
"Bang, jangan kerja."
Sejak semalam Mita begitu manja, terus bersandar di pundak Rama. Hingga Rama harus meneruskan pekerjaannnya di atas ranjang.
"Kenapa memangnya?"
"Aku pengen ditemenin."
Dan pagi ini setelah Rama selesai mandi, Mita mencegah Rama berangkat kerja. Alasannya sederhana, pengen ditemenin.
"Aku ada meeting. Kamu ikut ke pabrik aja ya?"
Di dalam otaknya Rama sudah mengabsen agenda pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini. Salah satunya adalah agenda bertemu Fima di pabrik untuk membicarakan persoalan yang sedang terjadi.
Enaknya menjadi bos, tinggal menyuruh anak buah mendatanginya.
"Aku lemes."
"Minum vitamin udah belum?"
Mita menggeleng.
"Buat apa atuh vitamin dari dokter? Minum dulu sebelum aku berangkat."
Rama menggelengkan kepalanya.
"Aku paling ngga bisa minum obat."
Mita mengingat pertama kali meminum obat saat berusia 7 tahun. Saat itu ia harus minum obat sakit gigi yang hanya bisa ia telan jika dimakan bersama pisang. Hingga sekarang sudah menjadi calon Ibu, Mita masih belum bisa meminum obat dengan normal seperti kebanyakan orang.
"Bukan obat, itu vitamin, ngga pait. Ada zat besi juga, biar baby sehat."
Rama mendengarkan betul saat Pak Romi dan dokter kandungan Mita yaitu dr. Nila menjelaskan macam-macam obat yang harus Mita konsumsi. Ia lantas berjalan menuju nakas tempat Mita menyimpan segala obat dan vitamin. Lalu mengambil gelas berisi air di pantry.
"Minum dulu, biar ngga lemes."
Mita memegang perutnya, serangan pagi kembali datang. Sudah 2 hari ini Mita mengalami morning sickness. Mual-mual di pagi hari, muntah hingga mengeluarkan cairan kuning yang pahit.
Selera makan Mita yang memang tidak banyak, semakin menurun karena mual ketika mencium nasi. Alhasil Mita mengganti nasi dengan kentang yang dimakan bersama ikan, ayam, atau daging dan sayur.
"Uweeekk."
Mita mengeluarkan isi di dalam perutnya yang tidak ada isinya.
"Untung belum diminum vitaminnya."
Rama bergegas mencari stok cemilan yang kemarin baru saja ia beli pulang dari pabrik. Sesuai saran Pak Dokter Romi alias Ayahnya, untuk meminimalisir muntah Mita harus banyak makan di pagi hari dan stok makanan ringan.
Setelah merasa membaik, Mita kembali memposisikan diri di atas ranjangnya. Menutup kembali tubuhnya dengan selimut karena merasa lemas. Dengan sedikit memaksa, Rama meminta istrinya meminum obat-obatan untuk ibu hamil.
Rama yang sedang banyak-banyaknya pekerjaan di pabrik bertambah pusing dengan kondisi Mita yang tengah hamil muda. Sehingga mau tak mau, Rama melimpahkan beberapa pekerjaannya kepada Fery. Sampai saat ini Fery masih menjadi sahabat sekaligus orang kepercayaan Rama di pabrik.
"Berkas pilihin, nanti Yanto suruh anter kesini, Fer. Gua kesana siang."
Fery menerima video call Rama saat sudah sampai kantor. Sejak masih di dalam mobil, ponselnya berdering karena panggilan dari Rama. Namun Fery abaikan karena tidak ingin menggangu fokus ketika menyetir.
"Kenapa lagi? Mules?"
Sepulang dari rumah orangtua Rama beberapa hari lalu, Mita mengajak Rama makan bakso di salah satu mall dekat rumah sakit tempat Pak Romi bekerja. Iseng Mita menyendokan sambal ke mangkok Rama karena kesal Rama sibuk dengan ponsel. Rama sempat menolak menghabiskan bakso yang menurutnya terlalu pedas.
