
Fery
Ia tersenyum saat mendapat panggilan telepon dari seseorang. Sahabatnya yang sudah lama tidak sailing menghubungi.
Setelah mengenal hampir tujuh tahun lamanya, baru Kali ini ia melihat Rama sepusing itu karena perempuan. Dan tadi dia bilang apa? Anak asuh ibu nya?
Memang benar kata orang, kita bisa menjadi motivator yang baik untuk orang lain. Namun ketika hal tersebut menimpa kita, kita sendiri belum tentu mampu menerima atau konsisten dengan apa yang pernah ucapkan untuk orang lain. Seperti yang hari ini ayahnya Rama rasakan.
Ia bisa menjadi contoh untuk segala kebaikan yang pernah ia berikan untuk orang lain. Bahkan ia sendiri pernah dibantu keluarga Rama tanpa meminta timbal balik sedikitpun. Hal itu yang membuat nya mandiri, berdiri di atas kaki nya sendiri hari ini.
Empat tahun lalu ia terbiasa berada di zona aman seperti Rama saat ini. Semua keinginan dan kebutuhannya terpenuhi, namun seketika kehidupannya berbalik 180Β° saat ayahnya meninggal. Usaha yang bertahun-tahun dibangun oleh ayahnya seketika kolaps karena ibu, kakak perempuan, dan dirinya tidak bisa meneruskan usaha ayahnya tersebut.
Rumah dijual, cicilan yang harus dibayar tentu saja bagai bayang-bayang, mau tidak mau satu per satu harta peninggalan ayahnya dijual. Terkahir rumah yang mereka tempati harus ikut berpindah kepemilikan. Ia dan keluarganya pindah ke rumah yang lebih kecil dan lebih murah untuk menutupi keperluan sehari-hari.
Ia yang saat itu tingkat akhir terancam berhenti kuliah. Penghasilan dari bekerja kakak nya tidak mencukupi keperluan kuliahnya.
Namun Allah masih baik padanya, Rama yang kala itu sahabatnya di organisasi kampus menawarkan tempat tinggal di rumahnya. Rama dan keluarganya menampung dirinya selama hampir 9 bulan lamanya. Sehingga ia terbebas dari uang sewa kosan dan makan. Bahkan ayahnya dengan sukarela membantu membiayai uang SPP semester akhir dan menanggung biaya penelitian dan kebutuhan skripsinya. Jika dihitung berapa hutangnya pada keluarga Rama?
__ADS_1
Sudah lama ia rindu dengan sahabat dalam suka duka nya itu. Namun kesibukannya di kantor membuat ia lupa dengan dunia lain, termasuk teman-teman di luar lingkungan kantor.
Ia menunggu Rama di salah satu kafe baru yang sedang hits di kalangan eksekutif muda seperti dirinya dan Rama. Satu jam menunggu akhirnya orang yang ia tunggu pun tiba.
''Kangen banget gua Fer. Anjay tingali kinclong kieu salaki batur.'' (liat kinclong banget suami orang) Rama menyadari kehadirannya terlebih dahulu.
Rama memperhatikan ia dari ujung kepala hingga ujung kaki, menyikut lengannya menggoda.
"Ngaca atuh sorangan necis kieu, the real tua-tua keladi makin tua makin jadi. ABG ge insecure ningali didinya."
Mereka berpelukan melepas rindu. Bertukar cerita tentang yang mereka lakukan beberapa tahun ke belakang.
"Eweuh lah babaturan kaya lu mah Ram."
"Penjilat, teu hayang ngadenge.''
Rama memang tidak pernah nyaman jika Fery menyanjung atau mengungkit kebaikannya. Baginya pujian kebaikan yang sudah ia lakukan tidak sebesar sanjungan Fery untuknya.
__ADS_1
"Kawin atuh kawin. Asa percuma kasep ari kondangan sorangan keneh mah. Lu tau nggak ada hal-hal yang tidak bermanfaat di dunia ini.''
Dengan gaya khas nya yang meyakinkan.
''Naon tah?''
''Maneh, kasep tapi jomblo.''
''Kampret.''
Secangkir kopi hangat Dan sepotong roti bakar terasa sempurna menemani mereka melepas rindu malam ini.
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
__ADS_1
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