
"Aku cuma takut kaya temen aku. Dia harus hamil tanpa suami. Pacarnya selalu bilang I love you, tapi setelah temenku hamil mana ada tanggung jawab?"
Mita menggenggam tangan Rama, seolah meminta pemakluman bahwa mempercayaui laki-laki tidak mudah untuk nya.
"Keluarga pacarnya itu malah bilang kalau temenku perempuan murahan, mereka ngga percaya kalau anaknya yang udah ngehamilin temen aku itu. Sakit kan? Untung temenku ngga suicide. Tapi Abang tau ngga yang lebih sakit itu siapa?" (suicide : bunuh diri)
Mita menatap Rama untuk memperkuat kesan dramatisasi.
"Yang lebih sakit itu yang ngehamilin temen aku tanpa mau tanggung jawab, sakit jiwa !"y
Rama terkejut, ternyata Mita bisa seberapi-api itu.
"Tapi kita ngga nyampe sana sayang. Kamu tau kan proses perempuan bisa hamil itu seperti apa?" Rama serius bertanya.
"Aku tau, tapi semuanya berawal dari ciuman. Dia ngga mungkin ujug-ujug wik-wik tanpa foreplay. Ciuman juga termasuk foreplay kan?" (foreplay : pemanasan)
What? Mita mengerti foreplay? Rama tertawa geli, ternyata di balik kepolosannya Mita tau istilah-istilah dalam dunia persilatan. Tapi tawanya hanya dalam hati, karena kenyataannya ia hanya mengangguk.
"Aku minta kamu percaya aku. Aku nggak sama kaya pacarnya temen kamu yang sakit jiwa itu." Rama memperagakan sakit jiwa yang tadi Mita katakan dengan berapi-api.
"Tapi kadang aku juga pengen. Bahkan temen aku melakukan lebih sama pacarnya." Tanpa sungkan Rama mencoba jujur tentang perasaannya kepada Mita. Memang seharusnya seperti itu bukan ? Rama tetap memperjuangkan yang dirasa sudah menjadi hak nya, minta jatah !
"Tapi aku bukan pacarnya temen Abang."
Rama mengangguk mengerti, Mita berbeda.
"Mungkin Abang bisa pacaran sama pacarnya temen Abang, bahkan bisa dikasih lebih dari yang Abang mau dari aku."
Rama tidak suka kata-kata yang barusan ia dengar.
"Kamu apa sih, aku cuma mau sama kamu. Kamu jangan suka ngomong yang aneh-aneh, karena ucapan itu doa. Kamu mau nanti kejadian aku sama perempuan lain?"
Rama kini menatapnya tidak suka.
"Aku ngga suka kamu selalu bahas perempuan-perempuan. Aku ngga kenal perempuan lain selain kamu."
"Aku juga ngga pernah minta lebih, aku cuma minta yang tadi. Sekali lagi bahas perempuan, aku cium kamu tanpa ampun."
Mita malah tertawa melihat Rama kesal.
"Jangan ketawa. Kita turun sekarang?"
Situasi yang sempat memenas akhirnya mencair kembali. Turun yang dimaksud Rama adalah turun dari mobil karena mereka sudah di pinggir pantai.
"Yuk."
Senyuman Mita kembali menghangat kan hatinya. Meski sedikit kesal Rama tetap membukakan pintu mobil untuk Mita dan menggenggam tangannya. Tangan yang ia rindukan kehangatan ya sembilan bulan terakhir ini. Tanpa sungkan Rama merangkul Mita yang siang itu terlihat cantik, sungguh cantik.
"Nanti nambah ya, aku belum kenyang." Keusilan Rama muncul, yang di respon dengan cubitan kecil di pinggang oleh Mita.
Masih minta nambah, heran.
Kini Mita mengerti istilah-istilah aneh yang Rama gunakan pasti menjurus ke hal-hal yang disukai pria.
Suasana pantai pagi itu sudah ramai, mungkin karena weekend. Rama menarik tangan Mita menuju penjual kelapa muda.
"Aku haus karena ngga kebagian es krim."
Mita tertawa.
__ADS_1
"Salah sendiri es krim nya didiemin jadinya kan cair. Daripada sayang aku abisin aja biar ngga mubadzir."
Rama menarik Mita lebih dekat.
"I love you more than anything." Membisikan kata sayang dengan tetap menggenggam tangan Mita. (aku cinta kamu lebih dari apapun)
Mita jinjit mencoba sejajar dengan telinga Rama lalu membalas dengan bisikan lain.
"Harus, kalau ngga tamat riwayat hidup kamu." Rama tertawa sambil memeluk, seperti tidak ada orang lain di dunia ini.
"Jadi ngancem aku."
"You have taken something from me. So you have to love me more than anything." (kamu sudah mengambil sesuatu dari aku. Jadi kamu harus mencintai aku lebih dari apapun).
