Cinta Mita

Cinta Mita
Mabuk Asmara


__ADS_3

"Kenapa Mbak? Ini aku lagi video call Sena. Dia jadi curiga gara-gara Mbak."


"Wong cilik, cinta-cintaan terus. Ada Mas Abi dateng, kamu disuruh ke bawah."


"Apa lagi? Aku nguantuk pool."


Dengan malas Adit membuka selimut yang sejak tadi menutupi badannya dari dinginnya AC kamar.


Setelah kenyang, matanya mulai terasa berat setelah seharian beraktivitas tanpa tidur siang. Sementara di Jepang, ia terbiasa tidur siang hampir setiap hari.


"Kamu kalau cuma mau telepon-teleponan, video call, balik sana ke Tokyo."


Putri berbalik badan hendak meninggalkan Adit karena kesal, karena Adit kini bucin to the max.


"Iya iya."


Adit menyusul Putri lalu merangkul agar tidak marah, meski bagaimanapun bawelnya Putri, ia adalah kakak yang Adit sayangi. Kecupan jahil pun mendarat di pipi Putri.


Di ruang makan, Abimanyu dan Fima sedang menikmati makan malam. Keduanya datang sepuluh menit yang lalu langsung mengambil piring untuk makan.


"Mana oleh-oleh Tokyo?"


Dengan mulut yang sedang menguyah kerupuk udang, Abi langsung menagih oleh-oleh.


"Lupa Mas, sumpah."


"Jangankan Mas, aku yang di rumah aja dia ngga inget."


"Aku pulang dadakan Mbak, beresin kerjaan sama tugas. Baru inget oleh-oleh pas di Bandara."


"Di Narita kan banyak oleh-oleh. Kamu nya aja ngga ada effort untuk Mbak sama Mas sama aku juga. Apa emang pelit?" (Narita : bandara Tokyo)


Tanpa di saring Fima berkomentar.


"Ya Allah Mbak, aku takut ketinggalan pesawat. Aku kasih uang aja ya masing-masing, beli sendiri apa yang di mau."


Adit sedikit tersinggung di ragukan loyalitasnya.


"Suombong. Kamu lah yang beli. Sejak kapan adik nyuruh kakak? Tak kutuk mau?"


"Hmmm... Sabar...."


Adit memegang dadanya, melapangkan dirinya sendiri. Ia adalah potret adik yang sering dijajah oleh Kakak.


Abimanyu tersenyum melihat kedua adik nya adu mulut. Sementara Bu Retna teringat kembali ketika ketiga anaknya masih kecil. Berebut mainan, bertengkar, lalu berbaikan karena saling sayang. Sekarang, cepat atau lambat ketiganya akan memiliki kehidupan rumah tangga sendiri.


"Besok beliin ya?"


Putri masih berusaha meminta jatah.


"Lusa deh, besok aku mau ke kondangan. Takut pulang malam."


"Siapa yang nikah? Temen kuliah?"


Bu Retna hanya sesekali mengeluarkan suara. Lebih menikmati menjadi pendengar obrolan ketiga anak dan menantunya.


"Temennya Sena, Bu."


Jawab Adit singkat.


"Oh.... temennya Sena... Jadi pulang karena mau kondangan sama Sena... "


Dengan ekspresi setengah mengejek, Abimanyu menyebut nama Sena dengan gaya slow motion. Namun tak dihiraukan oleh Adit. (slow motion : pelan)


"Sena adiknya Rama bukan sih?"


Fima teringat adik perempuan Rama, yang dulu kerap ada ketika ia bersama Fery main ke rumah Rama.


"Iya Sena Rachman."


Dengan PD, Abi menyebut nama lengkap Sena versi dirinya.


"Sok tau, Shenafia Rachman."


"Sama aja, cuma kurang Fia."


Keluarga Wiraguna tanpa Sang kepala keluarga malam itu ngobrol ngalor ngidul. Selang 90 menit Pak Bambang masuk, baru saja tiba dari Lombok setelah menghadiri acara wisata halal yang di selenggarakan oleh kementrian pariwisata.


"Nginep Mas?"


"Iya, aku juga baru nyampe langsung makan. Kangen masakan rumah."


Abimanyu dan Fima mencium tangan dan pipi Pak Bambang.


