Cinta Mita

Cinta Mita
Rencana Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Mita keluar ruangan memanggil Rama untuk masuk ke dalam ruangan


"Abang, masuk."


"Hah?"


Rama tidak mengerti.


"Disuruh dosen aku masuk."


"Lho ngapain?"


Teman-teman Mita yang sedang menunggu ikut terheran-heran. Ada keperluan apa pacar Mita dipanggil masuk? pikir mahasiswa lainnya.


"Assalamualayum. Selamat siang Bapak, Ibu."


Rama ikut berdiri bersama Mita.


"Waalaykumsalam. Apa kabar Mas Rama?"


"Baik Ibu. Kemarin saat inspeksi ke pabrik ngga sempat ketemu Saya ya Bu."


Rama melipat tangannya ke dada. Meski kikuk namun tetap memasang senyum menawannya.


"Iya, Saya cuma lihat fotonya aja di ruang direksi."


"Hebat masih muda sudah punya perusahaan sendiri. Saya kira Mbak Mita menikahnya dengan Bapak-bapak yang lebih senior usianya."


Komentar Pak Arif sedikit banyak membuat Rama mengerti situasi yang terjadi.


"Iya Pak. Berawal dari iseng aja sebenernya. Alhamdulillah usahanya tumbuh. Insya allah nanti saya mau mengadakan syukuran pernikahan, semoga Bapak dan Ibu berkenan untuk hadir."


"Hebat, Saya salut."


Percakapan tersebut tidak lama, karena masih ada 5 orang mahasiswa lagi yang akan di uji.


Rama pun teringat goodie bag di bagasi mobil yang ia bawa. Sehari sebelumnya Rama meminta Fery menyiapkan goodie bag untuk dosen Mita sebanyak 10 buah.


"Saya bawa sedikit goodie bag dari pabrik, mohon izin untuk ambil dulu sekaligus pamit."


Mita bisa bernafas lega. Sidangnya kali ini hanya sebatas membahas pernikahannya. Sekali lagi, ini adalah berkat dari ke-Maha Baikan Allah kepadanya.


"Susah ngga pertanyaannya tadi?"


Rama merangkul Mita begitu keluar dari ruangan.


"Cuma satu pertanyaan coba, Bang. Kalau kaya gitu doang ngapain aku belajar sampai jungkir balik."


"Kok bisa cuma 1 pertanyaan?"


"Karena pembahasan aku detail. Jadinya mereka mengganggap aku ngga perlu diuji lagi. Gila kan?"


"Itu berkat belajar kamu juga. Kalau kamu ngga belajar mana bisa bikin pembahasan yang detail?"


Rama mengacak-ngacak rambut Mita.


"Iya sih."


Mita tersenyum, teringat sesuatu.


"Finally, Tokyooo."


"Kok Tokyo?"


"Awas aja kalau lupa sama omongan sendiri."


"Omongan yang mana?"


"Aku boleh beli sushi di Tokyo setelah sidang. Masih lupa?"


Rama seolah cuek, padahal sedang memutar otak. Bagaimana caranya meninggalkan pabrik yang akan mengadakan audit eksternal. Ke Jepang tidak mungkin dua atau tiga hari bukan?


"Oh itu... Inget inget. Nanti Fery atur jadwal dulu ya."


Di parkiran terlihat seorang laki-laki muda yang menggunakan seragam office boy sedang menyapu.


"Kang, punten bisa minta tolong?"


Rama menyapa Mang Aep, office boy kampus. Meminta bantuan untuk menurunkan goodie bag yang jika ditotal beratnya mencapai 30kg.


"Kamu tunggu di mobil aja. Aku antar bingkisan dulu."

__ADS_1


Rama membukakan pintu mobil untuk Mita.


"Pacarnya Neng Mita ya Mas?"


Mita cukup populer di jurusannya. Meski tidak se-famous Sena yang dikenal ke penjuru kampus.


