Cinta Mita

Cinta Mita
Amarah yang melunak


__ADS_3

Seminggu ini Adit tidak menghubungi Sena, sejak video call terakhir yang diputuskan sepihak oleh Sena. Pikirannya tentang Sena teralihkan dengan fokus tugas dan ujian sebelum libur musim dingin.


Di sisi lain Sena merasa Adit tidak ada usaha untuk membujuknya. Keraguannya terhadap Adit dirasakan kembali, setelah kemarin Adit sempat membuatnya merasa yakin.


Untungnya penerbangan yang Adit pilih sesuai dengan kalender akademik kampusnya. Hingga akhirnya hari ini tiba Adit akan bertolak ke Seattle.


"Hati-hati ya Sen."


Seandainya Sena tau bahwa kalimat yang Adit ketik barusan memiliki makna lain, yaitu aku sayang kamu.


"Pagi Kak. Besok landing jam berapa di SEA ?" (SEA : kode bandara Seattle)


Adit belum tau pasti Sena menggunakan pesawat apa, hingga jadwal penerbangan harus ia tanyakan kepada Rama karena Sena tidak akan menjawab.


"Ngga nanya aja ke Sena? Apa mau kasih surprise ?


Surprise pala lu, Adit membatin.


"Gitu lah."


"Landing jam 12 siang."


"Gua udah di Seattle. Take care and enjoy your flight."


"Thank you adik."


Rama sendiri mengetiknya geli. Sementara Adit membacanya dengan senyuman aneh, adik?


Hari pertama di Seattle Adit habiskan dengan leyeh-leyeh di hotel yang tidak jauh dari bandara karena kepalanya terasa sedikit pusing.


Sejam sebelum waktu landing yang Rama infokan, Adit dengan ipod nya menunggu di pintu kedatangan bersama penjemput lainnya.


Begitu dari arah dalam mulai banyak orang keluar, Adit langsung berdiri mencari keberadaan rombongan Sena.


Sena terkejut begitu melihat Adit berada di antara kerumunan orang-orang di pintu kedatangan bandara. Ia tidak menyangka Adit tetap menjemputnya meski sudah seminggu ini tidak ada komunikasi.


"Loh ini anaknya Mas Bambang kan? Kok bisa disini?"


Pak Romi menjadi orang pertama yang menyadari kehadirannya dan menyapa. Meski Sena juga melihat kehadirannya namun Sena hanya menunduk, enggan untuk melihat apalagi menyapa.


"Eh adik. Rama kan udah bilang ke Papa, Sena lagi PDKT sama anaknya Om Bamwir, sekarang udah jadian."


"Loh Adit yang ini, kirain Adit yang mana, guanteng gini loh. Kuliah disini juga?"


Pak Romi memeluk Adit sama seperti yang biasa ia lakukan jika bertemu anak dari rekan atau koleganya.


"Ngga Om, Adit di Tokyo cuma kebetulan lagi kesini. Alhamdulillah bisa jemput ke bandara."


"Ah sepik, cuap-cuap doang. Janjian ketemuan disini mereka Pah."


"Ih kakak mulutnya ember banget."


Sena menarik tangan Mita berjalan lebih cepat, Adit sempat melirik Sena namun sadar semua mata kini menatapnya.


"Langsung dari Tokyo kesini nya bukan dari Jakarta?"


"Iya Om."


"Papa sehat? Kapan terakhir pulang?"


"Datang ke Tokyo dari Juli, belum pulang lagi."


"Betah dong Adit di Tokyo."


Kini Bu Lia yang bersuara.


Pak Zainal juga ikut menjabat tangan kekasih anaknya beberapa tahun lalu, tidak disangka kini dekat dengan adik Rama.


"Sehat Dit?"


"Sehat Pak alhamdulillah."


Pak Zainal tersenyum mengangguk.


Adit pun menyalami semua satu-satu, termasuk Bu Rini dan Yoga.


"Ga, kuliah kemana? Kelas 12 kan sekarang?"


Adit lebih memilih mendekati Yoga terlebih dahulu, sebelum menuju Sena.


"Iya Mas. Teteh nyuruh ke Politeknik antara Jakarta sama Bandung."