"Bosen masakan istri? Memes udah bisa masak apa aja?"


"Ayah suka nya makan apa? Aku bisa masak semuanya."


"Yang bener? Ayah kok ragu."


Pak Bambang tertawa terkekeh.


"Beneran Yah. Sekarang dia jago masak."


"Katanya waktu itu dadar telur aja keasinan."


Adit teringat percakapan di rooftop hotel dulu setelah Abimanyu dan Fima selesai acara resepsi. Saat itu Abimanyu mengatakan bahwa Fima hanya bisa masak mie dan air.


"Sekarang aku jago. Iya kan Sayang?"


Abimanyu mengangguk pasti.


"Bisa bikin rendang?"


"Gampang dong Yah. Soto, empal gentong, kari, banyak aku bisa nya sekarang."


"Gudeg bisa?"


"Belum kalau itu lama masaknya, aku ngga telaten. Aku bisa nya yang simpel aja."


Tiba-tiba Abimanyu tertawa keras, hingga semuanya kaget. Namun Fima ikut tertawa seolah paham alasan suaminya tertawa.


"Adit bikinin dong Yang, mumpung dia pulang. Kamu mau dibikin rendang ngga? Nanti dibekelin bawa ke Tokyo."


"Boleh... besok ya, aku mau nyobain masakannya Mbak Memes. Kapan lagi dimasakin wanita karir hits yang super sibuk."


"Tenang, buat kamu aku masakin yang spesial. Ada kan indomie goreng rendangnya Sayang? Aku bikinin sekarang juga bisa, dijamin enak."


"Kok Indomie?"


"Iya Indomie. Kan dia punya banyak rasa. Ada rendang, soto, kari, iga penyet. Mbak Memes jago masak Indomie dalam berbagai rasa."


Dengan tawa yang tertahan Abimanyu tiba-tiba menjadi sales Indomie.


"Wedhuusss."


Adit kesal telah dikerjai Abimanyu dan Fima. Sementara sang tersangka tertawa puas melihat keluarganya sepercaya itu.


"Meehhhh."


Putri yang semula exited langsung memicingkan matanya sebagai ekspresi kekesalan. Ia kira kakak ipar nya bisa menjadi referensi tambahan untuknya belajar memasak. Ternyata prank !


"Apa Ayah bilang, Memes masak yo mustahil."


"Daripada rumahku kebakaran, bibi aja yang masak. Dia bagian masak soto, rendang, yang tadi itu kalau Bibi di rumah mudik. Enak kok rasanya. Nanti aku bekelin buat kamu bawa Dit, sekardus aku bawain."


"Ngga usah. Aku bisa beli sendiri."


Bu Retna ikut tertawa melihat kelakuan anak dan menantunya yang absurd. Moment seperti ini nantinya akan ia rindukan, ketika Putri dan Adit menyusul Abimanyu menikah dengan pasangan yang menjadi pilihannya masing-masing.

__ADS_1


*****


Setelah lelah menangis, Sena merasa haus. Ia pun menelpon Bi Imas untuk mengantarkan air minum ke kamarnya. Ia meminta satu botol besar air minum agar tidak bolak balik.


Sena tidak tahu, bahwa di lantai 1 terjadi introgasi.


"Air buat siapa, Mas?"


Pak Romi melihat Bi Imas membawa sebotol air minum dengan gelas menuju lantai 2.


"Buat Neng Sena, Pak."


"Kapan Sena minta air?"


Bu Lia ikut melihat ke arah Bi Imas.


"Barusan telepon ke HP saya."


"Simpen sini aja botolnya, suruh Sena ambil sendiri."


Pak Romi menunjuk meja makan. Bi Imas mengangguk lalu bergegas menaiki anak tangga, menyampaikan pesan dari Pak Romi untuk Sena.


"Iya Pak."


Sepuluh menit ditunggu, Sena tidak kunjung turun karena malu jika harus terlihat dengan mata dan hidung merah. Namun karena tak tahan karena haus, akhirnya Sena terpaksa turun.


"Kamu habis nangis?"


Pertanyaan Pak Romi sontak membuat seluruh anggota keluarga yang sedang menonton berita memalingkan wajahnya, tertuju pada Sena.


