Cinta Mita

Cinta Mita
Balik Ke Hotel !


__ADS_3

Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya Adit sampai di meja Sena dengan kaos turtleneck dilapisi jaket denim dan topi.


"Mas udah ngambil makanan? Kok aku ngga liat datengnya."


"Kamu tadi lagi asik ngobrol."


Adit menyimpan piring berisi salad, potato wedges dan sosis yang sudah ia ambil. Sambil melirik ke arah Damar dan Pak Gunawan yang sejak ia datang terlihat sangat akrab dengan Sena.


"Mas belum ambil susu?"


"Dimana sih? Aku ngga liat."


Adit memperbesar suaranya agar terdengar oleh meja sebelah.


"Aku ambilin ya."


Meski suara Sena tidak sebesar suara Adit, namun suaranya bisa didengar jelas oleh Pak Gunawan dan Damar.


"Aku ambil sendiri."


"Bareng, aku juga mau ambil."


Pak Gunawan mengerti, situasinya menjadi lebih jelas. Sena jelas mencintai Adit.


Sena merangkul pinggang Adit tanpa canggung, dan Adit membalas dengan rangkulan bahu.


"Akrab banget keliatannya."


Setelah yakin ucapannya tidak akan terdengar oleh ayah dan anak, Adit mengeluarkan unek-unek yang sejak pertama ia masuk mengganjal di hati.


Pertama masuk ke restoran tadi, Sena bicara dengan Pak Gunawan degan senyum merekah. Terlihat nyaman dan akrab seperti ayah dan anak pada umumnya.


"Ngga apa-apa kan?"


"Ke Ayah aku malah ngga se-akrab itu."


Adit betul-betul tidak suka dengan kehadiran Damar dan Ayahnya di hotel yang sama dengan Sena. Kebetulan macam apa ? Adit masih sulit menerima jika itu hanya kebetulan.


"Nanti aku ke rumah Mas ya."


"Pas aku pulang? Masih lama, setahun lagi."


"Ngga. Pulang dari sini, sebelum aku balik ke Bandung."


"Emang berani?"


"Namanya juga usaha."


"Pinter."


Adit membuka topi, dan Sena merapikan rambut Adit yang berantakan.


"Tadi Mas bilang setahun lagi baru pulang?"


Sena tergoda dengan puding berlumur vla vanilla. Akhirnya ia ambil dua potong dua potong.


"Iya. Kenapa?"


"Lama banget Mas, udah kaya TKI pulang setahun sekali."


"Takut ngga mau balik kesini lagi kan bahaya."


"Kenapa ngga mau balik kesini lagi?"


Sena tidak sadar ucapannya memancing gombalan Adit.


"Di sini ngga ada bidadari. Bidadari nya di Bandung. Mau tanggung jawab kalau aku ngga mau balik kesini lagi?"


"Pagi-pagi udah digombalin."

__ADS_1


Setelah mengambil puding, susu dan teh hangat, Sena dan Adit kembali ke meja dimana Mita sedang makan sambil video call.


Adit melancarkan gombalannya kembali, saat sudah kembai meja.


"Coba kamu balik badan."


Adit memegang bahu Sena, agar bisa melihat punggungnya.


"Kenapa emangnya?"


"Bidadari kok ngga ada sayapnya."


"Masukkk pak ekooo."


Adit tertawa, mencubit hidung Sena.


"Ini pasti kamu pernah mandi di sungai."


"Ngga deh kayanya."


"Kamu lupa kali."


"Kapan aku mandi di sungai? Ngga pernah kayaknya. Mas mah ngarang."


Sena yakin betul, ia hanya beberapa kali melihat sungai secara langsung. Salah satunya saat masa pengenalan siswa baru saat SMA.


"Selendang kamu ilang kan? Jadi ngga bisa balik ke khayangan."


Kini Sena yang gemas. Ia mencubit balik hidung kekasihnya yang sukses membuat salah tingkah.


"Kamu ngga bosen?"


"Ngga atuh."


"Maksudnya ngga bosen cantik terus setiap hari?"


Bagai buaya profesional, Adit sengaja mengeluarkan gombalan terbaiknya agar di dengar tetangga sebelah.


Wajah Sena merona tanpa blush on.


"Kenapa? Aku jujur."


Pak Gunawan jadi merasa berada di tempat dan keadaan yang salah. Memutuskan untuk menyelesaikan sarapan pagi ini.