"Yaudah aku yang habisin. Tukeran sama punyaku."
"Jangan, kamu mau racunin anak aku? Pesen satu mangkok lagi."
Saat itu fokus Rama masih pada dengan pembicaraannya dengan Fima di grup whatsapp yang hanya berisi tiga orang. Dimana satu orang lagi tentu saja Fery.
"Ih jangan atuh, buang-buang makanan namanya mubadzir."
Mita mengambil paksa mangkok bakso Rama. Hingga Rama mau tak mau menghabiskan bakso di mangkoknya karena tidak ingin Mita yang menghabiskan.
"Huah, ngga pake kuah aja pedes gini, Yang."
Bibir Rama seketika memerah karena hawa panas. Rama menuangkan kecap ke baksonya langsung untuk meminimalisir rasa pedas di permukaan bakso.
Meski awalnya Rama baik-baik saja, namun keesokan harinya perut Rama baru merespon dengan mencret-mencret yang mengakibatkan ia harus terlambat datang ke pabrik.
"Mita ngga bisa gua tinggal, Fer."
"Mertua lu apa ngga bisa dateng neminin Mita dulu sampai mabok-mabok nya ilang? Istri gua dulu juga gitu. Masalah lagi banyak gini Ram, kerjaan numpuk. Maneh mah tega ka aing." (Lu tega ke gua)
Rama mendengar nada-nada sumbang dari jawaban Fery.
"Kan gua tetep kerja. Kasih Yanto data apapun itu yang harus gua kerjain, nanti dia yang bawa ke sini."
Rama tidak terima ucapan Fery. Merepotkan orang lain terutama mertua nya sendiri, bukan caranya.
"Iya gua tau, tapi gua jadi susah tektokannya kalau lu ngga ke pabrik."
"Terus gua ajak Mita ke pabrik dan muntah-muntah disana?"
Fery mengambil nafas panjang. Masalahnya dengan Rena semalam berdampak pada mood nya hari ini.
"Oke nanti Yanto gua suruh kesana."
"Yanto urusan gua, lu pilihin aja mana yang gua butuh. Nanti dia yang ambil ke ruangan lu."
"Iya bos, iya."
"Sarapan belum sih lu?"
"Gua pengen sarapan di rumah. Aing hayang balik." (Gua pengen pulang)
"Balik?? Maneh mah teu bisa ningali sikon." (Lu mah ngga bisa liat situasi kondisi)
"Ngga boleh kan? Yaudah ngga usah nanya sarapan apa belum segala. Sok perhatian tapi tetap memperbudak gua. Anjay lu."
"Tolong kerja samanya 8 bulan ini. Kabarin kalau data udah siap."
Selesai. Rama memutus sambungan telepon dengan Fery.
"Si kampret. Untung duit lu banyak."
Umpat Fery menatap ponselnya tertuliskan nama Rama. Mengumpat bos nya yang dilihat karyawan lain yang juga baru tiba di pabrik.
"Ngeliatin apa? Pesenin nasi goreng di resto anter ke ruangan saya."
Tanya Fery kesal pada karyawan yang melihat ke arahnya.
Sementara itu Mita melihat perubahan wajah Rama yang tidak enak, sudah berarti mood Rama memburuk. Hati Mita akhirnya luluh.
Mita mendengar obrolan Rama dan Fery di sambungan video call tadi. Ada benarnya yang Fery katakan.
"Abang ke pabrik aja, Pak Yanto suruh ke Cianjur jemput Ibu. Aku pengen ditemenin Ibu sebulan mah."
Apakah yang ia dengar tadi sungguhan? Batin Rama.
"Ibu bisa kesini? Ngerepotin ngga?"
Rama yang sudah bersiap melepaskan dasinya mengurungkan niatnya.
"Ngga kok."
