
Semangat Senin !
Semangat vote, like dan komen yaa biar aku semangat update nih 😚😚
*****
Selepas menelpon Bu Retna, Adit membuka pesan dari Sena. Semula ia kira pesan tersebut berisi bahwa Sena sudah memaafkannya, ternyata isinya PDF berupa tiket pesawat. Namun setelah diteliti ternyatà bukan tujuan San Francisco ataupun Los Angeles, melainlan Tokyo dengan kelas bisnis. Untuk tiket San Francisco dan Los Angeles sengaja tidak Sena kirimkan, dengan maksud nanti Sena yang akan mengurus masalah boarding di bandara.
"Bangkeee kenapa gua bisa lupa belum booking tiket pulang."
Umpatnya dalam hati.
Adit segera bersiap. Tak butuh waktu lama karena pukul 06.30 Adit sudah rapi.
"Sarapan dulu Dit."
Bu Rini menyadari Adit yang sudah rapi akan ke apartemen sebelah.
"Di samping aja Bu."
Adit berkata sambil tersenyum dan membungkukan badan, sedikit terbawa kebiasaan saat di Jepang. Ia pun mengetuk apartemen Rama.
"Rajin amat jam segini udah siap."
Rama masih dengan setelan boxer pendek dan kaos oblong memegang gelas berisi air mineral membukakan pintu.
"Ini tiket ke Tokyo lo yang bayar?"
Tanpa basa basi Adit membicarakan inti permasalahannya.
"Masa Mita, ya gua lah."
"Gua kemarin mau beli tiket cuma belum tau kalian balik ke Jakarta pake flight yang jam berapa. Maksudnya biar penerbangan kita ngga beda jauh."
"Yaudah selow."
Rama senang, ternyata Adit memang bukan laki-laki yang ingin memanfaatkan keluarganya. Salah satu alasan terbesar ketakutannya melihat Sena dekat dengan laki-laki adalah karena takut Sena dimanfaatkan laki-laki tidak baik. Satu poin darinya untuk Adit.
"Gua jadi ngga enak. Gua ganti aja ya Kak."
"Berapa sih emang harga tiket US Tokyo Sayang?"
Rama duduk di kursi makan dengan laptop di hadapannya bertanya harga tiket yang semalam dibayar oleh Mita dengan rekening miliknya.
"Lima puluh Sayang."
"Mahal ya."
Rama berseloroh, untuk menggoda Adit.
"Nah mahal kan, gua ganti aja ya."
"Ngga usah. Sayang tolong kupasin apel."
Rama tidak suka kulit apel yang menurutnya tidak enak jika dimakan utuh, karena merusak citarasa apel itu sendiri. Berbeda dengan jus apel, ia lebih suka lengkap dengan kulitnya. Ada krenyes-krenyes nya.
Adit menyadari Rama tidak ingin membahas tiket lagi, alasan mengapa pembicaraan Rama beralih ke apel.
"Sorry ya jadi ngerepotin."
Mita yang masih memanggil Adit dengan sebutan Mas, mencoba untuk memberikan pandangan lain, bahwa Adit tidak perlu merasa sungkan.
"Ngga ngerepotin kok Mas. Abang tuh emang kaya gitu. Jangankan Mas Adit yang emang kerabat kita, temennya yang kemarin video call dibayarin honeymoon kelas bisnis sama istrinya kesini di hotel bintang lima."
Gila ! Sebanyak apa uang Rama? Rama memang sulit untuk dilampaui dari sisi manapun.
Aditpun membuka kulkas, tergiur dengan apel yang Mita kupas untuk Rama. Tanpa sadar pandangannya sesekali mengarah ke pintu kamar Sena, hingga akhirnya Mita menyadari bahwa Adit mencari keberadaan adik iparnya tersebut.
"Sen, ada Adit."
Mita mengetuk kamar Sena. Beberapa kali Mita memanggil Sena namun masih tidak ada jawaban.
"Sen, sarapan."
Rama akhirnya tidak sabar.
"Iya iya."
Mau tidak mau Sena keluar kamar dengan bantal kecil dan ponsel di tangan menuju sofa. Belum niat bergabung sarapan dengan Rama dan Mita.
Adit mengambil nafas dalam, ekor matanya mengikuti langkah Sena.
"Gua mau nanya banyak tentang investasi Kak."
Adit teringat pesan Bu Retna, untuk belajar investasi dari Rama.
"Boleh. Mau investasi apa? Kosan, kafe masih jalan kan?"
"Masih. Nanti deh kita ngobrol serius tentang ini."
Adit bangkit mendekati Sena. Pikirannya masih tertuju pada perempuan yang masih mengenakan piyama.
"Sen, lusa kan kita pisah."
"Terus? Teh, boleh minta tolong ngga angetin susu UHT yang dikulkas?"