"Kok disuruh Teteh? Kamu nya mau masuk mana?"


Rama ikut bergabung dalam obrolan, tidak rela melihat kedekatan Yoga dan Adit.


"Mana aja Bang, yang penting teknik."


"Coba dulu ITB atau UI, politeknik terakhir. Biaya mah ada teteh, uangnya teteh sekarang banyak. Bos nya RM Food sekarang kan Ibu Mita."


"Aku belum ibu-ibu Abang."


"Kan lagi program biar jadi Ibu."


Rama memasukan tangan ke saku jaketnya karena terasa dingin.


"Tapi manggilnya jangan Ibu Mita, Mbak aja."


"Masa nanti baby manggil kamu Mbak, kan ngga mungkin."


"Selain anak aku, manggilnya Mbak aja."


"Yaudah aku manggil kamu Mbak juga kalau gitu, Mbak Mita."


"Tau ah."

__ADS_1


Semua yang hadir tertawa melihat kejahilan Rama.


"Sen sehat?"


Adit mempercepat langkahnya demi bisa menyusul Sena yang berjalan dengan langkah lebar dan cepat.


"Hmmm?"


"Aku kemarin fokus tugas dan ujian, semoga kamu ngerti."


"Aku selalu ngerti, cuma Mas nya aja yang lebih sering ngga ngerti."


Adit dan Sena bicara dengan pelan agar tidak terdengar yang lain.


"Aku mau belajar. Apa yang harus aku ngerti?"


"Ngga harus ngerti apa-apa. Karena aku sadar posisi aku dimana, jauh."


Ucapan yang pernah Damar ucapkan padanya, mirisnya sekarang Sena yang harus mengatakannya kepada Adit.


"Jangan ngomong gitu, kedengerannya ngga enak di kuping aku."


"Ya kan bener, kenyataannya begitu. Waktu itu aku cuma pengen Mas sebut nama aku, apa sesusah itu? Ngungkapin perasaan kamu aja belum pernah. Artinya apa? Aku ngga berarti apa-apa kan."


"Emang aku yang salah dari awal, aku banyak berharap sama kamu. Sekarang aku udah sadar, aku ngga mau berharap lagi."


"Karena ternyata berharap adalah cara paling sempurna untuk nyakitin diri sendiri."


Adit diam, terus mendengarkan semua ucapan Sena.


"Ohh... lagi berantem."


Rama melewati Sena dan Adit yang sedang bicara tanpa menatap.


"Diem Kak..."


"Lu ikut ke apartemen kan? Udah check out belum? Barang-barang mana?"


"Udah bayar hotel Kak."


Sena menatap Adit, memanggil Rama dengan Kakak? Ngga salah denger?


"Sombong bener, kebanyakan duit. Gua usah sewa apartemen samping gua, masih ada kamar kosong bisa lu isi. Besok nginep di tempat gua. Kalau ngga sekarang aja check out biar ngga ribet."


"Besok aja, nyusul pake taksi. Gua balik ke hotel dulu."


"Yaudah nanti makan malem bareng."


Rama mengerti posisi Adit dan Sena. Hubungan jarak jauh memang lebih banyak lelahnya.


"Sabar, biasalah cewek." Sebelum berpisah Rama merangkul sambil menepuk pundak Adit.


"Siap." Adit tersenyum mengangguk melepas kepergian rombongan yang masuk ke dalam taksi.


"Lho, Adit ngga ikut ke apartemen?"


"Besok udah aku suruh tidur di apartemen." Rama memberikan informasi yang membuat Pak Romi mengangguk.


"Hati-hati, nanti makan malam bareng."


Sudah menjadi kebiasaan kalangan elit, makan malam dijadikan ajang untuk mempererat hubungan, baik keluarga, kerabat, maupun kolega.


"Sen, udah dong marahnya. Aku udah jauh-jauh dateng kesini, kamu diemin. Maaf ya?"


Hanya centang biru, meski sudah menunggu jawaban sejam lebih namun tidak ada tanda Sena menjawab pesan darinya.