"Kalau kamu butuh temen selama aku kerja, nanti aku minta Bi Imas ajak saudaranya dari kampung. Aku ngga bisa nemenin kamu setiap hari, Sayang. Kasian Fery kalau kerja sendiri."
Meski bagaimanapun, Rama masih punya hati, tidak ingin sahabatnya kerepotan mengurus pabrik.
__ADS_1
"Aku ngga terbiasa ada orang asing di rumah. Lagian sekarang kan Ibu cuma nungguin toko karena udah ada karyawan yang bantuin. Yoga juga udah bebas, udah daftar ke beberapa PTN. Tinggal nunggu pengumuman."
"Jadi aku ke pabrik aja nih? Yakin?"
Kini Rama memasang wajah bucin. Mendekati Mita karena terharu, yang menurutnya Mita cukup pengertian.
"Yakin, udah sana."
Mita mendorong Rama agar segera berangkat.
"Baik banget istri aku, pengertian sekali."
Rama menghujani Mita dengan ciuman. Mulai dari kepala, wajah hingga leher tak luput dari sentuhannya pagi ini.
"Udah berangkat sana. Nanti aku berubah pikiran."
"Pulang mau dibawain apa? Tapi please jangan yang aneh-aneh."
"Aku lagi pengen sushi sih."
"Nah, itu oke. Cingcai."
Dalam bayangan Rama, ia tinggal memesan sushi dari restoran langganannya. Meski tidak begitu dekat, tapi ia bisa memesan melalui aplikasi.
"Tapi di Jepang langsung."
"Hah? Yang bener aja atuh, jangan dulu."
"Ngga sekarang kok. Nanti aja habis aku wisuda."
Rama lega.
"Oke. Sidang siapin dulu."
Mita memang sedang sibuk mengurus sidang. Beberapa hari ke depan ia akan bolak balik ke kampus untuk menghadiri sidang teman-temannya untuk memberikan semangat. Sementara jadwal sidang Mita masih dua minggu lagi.
Begitu Rama pergi, Mita menelpon Bu Rini yang baru selesai membereskan meja makan selesai sarapan sambil menonton acara TV.
"Ibu lagi apa?"
Bu Rini membaca nama Mita di layar ponselnya, namun fokusnya masih pada TV di hadapannya. Di dalam layar TV tersebut sedang memberitakan pasangan artis yang akan bercerai.
"Ah gini we Ibu mah biasa, baru selesai sarapan. Teteh sehat? Ngga ada keluhan apa-apa?"
"Aman, alhamdulillah sehat."
"Alhamdulillah. Ayahnya Rama ge da dokter ya, pasti ngerti sedikit mah soal kehamilan. Udah sarapan?"
"Udah tadi Rama suapin, mual makan banyak-banyak teh."
Bu Rini tidak menjawab, rupanya masih menyimak isi berita artis di TV.
"Da gitu, setan mah licik. Waktu belum nikah, di gogoda sama syahwat-syahwat, mesra-mesraan yang belum waktunya. Setelah nikah, digoda nya teh sama pertengkaran. Cerai we ujungna mah."
"Siapa yang cerai?"
"Artis lah biasa. Ibu lagi nonton meni reuwas itu pasangan artis, asa adem ayem ujug-ujug cerai." (reuwas : kaget, ujug-ujug : tiba-tiba)
"Pagi-pagi nontonin gosip ari Ibu."
"Biar ngga ngantuk."
Bu Rini tertawa beralasan.
"Bu, siap-siap atuh, Pak Yanto mau kesana ngejemput."
"Ngejemput siapa?"
"Ngejemput Ibu atuh. Ibu nginep disini ya sebulan. Bosen di apartemen sendiri, minta Abang ngga kerja kasian."
Setelah diminta Mita untuk ke Tangerang, tanpa pikir panjang Bu Rini bergegas menyiapkan pakaian dan perlengkapannya untuk pergi ke apartemen Mita dan mengajak Yoga. Sementara Pak Zainal tetap di Cianjur menjaga toko.
