
"Pagi Mbak Mita. Mau kemana Mba?"
Seorang pria yang menggunakan tanda pengenal kru mendekati Mita, begitu melihat Mita keluar dari ruangan acara.
Mita melirik ke balakang, namun Rama belum menampakan batang hidungnya di pintu keluar Ballroom.
"Pagi mas. Mau ke kamar dulu Mas sebentar."
"Baik saya antar."
Mita mengangguk lalu berjalan.
"Ngga usah diantar Mas. Kunci nya aja."
Rama berlari kecil menyusul langkah Mita. Kru WO pun memberikan kunci kamar pengantin kepada Rama sambil tersenyum penuh arti.
"Makasih." Rama menepuk pundak kru berkaca mata tersebut, yang di jawab dengan anggukan hormat.
Begitu masuk ke kamar yang sudah di dekor sedemikian rupa, Mita terpana melihat kamar pengantin nya. Sedikit berbeda dengan kamar orangtuanya semalam. Lebih luas, dan lebih lengkap fasilitas nya.
"Maaf ya acaranya sederhana."
Rama menautkan kedua tangannya di pinggang milik istri cantiknya ini di balik pintu kamar.
"Ini ngga sederhana Bang..."
Mita membalas dengan melingkarkan tangannya di leher Rama.
Rama tersenyum.
"Tapi kita belum ngundang temen-temen kamu. Saudara kamu juga cuma Ateu dan Om. Nanti kita bikin acara lagi di Bogor dan Cianjur."
Spontan Mita memeluk Rama yang kini telah resmi menjadi suaminya. Merasa bersyukur dengan kebaikan hati Rama yang selalu mengerti dirinya.
"Makasih kamu udah mau jadi istri aku, aku masih kaya mimpi ada di kamar yang sama, sama kamu."
Rama membelai dan mencium rambut Mita yang kala itu hanya di rias simpel, tidak menggunakan sanggul sesuai keinginan Mita. Mita menarik kepalanya lalu mendongakan wajah ke arah Rama dengan mata terpejam dan kaki jinjit.
Rama tersenyum, merasa senang dengan sikap agresif Mita.
Pasangan pengantin baru itu tengah menikmati ikatan halal yang telah terjalin di antara keduanya.
Hanya dengan ijab qabul, semuanya kini menjadi halal untuk dinikmati oleh kedua insan yang tengah dimabuk asmara.
Waktu 10 menit terasa begitu cepat jika dinikmati dengan perasaan yang meluap-luap.
"Besok pagi mulai sarapan ini ya."
Rama mengusap halus bibir Mita.
"Cuma ini? Ngga mau yang lebih spesial?"
Rama tersenyum lalu membuka jas miliknya, dan melonggarkan ikat pinggang yang ia kenakan.
"Gerah." ucap Rama sambil tertawa.
"Di ruangan masih banyak tamu Bang... Gini dulu aja ya, yang lain nanti habis acara."
"Sebentar... lagian kamu mancing-mancing." tanpa banyak kata Rama menggendong Mita menuju peraduan yang bertaburan bunga mawar merah.
Rama mengambil ponsel di saku celananya yang bergetar, telepon masuk dari Bu Lia. Namun ia mencampakan panggilan tersebut.
"Ayo bentar, nanti kita ke ruangan lagi. Sebelum Fery kesini."
Rama merebahkan tubuh Mita pelan, lalu memeluk dan mencium dengan penuh naf su.
"Buka sedikit."
Rama berusaha membuka seleting belakang kebaya Mita, ingin melihat benda yang bersembunyi di dalamnya.
"Sayang nanti, bajunya bisa acak-acakan."
Rama menghentikan aktivitas tangannya.
"Kamu manggil aku apa tadi?"
Ketukan terdengar dari balik pintu kamarnya.
"****."
"Sayang, sekarang aku panggil kamu sayang. Kita ke ruangan acara dulu, nanti dilanjut."