"Hari ini kamu mau kemana?"


"Liat mood nanti aja, Yah."


"Bunda nitip sepatu sport. Mau antar Ayah?"


Tanpa ragu Damar mengangguk jika sudah menyangkut Sang Bunda. Keduanya lantas pergi, karena Pak Gunawan merasa tidak nyaman, meski Damar terlihat biasa saja.


"Sena, Om duluan ya."


"Iya Om. Semoga nanti bisa ngobrol lagi."


"Bisa kalau Sena nya ngga sibuk."


Sena tersenyum mengangguk.


Damar meninggalkan Pak Gunawan yang masih saja bicara dengan Sena.


"Mar, tunggu."


Setelah Damar dan Pak Gunawan pergi, suasana menjadi lebih mencair.


"Kalian jadi ke disneysea?"


Mita pun ikut merasa tidak enak dengan obrolan Adit karena kehadiran Damar dan Pak Gunawan. Akhirnya tadi ia video vall Rama agar tidak ikut merasa canggung.

__ADS_1


"Terserah Sena. Tapi tiketnya udah aku beli."


"Kalau ngga kesana, sayang ngga ya Mas tiketnya?"


"Kenapa emangnya?"


"Ngga kenapa-kenapa sih, cuma aku pengen ada Teteh juga."


"Eh ngga apa-apa. Kalian pergi aja, aku bisa jalan-jalan sendiri sekitar hotel kalau bosen di kamar."


"Beneran Teh ngga apa-apa?"


Perasaan Sena tidak enak. Ia takut terjadi sesuatu nantinya.


"Serius, jalan aja. Besok kan Adit kerja, kalian ngga ketemu."


Adit pun jadi merasa tidak enak hati karena meninggalkan Mita sendiri.


"Teteh kalau perlu apa-apa kabarin aku aja ya. Nanti aku yang telepon hotel biar diurusin."


Selesai sarapan, Mita, Sena dan Adit menuju kamar untuk mengambil tas Sena. Tidak lupa Sena memakai sunblock, antisipasi jika cuaca di luar panas.


Setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal, Sena dan Adit segera bertolak ke Stasiun Shinjuku dengan berjalan kaki. Sena memutuskan untuk naik bus menuju Disneysea Tokyo karena ingin pengalaman yang berbeda. Sementara Adit hanya mengikuti kemauan tuan putri.


Di tengah perjalanan, sesaat sebelum sampai Statiun Shinjuku, ada telepon masuk ke ponsel Sena dari Rama.


"Kamu dimana?"


Perasaan Sena kembali tidak enak.


"Mau jalan ke Disney."


"Mita ngga kamu ajak?"


Menyesal pada akhirnya, meninggalkan Mita sendiri di hotel. Namun Sena tetap nnerusaha membela diri, meski tau ia salah.


"Tiketnya tinggal dua, Teteh bilang buat aku sama Adit aja."


"Kamunya mikir ! Kamu dikasih hati minta jantung. Aku bolehin kamu ke sana bukan buat pacaran. Temenin Teteh denger ngga?? Kalau tiket cuma dua, ngga usah pergi semua, jangan mentingin diri sendiri sama cowok. Orang kalau udah bucin jadi tol*l."


Sena diam, airmatanya keluar mendengar kemarahan Rama.


"Adit mana Adit?"


"Jangan marahin Adit, maki aku aja."


Sena menjawab dengan sesegukan. Adit mengusap Sena agar berhenti menangis.


"Mana Adit !"


Meski berupa kalimat tanya, namun bagi Rama sekarang adalah kalimat perintah.


"Kak, sorry."


"Pacaran aja lu. Malah ambil kesempatan."


"Sorry gua yang salah."


"Kalian asik-asikan pacaran, ninggalin Mita sendiri. Otak dimana? Gua bayarin Sena buat temenin Mita, bukan buat ketemu elu!"


"Gua udah transfer ke Sena buat ganti tiket, Kak."


"Gua ngga butuh duit lu anj*ng."


"Bukan gitu maksudnya."


"Lu mau ngadu-gaduan duit? Cetak semua rekening koran, deposito dan semua aset. Kirim sini."


Adit menghela nafas, menyadari sudah salah bicara.

__ADS_1


"Balik ke hotel !"


__ADS_2