Cinta Mita

Cinta Mita
Ultimatum


__ADS_3

"Yang kasih boneka akang yang mana? Banyak banget yang chat kamu."


Adit video call sambil melihat chat whatsapp Sena di kamar hotel, sepulang dari rumah Enin. Adit memiliki ponsel lebih dari satu karena tuntutan pekerjaan, sehingga ia bisa bervideo call ria sambil sidak whatsapp kekasih. Ponsel khusus pekerjaan, dan ponsel untuk keperluan pribadi. Tapi untuk Sena, semua ponsel bisa akses. Spesial ceunah.


"Namanya Ricky, alumnus yang lagi ada proyek di kampus."


Masih membahas akang-akang, batin Sena. Entah mengapa, ia tidak begitu menyukai pembahasan ini.


"Bisa-bisanya dia aja itu mah. Pengangguran? Kaya ngga ada kerjaan, udah lulus masih ke kampus."


"Ya kali pengangguran. Anak ITB mana ada yang nganggur."


Adit tertawa, kekesalannya akan senior bernama Ricky teralihkan. Ia suka dengan kesombongan Sena.


"Anak Jakun kali banyak yang nganggur. Pongah dengan warna kuning almamater lantas gengsi dengan gaji fresh graduate. Maap-maap, anak ITB ngga ada yang mental nya gitu. Gaji itu ngikutin pengalaman. Minimal lima tahun karir lah, anak ITB gampang-gampang aja tuh buat dapet dua digit." (fresh graduate : mahasiswa yang baru lulus)


Tawa Adit terhenti, karena memang benar adanya.


"Aku sih ngga. Ohh ini nih aku dapet yang namanya Ricky. Ealah muka nya kaya tutup panci aja, sok-sok an deketin kamu."


Sena tersenyum.


"Beda kelas sama aku mah."


Lanjut Adit berkomentar. Sebenarnya tidak buruk, namun karena ada masalah pribadi lantas terlihat begitu buruk di mata Adit.


"Tapi dia dulu presma lho, Mas. Infonya mau jadi tenaga pengajar di kampus juga. Sebagai profesional gitu deh." (presma : presiden mahasiswa atau ketua Badan Eksekutif Mahasiswa)


"Apapun itu, aku pemenangnya kan?"


"Exactly. Kenapa atuh masih nanya-nanya?" (tepat)


"Aku lagi mewaspadai lawan. Selain dia ini ada yang lain?"


"Ada beberapa yang suka WA ngga jelas, balesin story, makanya aku males bikin story karena males balesnya. Yang lain standar aja, paling suka ngedeketin di kampus tapi ngga berani katanya nge-gas-in aku. Kenapa ngga berani coba? Aku biasa aja."


"Ya bagus, artinya mereka nyadar diri. Kenapa mereka suka sama kamu?"


"Kenapa Mas suka sama aku?"


"Kalau buat aku, kamu itu obat."


"Emangnya aku panadol !"


"Emang kamu tau panadol?"


"Tau lah, emang aku tinggal di hutan."


"Tau dari mana?"


"Pak Karman kalau pusing suka minum panadol. Suka dimarahin Papa kalau ketauan. Supirnya dokter kok minum panadol, gitu katanya."


Adit tertawa. Ia pikir Sena suka minum panadol.


"Besok Mas balik jam berapa?"


"Kamu pulang jam berapa?"


"Jam 10 dong tumben-tumbenan. Pengertian banget dosen aku teh."


"Iya teh."


Adit meledek Sena yang sudah sunda 100%.


"Ihh kenapa sih, itu kan emang orang sunda."

__ADS_1


"Lucu aja denger kamu medok sunda gitu. Kaya eteh-eteh yang jualan gado-gado deket kosan aku waktu di Depok."


Sekarang hobi baru Adit adalah menggoda Sena, seru juga.


"Cantik pasti tukang gado-gadonya. Orang sunda mah da geulis kaya aku." (cantik)


Adit tertawa kembali. Bukannya marah ketika disamakan dengan tukang gado-gado, malah memuji.


"Cantik lah, calonnya aku. Besok aku jemput jam 7 pagi ya. Aku tungguin kamu sampe pulang."


"Kelamaan ngga nunggu aku pulang?"


"Aku pengen ngopi. Siapa tau ketemu mojang Bandung. Satu juga lumayan."


"Boleh. Nanti aku respon salah satu dari akang-akang itu."


"Bercanda atuh, Non."


Setelahnya, keduanya masih bercerita mengenai banyak hal. Meski lelah, energi cinta tak pernah padam. Sena bercerita tentang dosen dan teman-temannya di kelas. Adit bercerita tentang tentang staff hotel dan tamu hotel yang meminta foto ketika ia check in. Pembahasan yang tidak terlalu penting, namun bermakna bagi dua insan yang dimabuk cinta.


