
Damar
Sehabis shalat subuh, ia begitu semangat olahraga biar nggak ngantuk karena vibe pagi ini sangat berbeda. Sejak menutup video call dengan Sena semalam, dunia seperti berbeda. Dunia seolah sedang tersenyum kepadanya.
"Masak apa Bun?" Jam setengan enam dia ke dapur melihat Bunda yang tengah fokus memasak.
"Nasi goreng kampung kesukaan jagoan Bunda dong. Bunda piringin ya."
"Sedikit aja, aku lagi pengen sarapan bubur ayam depan komplek rumah temenku."
"Wow semangat amat. Rumah siapa tuh?" Bunda curiga jangan-jangan....
"Kompleknya Dinda Bun... temen sekelas." bunda hanya tersenyum
"Oke temen. Dinda kan?" Ia mengangguk.
"Tukang buburnya sih depan rumah Dinda, tapi sarapan sama siapa nya Bunda nggak mau tahu?"
"Sena?" tebaknya
"100 buat Bunda." mata bunda membulat, anak semata wayangnya ini sudah mulai dekat dengan Sena, satu-satunya teman perempuan yang sering diceritakan. Walau ia tidak pernah bilang kalau menyukai Sena, tapi 99% tebakannya benar.
"Pantes jagoan bunda udah seganteng ini subuh-subuh begini. Janjian sama someone ternyata." Begitu gemas melihat semburat senyuman yang tak hilang sejak bangun tadi, Bunda mengacak-ngacak rambutnya.
"Duh Bun jangan diacak-acak, aku mau berangkat." Bunda tertawa melihat tingkahnya.
"Maaf maaf... masih ganteng kok anak Bunda."
Perjalanan dari Mampang ke rumah Dinda sejauh 7km dilibas nya dalam waktu kurang dari 15 menit. Jalanan dan semesta sedang mendukungnya pagi ini.
"Aku udah di tukang bubur." Jam 06.10 dia sudah stand by di tukang bubur. Banyak yang hilir mudik sekedar olahraga jalan santai ataupun bersepeda.
.....................................................................
Sena
"Damar nginep di depan komplek lo kali Din. Rajin amat jam segini udah nyampe."
Tak habis pikir jam segini ngapain Damar sudah datang. Akhirnya ia memutuskan untuk cuci muka saja karena takut membuat Damar lama menunggu.
Dari kejauhan terlihat Damar sudah duduk di kursi abang bubur.
''Serius ini hati gue kenapa jadi deg-deg an banget. Biasanya ketemu Damar nggak segininya.''
''Pegang tangan gue dong.'' Sena memgang tangan Dinda dan Oliv.
''Ya ampun penganten baru pagi-pagi keringet dingin.'' goda Oliv.
__ADS_1
"Hai Sen."
"Hai Mar."
Sapa keduanya berbarengan.
"Deuhhhh couple baru terbitan video call malu-malu kucing." Oliv memecah rasa canggung. Bersama Dinda tak henti-henti nya mereka menggoda couple yang sudah sejak lama dipasang-pasangkan anak sekelas.
Tidak butuh waktu lama semangkok bubur ayam panas dengan asap mengepul tersaji, lengkap dengan sate telur puyuh dan emping tentunya. Dan dalam 10 menit bubur ayam kesayangan warga komplek sini habis tak bersisa .
"Ada lo berdua gue jadi nervous gini."
"Sen, jalan-jalan keliling komplek sini mau nggak?"
"Boleh." Dia sudah bingung harus berekspresi bagaimana. Hati nya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, membuat pikirannya buntu.
"Kapan ke Bandung?" Damar membuka pembicaraan.
"Rencanya Senin pagi. Kamu jadi ke Singapur?"
"Jadi. Walaupun sekarang jadi makin berat untuk berangkat."
Damar mengambil tangannya ragu-ragu. Buru-buru dia lepas genggaman tangan itu.
''Nggak boleh?"
"Aku nggak boleh pegang tangan kamu?" tanya nya penuh harap.
"Nggak disini, ini tempat umum. Ini wilayah kerja Kakak aku." Selalu, Sena yang lugas akan pendiriannya.
"Oh itu. Berapa lama?'' Sudah ia bayangkan perjalanan dengan Sena tidak akan seperti kebanyakan pasangan lain.
''Apanya?''
''Hubungan kaya gini.''
''Maksudnya kaya gini? Kalau lo nggak siap kita bisa berhenti sekarang, sebelum terlalu jauh. Sebelum gue terlalu sayang sama lo." terkadang ego nya tiba-tiba muncul untuk hal sepele kaya gini. Seolah Damar tidak ikhlas dengan kondisi nya yang belum memungkinkan untuk go public.
"Nggak gitu, aku cuma mau mempersiapkan diri, bersabar untuk beberapa waktu. Berapa lama? empat tahun cukup sampai kita lulus kuliah?''
Hatinya melemah.
Damar.... mata itu... mata yang ia lihat selalu berharap padanya.
''Yakin bisa selama itu?"
"Yakin, kecuali kamu yang pergi dari aku."
__ADS_1
"Aku nggak akan pergi dari kamu."
Damar tersenyum.
"Beneran?" tanya nya tak yakin.
"Tentu."
"Ngomong sama kamu kenapa bikin aku takut sih? aku kayak lagi ujian lisan. Takut salah ngomong. Takut kamu ngehindar dari aku lagi. Takut kamu nggak bales chat dari aku lagi. Kalau aku salah tolong jangan pergi, kamu boleh marahin aku, bentak-bentak aku tapi jangan diemin aku. Aku lebih baik sabar daripada harus kamu diemin.''
"Makasih udah mau ngerti aku." tatapnya serius.
"Cukup.''
''Untuk?'' Ini deg-degan yang paling hebat untuknya. Semuanya baru mulai, belum 24jam jangan dulu berakhir. Harap Damar dalam jati.
''Empat tahun cukup untuk kita kaya gini. Setelah itu kamu bisa ke rumahku."
"Oke, siapa takut.'' Ucap Damar lega. ''Tuhan... sedeg-degan ini ngomong sama Sena. Ngeri diputusin.'' Damar meringis dalam hati.
''Makasih sayang.'' Dengan senyum ia menggenggam tangan Damar 10 detik lalu di lepas. Damar terseyum.
''Apa?'' Damar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
''Hadiah buat kamu, karena sudah jadi yang terbaik untuk aku.''
''Wow hadiah terindah buat aku. I'll give my best. Supaya aku sering dapet hadiah dari kamu.''
''Aku akan susah tidur malam ini.''
Sena tertawa mendengar gombalannya.
''Boleh juga gombalannya.''
''Ini bukan gombal. Ke kamu aku nggak pernah bohongan, pura-pura, gombal. Aku serius.''
''Baiklah... Terima kasih.'' Ucapnya tulus.
''Kembali kasih...''
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1