Keperluan bumbu-bumbu untuk memasak, cemilan, kebutuhan mencuci dan kamar mandi, Bu Rini ambil dari toko kelontongnya untuk ia bawa ke Tangerang. Tidak lupa rengginang dan cemilan khas kampung sudah Bu Rini masukan ke dalam tas besar.
Sehabis dzuhur Pak Yanto sudah sampai di Cianjur dan hanya istirahat beberapa menit sebelum akhirnya kembali lagi ke Tangerang.
"Santai dulu Pak Yanto. Istirahat atau tidur dulu di kamar Yoga. Lumayan kan ke Tangerang dari sini."
Pak Zainal mencegah Pak Yanto yang ingin langsung melanjutkan perjalanan.
"Ngga usah Pak. Saya sudah biasa bawa mobil jarak jauh."
Pak Yanto menolak secara halus tawaran dari Pak Zainal karena merasa sungkan.
Sebelum berangkat ke Tangerang, Bu Rini menyempatkan membeli roti manis Tan Keng Cu yang sudah melagenda di Cianjur. Bu Rini ingat betul Mita menyukai roti yang sudah ada sejak Mita kecil. Kala itu, roti Tang Keng Cu menjadi makanan mewah bagi keluarga Mita. Namun kini membeli sekantong besar roti pun, Bu Rini mampu.
*****
"Kalau aku kuliah di Bandung enak ya Non, bisa boncengan tiap hari."
Adit mengambil tangan Sena yang melingkar di pinggangnya lalu menautkan jemari keduanya. Sementara Sena hanya tersenyum mendengar ucapan Adit sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya.
"Harusnya tahun kemarin aku pelariannya ke Bandung, kenapa jadi ke Tokyo."
Adit terus bicara sendiri. Meski terdengar samar karena Sena menggunakan helm, namun ucapan Adit masih bisa didengar.
"Yaudah sih, walaupun Mas kuliah di Tokyo tapi kan sekarang kita masih bisa boncengan. Nikmatin aja jalan ceritanya. Mungkin kalau Mas ke Bandung, Mas ngga akan kesepian lalu aku ngga akan jadi temen ngobrol Mas juga kan? Malah karena Mas di Tokyo kita bisa deket."
Adit mengangguk mengiyakan, mencium tangan perempuan yang membuat hatinya kerap berdetak tidak karuan.
Perjalanan sejauh 170 km Adit lalui dengan motor yang baru dibelinya sebelum berangkat ke Tokyo. Sementara motor yang dulu ia beli dengan Mita dijual karena kenangannya saat itu masih selalu membayang. Percakapan dengan Mita sebelum membeli motor, diperjalanan, sampai kenangan dengan motor tersebut, masih terbayang dengan sempurna di ingatan. Hingga akhirnya Adit memutuskan menjual motor yang sudah ia gunakan kurang lebih satu tahun.
Adit parkir di parkiran fakultas yang letaknya di bawah pohon tak jauh dari mahasiswa yang berkerumun menunggu jam masuk, mengerjalan tugas bersama atau sekedar ngobrol menghabiskan waktu di kampus. Pandangan mata kebanyakan mahasiswa mengarah kepada Adit karena penasaran dengan laki-laki di balik helm yang membonceng Sena. Karena selama 3 tahun berstatus mahasiswi, belum pernah sekalipun Sena datang ke kampus bersama laki-laki. Apalagi naik motor.
Begitu Adit membuka helm, beberapa mahasiswa merasa tidak asing dengan wajah Adit. Ada juga mahasiswa yang langsung mengenali Adit dan mengecek instagram.
"Ih itu mah yang selebgram yang anak politisi bukan sih?"
"Kela cek heula IG." (Bentar cek dulu IG).
