
"Ngga ada yang reuni. Aku ambilin kunci sama HP nya ya. Mas makan sekalian?"
Meski terlihat cuek, namun telinga Damar masih berfungsi dengan jelas. Lukanya ternyata memang belum sembuh. Perasaan Sena kepada Adit tersirat dari ucapannya barusan yang penuh perhatian. Dan perhatian semacam itu tidak pernah Damar rasakan dari sang mantan satu-satunya.
"Iya ih makan bareng."
Mita memasang wajah memaksa sambil menunjuk buku menu.
"Ngga nafsu Teh, padahal laper. Habis ambil kartu akses aku langsung balik aja ya Teh."
Tidak nafsu makan karena dirinya? Peduli setan, batin Damar mengolok-olok. Bibirnya kini sangat ingin melengkungkan senyuman ejekan, namun ia tahan. Namun Damar tidak menatap Adit sedikitpun. Matanya fokus pada makanan di hadapannya yang tinggal setengahnya. Sengaja ia perpanjang durasi makan malamnya, agar bisa semeja dengan Sena lebih lama.
"Mantan ngajak balikan?"
Begitu meninggalkan restoran, Adit langsung menyerang dengan pertanyaan yang sudah Sena duga.
Bungkus makanan dari family mart, Adit jatuhkan begitu saja tanpa Sena tau. Rasa laparnya kini sudah hilang.
"Ngga, cuma ngobrol biasa. Mantan kan ngga selalu harus jadi musuh, Mas."
"Kamu polos atau gimana? Ngga ngerti omongan dia?"
Adit sempat mendengar ucapan terakhir Damar. Sangat mengganggu pendengarannya.
"Kalaupun iya ngajak balikan, ngga aku iya-in juga kan?"
"Tapi ngga semua mantan bisa jadi temen, Non."
"Dan ngga semua mantan harus dicurigain, Mas."
Adit lupa, kekasihnya adalah Sena si keras kepala.
"Ngapain dia di sini? Ngikutin kamu sampe sini? Psyco nya ngga sembuh-sembuh."
"Aku belum ngobrol banyak. Kayanya lagi liburan ngga sengaja ketemu."
"Habis ini ngobrol yang banyak ya. Sekalian anter ke psikolog atau psikiater biar bisa berdamai dengan masa lalu dan mau menerima kenyataan."
"Mas, jangan gitu atuh. Aku cuma mau berteman dengan banyak orang."
"Terserah. Aku langsung balik."
"Makan dulu ya?"
Sena membuka pintu kamar dan mencari kartu akses dan ponsel milik Adit. Begitu mudah menemukannya, tergeletak diantara bantal sofa kamar.
__ADS_1
"Aku banyak tugas. Besok aja aku sarapan di sini."
"Bener ya... Jangan sarapan duluan."
Suara rengekan Sena melembut agar Adit luluh.
"Iyaaa."
Adit mengusap kepala Sena dengan perasaan yang tidak ia mengerti. Semarah dan sekesal apapun Adit, jika sudah mendengar Sena merengek hatinya kembali ke setelan pabrik, luluh bin bucin.
Sesuai ucapannya, selesai mengambil kartu akses dan ponsel, Adit langsung pulang. Hanya melihat sekilas ke arah restoran dimana Damar dan Mita masih di tempat semula, yaitu duduk di dekat jendela. Namun kali ini pandangan Adit dan Damar bertemu. Meski di dalam hati Damar muak melihat Adit, namun gestur tubuhnya tidak bisa menutupi keingintahuan hubungan Adit dan Sena seperti apa.
Sena menunggu Adit menghilang dari pandangan di depan hotel cukup lama. Memastikan bahwa tidak ada barang Adit yang kembali tertinggal. Setelah itu ia kembali bergabung dengan Damar dan Mita yang terlihat canggung satu sama lain. Untungnya makanan pesanannya sudah datang, sehingga pembicaraan dengan Damar bisa lebih singkat.