"Alhamdulillah udah jadi suami. Nanti kalau saya resepsi dateng ya Kang."


"Resepsi dimana Mas?"


"Yang deket aja, kemungkinan di IICC." (IPB International Convention Centre)


Sudah sejak lama Rama mengincar IICC. Selain letaknya dekat dengan kampus, IICC juga menyerupai ballroom yang menyatu dengan Mall Botani Square. Sehingga terkesan simple, tidak terlalu eksklusif.


"Pasti datang kalau Saya diundang."


"Undang atuh, Saya yang ngundang langsung."


"Siap, makasih Mas."


Meskipun baru pertama bertemu, Mang Aep sudah bisa menerka bahwa Rama bukan orang sembarangan. Terlihat dari cara berjalan, menyapa, dan berinteraksi. Penuh wibawa dan kharismatik. Seperti seorang bos yang disegani bawahan, terkecuali Fery tentunya.


"Ambil buat Akang satu."


Rama memberikan goodie bag untuk Mang Aep, hingga membuat Mang Aep yang bukan siapa-siapa merasa tersanjung.


Rama kembali mengetuk ruangan sidang, lalu menyimpan 9 goodie bag yang tersisa untuk para dosen.


"Terima kasih banyak, Mas Rama."


"Sama-sama Ibu. Saya permisi."


Rama bisa bernafas lega, pendidikan Mita selesai. Tinggal satu langkah lagi menuju wisuda, acara ceremonial kelulusan.


"Hebat Mamim lulus. Selamat ya Sayang."


Rama langsung memeluk Mita begitu kembali ke mobil.


"Makasih, suami terhebat di seluruh dunia."


"Makan ya? Bumil harus makan banyak."


Rama tersenyum, teringat sesuatu.


"Tempat pertama kita ketemu kan?"


Rama teringat Mita tiga tahun lalu yang masih lugu dan malu-malu.


"Diinget-inget aku ganjen banget dulu ke kamu."


Saat itu Rama benar-benar gercep.


"Ihh akhirnya nyadar."


"Untungnya ganjen ke orang yang benar."


Rama mengulum senyum sambil mengangkat alisnya.


"Besok Abang pulang kantor jam berapa? Anter beliin Yoga motor."


"Akhirnya doa Yoga terkabul. Sabtu aja ya, besok aku lembur dulu. Dia kapan pengumuman?"


"Nanti malem."


"Deg-degan banget itu."


"Iya kaya waktu aku, sakit banget pas di tolak."


"Ternyata Paramitha Zainal pernah ditolak. Luar biasa..."


"Emang Abang ngga pernah di tolak?"


"Tolak? Apa itu ditolak."


Jawab Rama dengan jumawa.


"Bapak lupa? Saya pernah menolak Bapak mohon maaf."


"Beda itu mah. Bukan ditolak, cuma waktunya kurang tepat."


"Ihh bisa banget."

__ADS_1


Mita tidak terima ketidakadilan ini.


"Lho iya kan? Kamu nolak nya bukan karena ngga suka sama aku, tapi karena ngerasa ngga pantas. Iya kan?"


"Iya deh, si paling tidak pernah tertolak."


Rama mencubit pinggang Mita, terhibur dengan respon polos Mita.


Mita mengambil semua daging-dagingan karena merasa lapar. Seolah balas dendam karena beberapa bulan ini tidak bernafsu makan karena terlalu memikirkan sidang.


"Habis ngga? Ambilnya satu-satu dulu."


Rama takut bernasib seperti Yoga tiga hari lalu, yang mual-mual karena karena kebanyakan makan. Korban dari lapar mata Mita di mall saat mencoba beberapa makanan hits.


"Habis, Papip Sayang."


Untuk berjaga-jaga, Rama tidak mengambil apapun. Namun keraguannya hilang tatkala melihat Mita dengan lahap.


