Cinta Mita

Cinta Mita
Drama Pengusaha Cinta


__ADS_3

Tiga puluh menit mereka membicarakan banyak hal, kemudian ponsel Rama bergetar. Getarannya seperti cintanya untuk gadis yang ada di Bogor sana. Dahsyat.


''Tumben, Nona chat duluan.'' terlihat senyum mengembang ikhlas di bibir pria idaman ini.


''Feeling gua dia sedang tidak baik-baik saja.''


''Jangan gitu dong lu bikin gua takut.''


Fery tertawa, melihat ekspresi jatuh cinta Rama yang terlihat natural.


Tak sabar ia membuka pesan tersebut.


'''Kamu lagi apa? Eheuy deuuh dia kangen gua ini Fer.'' ia membaca pesan tersebut keras dengan senyuman. Membuat beberapa pengunjung memperhatikan mereka, namun Rama tak peduli.


''Geli gua baru liat lu kaya gini, 25 tahun baru puber lu telat anjirr''


''Diem gua bales dulu, lagi kangen kamu. Tsahhh kirim''


''Eh norak lu telepon aja lah, chat gitu lama. Tapi gua ingetin dari sekarang, gua nggak mau lu sampe ngomong kamu bobo duluan, kamu duluan, kamu, kamu. Najis jangan kayak gitu lu malu sama umur.'' dengan gaya menirukan laki-laki dan perempuan yang ingin mengakhiri sambungan telepon tapi menunggu pasangannya untuk menutup telepon duluan.


Rama tertawa terbahak-bahak puas malam ini.


''Oke oke, Aa telepon Nona cantik dulu.''


Ia dan Mita asik ngobrol berdua di telepon selama sepuluh menit. Sementara Fery menikmati rokoknya di luar kafe.


*****


Fery

__ADS_1


Selesai dengan rokoknya, ia mendekat ke arah Rama dan berbisik


''Loud speaker dong gua pengen denger.''


Rama mengangguk


''Kemarin pulang dari makan siang itu, kata temen kamu apa?''


Senyum tak henti-hentinya mengembang.


''Gitu-gitu aja sih, nanya kamu kerja dimana. Aku bilang nggak tau, karena sekarang kamu kan kuliah, kerjanya udah resign. Terus kata Irma, temen aku yang tinggi-tinggi itu kamu pengusaha. Emang bener?''


''Tau dari mana dia kalau aku pengusaha?''


''Karena kamu ngambil SB (sekolah bisnis)"


Tak tahan dengan gombalan receh Rama ia terkikik.


''Mulai gombal nggak jelas. Ih siapa sih itu ketawa nya gede banget, ngetawain apa sih? Kamu lagi sama orang ya?''


Ia menutupi mulutnya agar tawanya tak didengar Mita.


''Iya lagi sama temen aku, dia emang random nggak jelas biarin aja. Aku lagi di Bandung jenguk Sena.''


Rasanya ia ikut gila seperti Rama, senyum tak lepas dari bibirnya. Kebahagian Rama menular, ia senang melihat Rama sekarang ini. Berbeda dengan Rama yang dahulu ia kenal, asik dengan dunianya sendiri.


''Kamu nggak bilang, pantesan kamu nggak ada kesini ganggu aku.''


''Mendadak berangkat tadi jam7. Mau kenalan sama temen aku?''

__ADS_1


''Nggak makasih, aku tutup ya. Lanjutin quality time with your best.''


Rama menutupi teleponnya tapi dengan ekspresi yang tidak bisa ia jelaskan.


''Saat kaya gini, gua udah mau fokus sama apa yang mau gua ambil dia malah mendekat. Biasanya dia nggak pernah dia nge chat gua duluan itu mustahil. Kaya tau gua mau ninggalin dia.''


Ia terdiam. Sedalam itu perasaannya untuk Mita.


''Apa yang bikin lu segitu nya ke dia? Secantik apa orangnya?


Hal yang biasa laki-laki lihat seorang perempuan adalah kecantikannya bukan? ternyata tidak selalu.


''Kalau cakep sih, cakepan juga Bunga anak psikolog itu lu inget nggak?''


Ia mengangguk, Rama masih ingat Bunga anggota Bem di kampusnya dulu yang diam-diam menyukainya.


''Dia ini beda, cakep juga tapi pembawaan dia yang bikin jantung gua kayak mau copot kalau deket dia. Lembut tapi tegas dan vibe nya positif banget. Bawaannya pengen gua nafkahin aja itu cewek.'' lanjut Ram dengan sorot mata menggebu-gebu.


''Gila juga efek itu cewek. Terus tadi lu yakin mau ninggalin dia? Lu yakin nggak bakal kenapa-kenapa?'' Ia habiskan.


''Bakal kenapa-kenapa lah gua. Ngga mungkin baik-baik aja. Tapi biarin gua yang bayar rasa sakitnya, daripada kuliah dia yang gua korbanin. Gua bisa aja egois, nggak dengerin bokap dan biayain kuliah dia. Tapi durhaka ngga sih gua?''


Suntuk-sesuntuknya muka nya sekarang.


''Drama...'' ia menggelengkan kepala.


''Gua mau ke US.''


''HAH?''

__ADS_1


__ADS_2