Cinta Mita

Cinta Mita
Mencari Solusi


__ADS_3

"Di hotel mana?"


"Hilton. Nyeri hate aing." (sakit hati gua)


Fery memegang dadanya yang terasa sakit membayangkan Rena sekamar dengan laki-laki lain di hotel.


"Sabar, belum tentu juga kan."


Rama berusaha menjadi teman yang baik. Menjadi penengah antara Fery dan Rena. Karena dengan Rena pun ia berteman.


"Ini udah yang keberapa Ram, di pesen kamar gini."


"Chill aja, kalaupun iya yaudah tinggalin."


"Mulut lu gampang banget kalau ngomong. Kalau Mita yang selingkuh gimana coba? Lu langsung tinggalin?"


"Ngga mungkin kalau itu. Dia cari apa di laki-laki lain? Apa yang ngga bisa gua kasih?"


"Jadi Rena selingkuh karena ada hal yang ngga bisa gua kasih? Menurut lu gitu?"


Raut wajah Fery bertambah kelam. Selama ini menurutnya, ia selalu memberikan sebaik mungkin yang ia bisa untuk Rena.


"Ngga juga. Kalau bener Rena selingkuh, artinya dia ngga bersyukur. Lu udah kerja jauh dari dia, buat anak, buat dia juga. Kalau dia sampe selingkuh keterlaluan namanya. Kalau itu terjadi, gua yang bayar pengacara buat urus cerai kalian."


Rama merasa ikut turut andil dalam perselingkuhan ini, hingga ia akan bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya, meski Fery tidak menuntut atau menyalahkan.


"Punya ngga Ga, temen yang kaya gini?"


Fery terharu dan bangga dengan segala sikap dan bantuan Rama atas segala permasalahannya.


"Bukan cuma temen, tapi abang. Gua abangnya Yoga. Mau apa lu? Menang dia lah ego."


"Iya ya. Lu abangnya."


Fery dan Yoga tertawa. Yoga merasa beruntung memiliki kakak ipar seperti Rama, sang super role model.


"Dikit lagi nyampe ini."


Semakin dekat, hati Fery semakin kacau. Ia takut dengan kenyataan yang harus ia hadapi.


"Gantian sini, lu telepon Rena."


Rama dan Fery keluar mobil untuk bertukar posisi, sementara Yoga masih setia di posisi penumpang.


Fery mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Rena. Namun baru membaca mana "istri" nyalinya kembali ciut.


"Aing tambah deg-degan." (gua tambah deg-degan)

__ADS_1


"Deg-degan kenapa, Bang? Bukan harusnya marah?"


Yoga tidak tau harus membantu dengan apa. Selama perjalananpun ia tidak banyak bicara karena takut salah ucap. Namun ia ingin menunjukan rasa empatinya.


"Takut bener dia selingkuh, Ga. Lemah aing lemah anying."


Fery berteriak dengan ditahan. Dan Rama menarik nafas panjang. Setelah beberapa tahun lalu ia juga menjadi saksi nikah Fery, akankah hari ini ia akan menjadi saksi perselingkuhan Rena? Perempuan yang terlihat lurus dan tidak neko-neko. Jauh dari bayangannya jika Rena sampai hati menduakan Fery.


Sampai di parkiran hotel, Fery tak kunjung menelpon Rena yang sedang di dalam hotel.


"Gimana?"


"Balik ke Jakarta aja, Ram. Gua takut. Gua takut anak gua kehilangan salah satu dari kita."


"Edan ari maneh. Piraku balik dei? Meakeun bensin hungkul maneh mah." (Gila lu. Masa balik lagi? Ngabisin bensim doang lu mah.)


"Mending beresin aja, Bang. Liat dulu kebenarannya kaya gimana. Kalau memang bener, alasannya apa."


Yoga ikut menyumbangkan pendapat. Dan Rama mengangguk setuju.


"Anak kuliahan aja bisa mikir, Fer. Setelah itu kalau dia ngaku salah dan janji ngga ngulang lagi yaudah balik dah lu berdua. Saling introspeksi."


"Kalau Rena lebih milih bos nya? Gua takut ngga dipilih, Ram."


"Kalau kaya gitu, gua angkat lu jadi direksi biar dia nyesel."


"Serius, Ram. Lu mah malah bercanda."


Fery masih tidak menyentuh ponselnya yang ia letakkan di dashboard. Hingga Rama kesal, lalu ia yang menelepon Rena.


Namun panggilan pertama tidak ada jawaban. Fery semakin pasrah, mempersiapkan diri untuk tidak dipilih dan kehilangan.


"Halo."


"Kamu dimana?"


"Tumben nanyain aku. Biasanya bablas aja ngga nanyain istri."


"Aku di Hilton, kamu di kamar berapa?"


"Hilton mana?"


"Bandung lah."


"Ngapain?"


"Kamu lagi ngapain? Selingkuh di hotel? Lagi ngamar?"

__ADS_1


"Kamu kalau ngomong suka ngga disaring ya. Jahat banget sumpah nuduh aku gitu."


"Terus ngapain sama Bos? Di kamar berapa? Aku di loby."


Fery akhirnya keluar dari mobil menuju loby. Rama dan Yoga ikut turun menemani Fery dari jauh. Rama dan Fery masih dengan pakaian ngantor masuk ke dalam hotel. Sementara Yoga, dengan celana pendek dan kaos, mengikuti Rama sambil bermain ponsel agar tidak terlalu kentara.


"Aku ada kerjaan."


"Kerja apa sampe malam gini? Pijit plus-plus?"


"Kamu nyadar ngga sih, dengan kamu ngomong gitu, nyakitin aku banget?"


Tanpa Fery tau, Rena turun ke loby untuk menemuinya.


Fery yang gelisah, bicara sambil jalan kesana-kemari, hingga akhirnya bertemu pandang dengan Rena yang baru kelur dari lift.


"Tau dari mana aku di sini?"


Rena menutup telepon dan berjalan menghampiri Fery.


"Kamu sendiri? Aku kira kamu sama Bos kamu."


"Bos aku nunggu di kamar."


Wajah Fery memerah karena menahan marah.


"Fer jangan di sini. Mau sewa kamar?"


"Ngga usah. Habis ini kita balik, besok meeting."


Fery tidak setuju dengan ide buang-buang uang ala Rama.


"Bentar."


Setengah berlari Rama menuju petugas berseragam Hilton.


"Mas, di restoran sini ada private room nya?"


"Selamat malam, Pak. Kami ada private room di Purnawarman Resto. Bapak mau reservasi?"


"Boleh untuk empat orang."


Sementara Fery pura-pura sibuk bermain ponsel, dan Rena menelepon seseorang.


"Aku ada perlu bentar. Ngga lama kok, nanti ke kamar lagi."


Gila, bos mana yang aku kamu dengan anak buah? Fery berusaha sabar mendengar percakapan Sena dan seseorang di telepon.

__ADS_1


Seorang karyawan hotel mengantar Rama menuju private room yanv dimaksud. Ruangan berukuran 15x10m yang menyerupai dinning area terlihat mewah dengan banyaknya ornamen kaca.


"Lu ngomong berdua, anggap gua dan Yoga ngga ada.*


__ADS_2