Mita bangkit dari tempat tidur, merapikan rambut dan kebaya yang sedikit berantakan.
"Kita belum beres." Rama memberi peringatan kepada Mita.
Rama bangkit lalu mengambil jas yang sudah ia lepas tadi dan mengencangkan kembali ikat pinggang nya. Begitu pintu dibuka, Pak Romi sudah berdiri di depan pintu.
"Jangan bikin malu Papa. Liat muka kamu di cermin sebelum keluar."
Pak Romi meninggalkan Rama begitu saja
Mita yang sudah menunggu di balik pintu baru menyadari wajah suaminya dipenuhi kilauan lipstik miliknya.
"Muka aku kenapa?"
Mita menunduk malu lalu mengambil tisu basah miliknya, lalu membersihkan wajah Rama.
"Ini banyak riasan aku yang nempel di muka Abang."
Kini giliran Fery yang menunggu di depan kamar, seolah takut Rama tidak kembali ke ballroom.
__ADS_1
"Ribet amat sih lu. Ini juga gua mau balik."
Rama kesal karena diburu-buru, merasa tidak ada yang mengerti dirinya.
"Salah mulu jadi gua."
Rama menarik tangan Mita agar berjalan sejajar dengannya, lalu mencium pipi Mita sekilas lalu menggigit gemas lengan Mita.
"Ehemmm."
Fery mengikuti di belakang.
"Berisik."
Rama tidak suka peringatan dari Fery.
Begitu masuk ruangan, semua pandangan mata mengarah pada pasangan pengantin baru.
"Dari mana?"
Pak Kusdinar menggoda Rama.
"Biasa Om."
Wajah Mita memerah, malu menjadi pusat perhatian Bapak-bapak.
"Kamu mau ke Sena? Nanti aku nyusul."
Untungnya Rama mengerti posisinya. Hufft...
Mita mengganguk sebagai salam hormat kepada rekan Pak Romi.
Rama pun ikut bergabung dengan Bapak-bapak. Membicarakan bisnisnya dan saham di rumah sakit tempat ayahnya bekerja dan juga program kemanusiaan LSM yang dipimpin Pak Kusdinar.
"Kita lagi butuh donatur ini Ram. Siapa tau kamu bisa bantu."
Rama tersenyum.
"Iya gimana Om?"
"Jadi banyak anak-anak penderita PJB (penyakit jantung bocor) yang orangtua nya itu ngga mampu. Memang biaya pengobatan di cover BPJS tapi untuk biaya-biaya lain yang ngga di cover kalau dikalkulasikan lumayan juga totalnya untuk mereka."
Pak Zainal yang sejak tadi ikut menyimak, kini memperhatikan Rama yang terlihat serius. Seorang direktur rumah sakit meminta donasi kepada menantunya? Siapa sebetulnya Rama ini? Mita belum cerita banyak tentang pekerjaan Rama.
"Semacam biaya hidup gitu ya Om? atau ada biaya yang lain?"
Pak Zainal bagai menonton pertandingan pingpong, karena pandangannya bolak balik antara Rama dan Pak Kusdinar.
"Iya salah satunya. Karena kan orangtuanya ini ngga bisa kerja full, harus jagain anaknya di rumah sakit, bolak balik berobat ke rumah sakit. Ya yang semacam itu lah, mereka yang lebih merasakan detailnya."
"Boleh boleh." Rama menyetujui menjadi donatur yang sepertinya bukan uang sedikit. Pak Zainal pun mengingat kembali mas kawin yang sudah diberikan Rama, tidak main-main jika di nominalkan mungkin sekitar 1 milyar.
Pak Zainal juga flashback saat pertama kali ke rumah Bu Lia saat mengantar Mita. Ia ingat betul Bu Lia pernah mengatakan bahwa uang Rama lebih banyak dari uang Bu Lia sendiri.
Saat itu Rama hanya menjawab dengan tertawa, "Harus dong."
