
"Kaku banget anjir."
Mita menginjak kaki Rama.
Meski samar, Pak Mukhtar dan Mita masih mendengar ucapan Rama.
"Ngga ada kebijakan kampus untuk mahasiswa yang sakit?"
"Untuk mahasiswa sakit bisa diwakilkan dengan membawa surat keterangan sakit di waktu pendaftaran yang sudah ditentukan, Pak."
"Udahlah Bang, ngga apa-apa aku wisuda tahun depan aja."
Mendengar ucapan Mita, Rama melemaskan sendi lehernya yang kaku. Bukan Rama namanya jika tidak berusaha sampai mentok.
"Gini Pak. Saya tau ini salah Saya dan Istri Saya karena ngga update pengumuman. Kita cari win win solution, karena saya juga ngga mungkin ngebiarin istri saya untuk ngga wisuda. Tiga tahun dia kuliah, apalagi saat perjuangan sidang kemarin sambil hamil itu ngga mudah."
Perlahan Rama mengeluarkan kartu sakti yang menurutnya bisa memudahkan kesulitan apapun. Sesuatu yang selalu ada dalam dompet jinjingnya dan ia bawa kemanapun pergi.
"Saya to the point aja, karena Saya ngga bisa basa-basi. Saya biasanya nyuruh orang untuk negosiasi. Jadi maaf kalau terkesan kurang sopan. Saya akan bayar denda keterlambatan, ini cukup?"
Mita kaget begitu Rama mengeluarkan dua gepok uang berwarna merah.
"Bang, Abang ngapain?"
Rama tidak menghiraukan pertanyaan Mita. Ia tidak pernah nyaman untuk melakukan hal seperti ini, namun hari ini terpaksa ia lakukan demi Mita.
Sama hal nya jika dalam bisnis, sesekali jalan seperti itu harus ditempuh. Misalnya saat berhubungan dengan perizinan, ia akan mengutus orang untuk negosiasi.
Pak Mukhtar dan beberapa staf akademik sama shock nya dengan Mita. Kini Pak Mukhtar sadar bahwa ia sedang bicara bukan dengan orang sembarangan.
"Maaf Saya bicara dengan Bapak siapa?"
"Saya Rama, suaminya Mita."
"Pak Rama, mohon maaf kalau ini membuat Bapak tidak nyaman. Mohon maaf juga kami tidak bisa menerima ini. Bapak bisa langsung bicara ke Direktur kami, silakan tunggu di loby Pak."
Rama membuang muka. Jual mahal, pikir Rama.
"Loby dimana?"
Pandangan Rama mengarah kepada Mita.
"Di sana."
Mita menunjuk pintu masuk utama gedung akademik yang sejajar dengan loket akademik.
"Pak, ini tolong di bawa lagi."
Rama tidak peduli dengan panggilan Pak Mukhtar, karena emosinya masih tinggi. Ia langsung meninggalkan loket akademik menuju pintu utama.
"Pak Mukhtar maafin Rama ya. Aduh Rama malu-maluin."
"Iya ini Neng tolong dibawa, ngga enak diliat yang lain."
Mita langsung memasukan uang ke dalam tas nya. Lalu mengejar Rama yang meninggalkannya ke lobby.
"Abang ngga boleh gitu. Ngga boleh nyogok."
"Aku bilang bayar denda keterlambatan."
__ADS_1
"Sama aja, cuma namanya aja diperhalus."
Selang 10 menit Pak Mukhtar mendatangi Rama untuk masuk ke ruangan Pak Panji, Direktur Bidang Akademik.
Suasana dingin dan sepi mendominasi ruangan Pak Panji siang itu.
"Permisi."
Dengan percaya diri Rama memasuki ruangan bersama Mita di sampingnya.
"Silakan masuk. Saya kira Bapak-bapak, ternyata masih muda. Silakan duduk."
"Terima kasih, Pak."
Mita mewakili Rama yang sedang tidak ingin basa-basi.
"Gimana Mbak, Mas, ada yang bisa Saya bantu?"
Saat menunggu tadi, Mita memaksa Rama untuk cuci muka dan minum. Agar emosi dan otaknya stabil kembali sebelum bicara dengan Direktur kampusnya.
"Saya suaminya Mita, Pak. Istri Saya telat daftat wisuda dua hari. Peraturan di kampus sini kaku gini ya Pak?"
Mita mencubit tangan Rama dibalik meja. Meski nada bicara Rama sudah tidak setinggi dengan Pak Mukhtar tadi, namun ucapan Rama masih terdengar tidak sopan di telinga Mita.
"Soalnya di kampus Ayah Ibu Saya kayaknya lebih fleksibel."
Mita tidak menyangka Rama pandai mengarang. Darimana Rama tahu bahwa Jakun fleksibel terhadap keterlambatan?
"Orangtua Mas nya dosen juga?"
Tepat sasaran. Pancingan Rama berhasil. Ada saatnya kita perlu menunjukan siapa kita.
"Ohh keluarga besar Jakun. Mas nya alumnus Jakun juga?"
"Sarjana Saya di Jakun, magister Saya di US."
