
"Ini aku ganggu ngga video call?"
"Ngga santai aja Mas."
Entah mengapa hatinya kini deg-degan, patut dicurigai batin Adit.
"Kalau ganggu bilang aja, anak ITB kan terkenal ambis banget." (ambis : ambisius)
Sena tertawa, memang teman-teman sekelasnya tiada hari tanpa belajar. Yang menjadi obrolan saat jam kosong pun sama, hanya tugas, dan hal yang berhubungan dengan kuliah, berat. Hanya beberapa di antara temannya yang tergolong normal, bisa diajak hangout. Yang lainnya belajar dan organisasi.
Sementara Sena sendiri tidak begitu tertarik dengan dunia organisasi, sedikit nolep. (nolep : no life : tidak memiliki kehidupan sosial).
"Iya sih, kecuali aku kayaknya. Aku mah belajar ya belajar, drakor tetep, hangout tetep."
Adit pun menanyakan acara akad Mita dan Rama.
"Acaranya kemarin lancar?"
Jujur Adit penasaran dengan Mas kawin yang Rama berikan, apakah mobil mewah?
"Lancar alhamdulillah. Nanti sore mau anterin aku balik ke Bandung, sekalian honeymoon semalam di Bandung."
Mendengar kata honeymoon, masih ada sedikit percikan di hati Adit.
Tentunya honeymoon bukan hanya pegangan tangan bukan? Adit tidak mampu membayangkan sebahagia apa kehidupan Rama setelah menikahi Mita, gadis yang masih ada di hatinya.
"Mas kawin Rama buat Mita apa?"
Pertanyaan yang sebenarnya tidak sopan untuk ditanyakan.
Sena tersenyum kecut, rupanya Adit belum mampu move on. Namun Adit tidak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
"Standar lah Mas, alat shalat, perhiasan emas, sama fine gold." (fine gold : emas murni)
Fine gold? Menarik. Beratnya pasti bukan kaleng-kaleng pikir Adit. Namun Sena tidak berniat menyebutkan berat fine gold yang Rama berikan. Untuk apa?
"Mas ngga bakal move on kalau yang kita bahas dari tadi cuma mereka. Mita udah jadi istri orang, ih kesel aku tuh." lanjut Sena blak-blakan, yang membuat Adit tertawa.
"Terus kita bahas apa?"
"Kuliah Mas gimana?"
"Kuliah aku biasa aja."
Kini Adit merasakan yang Rama sempat rasakan, pergi keluar negeri agar bisa melupakan Mita. Bedanya, sekarang keberuntungan berpihak kepada Rama karena akhirnya mereka menikah.
Rasanya percuma menemani Adit, pikir Sena. Karena Adit tidak terlihat memiliki usaha untuk move on.
"Aku siap-siap dulu ngga apa-apa kan Mas? Kakak udah sampai, mau antar aku balik ke Enin."
Sena sedang tidak mood membahas orang lain, padahal ada dia yang menemani Adit. Boleh kan sedikit egois?
Ternyata Sena sudah berharap.
...Ikhlas itu bohong, yang ada hanya terbiasa tanpa kehadirannya....
Sena menarik nafas, membaca story Whatsapp Adit setelah ia memutuskan sambungan video call Dari Adit.
Tiba-tiba rasa malas mendera, boleh ngga sih balik nya besok aja? Sena mengacak-ngacak rambutnya.
Akhirnya Sena memutuskan untuk tidur, karena mood nya sudah rusak.
Entah sudah berapa jam Sena memejamkan matanya, sampai ada seseorang yang memanggil namanya dari balik pintu kamar nya.
"Malah tidur. Ayo berangkat, kalau kesorean kena macet."
Kemudikan Sena masuk tanpa menjawab ucapan Rama. Lalu membereskan pakaiannya, laptop, buku, dan printilan lainnya yang Sena bawa seperti charger, ikat rambut, dan lain-lain.
Rama memperhatikan adiknya dari pintu kamar.
"Ya ampun belum beres-beres? Kelamaan video call sama Adit kamu tuh."
Rama meninggalkan Sena kesal. Ia sudah membayangkan bersantai di hotel dengan pemandangan pepohonan yang hijau dan adem. Hotel yang Sena booking adalah hotel bintang 5 yang terletak di daerah Ciumbuleuit, suasana yang cocok untuk pasangan pengantin baru.
Mengingat ini hari Sabtu, jalan Jakarta Bandung macet di tol Cipali. Rama melepaskan cengkraman tangannya yang sejak tadi memegang setir, kini ia ambil telapak tangan istrinya.
"Mimpi apa aku semalem jadi nyamuk begini. Tau gini aku minta jemput Mang Kosim. Apes."
