Cinta Mita

Cinta Mita
Centang Biru


__ADS_3

Rama


Sepulangnya dari "Treehouse" ia kembali ke hotel. Semalam ia meminta Fery untuk ambil jatah cuti hari ini.


"Gila lu, bini gua kasian di rumah sendirian. Lagian gara-gara ginian doang gua harus ambil cuti? Sepenting apaan hah?" Fery marah-marah.


"Ayolah, bantuin gua dulu. Gua masih butuh temen ngobrol." ia menyalakan rokoknya lalu duduk di ruang tamu kamar hotel. Sengaja ia pesan smoking room agar bisa leluasa merokok di dalam kamar.


"Gua dijebak sama buncin alay." Fery mendengus kesal sambil menikmati bagijur pesenan nya


Begitulah obrolan mereka semalam. Awalnya Fery tidak mau ambil cuti untuk sesuatu yang tidak penting menurutnya, tapi akhirnya mengalah.


Siang itu, begitu sampai di hotel ia langsung melempar Fery dengan bantal.


"Woy, cuti malah tidur. Dapet belum media sosialnya Mita?"


Rama melepas sepatunya lalu melompat ke arah kasur. Ia lelah setelah tadi meeting dengan beberapa anak buahnya lalu melimpahkan tugas nya ke Fima untuk mengurus beberapa restoran miliknya yang nantinya akan ia remote dari US.


"Medsos doang sih kecil, sambil gua boker juga dapet." Fery tetap berada di balik selimutnya.


Rama mencibir, "Sok kali anak ini."


Semalam setelah makan malam, ia membuka laporan yang Fima kirim via email. Namun pikirannya tetap tidak bisa fokus penuh dengan apa yang dikerjakannya.


"Lu tolong cari akun sosial media nya Mita." ia tak bisa menyembunyikan rasa penasaran, dan ingin memantau aktifitas media sosial gadis Cianjur tersebut.


"Nama lengkapnya siapa?"


"Paramitha Zainal." ia menjawab dengan Mata tetap melihat pada barisan angka semalam.


Sekarang perutnya terasa lapar, di Treehouse ia hanya sempat makan croissant, cinnamon rolls dan segelas Americano. Kalau belum makan nasi rasanya kurang nonjok.


"Bener yang ini liat dulu." Fery membuka selimut nya dan memberikan ponselnya kepada Rama.


"Iya bener." Rama mengangguk setelah melihat ponsel yang di sodorkan Fery. Ia memperhatikan beberapa foto di feed instagram Mita. Tidak banyak foto yang di post disana.


"Polos gini Ram anaknya lucu..,"


"Lu gausah perhatiin satu-satu juga. Jatah gua, inget Rena di rumah." Rama mendorong pelan bahu sahabatnya itu .


"Elah, darah tinggi mulu." Fery jadi terpancing kesal.


"Nih lu liat, story nya sama cowok. Dia nge repost story dari cowok ini."


Ia mengambil paksa ponsel Fery. Melihat betul-betul laki-laki yang tersenyum di samping Mita.


"Ini si anying yang kemarin hampir gua ajak gelud, anak yang punya kosan. Sial amat nasib gua, gua yang milihin kosan tapi anaknya malah deketin Mita!" Rama melempar ponsel Fery ke bantal di hadapannya.


"Jangan dilempar. Ya Allah HP gua." Fery mengambil ponsel miliknya. Ia memahami kekesalan Rama.

__ADS_1


Fery terdiam sambil menguliti akun instagram yang posting fotonya dengan Mita di story instagram. Berani betul ini anak, pikirnya.


Hanya dalam lima menit ia sudah mendapatkan informasi dasar pria itu.


"Namanya Aditya Wiraguna. Anak Jakun, instagram centang biru alias verified, followers nya hampir sejuta." Fery melihat akun Instagram laki-laki yang bernama AdityaW.


"Lu liat highlight nya, itu kosan punya dia bukan punya ortu nya. Portal berita online pernah ngangkat berita tentang dia yang pengusaha muda."


Rama masih memejamkan matanya, seolah tidak ingin mendengar informasi tentang pria itu, tapi ia sungguh ingin tau seperti apa laki-laki yang juga menyukai Mita. Yang berarti mereka berdua adalah rival.


Entah mengapa ia yakin betul, laki-laki itu memiliki perasaan yang sama dengan yang ia rasakan.


Fery berselancar di mbah google, mencari informasi lengkap tentang laki-laki bernama Aditya itu.


"Aditya Wiraguna, anak mesin Jakun tingkat 3, pengusaha muda, influencer, anak dari anggota dewan Bambang Wiraguna. Berat saingan lu. Dan yang pasti ganteng, gua kalau jadi cewek juga ngga nolak."