Setelah membuka helm yang ia kenakan, kini Adit membantu membuka helm kekasihnya. Pandangan iri terlihat karena dugaannya benar, bahwa yang mengantar Sena adalah Aditya Wiraguna. Selebgram terkenal, anak seorang politisi yang digadang-gadang akan menjadi menteri di kabinet selanjutnya sekaligus mahasiswa yang sedang kuliah master di Jepang.
"Aku nunggu dimana?"
Adit memperhatikan Sena yang rambutnya sedikit berantakan karena melepas helm. Lucu dimatanya. Namun ia harus menjaga sikap karena menyadari banyak mata mengarah kepadanya
"Kita ke kantin aja ya Mas? Kelas ku udah mulai, aku ngga bisa masuk. Gara-gara tol macet jadi telat."
Selama di perjalanan, Sena memantau grup kelasnya. 10 km mendekati kampus, komti kelasnya memberikan info bahwa Pak Deny sudah ada di kelas. (Komti : komandan tingkat)
Adit mengangguk, mengikuti arah langkah Sena. Sesekali tersenyum saat melewati perkumpulan mahasiswa yang tersenyum ke arahnya.
"Kelas kedua jam berapa?"
"Nanti jam 12.30 ada kuliah lagi."
Di kantin fakultas Sena bertemu teman sejurusannya yang berbeda kelas. Tentu saja Adit kembali menjadi perhatian karena beberapa diantaranya mengenal Adit.
"Adit bukan sih? Aslinya ganteng banget anjir. Anak ITB ngga ada sebening dia."
Komentar seorang mahasiswi yang tidak Sena kenal.
"Awewe ITB ge hinyai, Sena doang yang cakep. Dia mah lebih cocok jadi anak UI." (hinyai : berminyak)
Mahasiswa teknik membalas ucapan temannya yang meremehkan cowok-cowok ITB.
__ADS_1
Sudah menjadi isu penting di kalangan mahasiswa bahwa mahasiswa dan mahasiswi ITB terkenal pintar. Namun dari sisi good looking, UI jelas lebih unggul. Walaupun tidak semuanya demikian.
Samar-samar Adit dan Sena mendengar percakapan mahasiswa yang mereka lewati. Hanya bisa tersenyum karena merasa lucu.
"Ngga enak juga ya diliatin gini."
Sena memilih tempat duduk agak pojok agar karena merasa canggung. Merasa semakin banyak pandangan yang mengarah kepadanya dan Adit.
Adit tersenyum, paham yang dirasakan Sena. Awal-awal dikenal Adit pun sempat merasa canggung, namun senang karena dikenal.
"Ngga nyaman ya?"
Reflek Adit mengeluarkan topi dari tas punggung yang ia kenakan untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Ternyata Mas famous banget."
"Kebeneran aja, karena followers aku seusia kita. Kemarin kita jalan di Papaya ngga segininya kan?"
Sena mengangguk.
"Sen, itu Adit bukan ya?"
Seorang perempuan yang duduk di meja sebelah Sena mencolek kecil pinggang Sena.
Sena tersenyum canggung.
"Iya, Kak."
Ternyata kakak tingkat Sena.
"Pacar lo ya?"
Sena semakin tidak nyaman di korek-korek.
"Temen kok."
Senyuman kecil dari wajah Adit yang sejak tadi tersungging menghilang.
"Oh, kirain cowok lo."
Sena tersenyum.
"Mas nanti nunggu dimana? Aku kuliah sampe jam 3 an."
Adit diam memainkan ponsel.
"Mas?"
"Hmmm? Aku lagi booking hotel."
"Ngga nunggu di rumah Enin aja?
"Walaupun nunggu di rumah Enin, tapi aku ngga mungkin nginep disana kan?"
Nada bicara Adit berubah meninggi satu oktaf hingga membuat Sena kaget.
Sena tidak menjawab, karena bertepatan dengan datangnya seorang karyawan kantin mengantarkan dua gelas es kopi.