Sementara Rama memperhatikan gerak gerik Sena yang seperti biasa, tidak ada beban. Sena sudah memaafkan Adit karena melihat usaha yang sudah Adit lakukan, namun entah mengapa jarinya masih enggan membalas pesan dari Adit.


"Kamu kenapa sama Adit?"


Rama mendekati Sena yang tengah berbaring di karpet depan TV.


"Ngga kenapa-kenapa."


"Heran sama cewek, ngga kenapa-kenapa nya tuh bikin cowok pusing. Sama kayak ini nih."


Rama nguyel-nguyel perut Mita.


"Makanya jadi cowok jangan suka macem-macem."


Mita membela diri.


"Adit macem-macem sama kamu? Kalau macem-macem putus ajalah."


"Eh enak aja kalau ngomong, aku tuh lagi ngasih dia pelajaran supaya peka. Cewek juga pengen di ungkapin kata sayang."


Eitts, Sena keceplosan.


"Eh kamu yang ganjeng berarti ya. Jangan-jangan kamu yang nembak dia duluan? Ya Allah malu-maluin Sen."


"Eh sembarangan, dia lah yang duluan. Udah ah males ngobrolin Adit sama kakak, bahaya."


Sena bangun, masuk ke dalam kamarnya. Sementara para tetua dan Yoga nemempati apartemen sebelah.


"Malem kesini, beresin masalah sama Sena."


Rama mengirim pesan berisi perintah.


"Siap Kak."


Jam 6 sore Adit bersiap menuju apartemen Rama, dengan tujuan ingin menyelesaikan masalah nya dengan Sena. Ternyata ia datang terlalu sore, makan malam yang Rama pesan belum tiba.


"Masih ngga mau ngomong sama aku? Boleh sekarang aku yang ngomong? Dengerin ya."


Adit mendekati Sena yang duduk di karpet.

__ADS_1


"Mau kamu gimana? Harus aku bilang kalau aku sayang kamu? Kemarin sebelum kamu berangkat aku chat kan? Aku bilang hati-hati di jalan, itu artinya aku sayang kamu. Aku ngga mungkin chat perempuan segitu perhatiannya kalau ngga sayang."


"Aku ngga ngerti bahasa-bahasa kode dari kamu."


"Sama aku juga ngga ngerti kode dari kamu, kita impas."


Adit melihat keberadaan Rama yang sedang di kamar bersama Mita, entah sedang melakukan apa. Memastikan kondisi aman, Adit memegang tangan Sena.


"Masih ngga cukup? Masih aku yang salah? Sen, meski mulut aku ngga bilang, kamu harus tau kalau aku sayang kamu, aku kangen sama kamu. Aku pengen nge-date sama pacar aku, bukan marahan. Liat aku coba, aku ngga lirik sedikitpun."


Sena menangis, akhirnya ia bisa mendengar Adit mengucapkan kata-kata yang ingin ia dengar.


"Kenapa nangis? Aku masih salah juga?"


Adit memberanikan diri memeluk Sena. Sadar mendengar tangisan di luar kamarnya, Rama keluar untuk melihat Sena. Melihat Adit sedang memeluk adiknya.


"Sejak jadian apa pernah kamu bilang sayang sama aku? Wajar ngga aku jadi ragu sama kamu? Waktu itu kamu cuma bilang, kamu mau nyoba sama aku. Nyoba apa?"


"Sen, aku open PP, aku sehemat ini buat siapa kalau bukan buat kamu? Aku bela-belain Tokyo Seattle pakai ekonomi, aku rela kaki ku pegel-pegel buat apa? Ngga bikin kamu yakin? Aku pengen ketemu perempuan yang katanya pacar aku sekarang. Ternyata kamu setega ini sama aku, aku didiemin."


"Aku marah karena kamu selalu ngehubungin aku sama masa lalu yang udah susah payah aku lupain. Bahas kita aja jangan yang lain. Kita udah sepakat kan waktu itu?"


Sena mengangguk, ia merasa sudah keterlaluan. Sementara di pintu kamar Rama memperhatikan dua insan yang sedang mencurahkan perasaannya.


"Iya sepakat."