"Kirain kamu sama Adit nginep berdua disini. Ternyata disini ada Teteh."
"Ngga lah Mar, masa aku sekamar sama Adit."
"Pantesan tadi kalian ke apartemen."
"Ke apartemen siapa? Ngapain?"
Sebagai seseorang yang sudah menikah, tentu Mita ada kekhawatiran saat mengetahui Sena dan Adit ke apartemen.
"Eh ngga gitu. Tadi aku ke apartemen karena ajakan dari Reychan, teman apartemennya Adit. Kenalan sama temen apartemennya, nitip Adit selama di sini. You know me so well, Mar. Aku tau batasan."
"Kalau tadi kamu ngikutin aku, harusnya kamu tau di taman aku sama Adit ketemu cowok, temannya Adit."
Telak. Sena bisa membalikan ucapannya.
"Aku lagi iseng ngga ada kerjaan, jadi ikutin kamu. Kamu merasa terganggu?"
"Ngga, karena aku ngga nyadar."
Mendengarkan Sena dan Damar bicara, Mita kembali teringat Rama di Indonesia. Seharusnya di Jakarta kini sudah lewat Maghrib, namun Rama belum juga membalas pesannya.
Mita yang merasa tidak terlibat di dalam obrolan Sena dan Damar, memutuskan kembali ke kamar lebih dulu.
"Aku ke kamar duluan ya, Sen."
"Kenapa?"
"Mau nelepon Abang."
"Yaudah aku bentar lagi selesai, nanti nyusul."
__ADS_1
Damar memperhatikan Mita, perempuan yang ia tahu dulunya mantan Adit.
Setelah Mita pergi, Damar mengutarakan isi pikirannya tentang Mita.
"Teteh kamu bukannya mantan Adit? Kok bisa sebiasa itu sekarang."
"Bisa, karena kita semua berusaha selesai dengan masa lalu. Awalnya Adit juga terpuruk, apalagi Teteh sama Kakak aku langsung serius. Tapi perlahan sadar, ngga bisa terus gitu terus. Bangkit, sekarang biasa aja."
"Tapi kenangan ngga akan hilang, Sen."
"Betul. Di memori aku juga masih ada kamu. Tapi memori itu ngga berhubungan dengan perasaan."
Nyessss. Ucapan Sena bagai menghempaskan Damar seketika.
"Jadi aku juga ngga terganggu dengan kenangan Adit dan Teteh. Karena kita sama-sama punya masa lalu."
Sena mempertegas ucapannya agar Damar berhenti berharap kepadanya.
"Kamu bukannya sempet deket sama Oliv ya? Ngga lanjut?"
"Hmmm? Oliv? Kata siapa?"
"Kata Dinda. Oliv sih ngga cerita ke aku, tapi ke Dinda cerita. Kenapa ngga dilanjutin?"
"Berhenti sebelum semakin jauh. Karena bedanya bukan pendapat atau prinsip lagi, tapi agama. Walaupun aku ngga taat-taat banget, tapi pindah karena cinta kayanya ngga."
Sena mengangguk tersenyum. Sejak dulu memang Sena yang harus mengingatkan Damar untuk shalat. Tapi mengetahui Damar berprinsip dalam agama, ada perasaan senang di hatinya.
"Balik kapan?"
"Senin. Kamu?"
"Minggu malem ikut flight Ayah. Aku udah dua minggu di sini."
"Wow sultan no kaleng-kaleng."
Anak satu-satunya, apapun untuk Damar.
"Ini hotel rekanan perusahaan Ayah, jadi ada harga khusus. Pilot dan pramugrari stay nya di sini kalau pas transit."
Adit mengirim pesan, seperti memiliki mata-mata di restoran.
"Langsung ajak ke psikiater."
Damar seperti paham bahwa Sena akan pamit. Hingga mendahului Sena berbicara.
__ADS_1
"Aku duluan."