Cinta Mita

Cinta Mita
Perumpamaan wanita


__ADS_3

Fery


Ketika ia sedang bersiap untuk istirahat makan siang, ponsel nya bergetar. Telepon masuk dari Rena


"Yang, perut aku mules. Sakit banget ini."


Terdengar suara rintihan Rena yang terus-terusan mengaduh menahan sakit.


"Mules gimana? Mau poop?''


"Bukan, ini CD ku udah banjir."


"Duh terus gimana? Aku siap-siap pulang kalau gitu. Kamu telepon Ambu takut aku kejebak macet."


Ia mondar-mandir tak tentu arah.


"Ambu tadi di sekolah. Tapi lagi di jalan kesini."


Mertua nya itu memang seorang guru sekolah dasar. Biasanya pulang dari sekolah jam 14.00. Sekarang yang masih jam istirahat tentu masih di sekolah.


"Ya Allah... yaudah aku pulang."


"Cepet, aku mules."


Ia pun mondar-mandir tak karuan. Bingung harus melakukan apa.


''Kenapa Fer?"


"Ji, istri lu waktu lahiran gimana? Istri gua kayanya mau lahiran. Gua mesti ngapain?"


"Lu baliklah, ngapain mondar-mandir!"


Bangsatt gua jadi deg-degan gini, makinya dalam hati.


*****


Sena


Selepas kata "sekarang" yang keluar dari mulut kakaknya, ia pun langsung mencari kontak Mita. Tak ingin di telepon untuk kedua kalinya dengan nada tinggi, horor.


"Mit, kamu libur kapan?"


"Aku lagi UTS. Kenapa Sen?"


"Kakak nyuruh kamu ngurus paspor sama visa. Kirim alamat kosan kamu, aku kirim surat rekomendasi buat pengajuan visa."


Tak ada jawaban dari Mita, ia terdiam cukup lama. Mungkin memikirkan pacarnya.


"Mit gimana? Kamu bisa ikut ngga? Kalau ngga nanti aku bilang Mama kalau kamu ngga mau ikut."


"Gimana ya Sen...."


Mita terdiam kembali. Mungkin sulit baginya berkata jujur bahwa Adit tidak mengizinkan. Jelaslah, laki-laki mana yang ngizinin pacarnya ketemu sama cowok lain batinnya memaklumi.


"Aku libur minggu besok, nanti aku langsung urus. Tapi sekarang aku mau fokus ujian dulu ngga apa-apa kan?"


Entah ilham darimana akhirnya Mita mau ikut ke Amerika. Meskipun Amerika tapi kalau dengan cowok lain yang bukan pacarnya hmmmm gimana ya? Berbeda cerita kalau Mita ini.... matre? Tapi ia tak yakin Mita demikian. Pertemuan pertama ia dan Mita kemarin memberi kesan positif bahwa Mita perempuan baik. Hanya saja..... Kenapa jadi pacaran sama orang lain, bukan kakaknya?


Rumit sekali percintaan kakaknya ini. Namun sedetik ia pun sadar, cerita ia dan Damar juga tidak kalah rumit. Huh!


LDR yang terpisah negara ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Selama setahun lebih ia berkomitmen dengan laki-laki itu sejak pertama kali, terhitung sudah dua kali ia putus nyambung. Alasannya tidak selalu hal besar, terakhir ia merasa Damar tidak memahaminya.


"Kamu tuh, ngga ada usahanya baik-baikin aku."


Padahal saat itu Damar pun tengah lelah karena menjadi panitia seminar besar menjadi ikut tidak bisa mengontrol emosinya. Satu bulan terakhir mempersiapkan acara besar sebagai ketua pelaksana tentu bukan tanggung jawab mudah. Di hari biasa saja ia sudah kurang tidur, bagaimana dengan tambahan tanggung jawab yang diberikan saat itu sebagai ketua pelaksana? Mood nya menghadapi Sena menjadi naik turun.


"Aku baru pulang Sen. Mau kamu apa?" Damar kala itu benar-benar sudah tidak ada tenaga. Jangankan untuk mendebat, menjawab saja rasanya tidak bisa karena terkalahkan dengan kantuknya.


"Kita putus."


"Oke. Aku cape."

__ADS_1


Damar yang memutuskan sambungan telepon saat itu. Ia menangis semalaman, padahal besoknya ada jadwal UTS. Dengan sekuat hati ia tetap belajar, meskipun hatinya sakit.