"Aku sayang kamu dengan perasaan aku yang sederhana ini. Maaf kalau harus kaya gini di perjalanan kita. Harus ada orang lain dulu sebelum kamu di hidup aku. Aku ngga bisa menghapus memori yang lalu, tapi aku pengen bikin memori baru sama kamu. Jangan bahas lagi ya?"


Pertama kalinya bagi Adit memeluk Sena seperti ini, menatapnya dengan sangat dekat. Ingin rasanya Adit menghapus airmata Sena membasahi bibir kekasihnya ini.


Begitu Rama melihat gelagat Adit yang melihat Sena dengan ingin, Rama langsung berdehem dengan keras.


"Mata lo tolong dijaga liat adek gue."


"Ngga usah di denger, istri nya lagi haid jadi sirik."


Sena merekatkan pelukannya. Sementara Rama mendengus kesal begitu ingat kemarin saat di pesawat Mita mengeluh haidnya deras.


"Anak kecil sok tau, awas kamu kecentilan. Ayo ke samping, makan dulu."


Rama membangunkan Mita yang sejak tadi tidur karena lelah menangis.


"Kamu gimana sih, kita udah disini malah haid."


Kemarin saat di pesawat Rama menumpahkan kekesalannya. Boat honeymoon malah haid. Amsyong amat !


"Emang aku Tuhan, yang ngatur jadwal haid. Kamu mah tega


banget."


Setelah menyadari kesalahannya yang membuat Mita menangis akhirnya meminta maaf, merasa keterlaluan atas ucapannya yang membuat Mita menangis.


"Maaf aku maksud marah ke kamu, aku cuma kesel."


"Abang tuh jadi sensi kenapa sih? Bener kata Fery kamu tuh kaya ngga aku layanin berapa hari aja. Kalau ngga haid, aku suka nolak ngga?"


Sena yang duduk di belakang nya mendengar obrolan dua pasutri yang adu mulut, obrolan unfaedah menurutnya.


Begitu sampai di apartemen sebelah, Pak Romi memanggil Adit untuk duduk di sampingnya.


"Dit duduk sini."


Adit melepas tangannya yang sejak tadi menggengg jari Sena.


Rama tertawa melihat perubahan raut wajah Adit.


"Ngambil jurusan apa?"


Pertanyaannya menjurus ke masa depan. Mungkin takut anaknya dibawa susah, baton Adit.


"Teknik elektro Om."


"Habis lulus rencana mau kemana?"


"Lihat peluang nanti aja sih Om. Kalau senior-senior di kampus kebanyakan di BUMN, banyak juga perusahaan besar swasta."


"Dia mah ngga kerja juga bisa seriusin bisnis nya Pah. Asetnya ngga kaleng-kaleng. Waktu Rama seusia Adit, usaha Rama masih bayi."


"Ngga Om, berlebihan. Bisnis Adit masih kecil banget, sekarang di handle Ibu sama Mas Abi."


"Abi itu yang kemarin nikah?"


"Iya suaminya Fima Pah."


Acara makan malam hari itu terasa hangat. Adit sudah bisa tersenyum karena di luar bayangannya, Park Romi bisa welcome kepadanya.


"Nginep sini aja, udah malem. Besok pagi abis sarapan ke hotel buat check out. Gua wisuda lusa."


Apakah Rama selalu bersikap seperti in kepada orang lain? Lebih terdengar seperti perintah daripada saran.


Acara the boys yang beranggotakan Rama, Adit dan Yoga, malam itu dilanjutkan dengan main PS bersama.


Sementara Sena dan Mita asik browsing mencari tempat wisata dan makan yang akan ia kunjungi besok.


"Besok jalan berdua bisa ngga?"


Begitu giliran Rama dan Yoga main, Adit mendekati Sena.


"Enak aja lu jalan berdua di US?Langkahin dulu mayat gua kalau mau jalan berdua."


"Yesss gooool." Yoga memanfaatkan peluang disaat fokus Rama terbagi.


"Ah kemasukan kan, Adit sih nih bikin ngga fokus."


Sena dan Adit tertawa.

__ADS_1


"Makanya jangan rese. Besok jadi boleh aku berdua sama Adit titik."


__ADS_2