"Putus ya sama Adit? Yah... segitu doang. Adit selingkuh?"


Rama meledek Sena, karena baru pertama kali melihat Sena menangis karena laki-laki.


"Enak aja."


Sena mempercepat langkahnya menuju meja makan, untuk mengambil air.


"Berantem?"


Bu Lia penasaran dengan kisah cinta anak muda.


Sena menjawab dengan gelengan kepala.


"Aku kzl ke Adit. Dia ngga lagi di apartemen, tapi ngga mau bilang lagi dimana."


Sena berlari memeluk Mita, bersembunyi di balik badan Mita yang sedang duduk santai di sofa. Malu jika airmatanya tumpah tanpa permisi lagi.


"Yaelah, kirain kenapa. Sena sekarang bucin akut."


"Semua akan bucin pada waktunya. Kaya yang ngga aja!"


"Dia nya bucin ngga sama kamu? Jangan-jangan kamunya doang. Dia nya mah biasa aja."


"Ih bucin lah ke aku juga. Dia tuh suka ngirim coklat, boneka, delivery makanan ke rumah Enin tau. Apa namanya kalau bukan bucin?"


"Emang bisa dari Jepang order gituan ?"


"Bisalah, aku pernah lho ngirim kado untuk anaknya Kak Fery ke rumahnya. Siapa ya waktu itu yang nyuruh."


Sena mengingatkan Rama, bahwa ia lun sering disuruh menjadi kurir. Seolah Rama sudah pikun, padahal baru mau jadi Ayah.


"Bawel. Kamu sana, punya aku ini mah."


Rama melepas paksa tangan Sena dari pelukan Mita, istri tercinta.


"Biarin dulu Bang. Abang ngalah sebentar."


"Punya Kakak nyebelin banget."


Sena reflek melipat kedua tangannya, efek kesal kepada Rama. Kalau tidak ada Pak Romi dan Bu Lia, kemungkinan besar bantal sofa sudah mendarat di wajah Rama.


Mita seolah tau isi hati Sena.


"Mungkin ngga sih Teh?"


"Mungkin banget. Adit 9 dari 10 dari segala spek. Kalau kamu di bawah dia dikit. 8,5 boleh lah."


Rama menjawab meski tidak dimintai pendapat.


"Apa sih."


Sungut Sena. Sementara Mita mencubit tangan Rama ikut kesal.


"Kamu percaya ngga sama jawaban aku sebagai orang yang pernah ada di masa lalu Adit."


Mita mengecilkan suaranya agar tidak didengar Rama. Namun gagal, nyatanya Rama menatap Mita tajam.


Sena terdiam beberapa saat lalu menjawab,


"Aku percaya. Gimana menurut Teteh?"


"Adit ngga akan mungkin selingkuh. Selingkuh sama siapa? Dia tuh orang yang tertutup, introvert. Kalau ngga terpaksa atau ngga disengaja, jarang banget ngobrol sama perempuan.Ke temen perempuan pun gitu doang, seperlunya. Kalau ada kerjaan berhubungan sama perempuan pun, seperlunya aja. Beda sama yang ini, sengaja tebar pesona."


Mita mengarahkan ujung matali ofnya ke arah Rama.


"Sumpah aku mah ngga pernah tebar pesona. Emang pesona aku nya aja yang luar biasa. Sampe bikin Bu Mita cemburu buta."


Rama menarik tubuh Mita ke dalam pelukannya sambil tertawa meggoda sang Ibu hamil.


"Hueekkkk. Eneg aku mah."


Sena meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya kembali. Hatinya kini lebih plong setelah mendengar pendapat dari Mita.


"Makasih Teh, bobo ah."


Sementara Rama mulai menggerayangi isi di dalam piyama Mita. Tidak melihat situasi bahwa ia tengah berada di ruang keluarga bersama Pak Romi. Hingga Pak Romi menyadari kelakuan anak dan menantunya.


"Rama kamu punya kamar kan?"


"Punya Pah..."


"Di kamar kamu lah, masa di sini. Papa juga mau masuk kamar, mau istirahat."


Pak Romi lantas masuk ke kamarnya karena ingin beristirahat.


"Bukan pengen ikutan kaya aku?"


Rama si frontal tertawa, sementara Mita mencubit pahanya.


