mita mengajak makan siang ayam bakar di dekat kampus. Ayam bakar yang pernah menjadi saksi kisah cintanya dulu, ketika bertemu Rama dan berpura-pura tidak mengenali Rama.
"Ayam bakar dulu ya Sayang, mumpung lagi ke kampus. Beli buat makan malam juga, nanti tinggal di hangatkan."
Rama hanya mengangguk, menuruti segala permintaan dan intruksi Mita sejak tadi.
Setelah panggilan perut aman, tempat terakhir yang dikunjungi sebelum benar-benar pulang adalah toko buku. Karena sudah mengantongi dua judul buku teknologi pangan, Mita tidak perlu berlama-lama disana.
Sesampainya di apartemen, Rama langsung menodong Mita untuk tes kehamilan. Seperti anak kecil yang ingin sesegera mungkin mencoba mainan yang baru dibeli.
"Tes sekarang ya?"
Rama dengan sigap mengambil satu buah tespek dari dalam plastik apotek.
"Disini ditulisnya hasil terbaik dilakukan setelah bangun tidur saat pagi hari, Sayang."
"Ngga apa-apa sekarang tes, besok tes lagi. Aku sengaja beli banyak, biar lebih terpercaya hasilnya."
Mita mengalah, sejak tadi Rama sudah berusaha menuruti semua keinginannya sebaik mungkin. Sekarang menuruti keinginan Rama tidak ada salahnya. Meski Mita sudah tidak berharap apapun.
Karena ini bukan kali pertama Mita melakukan tes kehamilan, membuatnya tidak kagok lagi menggunakan alat tes tersebut. Mita mengambil 3 buah tespek sekaligus.
Mita menunggu selama satu menit alat tes kehamilan yang sudah ia celupkan ke dalam air seni nya.
Hasilnya? Dua buah tespek jelas menunjukan 2 garis, dan 1 buah hanya menampakan 1 buah garis jelas dengan 1 garis bayangan yang samar.
Mita kemudian keluar toilet, berniat mengambil alat tes kembali.
"Gimana hasilnya?"
Rama tidak sabar dengan hasilnya.
"Tunggu disitu."
Tanpa menatap Rama, Mita mengambil dua buah alat tes lalu masuk ke dalam toilet kembali.
"Sayang, kamu ngga apa-apa kan?"
Sudah 10 menit Mita di dalam toilet sejak keluar pertama tadi, namun kini belum menunjukan tanda-tanda akan keluar dari toilet kembali.
"Mita, kamu ngga kenapa-kenapa kan? Aku masuk ya?"
"JANGAN MASUK."
"Kalau gitu kamu keluar, atau aku masuk?"
Rama khawatir, baginya positif adalah bonus yang penting ikhtiar agar mendapatkan bonus tersebut.
Tak berapa lama Mita keluar dengan mata merah, artinya sudah cukup lama Mita menangis di dalam toilet.
__ADS_1
"Kenapa nangis?"
Mita memeluk Rama dengan erat. Bersembunyi di dalam ketiak Rama.
"Ngga masalah kalau masih negatif, besok tes lagi. Siapa tau hasilnya salah. Memang bener-bener harus pagi pas bangun tidur."
Mita mengangguk pelan.
"Tidur yuk."
Seolah tidak ingin lepas, Mita terus menarik tangan Rama menuju kamar utama.
"Abang jangan kemana-mana. Tidur aja sama aku disini."
Waktu masih sore, bahkan matahari saja belum terbenam. Namun Mita berubah 180⁰ menjadi manja.
Hingga malam Rama hanya menemani Mita yang mungkin kecewa karena garis yang diharapkan tak kunjung menampakan dua buah garis. Bekerja dan menelpon pun Rama lakukan di atas kasur.
"Sayang, aku laper."
Malam telah tiba, perut Rama sudah meminta jatah untuk diisi.
"Aku lagi ngga mau masak. Abang juga jangan kemana-mana."
"Aku cuma mau ngangetin ayam bakar tadi. Aku laper."
Rama teringat ayam bakar yang tadi ia beli di depan kampus.
"Pesen online aja. Abang tenang, aku pesenin."
Rama hanya bisa mengangguk setuju. Setelah menunggu 40 menit, satpam apartemen mengantarkan pesanan Mita. Di apartemen Rama, ojek online hanya boleh mengantar makanan sampai lobi.
Rama menimbang apa yang di beli oleh Mita. Berkuah seperti soto? Mungkin Mita sedang ingin makanan hangat.