"Kamu ngga makan dari kemarin ya? Habis segini banyak."


Rama geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Aku plong tau ngga sih habis sidang. Kemarin-kemarin aku kepikiran terus sidang. Ngerti ngga sih?"


"Oh gitu, ngobrol dong."


Rama bangun mengambil beberapa makanan. Karena Mita sudah aman, ia tidak perlu menghabiskan makanan Mita.


"Mau ngambil apa?"


"Semuanya. Lihat kamu makan, aku jadi laper."


"Aku ambilin."


Semenjak morning sickness mendera, Mita jarang melayani Rama karena lebih banyak berbaring di tempat tidur. Malah, Rama yang lebih banyak membantu pekerjaan rumah.


"Kamu diem aja kenapa sih. Biar aku aja, nanti kamu kecapean."


"Ih biarin aku aja yang ambilin."


Rama tidak bisa berkutik, karena Mita telah bangun dari kursi. Meski ia senang dilayani Mita, namun ia tidak ingin Mita lelah.


"Kapan ke Jepang nya?"


"Wisuda emang kapan?"


"Belum ada pengumuman sih. Tapi biasanya gelombang pertama itu Agustus."


"Biar kamu santai, habis wisuda aja ya?"


"Ih kan diundur lagi. Ngeces lho nanti anaknya pengen makan sushi disana."


"Aku pengen resepsi dulu."


"Kenapa segitu pengennya resepsi? Ngabisin uang kalau buat aku mah. Tau ngga sih, biaya resepsi nya orang kaya itu bisa untuk membiayai kuliah sampai lulus satu orang anak bahkan lebih. Pertama kali aku lihat resepsi yang mewah, pas resepsi nya Mas nya Adit. Pas aku tau biayanya gila sih."


Mita geleng-geleng kepala dengan mulut penuh makanan. Pemandangan yang jarang sekali terjadi.


"Kita ngga perlu maya gitu, dederhana aja. Di IICC ngundang teman dekat dama saudara kamu."


"What? Dari sudut pandang mana, resepsi di IICC itu dibilang sederhana? Kalau Abang mau tau, IICC itu biasa dipakai untuk acara penting pemerintahan, seminar besar, bahkan resepsi orang-orang penting. Sederhana dari mana coba?"


"Terus kamu mau nya gimana? Resepsi di sini?"


"Nah boleh juga. Yaudah aku mau resepsi kalau di sini acaranya. Pertama, ini kan salah satu tempat bersejarah buat kita. Kedua, ngga mewah-mewah banget. Yang kita undang temen kampus aku lho Sayang, bukan presiden."


"Kan ada dosen sama saudara kamu juga."


"Masih oke kok, lagian bukan resepsi aku bilangnya. Syukuran aja, sebagai syiar bahwa kita sudah menikah. Walaupun sekarang udah ada instagram sih sebenernya. Post foto nikahan aja, beres."


"Hidup ngga se-simple itu Mamim Sayang."


"Kalau mau dibuat ribet ngga apa-apa, tapi di sini. Di sini atau ngga sama sekali."


Rama nampak berpikir beberapa saat. Melihat dengan serius sekeliling ruangan. Sambil membayangkan konsep yang akan digunakan.


"Oke di sini ngga apa-apa. Mau kapan? Langsung bayar aja, biar ngga ribet."


"Aku tuh gemes sama sultan satu ini, main bayar-bayar aja. Di obrolin dulu sama Mama Papa tanggal nya. Kalau Papa Mama ngga bisa dateng gimana? Acaranya juga mau gimana? Siapa aja yang diundang, berapa orang? Ihhh aku mah gemes da, jadi laper lagi kan."


Rama tertawa hingga tidak terkontrol dengan kalimat terakhir Mita. Dan tawanya semakin meledak begitu melihat Mita bangun mengambil daging untuk dibakar kembali.

__ADS_1


__ADS_2