"Pacarnya Mbak Sena ya?"
"Cuma temen, Teh."
Setelah capek mengendarai motor Jakarta Bandung, lalu hanya dikenalkan sebagai seorang teman. Rasanya lumayan membuat mood nya turun drastis.
Adit menutup topi di kepalanya dengan topi yang menempel pada sweater yang ia kenakan untuk menutup wajahnya yang sudah pasti berubah ekspresinya.
"Temen, aku mah temen doang."
Adit menekankan ucapannya saat mengambil es kopi dari Teh Narti, palayan kantin.
"Marah si Aa nya itu Mbak, dianggap temen."
Teh Narti tersenyum jahil.
Sena mulai sadar ia sudah salah bicara.
"Aku mah teman tapi menikah, Teh. Daripada pacaran ngga nikah-nikah? Kayak Teteh sama A Wawan hayo? Dari aku maba, sampai aku mau lulus belum nikah-nikah coba, Mas." (maba : mahasiswa baru)
Sena membalas dengan candaan untuk mencairkan kembali mood Adit.
Wawan adalah OB kampus yang sering ia lihat bersama Teh Narti jika kantin sedang sepi. Keduanya sudah dekat sejak lama. Bahkan dari sebelum Sena kuliah.
"Pantesan cowok-cowok sini ditolakin sama Mbak Sena. Pacarnya kayak gini atuh, herang pisan." (herang : bening)
"Banyak ya Teh yang suka sama Sena?"
"Banyak pisan, A."
Sena tersenyum mendengar Adit dipanggil dengam sebutam Aa.
"Lebay Teteh mah. Paling cuma satu dua."
"Satu dua apanya? Banyak tau Mbak. Tiap kesini, yang ditanya pasti Mbak Sena. "Sena udah kesini belum Teh?" Sampe saya bosen ngejawabnya. Emangnya saya diem, ngeliatin orang yang lewat sama yang dateng."
Teh Narti terlihat lucu saat memeragakan mahasiswa yang katanya kerap mencari Sena.
"Siapa aja emang yang suka nanyain aku?"
"Banyak, Mbak. Yang paling sering nanya mah anak Teknik yang rohis."
"Ohh... Kamu mau diajak taaruf mungkin, Non."
"Duh, meni sweet kitu panggilannya. Udah ah ngobrolnya Teteh mau kerja lagi ah buat nikah."
Teh Narti hendak berbalik badan namun ditahan oleh Adit.
"Bentar Teh. Nomor Teteh berapa? Saya mau pantau Nona ini selama kuliah."
Teh Narti memberikan nomor whatsapp nya. Sena hanya tersenyum sudah tidak peduli dengan tatapan mahasiswa lain.
"Hatur nuhun ya Teh. Semoga cepat terkumpul tabungan nikahnya, lancar semuanya."
Adit menaruh beberapa lembar uang kertas berwarna merah di atas nampan yang dipegang Teh Narti.
"Ini apa, A?"
"Biar tabungannya cepet terkumpul Teh. Ngga banyak tapi lumayan."
Adit terseyum.
"Duh aingah. Tos kasep, bageur deuih. Seueur ieu mah pasti artosna." (Udah ganteng, baik lagi. Banyak pasti uangnya)
"Saya mah bos Teh, tenang aja. Sok atuh Teteh layanin lagi yang beli. Pokoknya nitip Non in jangan sampe lepas."
Adit tertawa menyadari ucapannya yang terlalu percaya diri. Sementara Sena tertawa mendengar percakapan Adit dan Teh Narti.
"Siap, A. Hatur nuhun."
"Mas apaan sih, malu sumpah."
Sena tersenyum menyembunyikan wajahnya sambil memukul-mukul punggung Adit.
"Ngibulin gue anjir."
Bisik sang kakak tingkat yang menyimak percakapan sweet couple dan Teh Narti.
__ADS_1