*****


Pagi hari, Sena bangun dengan semangat. Entah tambahan semangat dari mana.


"Pagi Mas, udah bangun belum?"


Dengan senyuman Sena mengirimkan chat untuk Adit, kekasih tersayang.


"Pagi Non. Udah, lagi minum susu."


Adit menyelipkan foto segelas susu dalam genggamannya.


"Tumben minum susu."


"Iya, kangen juga sarapan pake susu anget."


Kebiasaannya di rumah, di pagi hari Bu Retna selalu menyiapkan segelas susu hangat dan roti bakar selali kacang untuk Adit.


Iseng, Sena video call Adit karena rindunya semakin bertambah.

__ADS_1


"Lebih kangen susu anget atau aku?"


"Kamu lah, masih ditanya."


Adit menatap penuh Sena dengan serius.


"Bisa banget gombalnya."


"Udah ngambeknya?"


"Aku ngga ngambek."


"Udah ngga curiga?"


"Aku ngga curiga."


"Bener ya?"


Sena mengangguk yakin.


"Aku udah memutuskan sesuatu."


"Apa?"


"Aku akan percaya Mas sepenuhnya, apapaun itu. Karena buat aku sekarang, mempercayai Mas sudah menjadi keputusan aku. Tapi kalau suatu saat ternyata keputusan aku salah, itu adalah keputusan Mas."


"Keputusan kamu ngga akan pernah salah. Dan aku ngga akan melakukan kesalahan itu."


Sena mengangguk tersenyum. Senyum yang sangat manis di mata Adit.


"Tons of rindu." (Se-ton rindu \= kangen banget)


"Pulang makanya."


"Nanti malem aku ke rumah."


"Prettt. Masih pagi udah mimpi."


Adit tertawa lepas.


"Kok ketawa? Bagian mana yang lucu?"


"Bagian muka kamu selalu lucu. Pingin tak hih."


Kini Sena yang tertawa.


"Apa itu hih?"


Salahnya Adit video call saat semua anggota keluarga berkumpul sarapan. Meski ia memakai earphone sehingga suara Sena tidak terdengar, namun ucapan Adit tentu bisa didengar dengan jelas oleh semua keluarganya yang sedang sarapan.


Awalnya Adit ingin menjawab dengan gombalan, namun ia urungkan karena tatapan tajam terutama dari Bu Retna.


"Pengen aku sayang. Ke perempuan harus sayang toh?"


"Ke semua perempuan maksudnya?"


"Ngga, kamu aja."


"Uhuk uhuk uhuk."


Pak Bambang batuk. Damar panik, langsung menyimpann gelasnya lalu berlari menuju kamar. Ia lupa bahwa Sena belum mengetahui keberadaannya.


"Siapa yang batuk?"


"Tetangga. Kupingnya tajem banget."


Menjelang Maghrib, Sena sudah bersiap-siap menuju acara resepsi Fahri. Gaun semata kaki berwarna coklat muda menjadi pilihan Sena malam ini. Membuatnya terlihat memukau seperti biasa.


Hingga akhirnya Sena melihat Adit di depan rumah. Seperti mimpi, bahkan ia tidak merespon apapun karena shock. Lalu Adit menarik tangan Sena untuk berpamitan kepada keluarga Sena untuk pergi ke acara Fahri. Akhirnya Sena yakin bahwa Adit memang di sisi nya sekarang.


Di luar dugaan, Damar sudah menunggu di parkiran. Menunggu siapa kalau bukan menunggu Sena? Namun keberadaan Damar di luar tidak berpengaruh terhadap kehangatan yang terjadi antara Sena dan Adit di dalam mobil. Suasana yang mendukung, rindu yang membuncah, membuat Sena dan Adit lupa akan hal yang sebenarnya dilarang. Namun mereka terobos karena darah muda yang mengalir begitu deras. Hingga pesan dari Dinda yang menyadarkan keduanya harus berhenti, agar tidak menerobos semakin jauh.