Namun setelah dibuka, bukan soto yang ia temukan di dalam mangkoknya. Melainkan bakso dengan jenis yang berbeda.
"Sayang, kamu beli apa?"
"Kenapa?"
"Ini bakso atau apa?"
"Bakso aci, Sayang."
Rama memperhatikan semua bumbu-bumbu dan kerupuk-kerupuk dalam kemasan terpisah.
"Ini apa?"
"Ini cabe bubuk, Sayang..."
Rama memijat keningnya, belum hamil saja perubahan Mita sudah seperti ini.
"Aku makan ginian Sayang?"
Bakso aci bukan makanan yang ada dibayangannya saat lapar tadi. Bukan juga makanan favorit nya. Bahkan mencoba nya saja belum pernah
"Ngga suka ya? Ini bakso aci yang viral. Pemiliknya selebgram terkenal."
"Bodo amat, gua ngga kenal !!" dalam hati Rama kesal.
"Ini mah makanan cewek-cewek, Sayang."
Rama pernah memergoki karyawan perempuannya di kantor memesan bakso seperti yang ada dihadapannya sekarang.
Dengan terpaksa Rama menikmati bakso aci dihadapannya, demi menyenangkan Mita.
Selesai makan, Rama mendekati Mita yang sedang tiduran di peraduan mereka. Ingin bicara dari hati ke hati.
"Kalau masih negatif, ngga usah terlalu dipikirin, kita kan usaha. Hasilnya kan Allah yang menentukan."
Rama tidak ingin membuat Mita bersedih. Baginya berharap tidak selalu menuntut.
"Abang ngga kecewa kalau aku ngga hamil?"
__ADS_1
"Ngga, kita kan bisa usaha lagi."
Mita memeluk erat Rama, laki-laki yang tidak menuntut banyak darinya.
"Aku sayang Abang."
"Apalagi aku. Bikin lagi yuk, biar besok-besok garis dua."
Malam itu Mita mencurahkan seluruh kasih sayangnya untuk Rama, laki-laki terbaik di hidupnya. Sampai keduanya tertidur pulas karena rasa lelah setelah seharian beraktifitas dan berkeringat bersama.
Keesokan pagi, Mita langsung mengambil enam buah tespek sekaligus untuk menyakinkan diri.
Begitu Rama bangun, Rama mendapati Mita menangis di samping tempat tidur nya dengan rambut basah setelah mandi.
"Kenapa nangis lagi?"
Rama teringat dengan tes kehamilan. Entah dorongan dari mana, Rama menghembuskan nafas panjang. Tidak bisa dipungkiri ada perasaan kecewa dalam dirinya.
"Ngga apa-apa, jangan nangis."
"Nanti kamu mau dipanggil apa sama baby?"
"Apa ya? Papa aja kali ya."
"Aku mama gitu ya?"
"Mama cantik."
Mita memeluk Rama, sesegukan kembali.
"Jangan nangis, nanti aku sedih."
Rama mengahapus airmata Mita yang jatuh ke pipi.
"Jangan sedih, kan mau jadi Papa."
"Iya nanti kita bikin lagi Sayang."
Rama masih belum nyambung dengan kode-kode tipis dari Mita.
"Ngga boleh bikin bumil capek lho Sayang."
"Siapa bumil?"
"Aku."
"Bumil gimana maksudnya?"
Mita menarik tangan Rama menuju washtafle di dalam toilet lalu menunjukan 10 buah tespek dengan garis dua.
"Ini punya kamu?"
Mita tersenyum tipis mengangguk.
"Beneran?"
"Masa bohongan."
Perasaan Rama tidak karuan, seperti di aduk-aduk. Jika memang Mita hamil, kenapa sejak kemarin Mita menangis?
"Jangan prank aku, Sayang. Meski aku ngga pernah nonton acara prank youtube tapi aku tau."
"Ngga nge-prank. Rama Yudha Rachman mau jadi Papa, keren banget Papa nya model gini, hot papa."
"Serius?"
Tanpa sadar Rama memeluk Mita, meyakinkan diri bahwa memang Mita hamil. Airmata pun menetes tanpa permisi.
"Tadi sok-sok an bilang jangan nangis, sekarang Abang nangis juga."
"Aku mau jadi Papa, Sayang. Aku seneng banget. Makasih ya."
Pagi itu suasana menjadi haru. Rama mengerti perubahan sikap Mita sejak kemarin. Ia bersyukur karena kemarin tidak protes apapun atas sikap Mita.
__ADS_1
"Bumil mau makan apa lagi? Bakso aci lagi? Yuk beli segerobak buat bumil cantik."