Sebelum jam 7 pagi, Adit sudah memarkirkan motor gedenya di depan gerbang rumah Enin.


"Mau ketemu siapa Den?"


Bukan Wa Ideng, melainkan Mang Jaja yang membukakan pagar.


"Mau jemput Sena, Mang."


"Ngga dianter Saya jadinya? Job saya diambil Aden dari kemarin."


"Lumayan kan istirahat 2 hari. Besok Mamang lagi yang antar Sena, Saya mau balik ke Tokyo, nitip Sena ya."


Adit menepuk bahu Mang Jaja lantas masuk ke dalam rumah Enin.


"Motornya ngga dimasukin Den?"


Setelah mengantar Sena, Adit menunggu di kafe dekat kampus. Memesan segelas americano panas dan croissant sebagai teman menunggu pesanannya yang lain.


Sejak semalam Adit sudah mengontak jasa titip area Bandung minta dicarikan boneka terbesar yang ada di Bandung dan sebuket bunga mawar merah muda.


Bahkan sang jasa titip, harus menyewa mobil box untuk membawa pesanannya tersebut kr kampus Sena karena tidak ingin merusak dus yang membungkus si boneka raksasa. Karena motor Adit tentu saja tidak bisa membawa boneka yang tingginya hampir dua kali lipat dari tingginya.


"Maaf dengan Mas Aditya ya?


Seorang laki-laki berusia 30 tahun-an mendekati Adit yabg sedang duduk di area outdor kafe.


"Iya betul. Boneka ya?"


"Iya betul Mas. Disimpen dimana ya boneka nya?"


"Dibawa ke kampus aja jam10 an. Akang pesen kopi dulu aja, nanti bill nya gabung sama saya. Nunggu calon Saya pulang kuliah."


"Baik, Mas."


15 menit sebelum Sena keluar, Adit menuju kampus dengan diikuti mobil box di belakang motornya.


"Aku nunggu di gerbang ya."


Pesan yang adit tulis untuk Sena saat ia sudah sampai gerbang.


"Ngga di parkiran aja?"


"Di gerbang aja."


Sena bergumam sendiri, karena letak gerbang yang Adit maksud lebih jauh parkiran motor. Jarang-jarang Adit memerintah, pikir Sena.

__ADS_1


Sena datang dengan wajah yang memerah, sambil mengipas-ngipas wajah. Karena panas sudah jalan dari gedung lantai 3 sampai ke gerbang kampus.


"Panas ya?"


Adit ikut mengipas-ngipas wajah Sena dengan kedua tangannya.


"Lumayan. Ini dus punya siapa gede banget?"


Adit langsung memberikan bunga mawar merah muda yang sejak tadi bersembunyi di balakang tubuhnya, tepat di depan wajah Sena. Moment ini jelas menarik perhatian seluruh mata yang ada di sekitar gerbang, termasuk Sarah yang tadi datang bersama Sena yang terlihat menunggu seseorang.


Laki-laki tampan, dengan motor gede membawa bunga dan dus besar untuk seorang primadona kampus.


"Eh apa ini?"


"Maaf kemarin aku ngga peka."


"Ya ampun, Mas. Ngga usah kaya gini."


Sena tersenyum malu menutup wajahnya yang semakin memerah bukan karena panas.


"Suka ngga bunganya?"


"Suka, tapi malu."


"Ini juga buat kamu."


Mata Sena tertuju kembali pada dus besar di samping Adit yang tadi mengganggu pandangannya karena terlampau besar.


"Isinya apa gede banget?"


"Coba buka, aku bantu."


Adit merobek sudut dus yang direkatkan oleh streples.


"Mas, demi apa orang-orang ngeliat kesini semua."


Sena menutupi wajahnya dengan bunga pemberian Adit.


"Ngga apa-apa, sekalian biar tau kamu udah punya aku."


"Ya ampun..."


Sena begitu kaget ketika melihat sebuah boneka beruang putih dengan bulu halus yang tingginya dua kali lipat dari tingganya sendiri.


"Ini gede banget, gimana bawanya?"


"Aku udah sewa mobil box buat bawa ini ke rumah Enin."


"Kenapa ngasih nya ngga di rumah Enin aja sekaloan?"


"Rugi dong, ini kan sekalian ultimatum biar fans-fans kamu mundur."


Sena tidak bisa menyembunyikan senyuman kegembiraan bercampur malu dari wajahnya.


"Mas... sumpah malu banget. Kaya bocah SMA ngga sih."


"Suka ngga?"


"Suka banget. Makasih ya."


Sena mengusap lengan Adit, tanpa berani berbuat lebih karena tatapan mahasiswa, staf sampai satpam bagai menguliti keduanua.


"Anjay perfect couple."


"Mundur alon-alon ae gua mah."

__ADS_1


Celetukan seorang mahasiswa yang sudah mengincar Sena sejak lama.


__ADS_2