"Nggak usah banyak komentar lu. Gua juga kurang apa? Se-level lah sama gua."


Fery tertawa keras, tidak mau kalah dari saingannya.


"Kurang muda doang." ia asal bicara.


"Kurang ajar, emang gua setua apa?"


"Ya kalau dibandingin Mita ya lumayan, hampir 7 tahun beda lu sama dia. Sadar umur."


"Paramitha.... Paramitha... lo apain si Rama Yudha sampe sableng gini." Fery ngoceh sendiri.


"Dengerin lu ngoceh gua jadi laper. Mau ikut ngga?" Rama bangkit mengambil jaketnya dan kunci mobil. Dengan menggunakan sandal hotel ia keluar dari lobby hotel menuju parkiran mobil.


"Jauh amat mau makan doang juga. Mall di samping Ram, restoran banyak." Fery mempercepat langkahnya yang tertinggal Rama jauh.


"Gua mau lain dari yang lain. Hari terakhir disini." setibanya di parkiran ia membuka pintu mobilnya menuju arah keluar.


"Feeling gua ngga enak nih. Macem-macem gua tinggal lu." Ancam Fery sambil memakai seat belt nya.


Rama mengemudikan mobilnya menuju arah Pasar Bogor.


"Mau kemana sih kita? Jauh banget Ram." Fery memperhatikan jalanan.


"Ke warung tenda yang jual ayam bakar enak. Harusnya ngga terlalu jauh, cuma muter karena satu arah."


Fery mengangguk lega. Tidak seperti yang ia pikirkan.


Namun 10 menit kemudian.


"Ngibulin gua ya lu, itu apaan tuh Sekolah Vokasi IPB." Fery membaca tulisan besar di depan sebuah gedung besar yang ternyata adalah salah satu kampus milik IPB.


Mereka sampai di tempat tujuan Rama. Rama tersenyum jahil.

__ADS_1


"Ngapain ngibul sih Fer. Di samping sini nih ada warung tenda yang enak murah meriah."


"Alah, gua tau isi otak lu kampret."


Rama tertawa puas.


Siang itu jadwal makan siang, semua kursi penuh. Ia menginti ke dalam, adakah orang yang ia cari? Namun sayangnya di dalam penuh sesak sehingga sulit untuk memastikan orang ia cari ada di dalam atau tidak.


"Lu samain aja sama gua ya. Minum ya teh manis atau es jeruk?"


"Kopi nggak ada kopi? Puyeng kepala gua pengen ngopi." ini adalah jam biasa ngopi Fery, ia bisa menunda makan siang tapi tidak dengan minum segelas kopi yang hukumnya wajib.


"Nggak ada, disini lu cari yang ada aja. Pulang dari sini, kita ke coffee shop samping hotel." Rama mencibir.


Fery terkekeh mendengar omelan Rama. Mirip seperti Rena yang seringkali mendengus saat ia meminta kopi tapi tak ada kopi di tempat yang mereka datangi.


"Es jeruk aja kalau gitu."


Rama pun masuk, perempuan yang ia cari tidak ada. Hanya ada Rani, teman kosan Mita yang sempat ia lihat di kosan saat sedang mengunjungi Mita beberapa waktu lalu.


"Kak Rama kok bisa disini? Kesini sama siapa?" Rani mencari-cari seseorang di belakang Rama. Heran begitu menyadari kehadiran Rama di warung tenda tersebut.


"Iya laper, sama temen di depan nggak dapet tempat duduk." Rama menunjuk keluar.


"Iya jam segini lagi penuh-penuhnya. Tapi aku udah beres mau masuk kelas, duduk di kursi aku aja."


"Wah kebetulan dong, tunggu bentar bisa? Saya panggil temen dulu biar kursinya nggak diambil orang." ia tersenyum khawatir jika ditinggal sebentar keburu ada yang mengisi. Dijawab anggukan oleh Rani.


Sambil menunggu makanan datang, akhirnya ia mencari instagram Mita dengan fake account nya. Tujuannya tentu untuk melihat akun si centang biru.


Namun tak lama, ada suara yang ia kenal.


"Aku paha, bakar asal aja jangan gosong."


Ia menoleh ke belakang, mata mereka beradu. Mita ada di sisi sebelah kirinya. Namun membuang muka.


"Ken aku masuk kelas duluan, nitip punya aku dibungkus aja."


Niken menyadari kehadirannya. Fery pun sama, tau bahwa perempuan itu adalah Mita. Keadaan yang tidak pernah ia duga sebelum nya.


Fery menepuk punggungnya pelan.


Ia pun bangkit.


"Lu mau kemana?" Fery setengah berteriak, merasa ditinggal.


"Gua nunggu di mobil. Bungkus aja makan di hotel."


Ia melewati Mita begitu saja, tanpa kata.

__ADS_1


__ADS_2