"Sen, aku lusa pulang. Bisa ketemu ngga?"


Ia yang tengah bersiap kembali ke Bandung karena besok sudah masuk kuliah tiba-tiba pesan masuk di ponselnya. Namun sayangnya dua minggu tidak berkomunikasi dengan Damar ia merasa sudah terbiasa.


Dengan sinis hatinya berbisik "kemana aja lo!"


"Nggak."


"Sen... please..."


Tatkala membaca pesan tersebut, ia membayangkan wajah hopeless Damar saat mengejar nya dulu.


"Kamu kemana aja? Kemarin aku nangis-nangis kamu tau ngga? Sekarang lagi ngga ada kerjaan? Ngehubungin aku kalau lagi ngga ada kerjaan doang kan? Bullshit!"


Tidak ada balasan dari Damar.


"Ckk ckk. Brengsek!" makinya sambil melemparkan ponselnya ke tumpakan baju di kopernya.


*****


Damar


Dua minggu kemarin ia benar-benar diluar kendali. Sena yang selalu menuntut perhatian, sedangkan ia sendiri memiliki banyak tugas dan tanggung jawab di PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) di Singapura.


Kegiatan segambreng yang disarankan Bunda nya membuat ia benar-benar fokus di kampus.


Pertengkaran terakhir dengan Sena yang berakhir dengan kata putus membuat ia tak memiliki tempat bertukar cerita. Akhirnya dengan jatah libur seminggu ia putuskan untuk pulang.


"Bun, aku flight jam 06.20 nyampe Jakarta jam 07.05."


Perbedaan waktu Jakarta yang lebih cepat satu jam di banding Singapura, dengan waktu tempuh dua jam ia akan sampai pukul 8 pagi waktu Singapura atau 7 pagi waktu Jakarta.


"Sena lagi dimana? Jemput kamu ngga?"


Ia menarik nafas kembali, padatnya jadwal membuat komunikasi dengan ibunya pun hanya seperlunya, tidak sempat bercerita tentang kuliah dan juga Sena. Ibu nya saja mengerti, sulit sekali membuat Sena mengerti pikirnya.


Ia sudah bersiap sejak pukul 03.00 memeriksa kembali barang yang di dalam kopernya, memastikan tak ada yang tertinggal. Jarak Flat nya dan bandara yang bisa ditempuh 30 menit membuat ia tidak perlu berangkat pagi buta ke bandara.


Jarak Singapura ke Jakarta yang terbilang dekat jika menggunakan pesawat, membuat tidurnya di pesawat tidak cukup menuntaskan kantuknua. Rasanya ia baru memejamkan mata, namun sudah terdengar suara pramugari untuk mengingatkan penumpang bahwa sebentar lagi akan segera landing.


Turun dari pesawat ia pun bergegas mengambil koper yang ia simpan di bagasi. Lalu ia pun keluar bandara segera mencari taksi untuk melanjutkan tidurnya.


Sejak ia meninggalkan menempuh pendidikan di Singapura, terhitung baru dua kali ia pulang. Ia rindu dengan kemacetan Jakarta, karena di negeri singa sana nyaris tidak ada macet.


Mengingat ayahnya yang seorang pilot dan terbilang sering terbang ke Singapura, kebanyakan orangtua nya yang menjenguknya ke Singapura. Ibu nya tentu mendapat harga khusus sebagai keluarga pilot.


"Assalamualaikum."


Ia masuk ke dalam rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat asri. Ayah dan ibunya yang sedang sarapan kala itu refleks melihat ke arahnya.


"Waalaykumsalam. Ya ampun anak Bunda jadi gondrong gini. Disana ngga ada barbershop atau gimana sih Nak?"


Ibunya menyambut nya dengan pelukan dan mengacak rambutnya yang memang sudah terlihat gondrong. Ia terkekeh, menyisir poni rambutnya ke sebelah kiri.


"Boro-boro cukur Bun, mikirin masalah hidup aja ngga sempet.''


Ayahnya yang kebetulan sedang tidak terbang tertawa mendengar keluh kesahnya. Biasanya jika sedang terbang ke luar negeri, tidak akan pulang beberapa hari.


"Masalah hidup kamu apa? Tinggal belajar yang bener, sok-sok an masalah hidup. Paling masalah cewek."


"Aku aktivitas kampus juga Yah, jangan salah."


"Bukan main." ayahnya geleng-geleng kepala tersenyum.