Kini ia paham, bahwa itu sepertinya bukan candaan. Tapi sikap yang Rama perlihatkan selama ini, tidak pernah mencerminkan bahwa dirinya orang yang sombong sehingga tidak pernah terbersit bahwa Rama sekaya ini. Pak Zainal belajar banyak dari menantunya.
"Kalau perusahaan kita kan memang dana CSR nya (Corporate Social Responsibility) fokusnya di pendidikan dan kesehatan Om, jadi yang Om sebutkan tadi masuk sih harusnya. Rama titip proposal nya di Papa ya Pah, nanti Sesar yang urus."
CSR adalah aksi sosial yang dilakukan perusahaan untuk masyarakat. Biasanya setiap perusahaan memiliki konsen khusus terhadap satu topik dalam membantu masyarakat sekitar sebagai bentuk timbal balik atas apa yang sudah perusahaan dapatkan. Perusahaan Rama yang bergerak dalam bidang pengolahan pangan dan restoran, memilih fokus di bidang kesehatan dan pendidikan karena kedua orangtua nya berasal dari bidang tersebut.
Acara akad Rama dijadikan acara kumpul-kumpul yang bermanfaat. Pak Zainal semakin mengenal Rama dan keluarga nya, bersyukur Mita berjodoh dengan Rama yang memiliki lingkungan baik.
Tidak jauh berbeda dengan perkumpulan dokter, ibu-ibu yang lebih terlihat seperti ibu-ibu PKK tidak kalah dalam aksi sosial.
"Teh Rita lagi nyari orangtua asuh buat siswanya yang masuk UGM, bilih bade ku Bi Lia." (siapa tau Bi Lia mau)
Kali ini Wa Ida memberikan informasi mengenai Teh Rita, kakak dari suaminya yang seorang kepala sekolah di salah satu SMA negeri di kota Bandung.
"Ngga sama Teteh aja atuh?"
Bu Lia tersenyum.
"Aduh kehela Teteh mah, nunggu anak yang di UPI lulus dulu. Sok ku Bi Lia we atuh, Mita mah udah ada Rama yang biayain." (kehela : nanti dulu, sok ku Bi Lia we atuh : sok sama Bi Lia aja)
Wa Ida kerap memanggil Bu Lia dengan sebutan Bibi, untuk membahasakan kepada anak-anaknya dan terbawa hingga saat ini.
"Jurusan apa di UGM?"
"Kedokteran. Jadi dia tuh, dapet beasiswa duka ti mana pokona mah disuruh bayar uang 5 juta, hilap kanggo naona duh gusti ari tos sepuh teh kieu tah lengotan." (duka ti mana : ngga tau dari mana, hilap kanggo naona : lupa untuk bayar apanya, tos sepuh : udah tua, lengotan : pelupa).
"Cuma lima juta?"
"Iya lima juta. Teteh juga bisa jadi orangtua asuh ya kalau cuma lima juta mah. Cuma kan nanti bilih kapayuna butuh artos ageung pas teteh teu gaduh, karunya budak batur." (cuma nanti kedepannya takut butuh uang besar pas teteh ngga punya, kasian anak orang).
Bu Lia mengangguk. Bu Rini yang sejak tadi menyimak menjadi paham, bahwa membantu biaya sekolah anak-anak dari keluarga kurang mampu sudah menjadi kebiasan keluarga besar Rama. Bu Rini semakin nge-fans kepada keluarga Rama.
"Kin di obrolkeun heula sareng dunungan." (nanti diobrolin dulu sama bos)
"Dunungan saha?" (bos siapa?)
Enin ikut dalam perbincangan kedua anak perempuan nya.
"Bos Romi sareng Bos Rama." (sareng : dan/sama)
Bu Lia tertawa.
Sementara itu Mita asik ngobrol dengan Sena, Fery, Kila, Sesar, dan sepupu Rama lainnya.
"Kamu jadian ya sama Adit?"
