Cinta Mita

Cinta Mita
Penebus Dosa Mita


__ADS_3

"Kita jalan aja ya?"


Sejak tadi Adit menatap Sena dengan hati berbunga-bunga. Hingga membuat Sena salah tingkah ditatap sedemikian rupa.


"Kenapa ngga naik taksi aja?"


"Biar nyampe nya lama."


Adit tidak ingin menutupi isi hatinya hari ini. Ia biarkan bibirnya tersenyum sepanjang hari tanpa rasa malu, meski tadi sempat digoda oleh staf KBRI senior.


"Bumil aman kalau kita jalan?"


Sena meyakinkan kondisi Mita. Tidak ingin Mita kelelelahan karena terlalu jauh berjalan.


"Eh iya, kalau capek kita bisa naik taksi."


Terlalu senang dengan kehadiran Sena, Adit sampai terlupa bahwa ada Mita di samping kekasihnya.


"Aman tenang. Aku juga pengen jalan, suasananya enak banget buat jalan sore gini. Sayangnya Abang ngga bisa ikut."


Meski musim panas, tapi entah mengapa tidak terasa terlalu panas.


"Kakak kenapa ngga ikut?"


"Bos lagi syibuk."


Perusahaan dengan karyawan ratusan orang tentu bukan perusahaan kecil. Jika ditotal dengan 7 restorannya, maka jumlah karyawan Rama mencapai 1000 lebih. Dengan gaji UMR saja, Adit bisa menghitung minimal omset bulanan Rama. Belum lagi perekrutan staff management baru. Isi kepala Rama sudah bukan hal sederhana.


Mita akhirnya video call Rama yang masih makan siang di ruangan. Dengan penuh senyuman, Mita memperlihatkan landscape di Shibuya dengan banyaknya gedung namun ramah pejalan kaki. Tidak seperti Jakarta.


"Keren banget, Ayang. Aku kaya lagi liat wallpaper."


"Betah di sana?"


Rama tersenyum melihat Mita tersenyum senang.


"Betah banget. Tapi inget Ayang terus."


"Aku nya inget kamu terus soalnya."


Sena tersenyum, membiarkan Mita bahagia video call dengan Rama.


"Gini ya rasanya disusulin."

__ADS_1


Adit memainkan alisnya menggoda Sena. Sesekali menyenggol pinggang Sena dengan pinggangnya. Membuat Sena salah tingkah untuk kesekian kalinya.


"Gimana rasanya? Seneng ngga?"


Senyuman Adit tidak hilang barang sedetik sejak awal bertemu Sena hari ini. Pekerjaannya yang terasa monoton menjadi begitu indah. Bahkan pusingnya tadi langsung hilang. Sena memang obat terbaik untuk hidupnya.


"Seneng buangettt."


Adit menjawab dengan logat jawa medhok nya. Dengan hati yang berdebar tak karuan.


"Tau aku di sini dari mana?"


Adit memperbaiki rambut Sena yang tertiup angin. Sesekali mencuri cium rambut dan kening Sena saat Mita mengarahkan pandangan ke lain arah.


"Dari Hiro."


"Hiro?"


"Iya tadi pagi Hiro jemput aku ke Bandara."


"Parah sih kontakan sama cowok selain aku."


Wajah Adit berubah cuek begitu tau Sena komunikasi dengan laki-laki selain dirinya.


"Ngga usah di surprise juga aku seneng. Bahkan harusnya senengnya dari kemarin-kemarin pas tau kamu mau kesini. Sekarang malah kesel."


"Ihhh kok kesel."


Sena membalas dekapan tangan Adit yang baru saja Adit lepaskan sambil berjalan menuju kedai ramen favorit Adit.


"Kesel pacarnya dijemput orang."


"Jangan kesel, nanti aku pulang."


"Siapa yang berani bawa kamu pulang? Ngga boleh pulang."


Setelah selesai laporan kepada bos besar, Mita sengaja berjalan di belakang pasangan yang sedang dimabuk asmara. Mita tersenyum, membiarkan Adit bahagia dengan Sena untuk menebus dosanya yang lalu. Membiarkan Sena dan Adit hari ini melepaskan kerinduan beberapa bulan tidak bertemu.


"Playing victim banget. Yang tadi deket-deket sama cewek siapa yang jadi ngambek jadi siapa."


"Kalau aku bisa milih, mendingan kerja kaya Kakak daripada kerja kaya aku gini."


"Beneran?"

__ADS_1


"Boongan. Ya beneran ngapain boong."


Sena berjinjit untuk mencium pipi Adit.


"Jangan marah, udah aku cium lho ini."


Mita ingin melarang, tapi entah mangapa ia pun senang melihat Adit dan Sena.


"Kurang."


Adit berubah tersenyum. Sena balik mencubit pinggang Adit.


"Yaudah selesai kuliah, kerja di pabrik sama Kakak aja. Panas aku juga ngerasainnya Mas deket-deket sama cewek terus."


"Tapi sayang sih uangnya. Gimana dong?"


Ada candu tersendiri dalam menggoda Sena. Adit menikmati respon kecil Sena saat protes.


"Tuh kan, menikmati kan dideketin cewek-cewek!"


"Nanti aku pensiun kalau tabungan aku udah banyak."


"Bener ya??"


"Iya Non Sayang."


Adit merangkul Sena dengan kedua tangannya. Memposisikan dagu nya di bahu Sena sedemikian rupa.


Mita baru menyadari, ia sudah senyum-senyum sendiri menyaksikan pasangan gemas di hadapannya.


"Masih jauh ngga, Dit?"


"Lima menit lagi nyampe. Teteh mau naik taksi? Kita bisa pesan taksi disini."


"Ngga ngga, masih aman."


"Kita mau makan dimana sih?"


"Ada namanya Gyoen Ramen Ouka. I think the best halal ramen halal here."


"Mantap."


Komen singkat dari Mita, karena Sena tidak bisa berkata-kata dengan segala tingkah Adit hari ini.

__ADS_1


Sena begitu bahagia sekarang, bisa datang ke Tokyo untuk Adit. Sepertinya ia tidak salah orang.


__ADS_2