Pak Panji berdehem melihat keberanian laki-laki muda dihadapannya. Laki-laki yang sedang ingin memberi tahu dunia siapa dirinya.
"Wah, hebat. Siapa nama orangtuanya maaf, kalau Saya boleh tau?"
"Pak Romi dan Bu Amalia mungkin Bapak kenal."
Kadar emosi Rama kian menyusut karena pembawaan santai Pak Panji.
Pak Panji tampak mengingat-ngingat sesuatu.
"Kela Romi mana ieu teh? Saya punya banyak teman nama Romi." (Kela : Tunggu dulu)
"Ayah Saya dr. Romi Rachman."
"Urang Bandung sanes?"
"Betul Pak."
"Aduh aduh. Kela kela urang telepon heula."
Feeling Mita semakin tidak enak saat Pak Panji menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Bos Dokter kumaha damang?"
__ADS_1
Apa benar orang di depannya kini kenal dengan Ayahnya?
"Aduh, tos baraha dekade teu pateupang ieu? Kang Haji sehat?" (udah berapa dekade ngga ketemu)
Mita mencengkram tangan Rama kuat. Hal yang ada di pikirannya benar terjadi. Mita dan Rama sedang mendengar suara Pak Romi.
"Kela, ieu aya saha coba di kantor Saya? Bilih wauh ieu mah." (saha : siapa, bilih : siapa tau, wauh : kenal)
Direktur mengarahkan kameranya kepada Rama.
"Naha aya Rama?" (Kenapa ada Rama?"
"Tah valid geuning. Cocok nya ieu teh putra na Kang dokter?" (geuning : ternyata, putra : anak)
"Lagi ngpain Ram ?"
"Rama lagi nganter Mita daftar wisuda. Papa kenal sama Pak Direktur?"
"Kenal atuh, CS waktu SMP." (Cs : sohib)
"Tah ieu teh caritana, si Ujang kadieu hoyong daftar wisuda kanggo si Eneng. Tapi pendaftaranna teh tos tutup ti dua poe kamari. Jadi tos teu tiasa eta teh. Selanjutnya, hoyong naur uang denda saurna ka pihak kampus supados si Neng tiasa ngiring wisuda. Eta teh kumaha nya, da didieu mah teu aya denda keterlambatan. Janten maksad si artos teh kanggo naon Kang Dokter? Cik Abi hoyong terang."
(Ceritanya, si Ujang ke sini mau daftar buat si Eneng. Tapi pendaftaran sudah tutup dua hari kemarin. Jadi sudah ngga bisa. Selanjutnya, mau membayar uang denda katanya ke pihak kampus supaya si Eneng bisa ikut wisuda. Ini gimana ya, soalnya di sini ngga ada denda keterlambatan. Jadi maksud si uang untuk apa Kang Dokter? Coba Saya mau tau.)
Rama salah tingkah mendengarkan pengaduan Pak Panji ke Ayahnya atas kejadian tadi.
"Waduh, kamu jangan malu-maluin Papa. Ngga pernah Papa ngajarin kamu kaya gitu."
"Emosi Pah. Mita udah susah-susah kuliah, masa wisuda nya di tunda? Papa sendiri yang bawa dokter kandungan ke apartemen buat periksa dan disuruh bedrest? Dia sampe nangis-nangis nelpon aku ngga bisa ikut wisuda. Ya aku emosi."
Pak Panji mengangguk-ngangguk kecil.
"Kitu heula nya Kang Dokter. Kin Abi hubungi deui." (Segitu dulu ya Kang Dokter. Nanti Saya hubungi lagi.)
"Mangga, mangga. Hapunten nya Kang, hatur nuhun."
Pak Panji menyimoan ponselnya kembali ke atas mejanya.
"Coba kalau tadi langsung ke sini, apalagi anaknya Kang Dokter pasti Saya bantu tanpa harus ngeluarin uang dan rame-rame di akademik. Sekarang uangnya dimana? Masih di akademik?"
"Ada di Saya, Pak. Tadi Pak Mukhtar suruh dibawa uangnya."
"Jadi peratuan itu bukannya kaku. Tapi kita ngga mau karena satu orang, jadi mengesankan ke mahasiswa lain bahwa ngga apa-apa telat. Akhirnya besok-besok semakin banyak yang telat. Semakin repot kerja pekerjaan akademik."
"Jadi clear ya kampus ini bersih dari suap. Nanti berkas si Eneng nya Saya bawa sendiri ke Rektorat Pusat."
Wajah Ruma berubah seketika. Baru kali ini ia merasa malu.
"Saya mohon maaf untuk kegaduhan tadi, Pak."
Rama akhirnya melunak, menyadari kesalahannya.
"Ngga apa-apa, mangga berkas nya kasih ke Pak Mukhtar biar di proses akademik dulu untuk di cap dan lain-lain."
"Saya wisuda tahun depan aja, Pak."
Mood Mita sudah hilang, ia sudah tidak ingin wisuda.
Wajah Rama langsung berubah karena kesal. Setelah rasa malu nya ia tanggalkan tadi sampai nyogok, sekarang ngga jadi?
__ADS_1