"Capek nggak? Mau tidur dulu atau mau ikut sarapan?"


"Udah tidur tadi di jalan, aku kangen sarapan buatan Bunda."


Ia melirik sajian yang sudah terhidang di meja makan.

__ADS_1


"Sarapan apa nih? Sarapan aku disana udah kaya bule. Roti, sandwich, ngga bikin kenyang. Sampe 3 lapis roti pun I'm not full, aku heran. And then, I drink two glasses of milk lah, baru kenyang."


Gerutuan yang seringkali dirindukan sang Bunda.


"Wisss pangling loh Ayah, dialek nya ya udah kanya bule singpur."


Ia tertawa, tanpa sadar mengucapkan kata yang biasa ia ucapkan dengan temannya yang penduduk asli sana.


"Gimana dialek orang Singapur Yah?"


"Itu tadi di belakang kata nya pakai kata "lah" jadi kaya campuran melayu-melayu nya."


Ayahnya yang sering keliling ke luar negeri menjadi banyak tau kebiasaan warga negara lain.


Ia mengambil piring dan gelas kosong yang sudah tersedia di meja makan. Mengisi nya dengan nasi goreng seafood, acar, dan kerupuk.


"Gimana ceritanya kok bisa udahan sama Sena?"


"Gitu deh Bun." Ia bingung harus menceritakan dari mana. Pandangan nya kemudian beralih kepada ayahnya


"Yah, dulu Bunda suka ngambek-ngambekan ngga sih?"


Ayah dan ibunya tersenyum seolah mengerti penyebab kandasnya hubungan ia dan Sena.


"Namanya perempuan, wajarlah kalau ngambek-ngambekan."


"Tapi Ayah lagi capek nih. Pernah ngga Bunda kaya gitu?"


"Ngga kayaknya ya Yah? Bunda kan pengertian."


Bunda nampak bersemangat ikut dalam obrolan. Namun ia ingin mendengar jawaban dari Ayahnya.


"Sorry Bun, jujur loh ini. Pernah." ayah menjawab ragu-ragu. Bunda tampak cemberut.


"Nah itu gimana biar ngga putus? Aku bawaannya kalau udah cape pengen cepet istirahat aku iyain aja omongan dia. Eh dia ngomong putus, yaudahlah waktu itu aku lagi cape banget. Perempuan tuh ngancem nya dikit dikit putus."


"Gini Mar, perempuan itu diciptakan dari tulang yang bengkok. Kalau mau kamu luruskan harus pelan-pelan, sabar. Kalau ngga sabar gimana coba?"


Ia berpikir. Gimana? ia pun bingung.


"Patah dong. Putus kaya kamu sekarang."


Ahhh.... bener juga batinnya setuju.


"Itung-itung belajar jadi suami. Rumah yang bahagia itu kuncinya ada di istri yang bahagia. Perlakukan perempuan dengan baik. Kalau kamu yakin Sena baik, ya pertahankan. Walau ngga sempurna, namanya manusia ngga ada yang sempurna. Iya ngga?"


Ia mengangguk setuju.


"Gini... misalnya kamu punya rumah, rumah kamu rusak, bocor dimana-mana, kamu ngapain?"


"Benerin dong Yah."


"Exactly. Bukan kamu tinggalin atau beli rumah baru kan? Rumah kamu tambah rusak kalau gitu, bener aja apa bener banget?"


Ia mulai paham dengan perumpamaan yang ayahnya berikan.


"Gitu juga hubungan, kalau pasangan kamu salah, kamu benerin, kamu kasih tau di waktu yang tepat. Jangan didiemin, nanti dia ngga tau salah dia apa jadinya ngga dibenerin malah makin rusak."


Ayahnya ini selalu memberikan perumpamaan yang masuk akal dan mudah dimengerti. Sayangnya karena padatnya jadwal kerja sang Ayah, membuat ia jarang bicara banyak.


"Mantap Captain, makasih Yah.... Bun, besok aku ke Bandung ya?"


Seolah tidak merasakan lelah setelah menempuh perjalanan dari Singapura.


"Boleh..."


Ia tersenyum, semangat nya kembali tumbuh.


*****


Mohon maaf kemarin ngga sempet Up 🙏🙏

__ADS_1


Biar tambah semangat yang mau nyumbang like, Komen, vote, kopi Tau bunga manggaaa 🤩🤩🤩🤩


__ADS_2