__ADS_1
Mita mendesak Sena untuk terus terang.
"Ihh sok tau."
"Siapa yang jadian sama Adit?"
Fery penasaran. Mita menjawab dengan mengarahkan matanya ke arah Sena yang tengah fokus scrolling instagram.
"Ternyata Sena..."
Fery menggoda Sena yang sudah dianggap adiknya sendiri.
"Ngga, orang cuma deket aja."
"Deket itu karena Adit ada tujuan sama kamu. Kalau ngga ada tujuan, dia ngga bakal deketin kamu." Fery yang sedang mengunyah semangka bicara tanpa ragu.
"Iya gitu?" Sena memusatkan perhatiannya ke Fery.
"Ada yang ngarep kayaknya."
Sena membuang muka, kesal karena merasa dipermainkan.
"Tapi jujur sama aku, Teteh dulu pacarannya ngapain aja sama Adit?"
Kini Sena sudah merubah panggilan untuk Mita, karena Rama menyuruhnya.
"Walaupun aku nikah sama adik kelas kamu, kamu harus tetep panggil Kakak atau apalah itu bahasanya."
Akhirnya Sena memutuskan untuk memanggil Mita dengan sebutan Teteh, panggilan kakak untuk suku Sunda.
"Aku ngga pernah ngapa-ngapain. Paling dia suka pegang tangan, rangkul, gitu-gitu aja sih."
Rasanya untuk cium tangan dan peluk saat Adit menangis tidak perlu diceritakan.
Sena tersenyum mengangguk. Sepertinya benih-benih cinta sudah hadir di antara Sena dan Adit.
"Ngobrolin apa sih?"
Rama tiba-tiba datang memeluknya dari belakang di balik kursi yang Mita duduki.
"Ngobrolin mantan."
"Mantan mah buang ke laut."
Kila yang sebenarnya mantan Fery melirik ke arah Rama.
"Bukan kamu Kila..."
Fery salah tingkah.
"Gerah yaa... Ini ruangan pake berapa AC sih masih kerasa panas."
Fery mengalihkan pembicaraan.
"Tadi udah ngapain aja?"
Fery penasaran.
"Mau tau aja lu rumah tangga orang."
"Sampe jam berapa sih Kak Fery acaranya?"
Mita melihat jam di ponselnya menunjukan pukul 11.40.
"Kita sih bayarnya sampai jam 15.00."
"Lama amat Fer. Sampe jam 12.00 juga cukup, lu buang-buang duit gua aja."
"Bilang aja lu pengen langsung ngamar."
Kali ini Rama memberanikan diri meminta izin meninggalkan acara duluan kepada Pak Romi, dengan alasan Mita sudah lelah.
"Pah, Mita udah cape. Rama duluan ngga apa-apa kan?"
Dengan berbisik Rama bicara kepada Ayahnya.
Pak Romi melihat ke arah Mita yang sedang bicara sambil tertawa dengan Sena.
Meski tau itu hanya alasan Rama saja, tapi Pak Romi sudah kasihan melihat Rama.
"Iya. Pamit dulu sama Mama sama yang lain juga."
Rama mengangguk lalu izin kepada Mama, Enin, para orangtua dan rekan orangtuanya yang masih asik ngobrol.
"Guys, have fun habiskan makanan. Mita cape kasian, gua duluan."
Siang itu menjadi acara kuliner dadakan Fery dkk, karena segala makanan tersaji di sana. Mulai dari makanan Indonesia, Jepang, hingga Western tersaji.
"Bisa aja lu Malih alasannya."
Fery sudah hafal betul sikap Rama.
Rama pun melempar sumpit bekas ia makan sushi.
"Berisik lu."
Tanpa ragu Rama berjalan merangkul Mita menuju pintu keluar.
"Lanjutin yang tadi ya."
Ucap Rama berbisik.
__ADS_1
"Iya sayang."
Dunia terasa indahnya hari ini. What a perfect day !