Sena menghempaskan tubuhnya, mengambil airpods di dalam tas kecil yang berisi printilan barang pribadi.
"Jangan salahin aku jadi honeymoon di mobil. Kamu nya kelamaan jadi keburu macet."
Rama menghadapkan tubuhnya miring ke arah Mita, sambil mencium tangan istrinya tersebut. Sebenarnya Rama ingin lebih, tapi karena kehadiran Sena, Rama sedikit mengontrol hawa naf su nya. Namun di mata Mita, bahasa tubuh Rama tidak bisa berbohong.
__ADS_1
Mita tertawa.
"Rambutku ini masih basah loh sayang."
"Emang kenapa kalau masih basah? Aku ngga boleh cium tangan?"
Rama merasa Sena masih bisa mendengarkan ucapannya meski sudah menggunakan airpods.
Diam-diam Sena memperhatikan Mita, mengamati apa yang membuat wanita itu menjadi begitu istimewa di mata kakaknya dan Adit. Hingga Adit bisa sesulit itu move on dari Mita.
Mita mengambil ponselnya yang bergetar di dalam tas. Sejak kemarin ada dua nama yang selalu mengirim pesan kepada Mita, yang disimpan dengan nama Lingga dan Poltek Faiq. Sebuah nama yang masih asing bagi Rama, sehingga mengganggu pikirannya.
Wajah Rama mengeras melihat Mita mengetik pesan dengan senyuman. Begitu Mita meletakan ponselnya di dashboard mobil segera Rama ambil.
"Ini pin nya apa?"
Ngecek ponsel istri tidak masalah bukan?
"Kamu ngga pernah cerita tentang temen cowok kamu yang ini."
"Masa harus aku ceritain semua, kebanyakan sayang, ngga penting juga. Lingga tuh komti (komandan tingkat) kelas aku. Dosen pembimbing kita juga sama, jadi suka sharing."
"Temen kamu yang lain, kamu tulis ada embel-embel yang lain. Ini nih JMP Irma, JMP Niken, ini si Lingga ngg ada pake nama JMP." (JMP : jaminan mutu pangan - jurusan kuliah Mita)
Rama membaca pesan yang di aplikasi whatsappa milik Mita.
"Itu dia sendiri yang nyimpen nomer nya di HP aku."
Rama memalingkan wajahnya, merasa ada yang salah.
Gimana bisa orang lain pegang barang pribadi kita seperti ponsel?
"Ini Poltek Faiq temen yang mana lagi?"
Nada suara Rama kini meninggi.
Mita merasa Rama seperti anak kecil, mempertanyakan hal yang tidak penting.
"Mahasiswa yang magang di maintenance, anak Poltek Malang. Dia nanyain aku kemana aja ngga keliatan."
Rama terus menscroll pesan dari Faiq. Kemacetan kali ini ia manfaatkan dengan baik.
"Kamu apaan sih bikin ngga mood jadinya. Sayang jalan, mobil depan udah jalan."
"Aku belum beres liat HP kamu. Jangan dulu diambil, nanti kamu hapus."
Rama menjalankan mobilnya pelan, ternyata kemacetan masih mengular.
Beberapa hari menikah, baru kali ini Rama membuka ponsel Mita. Ternyata ada banyak chat Mita dengan laki-laki. Namun yang tidak ia kenal hanya dua nama tadi.
"Kita nginep di Enin aja deh, ngga usah ke hotel. Aku udah males."
Rama pura-pura fokus nyetir, tidak mempedulikan ucapan Mita.
"Kenapa sih penganten baru, udah berantem lagi aja."
Sena membuka airpods nya. Melihat sesuatu yang tidak beres sepertinya sedang terjadi.
"Kalau mau liat HP aku sok aja liat ngga ada yang aneh, tapi jangan kaya razia gitu aku ngga suka. Aku juga ngga ada niat hapus chat aku, chat biasa semua."
"Aku nanya nya biasa aja Mit, aku kan nanya siapa. Wajar ngga suami nanya istrinya? Kamu tanya Fery, tiap dia pulang ke Bandung dia juga suka ngecek HP istri nya."
Rama memanggil namanya dengan Mita kembali, Rama marah.
Mita mengambil nafas pelan, mencoba mengalah seperti yang pernah Bu Rini katakan.
"Itu tandanya Abang sama Fery ngga percaya sama istri."
"Ya obrolan yang ngga penting ngga usahlah di bales. Buat apa sih? Kamu udah nikah."
"Aku capek mau tidur."
Mita memejamkan matanya, menggeser kursi nya hingga senderannya menyudut sekitar 120⁰.
