
Mita
Sampai rumah tepat sebelum adzan Magrib berkumandang. Untungnya saat ia menaiki bus, sudah hampir terisi penuh dan siap berangkat.
Bagiru tiba, ia mampir sebentar ke warung, seperti biasa ada Ibu yang jaga. Sebenarnya letaknya di depan rumah, hanya saja memiliki ruangan terpisah.
''Ehh, udah pulang Neng?''
Ia pun mencium tangan Ibu yang terlihat sedang menyiangi cabe, bawang, dan tomat. Mungkin sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sambal, teman makan mala?kala nanti.
''Iya Bu. Cape gening kukurilingan dari pagi.''
''Istirahat aja atuh Neng, mandi dulu.''
''Iya Bu, Neng masuk ya.''
Ia pun bergegas masuk ke dalam rumah, sekilas melirik ke arah Yoga yang sedang main HP di teras rumah.
''Bawa apa itu Neng?'' Begitu ia masuk, Bapak keluar dari kamar melihat ke barang yang tadinya ingin ia sembunyikan.
''Ini laptop Pak.''
''Laptop kayak punya Om Tomi?''
Om Tomi adalah suami dari adik Bapak yang biasa dipanggil Ateu Ina. Om Tomi ngajar di sekolah Yoga sehingga memiliki laptop di rumahnya. Nasibnya sedikit lebih baik dari Bapak. Hihihi.
''Iya Pak.''
Yoga masuk ke rumah dan mengambil jinjingan yang ia bawa.
__ADS_1
''Ini mah laptop mahal baru lagi. Hebat teteh, baru kuliah udah beli laptop.''
Memang keluarganya seringkali membeli barang second agar harganya lebih murah. Sehingga membeli barang baru adalah kemewahan tersendiri bagi mereka.
Ia pun bergegas masuk ke kamar untuk segera mandi. Khawatir Bapak bertanya lebih banyak, sedangkan ia belum mempersiapkan jawaban yang tepat. Sudah terlalu lelah otaknya untuk diajak berpikir.
Selesai shalat Isya ia pun keluar karena perutnya terasa lapar. Terakhir makan tadi di bus makan roti bertuliskan ''bread talk'' yang dibeli Rama. Orang kaya selalu tahu makanan enak, pikirnya.
''Neng katanya dibelikan laptop. Laptop nya dari Bu Lia?'' Ibu bertanya tanpa aba-aba yang membuatku kembali tersedak seperti siang tadi.
''Bu...bukan Bu.'' tiba-tiba pikiran jadi buntu. Harus jawab apa.
''Siapa atuh yang beli? Bageur pisan ngebeliin laptop.'' Ibu nampak penasaran. Di sampingnya Bapak pun mulai melihat ke arahnya.
''Itu dari Kak Rama Bu, anaknya Bu Lia. Kata Kak Rama nanti Neng bakal butuh laptop buat ngerjain tugas.'' rasanya tidak sanggup jika ia harus berbohong, bismillah saja. Semoga semuanya baik-baik saja.
''Kacida bageur pisan, sakeluarga eta teh bageurna?'' Ibu begitu semangat.
Ia berusaha makan se santai namun cepat agar bisa segera masuk kamar. Namun konsentrasi menghabiskan makanan dengan cepat menghilang saat Bapak bertanya.
''Yang suka nelponin kamu malem-malem itu Rama?''
Ternyata Bapak diam-diam memperhatikannya.
''Ya gimana atuh Pak. Neng juga bingung, masa orang nelpon nggak diangkat.''
Bapak terdiam tak berkata apa pun.
*********
__ADS_1
Bapak
Mita memang menonjol sejak masuk usia pubertas nya. Dia anak yang pintar, mudah bergaul, pandai membawa diri, dan bisa dibilang cantik. Sejak SMP, ia perhatikan ada saja temannya yang menyukainya. Terutama setiap tgl 14 Februari yang katanya hari valentine apalah itu, Mita akan bawa banyak coklat dan hadiah dari teman-teman laki-laki nya. Seru-seruan anak-anak katanya. Namun tidak ada satu pun yang dianggap serius oleh Mita.
''Mereka mah temen aja Pak. Neng mah nggak mau sama mereka. Ulin wae kerjaannya teh, nggak suka belajar. Tapi kalau coklatnya mah ambil aja, sayang.'' Lalu Mita akan tertawa cekikikan.
Namun yang menjadi kekhawatirannya hari ini, anak dari orangtua asuh Mita terlihat memiliki ketertarikan kepada Mita. Dimulai dari pertama kali Rama mengantar menunggu bus, ia beberapa kali terlihat mencuri pandang ke arah Mita. Namun Mita selalu menunduk.
Rama memang baik, keluarganya pun keluarga baik-baik. Tampan, mapan, baik, apalagi yang kurang? Sosok menantu idaman bagi orangtua manapun yang memiliki anak gadis.
Ia khawatir akan menganggu kuliah anaknya. Terlebih jika Bu Lia tahu, apa yang akan ada di pikiran beliau? Ini yang paling di khawatirkan.
''Berteman baik dengan siapapun Neng. Relasi pertemanan akan membantu kita di kemudian hari. Belum saatnya Neng cantik ini menjalin hubungan dengan laki-laki. Buka pergaulan seluas-luasnya.''
Hanya itu yang sanggup ia ucapkan kepada Mita. Semoga Mita menegerti harapannya. Dielusnya rambut anak gadis nya satu-satunya itu. Anak seusia Mita memang tengah di puncak pubertas, ia harus selalu menemaninya agar anaknya itu tidak salah jalan.
''Bapak tenang aja, Mita mau fokus kuliah. 1001 anak yang dikasih kesempatan seperti Mita. Neng juga nggak mau mengecewakan Bapak, Ibu, Bu Lia, juga Pak Sandi.''
Jawaban Mita membuatnya tenang seketika.
''Lagian Neng juga tahu diri Pak. Siapa kita, siapa keluarganya Bu Lia.''
Ada gurat kesedihan yang ia tangkap daru ucapan Mita. Mungkinkah Mita juga menyukainya Rama? Ahh.. perempuan mana yang menolak pesona Rama.
*****
By the way anyway busway, kalau tidak merepotkan aku tunggu komen, like, dan support kalian ya karena aku penulis pemula disini πΊπΊ
Bisa juga berteman di dunia per-instagram an dengan follow Instagram aku @shintaanadrika dm aku biar aku follow back π€π€
__ADS_1
Semoga kita bisa berkawan rapat πΊπΊπΊπΊ