"Sure sayang." (tentu) Rama mengecup tepi dahi nya.
Sambil menunggu kelapa pesanannya, Rama izin ke toilet umum untuk cuci muka agar otaknya yang tadi terkontaminasi berharap dapat segera kembali normal. Karena sejak insiden yang memabukan jiwa dan raganya, pandangannya selalu mengarah ke titik yang sempat ia rasakan manisnya tadi.
Seharian ini Rama habiskan dengan bermain pasir bersama seseorang yang ia rindukan. Setelah puas Rama dan Mita berganti celana dengan celana pantai yang Rama beli di pinggir jalan karena kejatuhan es krim Mita tadi.
"Kita harus ngomong."
Mita mengangguk.
"Di mobil." karena suasana pantai yang banyak orang, Mita tidak ingin obrolannya dengan Rama di dengar orang lain.
"Apa?"
Rama mengambil tangan Mita dan menciumnya dengan lembut.
"Permintaan aku masih sama, nikah sama aku secepatnya."
"Kedepannya gimana?"
"Kapan?"
"Secepatnya."
"Oke. Tapi tolong jangan sentuh aku lagi sampai ikrar akad kamu ucapkan di depan Bapak."
Rama mengangguk lemah, padahal tadi sudah membayangkan akan nambah. Ternyata hanya harapan kosong fuiihhh...
Rama mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan untuk Fery sambil tersenyum.
"Fer balik ke Bandung ngga?"
Rama juga rindu bicara dengan Fery.
"Ngga, Rena yang kesini."
"Ngeunah ning Fer. Deudeuieun anjay." iseng, Rama mengetik hal yang konyol. (Ternyata enak Fer, ketagihan anjay)
"Naon nu ngeunah? aing curiga." (Apaan yang enak? gua curiga)
Rama mengambil foto Mita diam-diam lalu ia kirimkan kepada Fery.
"Udah balik? Lagi ngambil jatah ya lu bangsatt."
Rama tertawa sendiri, Mita menatapnya heran.
"Ngga usah ngeliatin kaya gitu. Aku tau aku gila, gila karena kamu." Rama mencium puncak kepala Mita gemas.
__ADS_1
Sesampainya di gerbang kosan Mita, Rama membuka seat belt milik Mita.
"Bener-bener ngga boleh nambah?"
Rama masih berharap Mita berubah pikiran.
"NO. Yang tadi adalah kesalahan dan ngga boleh diulangi. Tadi aku cuma kasian sama kamu, aku takut kamu beneran gila. Sekarang kamu udah normal, jangan harap bisa nambah." Mita mengucapkan dengan penuh penekanan.
"Oke. Mulai besok aku yang antar jemput ke pabrik." Mita mengangguk.
Rama langsung mengemudikan setirnya menuju apartemen.
"Anjay kedatangan tuan rumah. Siga bule kieu." (siga : kaya, kieu : gini)
Rama tertawa.
"Rena mana?"
"Lagi nyusuin bayi di kamar."
"Lu dari mana?" Fery memperhatikan setelan yang Rama pakai, celana pantai dan kaos polo.
"Najan teu nyambung ge, ai nu make na kasep anger we kasep." (Walau ngga nyambung, kalau yang pake ganteng tetep aja ganteng)
"Gua dari Anyer sama yayang."
"Berseri-seri banget muka lu anyirr. Baru dapet jatah kayanya ini bangsatt."
Rama tertawa, begitu terpancar kah isi hatinya?
"Emang keliatan ya? Kalau kaya gini gua harus cepet kawin."
Rama bercermin dengan front camera di ponselnya.
"Jadi jatah apa yang bos udah dapet? Masih belum kawin ternyata."
Fery dan Rama menertawakan hal-hal yang nyerempet ke arah pornografii.
"Duo edan kalau udah ketemu ambyar." Rena keluar dari kamar, hendak membuatkan minum untuk Rama.
"Sehat Ren? Kesini naik travel?" Rama menyapa Rena yang sudah rapi karena akan kembali ke Bandung.
"Alhamdulillah sehat lahir batin. Bawa mobil sendiri."
"Aman bawa balita di mobil gitu?"
"Sejauh ini aman, dia betah duduk di car seat."
"Lu yang balik bajingan, malah nyuruh bini kesini." Rama melempar bantal ke arah Fery.
"Ngomong doang lu enak. Kerjaan gua numpuk noh di meja."
Rama tertawa.
"Sesuai lah sama gaji."
"Kawinin lah Mita, bantuin kantor. Dia bagus banget kerjanya. Good of everything. Kapan lu nikah?"
"Besok."
"Bangsatt becanda mulu, besok mah Senin kerja!"
__ADS_1
Rama tertawa. Andai menikah tidak seribet itu.