Tak terasa hampir dua jam lamanya Sena dan Adit menghabiskan waktu di acara Fahri. Lalu pesan dari Damar masuk ke ponsel Sena meminta untuk bertemu terakhir kali. Banyak perubahan pada diri Damar selepas Sena memutuskan hubungan. Rambut yang mulai gondrong menutupi telinga, kata-kata kasar yang tidak pernah ia dengar bahkan saat bercanda dengan temen-temannya terdengar juga dari mulut Damar. Semasa SMA, Damar adalah laki-laki paling manis di kelas. Namun perlahan image itu hilang seiring perubahan Damar yang sekarang merokok.


"Beda Mas, dia bukan Damar yang aku kenal dulu."


Sena menangis di dalam mobil.


"Everything's change, people change. Ini harusnya jadi proses pembelajaran dia. Aku pun dulu sama, pernah sakit. Itu namanya perjalanan hidup. Dulu Teteh juga pasti ngga mau nyakitin aku, tapi dia kan harus milih. Gitupun kamu, kamu berhak untuk memilih mau hidup bersama siapa. Dia sekarang mungkin sakit, tapi nanti dia akan mendapat yang terbaik untuk dirinya."


"Kaya aku sekarang, Allah mengganti Teteh dengan kamu. Aku menyesal? Ngga. Ternyata memang bukan Teteh yang terbaik untuk aku, kamu yang terbaik buat aku saat ini. Dia juga akan melewati fase itu. Fase kehilangan seseorang yang memang bukan untuk kita."


Adit menggenggam tangan Sena untuk menguatkan. Menjelaskan bahwa yang Sena lakukan bukan kesalahan, bukan juga kejahatan. Hanya sebuah proses yang memang harus dilalui setiap orang.


"Makasih Mas. Better now." (sekarang lebih baik)


"Go home?" (pulang ke rumah?)


"Ada pilihan lain?"


"Ngga ada."


Adit tersenyum.


"Kenapa masih nanya?"


Sena mencubit kecil lengan Adit.


"Pengen aja, liat setiap ekspresi Non cantik. Aku rekam semua di hati dan kepala aku. Pengen gigit. Arrhhhhh."


Sena tersenyum senang dengan semua perlakuan Adit untuknya.


Ternyata kita tidak butuh dicintai semua orang. Kita hanya membutuhkan cinta dari seseorang yang membuat kita merasa menjadi seseorang yang berharga dan dicintai. Itu sudah lebih dari cukup.


Begitu sampai rumah Sena, seluruh penghuni masih berkumpul di ruang keluarga. Dengan sungkan Adit pamit karena takut terlalu malam dan mengganggu.


"Seneng amat mukanya Tsay."


Mita tersenyum melihat Sena yang sumringah sejak kedatangan Adit.


"Iya dong Sis. Pah, besok aku mau keluar sama Mas Adit boleh?"


"Mau kemana lagi?"


Adit deg-degan, khawatir disangka yang tidak-tidak.


"Mau beli beberapa barang Pah. Kemarin pas pulang ke Jakarta belum sempet beli apa-apa karena pulang dadakan. Jadi kelupaan oleh-oleh."


Adit tidak terbiasa mengada-ngada sebuah alasan, akhirnya mengatakan yang sesungguhnya.


"Yang kaya gitu ngga usah terlalu dipikirin. Kalau mau pergi berdua, Papa cuma titip, berangkatnya jangan sore, biar ngga pulang kemalaman. Ngga baik dilihat orang pulang berdua malam-malam."


"Iya Pah. Jam 10 aku jemput ya Non pas mall buka."


Rama memperhatikan setiap detail ucapan dan perilaku Adit terhadap Sena.


"Kalau masih sempat, Adit juga mau izin ajak Sena ke rumah. Di rumah lagi ada Mas Abi dan Mbak Memes, jadi sekalian kenalan sama semuanya."


"Memes tuh siapa? Fima bukan?"


"Iya Mbak Memes sama Mbak Fima orang yang sama."


Adit mengingat nama akun instagram kakak iparnya, Fima Prameswari.


Tak lama Adit pamit. Selama di perjalanan pulang ke rumah, senyuman tak henti tersungging di bibirnya. Kencan berdua malam ini menjadi salah satu memori terindah nya dengan perempuan. Mungkin memori terbaik sepanjang hidupnya.


"Mas, makasih untuk hari ini. Aku saaayaaanggg banget sama Mas."


Saat ini rasanya yang terindah, bagi dua insan yang sedang dimabuk asmara.

__ADS_1


__ADS_2