Kebiasaan Sena selama di Amerika, merendam susu UHT berikut kemasannya kedalam air panas agar susu di dalam kemasan menjadi hangat.
"Angetin sendiri Dek."
"Aku minta tolong Kak."
__ADS_1
"Boleh, aku angetin ya."
Mita mengalah demi pagi yang tidak ingin ia dengar perdebatan di dalamnya.
"Masih mau marah? Sampe kapan?"
"Aku udah maafin."
Dengan suara pelan keduanya bicara tanpa saling memandang. Rama melihat pemandangan tersebut merasa heran.
Semenatara itu mata Sena masih sibuk dengan ponsel, lebih tepatnya sok menyibukan diri.
"Tapi kamu masih marah. Liat aku Sen, ngomongnya jangan irit-irit."
Adit memberanikan diri melihat Sena, menggenggam tangan kiri perempuan tersebut yang bersembunyi di bawah meja.
"Kenapa marahan?"
Iseng Rama berjalan dengan piring berisi apel yang telah dikupas.
"Ngga kenapa-kenapa, aku lagi ngga mood aja, nanti juga baik kali."
Moody. Sena adalah perempuan paling moody yang pernah Adit kenal.
"Once again, I'm sorry for that."
Adit meninggalkan Sena menuju meja makan untuk minta sarapan kepada Mita yang memasak spageti pagi ini. Menu andalan karena mudah dibuat.
"Sorry for what?"
Rama penasaran.
"Kepo !"
Kini Sena yang meninggalkan Rama menuju kamar dan membanting pintu dengan keras.
"Sen, ini susu udah hangat."
"Simpen disitu aja."
Sena menjawab dengan setengah berteriak.
"Nanti keburu dingin lagi Sen."
Kini sudah tidak ada jawaban.
"Kenapa sih?"
Mita juga ikut penasaran, Adit hanya menyerngitkann alis nya.
"Ngga tau. Aku laper Teh, minta sarapannya boleh?"
"Bukan sok manis, cuma berusaha sopan."
Adit membela diri.
Rama merasa ada yang aneh dengan Sena dan Adit, lalu menyambung-nyambungkan aktivitas mereka kamarin. Hingga merasa perlu memeriksa sesuatu.
Pukul 10 tepat, rombongan sudah siap menuju San Francisco. Sena sudah melupakan kekesalannya kemarin. Hanya tertinggal 20% saja kadar kesalnya karena tertutup dengan perasaan senang akan meng-explore San Francisco.
Namun sayangnya sejak boarding di bandara Seattle hingga kini, sudah tiba di San Francisco tidak ada tanda-tanda Adit mendekati Sena, hanya bicara dengan Yoga dan sesekali memotret menggunakan DSLR yang baru ia keluarkan.
Perjalanan di San Francisco dimulai dengan makan siang Eagle Cafe dengan pemandangan Teluk yang indah. Menu makan siang spesial berupa kepiting dungeness segar, daging sapi jagung, dan seafood segar lainnya yang terkenal.
Kepiting dungeness adalah kepiting yang ditemukan di Northwest dan di lepas pantai Washington. Jenis kepiting yang bisa dimakan ini biasanya diolah dengan cara dikukus atau direbus utuh. Tekstur dagingnya keras namun rasanya manis dan ringan.
Selain itu, daging dapat digunakan dalam salad, kue kepiting, semur, bisque, saus, dan hidangan pasta. Kepiting ini juga terkadang digunakan dalam kari pedas, yang kemudian disajikan dengan nasi kukus di sampingnya. Menariknya, kepiting Dungeness tinggi protein dan kaya akan seng, selenium, dan vitamin B12.
"Teh, nanti mau nyoba In n Out Burger? Ngga jauh dari sini."
"Gile, anak Jakarta bisa tau In n Out juga."
Sena memang tidak diragukan mengenai pengetahuan tempat wisata dan kuliner.
"Tau dong, aku sengaja ngga makan banyak karena mau nyobain In n Out ." sambil sesekali mencuri pandang ke arah Adit yang berjarak tiga kursi darinya. Terlihat asik ngobrol dengan Yoga dengan penuh tawa. Ia iri.
In n Out Burger adalah gerai penjualan burger yang berbasis di California. Restoran tersebut memiliki logo panah kuning yang artinya sejalan dengan sebuah slogan yang bernada "Kita semua bekerja di bawah panah yang sama". Artinya memang kita hidup dengan standar yang sama.
Selesai makan, Mita yang paham hubungan Sena dan Adit sedang bermasalah, berinisiatif mengajak Adit.
"Ikut Mas."
Sementara para orangtua menunggu di Eagle Cafe.
Adit dan Yoga mengikuti Sena dari belakang, sementara Rama bersama Mita dan Sena.
