Cinta Mita

Cinta Mita
Di Luar Kontrol


__ADS_3

"Chan."


Adit mengetuk pintu apartemen Reycand. Memastikan bahwa ada penghuni di dalamnya.


"Sendiri?"


Reychan memeriksa belakang tubuh Adit, bersama perempuan di taman tadi atau tidak.


"Sena di kamar."


"Asik belah duren."


Reychan merupakan mahasiswa akhir program sarjana asal Indonesia. Usianya di bawah Adit, namun pengalaman dalam hal wanita melampaui Adit jauh. Meski tidak serupawan Adit, namun kedudukan dan harta kelurga membuat Reychan bisa mendapatkan perempuan dengan mudah.


"Belah duren pala lu ! Gua deg-degan banget sekamar sama cewek."


"Jangan bilang lu masih perjaka? Sh*** men, hari gini selebgram ibukota masih perjaka."


"Masih lah, gua masih punya iman."


Reychan tersenyum simpul. Iman? Kapan terakhir shalat saja ia sudah lupa.


"Sikat men, kapan lagi. Mumpung doi disini."


Reychan bagai iblis yang menggoda, mengambilkan Adit minuman kaleng dari dalam kulkasnya.


"Gua takut."


"Takut apaan? Kenikmatan dunia salah satunya adalah menikmati perempuan."


"Takut Sena hamil."


"Oh tenang, lu datang ke tempat yang tepat."


Reychan berjalan ke laci meja belajarnya. Mengambil sesuatu berwarna merah yang masih ternungkus sempurna.


"Anj*r lu beli sedus ginian?"


"Kalau lagi butuh kan tinggal ambil, Men. Ngga mesti beli ketengan, pro lah gua mah."


Adit berusaha mencerna pergaulan **** Reycham ternyata sudah sejauh itu. Padahal menurut pengakuan dari Rey, ia memiliki kekasih sesama anak pengusaha Jakarta yang sedang kuliah fashion di Paris.


"Sexx itu boleh asal lu main aman dan kalau terjadi sesuatu, lu bertanggung jawab. Saudara Gua yang tinggal di Jerman, bocil SMA kalau liburan sama pacarnya dibekelin ****** sama Tante Gua."


Rey sedang memainkan perannya sebagai penguji iman Adit.

__ADS_1


"Anjirr yang bener?"


"Untungnya gua bohong buat apa?"


Gila ! Meski tau itu salah, namun Adit ingin merasakan yang katanya kebutuhan laki-laki.


Berbicara dengan Rey saat ini membuat adrenalin Adit semakin naik. Akhirnya Adit memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan hati-hati.


"Bilang ke Teteh kalau ke sini?"


Posisi yang salah dari Sena. Ia masuk ketika Sena sedang berbaring di atas ranjang berukuran 140*200cm miliknya, membuat imajinasinya semakin liar.


"Ngga, tadi aku WA pas di taman."


Dengan pelan namun pasti, Adit ikut berbaring di sisi Sena dan memeluk pinggang Sena dari belakang. Mencium aroma conditioner rambut yang Sena gunakan tadi pagi setelah keramas.


"Aku kangen."


"Aku juga."


Adit membuka masker yang menggantung di belakang telinga Sena.


"Ngga apa-apa kan?"


Meski meminta izin, namun nyatanya Adit tidak membutuhkan persetujuan dari Sena. Karena lidahnya sudah menyentuh belakang telinga kekasihnya.


Adit sudah memasukan kedua tangannya ke dalam kaos over size yang Sena gunakan. Dan kini tangannya semakin berani menyentuh aset berharga milik Sena yang berlindung di balik bra. Sena tidak bergeming sampai Adit hendak memainkan puncaknya.


"Ngga, Mas."


Adit tidak mendengar, karena telinga tertutup naf su nya yang semakin menggebu. Hingga Sena terpaksa melepaskan ciuman karena Adit sudah terlalu jauh. Terlebih dengan posisi berbaring, Sena takut terbawa suasana.


"Mas, maaf udah."


Adit membuka mata dan mengangkat tangannya ke udara. Tidak ingin memaksa Sena, jika memang Sena tidak ingin.


Naf su yang sudah di ubun-ubun terpaksa ia hentikan karena penolakan dari Sena.


Adit mengalihkan perhatiannya kembali pada ponsel di samping bantal dengan membelakangi Sena.


"Mas mau apa?"


Sena memeluk Adit karena takut Adit marah. Namun Adit tidak mau bergerak apalagi berbalik memeluk. Hingga Sena merubah posisinya agar bisa berhadapan dan memaksa Adit menatap matanya.


"Aku normal, aku pengen yang semua laki-laki pengen."

__ADS_1


Adit kaget seketika Sena dengan gerakan cepat membuka kaos yang menutup tubuhnya. Tanpa tank top, hanya sebuah bra sport yang melindungi aset berharganya yang sempat ia jelajahi tadi.


"Ini bukan?"


Adit diam. Menelan ludah rasanya sulit. Dihadapannya kini Sena seolah menawarkan tubuhnya.


"Rusak aku aja kalau Mas mau. Pake aja."


Kini matanya berpindah fokus. Bukan pada pembandangan indah tubuh kekasih, tapi wajah marah Sena.


"Ngomongnya kok gitu?"


Sena lalu melapas rok yang menutup kaki mulusnya. Kini tubuh Sena hanya dilapisi celana pendek sejengkal paha dan bra. Sempurna sudah pemandangan di hadapan Adit.


"Kalau kamu ngga mau, aku udahin kan tadi? Aku ngga maksa."


Sena menurunkan tali bra kiri dan kanannya. Konsentrasi Adit kini terpecah, antara mempertahankan egonya karena penolakan awal dari Sena atau mengikuti hawa naf su nya untuk menikmati tubuh Sena.


"Yaudahlah kalau kamu ngga mau. Omongam temen aku salah kali, cinta ngga selalu menuruti permintaan cowoknya. Kamu cinta tapi belum bisa. Yaudah aku hargain."


"Kok sempit sih mikirnya?"


"Kita udah dewasa, Sen. Aku juga bukan cowok yang cuma mau nyicipin doang. I love you and I need you. Yaudahlah kamu ngga bakal ngerti. Pake lagi bajunya."


Meski membela diri, dalam hatinya Adit merutuki sebuah kalimat dari Reychan, imannya melemah setajam ini.


"Yaudah ayo. Aku udah janji sama diri aku, untuk ngga mau nolak Mas."


Sena mendekati Adit. Menuntun tangan Adit menyentuh kembali asetnya. Namun Adit menolak.


"Pake lagi."


Adit mengambil kembali baju dan celana Sena yang tergeletak di sisi lain tempat tidurnya.


"Ayo. Aku udah siap."


Sena menarik Adit hingga tubuhnya berada dibawah tubuh Adit di atas ranjang. Per sekian detik, Sena membalik tubuhnya hingga mengusai tubuh Adit.


Sena membuka tali bra nya hingga menggantung di lengan tangannya.


Otak Adit sudah tidak dapat berfungsi dengan normal dengan serangan mendadak dari Sena. Namun bayangan Rama seolah menghantui dari balik pintu. Hingga ia mendorong Sena dan menyuruh Sena memakai kembali pakaianya.


Pikirannya blank, ia bingung harus mencerna kejadian tadi dan menyikapinya bagaimana.


"Aku ke kamar Rey. Kamu siap-siap, 30 menit lagi balik ke hotel."

__ADS_1


Adit meninggalkan Sena yang sudah siap menjatuhkan airmatanya.


__ADS_2