"Macet apa sih ini dari tadi ngga jalan."
Rama menekan-nekan klakson tidak sabar.
"Sabar sayang..."
"Perlu aku blok ngga nomor dua orang ini?"
Rama menatapnya tajam. Mita baru paham sifat pencemburu Rama sebegitunya.
__ADS_1
Rama sudah keterlaluan.
"Ngga sopan dong Bang. Aku ngga akan bales lagi chat mereka lagi."
"Panas yaaa." Sena jengah melihat Rama yang menurutnya lebay persis seperti Damar yang beberapa waktu lalu menjadi sangat pencemburu.
Mobil pun menyentuh garasi Enin sebelum Magrib.
"Kirain Enin, Sena ngga mau balik lagi ke sini."
Rama dan Mita mampir sebentar di rumah Enin, bertemu dengan Wa Ideng dan Wa Cucun yang mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Mita.
"Tidur disini? Biar dibersihin dulu sama Cucun."
Enin bertanya kepada Rama.
"Rama mau nginep di hotel Nin, voucher hotel dari Sena."
"Dimana hotelnya?"
"Di Padma Nin."
Mita menjawab se-sopan mungkin.
"Meni gaya budak ayeuna. Padma Ciumbuleuit mah didinya, sagala ka hotel." (Gaya banget anak sekarang. Ciumbuleuit disana, ke hotel segala)
Di dalam mobil Rama masih banyak diam, hanya sesekali menjawab ucapan Mita.
"Kamu masih niat ngga ke hotel? Kalau ngga pulang aja ke apartemen."
"Aku udah confirm ke hotel, ngga bisa di reschedule." (reschedule : ganti tanggal menginap)
Rama menjawab pelan. Mita sedikit merasa pusing melihat Rama yang masih menyebalkan di matanya.
Begitu sampai hotel, petugas hotel dengan sigap membantu membawakan tas dan koper kecil milik Rama.
Keunikan dari hotel ini adalah letak lantai nya terbalik. Pada umumnya lantai 1 terletak di lantai dasar, namun di hotel tersebut terletak di lantai paling atas. Begitupun dengan lobi hotel, berada di lantai paling atas, sehingga pemandangan hijau langusng tersaji begitu masuk ke lobi hotel karena di kelilingi pohon-pohon hijau yang tinggi.
Begitu masuk ke dalam kamar hotel, honeymoon vibe begitu kental terasa karena Sena udah request honeymoon setup dengan tempat tidur yang dipenuhi bunga, balon-balon cantik dan slice cake bertuliskan "happy honeymoon".
Sena, you made my day, batin Rama.
"Makasih Dek."
Rama mengetikan pesan untuk Sena.
"Jangan ngambek-ngambekan lagi, kasihan kakak ipar aku dibentak. Mendingan bikin ponakan yang lucu buat aku."
Benarkah tadi ia membentak Mita? Rama mengingat-ngingat ucapannya kepada Mita selama Perjalanan dari Jakarta ke Bandung.
"OTW." balasan terakhir untuk Sena
Rama mendekati Mita yang sejak tadi menjadi lebih banyak diam, kini ia sedang memainkan ponselnya sambil berbaring di tempat tidur.
"Tadi aku bentak kamu? Kapan?"
Mita mengangguk. Rama merengkuh wajah Mita ke dalam pelukannya.
"Maaf ya."
Kini amarahnya luruh bersama airmita Mita yang menetes.
"Kamu gimana coba perasaannya kalau aku nuduh kamu ada perempuan lain? Sedih ngga? Marah ngga?"
"Tapi kamu ngga marah."
"Karena aku pengen jadi istri yang baik. Aku ngalah sama kamu walaupun aku ngerasa ngga salah. Itu aku lagi waras, coba aku lagi nyebelin juga kaya kamu gimana?"
"Ya maaf... Kamu nya jangan senyum-senyum kalau bales chat orang. Aku ngga suka."
Aaaaa... Jadi ini akar permasalahan dari cemburu Rama yang berlebihan.
Kini Rama semakin rapat, ditengah suasana yang mendukung.
"Besok-besok aku nangis kalau ada yang chat aku biar kamu ngga marah. Gitu?"
Rama tertawa lalu masuk ke dalam baju Mita karena gemas melihat Mita yang sedang kesal.
"Udah marahnya, aku udah minta maaf. Sena minta dibuatin keponakan yang lucu. Buat yuk."
Sedih nya berganti tawa. Rama mengajaknya menikmati kembali surga dunia yang sepertinya tidak pernah membuat Rama puas.
*****
__ADS_1
Jangan dibayangin Rama sama Mita mau ngapain, ngga bakal kuat 😂😂