Diperjalanan menuju kedqi burger, Adit terus menggoda Yoga agar berani mendekati bule perempuan yang menurutnya seumuran dengan Yoga.
"Ga, itu cantik Ga. Ajak kenalan, buat asah bahasa Inggris kamu."
Adit menunjuk gadis muda bertopi dengan rambut panjang tergerai cantik.
"Aduh malu Mas."
Adit tertawa melihat wajah Yoga yang memerah.
Sena melihat pemandangan itu dengan kesal.
"Ih nyebelin banget sih. Adit ngga ada peka nya banget !" Sena terus menggerutu sepanjang jalan.
"Kamu marahan karena apa sama Adit?"
__ADS_1
"Gitu lah males aku ceritnya."
Sena tidak ingin kejadian semalam diketahui siapapun.
"Udah minta maaf kan? Dia udah tau salahnya apa?"
Sena mengangguk.
"Aku juga udah maafin. Tapi liat aja dia kayak gitu, ngga ada usaha nya bujukin aku. Aku jadi marah lagi ini mah."
Rama seolah tidak mendengar pembicaraan dua wanita di sebelahnya, meskipun ia menyimak betul isi pembicaraan.
"Ga, pinjem Adit dulu."
Rama menarik Adit ke parkiran menjauh dari Yoga ketika Sena dan Mita mengantre membeli burger.
"Semalem pas gua keluar sama Mita lu ngapain sama Sena?"
Adit diam, bingung harus menjawab apa.
"Ngga ngapa-ngapain."
"Ngga usah bohong."
Mungkinkah Rama tau yang ia lakukan semalam dengan Sena?
"Apa yang harus gua tutupi dari lu?"
"Mungkin lu ngga tau kalau di ruang TV ada CCTV. Gua kasih lu kesempatan untuk ngomong soal semalam."
Tadi pagi Rama menyadari Sena dan Adit sedang marahan, akhirnya ia memerika CCTV ruang tengah yang terhubung ke monitor di dalam kamarnya. Dan benar saja, saat ia pergi membeli dimsum sesetuatu telah terjadi di apartemen.
"I just kissed her. Salah?"
Adit memberanikan diri melihat Rama yang juga tidak melihat ke arahnya.
"Terus kenapa Sena marah? She just fine before."
Adit diam.
"Kenapa Sena marah?"
Rama mengulangi pertanyaan yang belum dijawab Adit dengan suara satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya.
"Sorry, it's my bad. Gua nanya dia udah pernah sama cowok lain apa belum?"
"Hah gimana?"
Baginya janggal Sena bisa marah, karena dilihat dari rekaman CCTV Sena tidak marah setelah ciuman pertama.
"I told her, she like a professional."
"B*ngs*t brengsek."
Rama tidak bisa menahan tangannya, kini tangannya sudah menarik kerah kaos Adit.
"Lo udah ngambil ciuman pertamanya dan bisa-bisanya lo bilang gitu? Baj*ng*n."
Yoga melihat pemandangan itu kaget dengan hal yang dilakukan Rama. Tidak ingin Rama melakukan hal lebih nekat, Yoga segera melerai.
"Bang, jangan Bang."
"Brengs*k anj*ng. Kalau gua suruh putus gimana hah?"
"Gua ngga maksud nyakitin Sena, gua cuma reflek ngomong gitu."
Mita melihat dari jauh suasana tegang antara Rama dan Adit, khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Sen, itu pada kenapa? Kenapa Abang narik leher kaos Adit. Muka Abang juga keras gitu. Samperin Sen, aku aja yang ngantri."
Sena setengah berlari mendekati para lelaki. khawatir yang ada di pikirannya benar terjadi.
"Kak, lepasin Kak."
Rama melepaskan tangannya dari leher kaos Adit.
"Sen putus aja."
"Kenapa sih tiba-tiba."
"Putus aja kamu denger ngga?!"
Rama meninggalkan halaman parkir menuju Mita, untuk ikut mengantre.
"Cowok kok mulutnya minus."
Rama bergumam pelan namun masih bisa didengar.
"Mas kenapa kok jadi gini?"
"Aku cuma jujur."
Jujur? Sena kesal setengah mati kepada Adit.
"Terus gimana?"
"Yaudah gimana, emang salah aku. Maaf soal kemarin kalau bener-bener nyakitin hati kamu."
Adit menyerah, kesalahan kecil menurutnya berbuntut panjang. Saat Rama tau ia sudah mencium Sena, ternyata Rama tidak marah. Namun begitu tau ucapannya kepasa Sena, kemarahan Rama tidak bisa ditahan. Artinya mungkin ia memang sudah kelewatan.
"Kalau jodoh ngga akan kemana Sen..."
__ADS_1