
"Kok pulang? Disuruh Abang ya?"
Mita sedikit terkejut melihat Sena tiba-tiba masuk, sementara Adit menunggu di luar. Setelah Sena memastikan Mita berpakaian sempurna, Adit pun masuk dengan wajah kehilangan semangat.
"Kakak nelepon Teteh ya?"
"Iya tadi pas kamu udah berangkat. Dia nanyain kamu, aku ngga bisa bohong. Kalau aku tau Abang bakal nanyain kamu kan, aku ngga angkat teleponnya. Ceroboh banget sih aku."
Mita merasa tidak enak karena acara nge-date Sena dan Adit harus batal.
"Aku sama Sena yang salah. Aku ngga ada niat untuk ninggalin Teteh sendiri, sumpah."
Adit membentuk tangannya dengan huruf "V".
"Yaudahlah ya mau gimana lagi. Teteh mau shopping ngga? Aku kalau lagi bete gini suka pengen ngelampiasin ke belanja. Ngga apa-apa kan Mas kalau aku belanja?"
Hari ini adalah hari terburuk bagi Sena. Mendapatkan omelan yang tidak pernah ia duga.
"Kenapa harus apa-apa?"
"Maksudnya gimana? Kenapa haru apa-apa?"
Sena tidak mengerti dengan maksud ucapan terakhirnya, yang tidak lain adalah ucapan Adit.
"Ya ngga apa-apa."
"Tau ah aku bingung. Otak aku kayak nge-hang abis diomelin Kakak."
Mata Sena tidak bisa berbohong, nampak jelas kesedihan yang Adit baca.
"Apa katanya?"
Mita tidak ingin Rama memarahi Sena berlebihan.
__ADS_1
"Omelan yang paling nyakitin yang pernah aku denger sejauh ini."
Sena menyembunyikan wajahnya di balik lengan sofa.
"Ih Abang kok gitu. Abang bilang apa?"
Mita mendekati Sena sambil memegang bahu. Berusaha agar Sena mengatakannya.
"Ngga, aku nya aja yang ceneng. Cuma tadi Abang bener-bener marah, aku jadi takut."
Kini Adit tidak berani menyentuh Sena se-inci pun. Meski ia ingin menenangkan dengan pelukan kekasihnya.
"Padahal itu cuma halusinasi dan ketakutan dia aja kan? Gimana coba kalau beneran? Tapi setidaknya ini jadi tes ombak emosi Abang kalau terjadi sesuatu sama kamu. Kamu jangan sekali-kali kecewain Abang, Sen."
Nyali Adit tambah ciut, menyadari Rama begitu powerful dan dominan.
Ponsel Adit yang disimpan di meja bergerat.
"Ciee, didatengin cewek."
"Opo mbak?"
"Sena sendiri atau sama keluarganya?"
Kini untuk mengetahui kabar terbaru seseorang cukup dengan melihat media sosial. Media sosial Adit dan Sena adalah akun yang paling Putri tunggu update-an nya. Ia sampai menyalakan lonceng untuk semua notifikasi kedua akun tersebut. Baik story, feed maupun live.
"Sama kakak iparnya."
Posisi Adit tengah berbaring di sofa kamar, semangatnya untuk beraktivitas sudah hilang.
"Kakak iparnya Sena ki sopo?"
Putri meraba-raba, merasa tau namun tak ia ingat.
__ADS_1
"Mita."
"Eaalahhhh jebule mantanmu."
"Kakak ipar pacarku adalah mantanku, judul drama di ikan terbang. Cocok toh?"
"Cocok."
"Kamu baik-baik kan di sana?"
"Aman, sehat sentosa."
"Uangmu akeh mesti, jadi BA nya kedutaan."
"Firasatku ngga enak ki, ngomongin uang. Antara mau pinjem atau mau minta."
"Ngga percuma Ayah kirim kesana, kamu jadi pinter."
"Alhamdulillah pinter dari dulu."
"Jadi mendinngam aku pinjem atau aku pinta?"
"Minta aja. Opo?"
Adit fokus dengan ponel dan Sena memperhatikan hal tersebut.
"Iki lho, aku pengen ganti sepatu sama topi. Mau ke mall males aku, pulang kerja udah capek. Sekarang aku tiap Minggu lari di Senayan. Butuh sepatu baru dan topi"
"Oooo... Wes paham aku."
"Maksudku mumpung Sena di sana, titip ke Sena gitu lho."
"Pegawai kementrian, palak cah alay ki piye?"
__ADS_1
"Ora. Kamu wes ra alay. Cah bagus ki."
"Alah prett."